
Ketika jam istirahat Prothos menuju kelas Melody untuk menemui Wilda dan mengembalikan buku jurnal pribadi miliknya. Saat yang bersamaan Widia hendak keluar kelas itu sehabis mengajar.
Mereka berdua berpapasan di depan pintu kelas namun Prothos hanya tersenyum layaknya seorang murid pada gurunya lalu berjalan menuju meja dimana Wilda duduk.
Kelas itu masih ramai karena Widia baru saja mengakhiri pelajarannya terlambat beberapa menit setelah bel istirahat berbunyi. Seluruh mata menatap pada Prothos, bahkan Widia berhenti dan menoleh untuk mengetahui apa yang dilakukan kekasihnya itu.
Melody melihat kakaknya menghampiri gadis yang semalam ditanyakan ke dirinya oleh Prothos. Hal itu membuat Melody merasa penasaran.
"Kemarin kau menjatuhkan ini." ujar Prothos menaruh buku jurnal milik Wilda setelah itu bergegas keluar.
Sekali lagi Prothos melewati Widia yang memperhatikan dirinya. Tapi kali ini Prothos mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda Widia sambil lalu.
Para murid wanita di kelas Melody berbisik-bisik melihat Prothos yang datang menghampiri Wilda dan memberikan sesuatu padanya. Hal itu seketika menjadi pembicaraan di satu sekolah dalam sekejap.
Melody memikirkan apa yang diperbuat kakaknya terasa aneh. Semalam dia bilang tidak ada apa-apa, tapi barusan kakaknya itu mengembalikan sebuah buku pada Wilda. Seharusnya jika kakaknya Prothos ingin mengembalikan buku yang terjatuh pada teman sekelasnya, dia bisa menitipkan buku itu padanya. Tapi Prothos mengembalikannya langsung padanya. Hal itu juga menjadi pergunjingan murid lainnya yang membuat gosip semakin memanas.
...***...
Sepulang sekolah Athos berada di kamarnya. Saat ini dia hanya sendirian di rumah karena semua orang pergi. Ayahnya dan paman Ronald bekerja, kakek sedang pergi sejak pagi ke rumah temannya, Prothos mengantar Melody ke tempat kursus dan akan langsung ke café, sedangkan Aramis sejak pulang sekolah langsung pergi ke gedung tua.
Athos merasa lelah akhir-akhir ini, sehingga sehabis pulang sekolah dia lebih memilih berada di rumah dan tidak memantau café.
Waktu menunjukan hampir jam enam sore ketika dia selesai mandi. Dia memakai kemeja yang tidak di kancinginya dan celana panjang. Dia langsung membuka laptopnya untuk membuat laporan keuangan café. Dia harus segera mengerjakannya karena dua minggu lagi cabang kelima café akan buka.
Dengan rambut yang masih basah dan berantakan dia memfokuskan dirinya pada kerjaannya. Dia bisa bersantai karena tidak harus membuat makan malam hari ini. Namun sebentar lagi dia harus pergi menjemput Melody di tempat kursus.
Saat mencoba terus fokus pada kerjaannya, pikirannya teralihkan dengan masalah pernikahan Tasya. Dirinya tahu kalau Tasya akan menikah sekitar dua bulan lagi, namun Tasya sendiri belum mengetahuinya karena keluarganya merahasiakannya hingga semuanya siap dan tinggal melaksanakannya saja.
Dia sedikit merasa bersalah pada Tasya karena dirinya pernikahan itu diadakan lebih cepat dari seharusnya. Ditambah dia pun seolah-olah bersikap tidak tahu mengenai rencana pernikahan tersebut.
Pemuda itu mengalihkan tatapannya dan menatap handphone yang ada di pinggir mejanya. Athos merasa sedikit aneh karena tidak biasanya Tasya tidak menghubunginya.
Brakk
Suara pintu kamarnya terbuka kasar.
Athos menoleh dan dikejutkan langsung dengan kehadiran Tasya yang langsung melompat ke pangkuannya. Athos sangat terkejut.
"Untung saja Oto bilang kalau kau sendirian di rumah saat aku ke café tadi." ucap Tasya tersenyum dengan wajah yang sangat dekat pada Athos. "Rambutmu masih basah dan berantakan, membuatku semakin bergairah, Ato."
Tanpa basa-basi Tasya langsung ******* bibir kekasihnya tersebut. Tasya mencium Athos dengan sangat bersemangat, sampai-sampai tidak membiarkan Athos mempunyai kesempatan untuk menolaknya.
"Aku sudah tidak sabar lagi sekarang, kau benar-benar membuatku tergila-gila padamu." ucap Tasya menatap lekat Athos.
Tasya langsung turun dari pangkuan Athos dan menarik Athos duduk ke sisi tempat tidur, lalu melepaskan kemeja Athos yang sebelumnya memang tidak terkancing. Setelah itu mendorong Athos hingga pemuda itu berbaring di tempat tidurnya.
Athos diam saja seperti sebuah boneka, dia membiarkan Tasya melakukan sesukanya. Athos hanya menatap Tasya yang berada di atasnya saat ini sedangkan gadis itu masih memakai seragam sekolahnya, kemeja dengan rok rempel pendek.
"Ato, tatapanmu membuatku semakin bergairah." ucap Tasya yang duduk di atas Athos setelah itu mencium pemuda itu lagi lebih bersemangat dari sebelumnya.
Athos sudah tidak bisa lagi mengendalikan pikirannya. Dia menarik Tasya segera dan mengubah posisinya hingga Tasya yang berada di bawahnya saat ini. Tanpa basa-basi lagi Athos mencium kekasihnya tersebut dengan satu tangan membuka kancing seragam Tasya.
Ciuman Athos semakin lama semakin berpindah dari semula di bibir Tasya sedikit demi sedikit ke leher Tasya. Tasya menikmatinya dengan senang hati. Kemeja Tasya yang sudah terbuka memperlihatkan lapisan terakhir yang menutupi dua tonjolan di dadanya.
Athos mencium leher Tasya dan hendak berpindah semakin ke bawah, namun dia berhenti. Dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Tasya yang juga menatapnya dengan wajah penuh tanya kenapa dia berhenti.
"Ada apa, Ato?" tanya Tasya.
Athos menutup kembali kemeja Tasya dan mengancinginya tanpa kata. Lalu beranjak turun dan duduk kembali ke kursi.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Tasya kecewa melihat tindakan kekasihnya tersebut.
Athos menatap Tasya dengan tatapan emosional karena sedih.
Tasya beranjak dan menghampiri kekasihnya tersebut.
"Sekitar dua bulan lagi kau akan menikah dengan tunanganmu." ujar Athos menatap Tasya yang berdiri di hadapannya.
Tasya tampak terkejut mendengarnya, namun gadis itu meredam emosinya dan mengangkat wajah Athos menatapnya dengan kedua tangannya.
"Aku yakin kau tidak akan membiarkan itu terjadi." senyum Tasya pada Athos.
Athos langsung memeluk Tasya yang berdiri. Dia merasa kata-kata Tasya yang mempercayainya merupakan sebuah sulutan api yang membuat semangatnya menjadi lebih berkobar.
...***...
Setelah pulang dari tempat kursus, Melody duduk di meja belajar sambil mengelus mimi yang meringkuk di atas meja.
"Mimi, besok itu ulang tahun ayah." ucap Melody. "Kau pasti juga tahu kan kalau itu juga hari ulang tahunnya?"
Melody menoleh ke jendela kamarnya menatap beranda kamar Lion yang terlihat masih gelap.
"Besok akan seperti apa? Dia pasti tidak akan ikut datang merayakannya bersama ayah." gumam Melody bersedih.
Ulang tahun ayah Melody bersamaan dengan hari ulang tahun Lion. Biasanya setiap tahun mereka akan makan malam di rumah dan merayakannya bersama-sama. Setiap tahun Lion selalu merayakannya bersama dengannya.
Drrrttt drrrttt drrrttt
"Kenapa kak Anna?" tanya Melody menjawab telepon Anna.
"Apa Ars sudah pulang, Melo?" ujar Anna di ujung telepon.
"Belum kak." jawab Melody. "Ada apa?"
"Nomer handphone-nya tidak aktif." jawab Anna. "Baiklah, aku akan mencarinya."
"Kak Anna, apa aku boleh meminta bantuanmu?"
"Bantuan apa?" tanya Anna. "Aku pasti membantumu kalau aku bisa."
"Kakak bisa mengajariku menyetir mobil?" ucap Melody.
...***...
Anna memasuki gedung tua yang sangat gelap. Dia menaiki tiap tangga dengan menggunakan senter di handphone-nya. Karena sudah sering ke tempat itu, dia semakin berani dan tidak takut.
Aramis tertidur di bawah di samping sebuah kanvas yang berdiri dan di sekitarnya banyak minuman kaleng dan botol minuman air mineral.
Dia memperhatikan gambar yang berada di kanvas. Gambar itu masih belum jadi dan bahkan belum ada goresan cat warna. Masih berbentuk prototipe atau sketsa.
Hanya terlihat seekor harimau berdiri di atas pembatas sebuah jembatan yang memunggungi harimau satunya yang berdiri di belakangnya.
Anna tersenyum menatapnya. Setelah itu menoleh pada Aramis yang belum bergeming.
"Bangun, ini sudah malam!! Cepat pulang!!" seru Anna sambil menggoyangkan kaki Aramis dengan menyenggol dengan kakinya. "Kau pasti pura-pura tidur kan?"
Anna diam menunggu respon Aramis, tapi tampaknya dia memang masih pulas.
Anna berniat berteriak ke telinga Aramis, karena itu dia berjongkok di dekatnya dan mencondongkan kepalanya ke telinga kiri Aramis, sebelum sempat dia berteriak Aramis lebih dulu berteriak mengagetkannya hingga Anna terhentak.
Aramis tertawa puas mengerjai gadis itu.
"Kau ini ya!!"
Tiba-tiba Aramis menarik Anna ke pelukannya yang masih berbaring. Aramis tidak berkata apapun, dia hanya memeluk Anna tanpa kata. Anna membiarkannya untuk beberapa saat karena sebenarnya pun gadis itu senang dengan hal itu.