
Melody membuka mata dengan kepala yang terasa sakit. Dia mengambil handphone-nya yang membunyikan alarm. Dengan segera dia mematikan alarmnya lalu bangkit berdiri.
Langkahnya terhenti ketika di sudut pandangannya melihat keluar jendela, kamar Lion. Dia menoleh ke jendela dan melihat tirai kamar Lion tertutup. Seingat dia semalam tirai tersebut masih terbuka.
Dengan segera dia membuka buku daftar telepon di handphone-nya, lalu menelepon nomer urutan paling atas, nama yang terdaftar, 911.
"Halo."
Deg!
Melody terdiam mendengar suara diujung telepon. Seketika hatinya kelu dan punggungnya terasa memanas.
"Melody? Kau meneleponku?" tanya orang diujung telepon yang adalah Niko.
Melody menutup mulutnya karena terkejut dan menahan tangisnya. Air mata sudah keluar dari pelupuk matanya. Ketakutan kembali menyelimutinya saat ini.
Dia mengingat dengan apa yang dilihatnya saat tidur. Ternyata dia tidak bermimpi, Lion memang berada di kamarnya saat itu. Lion mengganti nomer handphone di nama 911 dengan nomer handphone Niko.
Melody terduduk di sisi tempat tidurnya dengan terisak setelah mematikan telepon. Dengan ini dia mengerti kalau Lion ingin agar dirinya tidak lagi menghubunginya. Bahkan Lion ingin agar dirinya menghubungi Niko setiap kali dia membutuhkan bantuan.
Keputusan Lion membuat gadis itu sangat bersedih. Setelah selama ini Lion selalu membantu dan selalu ada untuknya hingga membuat Melody merasa ketergantungan dengannya, dia menghentikan semuanya begitu saja. Bahkan setelah membuat Melody sadar kalau dia menyukai pemuda itu, dan menganggap hubungannya semakin dekat setelah mereka berkencan kemarin.
Melody merasa semakin bersedih hari ini.
...***...
Melody masuk ke dalam kelas. Langkahnya terhenti ketika melihat Lion duduk di kursi lain yang berada di pojokan di deretan pintu masuk. Tempat dimana kemarin Ferdi pindah kesana, sedangkan Ferdi sudah duduk di tempatnya di samping Rinka dan tempat duduk Lion belum ada siapapun.
Melody sempat terdiam melihat Lion yang duduk dengan menidurkan kepalanya di atas meja seperti kebiasaannya.
Lion tahu kehadiran Melody sebelumnya, karena itu dia langsung menidurkan kepalanya ke meja agar tidak melihat Melody masuk.
Bel berbunyi.
Melody segera duduk di kursinya. Gadis itu masih saja menoleh pada Lion yang berada di sejajarnya dengan masih posisi yang sama.
Tidak berapa lama Widia masuk untuk memulai pelajaran. Namun tiba-tiba Niko berjalan masuk dengan santai padahal dia datang terlambat. Lion mengangkat kepalanya memberikan isyarat dengan gerakan kepalanya pada Niko untuk duduk di kursi di samping Melody.
"Niko, ini hari keduamu dan kau sudah terlambat? Wajahmu kenapa? Kau habis berkelahi?" tanya Widia menatap Niko. "Kau berkelahi dengan Lion?" lanjut Widia memperhatikan Lion yang wajahnya juga penuh luka.
"Kami berdua hanya bersenang-senang dengan cara kami bu guru." jawab Niko tersenyum setelah itu berjalan ke tempat duduk yang seharusnya kursi Lion.
Widia melihat mereka heran. Lion yang pindah duduk, dan Niko yang duduk di kursi Lion bersama dengan Melody.
Lion bangkit berdiri dan berjalan.
"Bu guru, aku ijin ke UKS, kepalaku sakit." ujar Lion berjalan keluar tanpa menunggu jawaban Widia.
Lion berjalan ke UKS. Ketika sampai tak ada siapapun di dalam ruangan tersebut. Dia berdiri di tengah ruangan menghadap pintu masuk. Tidak berapa lama pintu terbuka dan muncul Melody dari balik pintu. Lion sudah dapat mengiranya.
Lion menatap Melody dengan tatapan yang hampir tidak pernah diperlihatkan olehnya pada gadis itu. Sedangkan Melody berdiri di hadapan Lion dengan wajah yang siapapun yang melihat akan tahu kalau dia habis menangis.
"Kenapa Lion? Kenapa kau melakukan ini? Kau mengganti nama itu dengan nomernya di handphone-ku. Apa itu artinya aku tidak-"
"Dengarkan." potong Lion dingin. "Selama ini aku hanya menuruti semua permintaan kakak-kakakmu dan keluargamu. Mengantar, menjemput, ini dan itu. Semuanya bukan karena keinginanku melainkan keinginan keluargamu. Dan aku rasa aku tidak perlu lagi melakukannya. Niko yang akan menggantikan melakukan semua hal itu."
Melody tertegun melihat tatapan dingin Lion untuk pertama kalinya. Dia semakin tidak bisa berkata apapun mendengar ucapannya barusan.
"Ato bilang padaku untuk menjagamu, aku melakukannya karena Ars kakakmu adalah sahabatku." ujar Lion. "Bahkan tiket taman hiburan itu, aku dapat dari Oto yang memintaku mengajakmu."
"Setiap kali kau meminta bantuanku aku lakukan hanya semata-mata untuk memenuhi tugasku bukan keinginan diriku sendiri." lanjut Lion.
"Kau bilang kita sahabat."
"Tidak ada sahabat diantara pria dan wanita. Ars lah sahabatku." jawab Lion. "Aku hanya petugas 911 untukmu, apa kau lupa?"
Melody tak mau menjawab, dia hanya menatap Lion yang terus bersikap dingin menatapnya.
"Dan masa tugasku sudah selesai. Niko yang akan melanjutkannya."
"Kakak-kakakku tidak akan mau-"
"Mereka setuju." sambar Lion. "Dan aku minta padamu berikan kesempatan pada Niko untuk melakukannya."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Kau harus mau!!" seru Lion. "Mulai sekarang selain teman sekelasmu, aku bukan siapa-siapa lagi untukmu. Kau mengertj?"
Melody mengepalkan tangannya dan menarik napasnya dalam-dalam. Dia mengerti sekarang. Dia mengerti kalau selama ini Lion tidak pernah tulus kepadanya. Dia hanya melakukan semua kepadanya karena permintaan ketiga kakak dan keluarganya.
Melody mengambil jeda dengan membuang napas perlahan sebelum mengatakan apa yang ada di pikirannya untuk menahan rasa sedihnya.
"Lion, sudah aku bilang jangan berkata padaku sedingin itu lagi." tatap Melody dingin. "Kalau memang itu maumu aku akan melakukannya sesuai dengan kata-katamu."
Kali ini Lion yang terdiam mendengar perkataan Melody yang dingin.
"Kau ingin aku memberi kesempatan pada Niko 'kan?" tatap Melody. "Baiklah, tapi kau harus janji untuk tidak ikut campur masalah apapun yang terjadi pada kami berdua."
Lion tertegun mendengar perkataan Melody. Dia berpikir apa maksud dari ucapan gadis tersebut.
"Dan jangan pernah menampakan dirimu di rumahku lagi, karena mulai sekarang Niko yang menggantikan posisimu itu."
Lion sedikit terkejut mendengar perkataan Melody barusan. Dalam sekejap entah bagaimana jarak diantara mereka berdua langsung selebar samudera.
Lion hanya bisa mengangguk.
"Dan satu lagi, kau berhutang padaku karena menutup tirai kamarmu!!" seru Melody. "Ah, aku lupa, berjanjilah padaku juga kalau kau tidak akan pernah membukanya lagi."
"Tentu, aku tidak akan membukanya." jawab Lion. "Jadi apa yang kau inginkan? Aku tidak ingin ini berlanjut semakin lama, jadi katakan aku akan membayar hutangku itu sekarang juga."
Melody mendekati Lion dan dengan segera Melody memeluk Lion. Dia merasa harus melakukannya karena itu adalah pelukan pertama dan yang terakhir kalinya untuk mereka.
"Aku rasa aku harus melakukannya setelah semua yang kau lakukan untukku selama ini." ucap Melody. "Sebagai bentuk rasa terimakasihku di masa akhir tugas yang kau bilang itu. Sebuah pelukan perpisahan."
Lion yang semula terkejut dengan pelukan itu, dia mulai mengusap punggung Melody dengan perlahan.
Melody melepaskan pelukannya dan menatap Lion.
"Terimakasih, Lion."
Setelah itu Melody berjalan keluar ruangan UKS meninggalkan Lion sendirian di sana.
Lion jatuh terduduk di lantai dengan perasaan bercampur aduk. Awalnya dia akan mengira kalau Melody tidak akan bisa menerima kata-katanya, tapi ternyata dugaannya salah. Gadis itu menerimanya bahkan memeluknya untuk mengucapkan terimakasih padanya.
Hal itu membuatnya sedikit terpukul. Karena dia percaya ketika suatu hubungan diselesaikan dengan baik-baik maka semua itu akan benar-benar berakhir.
"Melon, kau keterlaluan." gumam Lion.