
Keesokan harinya, Melody bersama ketiga kakaknya keluar dari rumah sakit. Mereka pulang bersama paman Ronald yang menjemputnya setelah jam makan siang. Sedangkan ayah sejak kemarin pergi keluar kota menemani kakek ke tempat sepupunya.
"Kalian dengar, hari sabtu ini hari ulang tahun kita dan pembukaan cabang café. Jadi jangan ada yang bersantai. Siapkan semua yang sudah aku berikan daftarnya pada kalian." seru Athos ketika baru saja masuk ke dalam rumah mereka.
Tak ada yang memedulikan perkataan Athos. Prothos dan Aramis langsung menaiki tangga meninggalkannya sendiri di lantai bawah.
"Kalian berdua ini." kesal Athos.
Aramis mengikuti paman Ronald saat masuk ke kamarnya. Paman Ronald tahu maksud Aramis kenapa menemuinya.
"Paman, hasil pemeriksaan Anna..."
"Dia baik-baik saja." paman Ronald langsung menjawabnya sebelum Aramis selesai bicara. "Kau tidak perlu khawatir. Anna baik-baik saja."
"Benarkah?" tatap Aramis.
Paman Ronald mengangguk.
"Sudahku bilang kalau dia baik-baik saja. Kenapa kau tidak percaya padaku?"
"Keluarlah, aku mau istirahat." seru paman Ronald menghindari percakapan lebih lanjut.
...***...
Aramis menjemput Anna ke sekolah ketika pulang sekolah. Aramis bilang ingin membeli keperluan pembukaan cabang café yang akan diadakan sabtu ini, dan meminta Anna menemaninya.
Aramis terkejut saat melihat Anna yang tidak mendouble roknya dengan celana olahraga ataupun hanya menggunakan celana olahraga saja. Saat ini Anna hanya memakai rok.
"Ada apa ini? Kau tidak pakai celana olahraga?" tanya Aramis saat Anna masuk ke mobil.
"Kau lupa? Sekarang ini aku ketua OSIS, aku harus menjadi contoh yang baik untuk semua murid." jawab Anna.
"Kau tidak pantas memakai rok." ejek Aramis tertawa.
"Kita pulang dulu saja, biar aku ganti pakaian." ujar Anna kesal. "Kau kira aku nyaman pakai rok? Sudah aku bilangkan kalau aku malas ikut tapi kau memaksa."
"Kita makan dulu. Sudah jam tiga sore." ujar Aramis tidak menghiraukan ucapan Anna. "Makan apa ya?"
Anna hanya menatap kesal pada Aramis.
Mereka sampai di sebuah mall yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Aramis langsung memasuki salah satu restoran dan memesan makanan lalu duduk di salah satu meja yang kosong, Anna hanya mengikutinya.
"Aku benar-benar tidak nyaman pakai rok berjalan-jalan seperti ini." gumam Anna yang selalu membenarkan kondisi roknya. "Aku jadi tidak bisa melangkah cepat dan duduk bebas."
Aramis melongok ke kolong.
"Apa yang kau lihat, bodoh?" seru Anna.
Aramis terkekeh sambil geleng-geleng.
"Kau benar-benar aneh pakai rok." ejek Aramis lagi.
Anna hanya bisa menahan emosinya mendengar ejekan Aramis.
Pramusaji membawa makanan dan minuman yang di letakan di atas meja. Aramis hanya memesan satu makanan dan dua minuman.
"Makanlah. Kau harus punya tenaga untuk mengangkat banyak barang nanti." seru Aramis lalu menyeruput minumannya. "Tanganmu juga sudah sembuh kan?" Aramis melihat Anna sudah melepas deket di tangannya.
Anna menurut saja, entah kenapa akhir-akhir ini Anna lebih menurut pada Aramis. Walau kadang masih merasa kesal tapi dia pasti akan melakukan ucapan Aramis.
"Kau sudah makan?" tanya Anna sambil mengunyah ayam menteganya. "Sabtu ulang tahun kalian bertiga, kau ingin hadiah apa dariku? Jangan yang mahal karena aku harus membeli sekaligus tiga untuk kalian."
Aramis tidak menjawab dan hanya menatap Anna.
"Untukmu, lebih mahal sedikit tidak masalah. Tapi jangan terlalu mahal ya. Aku harus berhemat untuk hidupku."
Aramis hanya tertawa mendengar ocehan Anna. Dia sama sekali tidak berniat menjawab perkataan Anna.
"Kenapa diam saja? Kau sedang menahan buang air besar?"
"Cepatlah makan, jangan banyak bicara. Banyak barang yang harus dibeli." ujar Aramis menyenggol meja dengan kakinya.
"Kalau begitu aku tidak akan memberimu hadiah." jawab Anna langsung melahap makanannya.
...***...
Tasya menemani Athos melihat cabang pertama café untuk memeriksa semuanya. Sejak hari minggu, tempat itu sudah selesai di renovasi.
"Ada dua lantai dan teras juga. Ini jauh lebih bagus dari perkiraanku." jawab Athos memeriksa meja-meja yang sudah siap di tempatnya.
"Nanti kau akan berada di mana? Aku harus mengikutimu."
"Tidak. Setelah ini kemungkinan kami bertiga akan jarang ke café." jawab Athos. "Kami sudah berencana membuat dua cabang lainnya di kota-kota sebelah. Jadi kami hanya akan bekerja di belakang meja."
"Benarkah?" tanya Tasya kagum.
"Dan sepertinya kita juga tidak perlu menyembunyikan hubungan kita pada para pengunjung café." ucap Athos.
"Astaga, benarkah Ato?"
Athos mengangguk, dan langsung Tasya memeluknya.
"Aku senang sekali mendengarnya. Aku pasti akan memamerkanmu pada mereka semua. Selama ini aku hanya diam saja ketika pacarku dibicarakan wanita lain." ujar Tasya memanyunkan bibirnya. "Kau tahu betapa menderitanya aku?"
Athos malah tertawa mendengar keluhan kekasihnya itu.
Tasya langsung menarik wajah Athos untuk menciumnya.
...***...
Anna berjalan jadi sangat lambat karena setiap melangkah dia harus membenarkan kondisi roknya. Dia tertinggal jauh dari Aramis yang sering berhenti menunggunya. Anna merasa sangat tidak nyaman.
"Ars, ayo kita ke toko pakaian. Aku ganti celana saja." seru Anna dari jarak sekitar lima belas meter dari Aramis yang berdiri menoleh menunggunya. "Aku sangat tidak nyaman."
Aramis berbalik dan berjalan menghampiri Anna. Lalu merangkul pundak Anna.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Anna terkejut. "Singkirkan tanganmu!"
"Kenapa? Dulu kau juga merangkulku begini?" ujar Aramis. "Ayo jalan!!"
"Itu dulu, dan saat aku tidak pakai rok. Aku malu kalau langkahku terlalu lebar." bisik Anna pada Aramis yang tertawa.
"Baiklah, ayo beli celana dan cepat ganti. Kalau begini terus kapan akan selesai berbelanjanya?!"
Aramis langsung menarik lengan Anna mengikutinya.
Akhirnya Anna mengganti roknya dengan celana panjang. Dengan semangat dia meregangkan otot-otot kakinya. Dia angkat dan dibuka lebar. Merasa puas.
"Celana memang yang terbaik." ucap Anna habis itu menghampiri Aramis yang memperhatikannya sambil geleng-geleng. "Ayo kita selesaikan misi kita, Ars."
Anna langsung merangkul pundak Aramis.
...***...
Di kamarnya, Prothos merasa ingin bertemu Widia. Namun dia sudah bertekat kalau dia tidak akan menghubungi Widia lebih dulu sesuai dengan tantangannya kemarin. Namun rasanya dia tidak bisa menahannya lagi dan sangat ingin menemui Widia.
"Melo, boleh pinjam handphone-mu?" tanya Prothos membuka pintu kamar Melody.
Melody memberikannya tanpa bertanya.
Prothos segera kembali ke kamarnya untuk menghubungi Widia. Dia benar-benar sudah sangat merindukan kekasihnya itu.
"Bu... Maksudku Widia, nanti malam ayo kita bertemu." ucap Prothos.
"Kau ini. Aku sangat sibuk karena harus membuat soal test besok." jawab Widia.
"Ayolah, bu guru." seru Prothos memohon. "Apa aku ke apartemenmu? Wisnu tidak ke sana kan hari ini?"
"Kau benar-benar melupakan ketiga hal yang aku bilang." ujar Widia sedikit kesal. "Baiklah, kita bertemu di restoran cepat saji yang waktu itu saja."
"Tidak, aku akan menjemputmu." jawab Prothos. "Jam tujuh malam aku sampai di depan apartemenmu."
"Baiklah, kalau begitu." ucap Widia.
"Tunggu dulu, jangan langsung dimatikan teleponnya!!"
"Apa lagi? Aku harus cepat menyelesaikan kerjaanku sebelum jam tujuh nanti."
"Aku mencintaimu." ucap Prothos.
Widia terkejut dan langsung mematikan teleponnya.
"Kenapa dimatikan tanpa menjawabnya?" gumam Prothos kesal tidak percaya.