MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Nasehat Kakak Kelas



Ketiga Musketeers berada di sebuah tempat yang sudah lumayan lama tidak mereka datangi. Tempat berlatih tinju.


Athos dan Aramis saling berhadapan, mereka berdua saling menyerang dan bertahan. Namun Athos tidak bisa mengalahkan adiknya tersebut.


"Kau masih saja lemah." ejek Aramis sambil melepas sarung tinjunya.


Athos hanya tertawa mendengar ejekan Aramis.


"Badanku masih sakit karena kemarin. Aku akan lebih sering berlatih." ucap Athos. "Oto, kenapa kau hanya menonton? Ayo lawan aku."


"Tidak, aku tidak terlalu suka olahraga ini." ujar Prothos yang duduk di luar ring sambil memakan corn es krim. "Wajahku yang tampan akan penuh lebam nanti."


"Ya, sejak dulu kau tidak suka olahraga macam ini. Makanya kau yang paling lemah." ucap Aramis mengolok Prothos dari dalam ring.


"Diamlah, Ars. Aku tidak mudah terpancing emosi." jawab Prothos tersenyum mengejek. "Di banding kalian aku rasa staminaku yang paling bagus."


Athos dan Aramis tertawa mendengarnya.


"Lagi pula, menyelesaikan masalah dengan kekerasan itu bukan gayaku." tambah Prothos.


"Benarkah? Bukannya kau pun memukul pria bernama Bara itu juga?" sindir Athos duduk di samping Prothos. "Ayah memberikan banyak khursus bela diri pada kita dulu. Ars menguasai karate, tinju, taekwondo, muaythai, bahkan sedikit judo."


"Tidak tidak, aku tidak bisa muaythai, itu kau, bodoh!" sanggah Aramis mengambil minuman kaleng dan meminumnya.


"Apa nama yang satunya, Ars? Krav Maga?"


Aramis mengangguk.


"Ayah mau kita bertiga kuat dan tidak tertindas." lanjut Athos. "Untuk menjaga Melo."


"Tapi dia benar, Oto memiliki stamina yang lebih bagus dari kita." ucap Aramis. "Tapi aku rasa kau juga harus menambah ilmu bela dirimu. Apa kau tahu? Di jaman sekarang semua orang minimal menguasai satu ilmu bela diri. Bahkan Anna sangat menguasai karate. Tendangannya sangat menyakitkan."


"Kalian berdua mengoceh apa? Aku juga pernah bersama kalian berlatih karate 'moonkan?" ujar Prothos. "Lagipula hadapi semua dengan kepala bukan kepalan!!"


"Oto, kata yang cocok untukmu itu, hadapi semua dengan senyum." ejek Aramis merangkul Prothos.


"Ya, kau benar Ars." tambah Athos.


"Astaga, kalian berdua sekarang jadi sering menyudutkan aku." gumam Prothos. "Mandilah, kau penuh keringat!!" seru Prothos pada Aramis yang merangkulnya.


"Oto, berhati-hatilah dengan orang yang bernama Bara, aku dengar dia mencari tahu tentangmu." ucap Aramis.


"Tidak masalah, aku ingin lihat seberapa cepat dia menemukan aku. Akan aku ladeni dia kali ini." ujar Prothos.


"Beritahu kami kalau kau membutuhkan bantuan." seru Aramis sambil berjalan membawa tasnya ke kamar mandi.


Aramis selesai mandi dan berganti pakaian. Dia bersama kedua kembarannya berada di ruang ganti selesai latihan sekitar jam satu siang.


Tiba-tiba David menghubunginya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu." ucap David di telepon.


"Si bodoh ini." gumam Aramis kesal setelah menerima telepon dari David.


"Ada apa?" tanya Prothos.


"Ketua klub karate ingin menemuiku."


...***...


Aramis turun dari mobil di jarak seratus meter dan berjalan kaki menuju tempat dimana David menunggunya. Di pinggir sebuah telaga buatan di kawasan perkantoran yang sepi di hari minggu.


David yang bersandar di mobilnya langsung berjalan menghampiri Aramis, dan berdiri di hadapannya.


"Aku pikir kau akan langsung menyerangku saat aku datang." ujar Aramis tertawa mengejek. "Aku lapar jadi cepat katakan apa yang ingin kau katakan."


David menahan emosinya dengan tertawa skeptis mendengar Aramis.


"Kau ada di sana kan saat aku datang untuk menjemput Anna?" tanya David tenang.


Aramis tersenyum mengejek yang berarti benar.


David terlihat semakin emosi namun pemuda itu hanya tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menahan amarahnya.


"Kau mengincar gadis yang salah." ucap Aramis menatap tajam David. "Mundurlah sebelum kau terlihat menyedihkan. Cari gadis lainnya."


"Astaga, apa itu ancaman?"


"Tidak, aku memberi nasehat pada adik kelas berprestasi sepertimu." senyum Aramis. "Itupun kalau kau mau mendengarkan nasehat kakak kelasmu yang baik hati ini."


"Hentikan ocehanmu, Ars!! Aku tidak bisa terima semua ejekan mu lagi. Kau benar-benar menganggap remeh aku!" seru David terpancing emosi. "Aku tidak akan menyerah begitu saja. Sebaiknya kita selesaikan secepatnya, aku muak melihatmu berlagak terus selama ini."


"Baiklah, kalau kau mau menyelesaikannya sekarang, aku siap." jawab Aramis menarik lengan panjang bajunya.


"Aku menantangmu di pertandingan karate besok." ujar David. "Siapapun yang kalah harus menjauh dari Anna!!"


Aramis menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Padahal aku lebih suka dengan pertarungan jalanan. Tapi kalau itu maumu... tidak masalah." Jawab Aramis berjalan mendekati David dan menatap tajam mata David. "Aku akan menghiburmu di panggung yang dipilih oleh kau sendiri."


...***...


"AAAARRRGGHHH!!" teriak Aramis saat masuk ke kursi belakang.


Kedua kembarannya hanya menutup telinganya dan menggelengkan kepalanya.


"Berani sekali bocah itu menantangku?!" seru Aramis masih sangat kesal. "Aarrgghh... seharusnya tadi aku menghajarnya langsung!!"


The Three Musketeers mampir ke restoran cepat saji untuk makan siang disana. Aramis masih saja kesal setelah mendapat tantangan dari David.


"Aku tidak percaya David benar-benar menantangmu." ucap Prothos yang duduk di kursi samping Athos. "Dia menggali kuburannya sendiri."


Aramis menjentikan jarinya dan menunjuk pada Prothos, setuju dengan ucapan Prothos karena saat bersamaan dia meminum cola-nya.


"Apa aku harus menghajarnya biar dia menyadari siapa aku?" seru Aramis dengan suara yang keras.


Semua orang melihat ke arahnya sedangkan restoran tersebut sangat penuh dengan pengunjung.


Prothos tersenyum pada siapapun yang melihat mereka, membuat beberapa kelompok gadis di meja lain terus memperhatikan mereka.


Athos hanya agak menundukan kepalanya karena merasa malu.


"Jangan meremehkannya. Bagaimana pun dia banyak memenangkan kejuaraan karate." seru Athos.


"Tapi dia tetap bukan tandingan Ars" ucap Prothos sambil mengunyah kentang goreng. "Ars akan jauh lebih banyak memenangkan kejuaraan kalau si bodoh ini mau ikut klub dan kompetisi."


"Kenapa harus ada kata bodoh?" gumam Aramis melihat Prothos. "Aku tidak mempermasalahkan pertandingannya, yang bikin kesal adalah berani sekali dia menantangku. Apa dia tidak pernah mendengar tentangku selama ini? Aku jadi terlihat lemah."


"Kenapa dia menantangmu?" tanya Athos.


"Ke... kenapa? Kenapa ya?" Aramis balik bertanya karena tidak mau kedua saudaranya tahu David menantangnya karena Anna. "Sepertinya karena dia mau berlagak sok keren dengan menantangku."


"Bodoh, bodoh!!" ucap Prothos yang tahu Aramis asal bicara.


Athos menggelengkan kepalanya, heran.


"Sebaiknya jangan meremehkannya, dia memilih pertandingan resmi karena dia sangat yakin memenangkannya. Jika kalian berkelahi dia pasti akan kalah telak. Tapi di pertandingan karate ada peraturan tersendiri untuk menang, dan David sangat tahu akan hal itu."


"Ya, kau benar, Ato." timpal Prothos. "Kau akan kalah, Ars."


"Ya ampun, padahal tadi kau seperti mendukungku."


Tiba-tiba handphone Athos berbunyi, dengan cepat dia mengangkatnya.


"Datanglah, Presdir menunggumu." ujar asisten Presdir yang bernama Benny.


"Baiklah." jawab Athos setelah itu menutup teleponnya.


"Siapa?" tanya Prothos.


"Aku harus menemui seseorang." ujar Athos.


"Biar kami antar." ucap Prothos.


"Tidak, kalian langsung ke café saja, nanti ada interview dengan orang baru. Cabang café akan buka tepat di hari ulang tahun kita. Kalian berdua tolong urus ya."


"Tidak masalah." jawab Prothos. "Tunggu sebentar."


Tiba-tiba Prothos beranjak dari tempatnya menuju ke meja dimana para wanita yang sejak tadi melihat pada mereka. Wanita-wanita tersebut jadi salah tingkah melihat Prothos menghampirinya.


"Kami bekerja di café ini, kalian mampirlah. Nanti akan ku berikan diskon untuk para wanita cantik." ujar Prothos dengan senyum sambil menuliskan tempat café mereka berada di secarik kertas.


Para wanita tersebut menjadi senang.


...***...


Ayah sedang memberikan obat pada kakek di kamar kakek saat handphone-nya berbunyi.


"Halo."


"Oto, ini aku Sarah yang kemarin kau telepon. Apa nanti kita bisa bertemu?"


"Maaf, salah sambung." jawab ayah.


"Ini bukannya nomer Oto? Maksudku Prothos."


"Bukan. Maaf salah sambung."


Ayah langsung mematikan teleponnya dengan kesal.


"Ini gadis keenam yang meneleponku. Berapa banyak gadis yang dia telepon dengan handphone-ku kemarin?" gumam ayah kesal. "Anak itu membuatku jengkel."


"Ada apa, Leo?" tanya kakek yang melihat anaknya kesal.


"Oto memakai handphone-ku menelepon banyak gadis dan sekarang mereka mengira ini nomer Oto." jawab ayah.


Kakek tertawa mendengarnya.