
Athos menghubungi Tasya ketika pulang dari café dan akan hendak tidur. Dia melakukan panggilan video namun Tasya tidak menerimanya.
"Apa Tasya sudah tidur ya?" ucap Athos.
Dia melihat jam di handphone-nya menunjukan pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Tiba-tiba Tasya meneleponnya.
"Kau sudah tidur? Maaf aku mengganggumu."
"Tidak, aku masih membaca buku." jawab Tasya. "Kau sudah pulang? Pasti kau lelah kan?"
"Aku akan memindah ke video call."
"Tidak Ato, Aku sudah mematikan lampu." ujar Tasya. "Kita bicara di telepon saja."
"Oke." jawab Athos duduk di kursi meja belajar. "Besok datanglah pagi-pagi ke sini. Sejak rabu kau tidak menemuiku, besok sabtu aku ingin melihat-lihat mobil untuk oprasional café. Kau bisa temani aku?"
Tasya terdiam.
"Kau pasti datang pagi kan? Aku akan membuatkanmu pasta favoritmu untuk sarapan."
"Maaf Ato, sepertinya besok pun aku tidak bisa menemuimu."
"Atau mau aku jemput?"
"Bukan begitu, ada banyak tugas sekolah yang harus aku kerjakan."
"Aku bisa membantumu."
"Tapi ini tugas kelompok."
Athos terdiam mendengar jawaban-jawaban kekasihnya tersebut.
"Apa kau sakit?"
"Tidak. Aku sehat Ato." jawab Tasya. "Sebaiknya kau istirahat saja sekarang. Pasti kau sangat lelah. Aku mencintaimu, Ato."
Tanpa menunggu Athos menjawab, Tasya mematikan teleponnya. Athos merasa ada yang aneh pada Tasya, tidak biasanya dia seperti itu.
...***...
Aramis pagi-pagi sekali terbangun, sejak semalam dia tidak bisa tidur nyenyak. Dia segera mandi dan turun untuk sarapan.
"Astaga, apa aku tidak salah lihat?" tanya Prothos yang duduk di meja makan bersama Athos. "Ini masih jam enam pagi, Ars. Kau sudah bangun dan mandi?"
"Biasanya jam segini kau baru akan tidur bukan?" tambah Athos tersenyum meledek kembarannya. "Kepalamu tidak terbentur saat tidur kan? Jangan-jangan akan ada badai besar hari ini."
"Diamlah!! Kalian berdua berisik sekali." gumam Aramis mulai memakan pisang. "Ato, tolong buatkan susu untukku. Aku harus kenyang sebelum bertarung."
...***...
Anna bersiap-siap karena hari ini dia sudah berjanji untuk menemani David ke acara pernikahan kakaknya. Jam tujuh pagi David akan menjemputnya, dan Anna masih punya waktu tidak sampai satu jam untuk bersiap-siap.
"Sepertinya aku memang harus memakai dress pemberian Tasya ini, karena cuma ini yang aku punya."
Dengan cepat Anna memakai dress tersebut namun dia kesulitan menarik resleting-nya karena terlalu panjang.
"Aduh, bagaimana ini?" gumam Anna berusaha terus.
Tiba-tiba dia mendengar pintu rumahnya terbuka. Dia melongok dari atas dan melihat Aramis masuk.
"Ars, untung kau datang." ucap Anna dari atas dengan kondisi resleting yang belum tertutup. "Tetap disitu dulu!!"
"Ada apa?" tanya Aramis dari bawah.
Anna masuk kembali ke kamarnya dan keluar menggunakan jaket yang tidak di resleting bagian depannya untuk menutupi punggungnya.
"Ars, aku percaya padamu, aku benar-benar sangat mempercayaimu." seru Anna.
Perkataan Anna membuat Aramis makin bingung.
"Naiklah."
"Sebenarnya ada apa?" tanya Aramis penasaran sambil menaiki tangga menghampiri Anna. "Kenapa?"
"Ars, aku sangat mempercayaimu tapi aku mohon jangan khianati kepercayaanku." ujar Anna menatap Aramis yang ada di hadapannya. "Tolong, bantu aku tarik resletingnya."
Aramis tertawa mendengar permintaan Anna.
"Aku mohon."
"Buka jaketnya dan berbaliklah!" seru Aramis.
Anna menggeleng.
"Aku tidak mau kau melihat punggungku."
"Lalu bagaimana caranya?"
"Tanganmu panjang, lakukan dari depan. Naikan resletingnya dari bawah nanti aku yang akan melanjutkannya." senyum Anna.
"Apanya yang percaya kalau begini..." gumam Aramis.
Aramis langsung mendekati Anna seperti posisi memeluk gadis itu. Dia berusaha mencari resletingnya dari dalam jaket namun tangan Aramis malah menyenggol punggung bagian bawah Anna dan mengenai kulitnya langsung.
"Ars, aku percaya padamu." bisik Anna.
Anna berusaha melanjutkan tapi dress yang sangat ketat tidak bisa membuatnya banyak bergerak.
"Astaga, kenapa susah sekali."
Tanpa diminta Aramis menaikan tangannya membuat pipi mereka berdua menempel. Tangannya masuk ke jaket Anna dari atas berusaha menuntaskannya. Anna sempat terkejut.
Anna tersenyum setelah Aramis membantunya.
"Kau memang yang terbaik Ars." ucap Anna mengacungkan jempolnya.
Anna masuk ke dalam kamar dan membuka jaketnya. Dia berdiri bercermin untuk melihat penampilannya. Aramis memperhatikan dari ambang pintu.
"Bagaimana?" tanya Anna melirik Aramis yang sempat terdiam memperhatikannya.
Aramis tertawa geli.
"Itu sangat tidak cocok untukmu. Kau tidak akan bisa banyak bergerak apalagi makan banyak." jawab Aramis bersandar di pintu.
"Aku melihatmu tadi memperhatikanku, pasti karena aku cantik kan? Apa aku seperti seorang model?"
Aramis hanya memanyunkan bibirnya, ekspresi malas menjawab.
"Aku lupa, aku tidak punya sepatu yang cocok untuk gaun ini." ucap Anna. "Ah, pakai yang ada saja aku rasa tidak masalah. Benarkan, Ars?"
"Anna, ganti bajumu!!" seru Aramis berdiri tegak.
"Apa? Aku rasa tidak masalah pakai ini. Sebentar lagi David pasti sampai." jawab Anna. "Ars, keluarlah dan beritahu aku kalau David sudah datang."
Aramis diam mematung. Anna sadar kalau Aramis pasti mau berulah mengganggunya.
"Aku tidak punya waktu menanggapi candaanmu."
"Ganti bajumu, kau tidak akan ke pesta itu!!" tatap Aramis dingin.
"Jangan mulai Ars!! Kau bilang kau akan mendukungku."
Aramis diam saja dan hanya berdiri di ambang pintu menatap Anna yang mulai terlihat kesal dan takut.
Tidak berapa lama terdengar suara klakson mobil, David sudah datang.
Anna maju ke pintu kamar hendak keluar namun Aramis menghalangi.
"Biarkan aku keluar."
Aramis menggeleng sedikit.
Anna mencoba menerobos namun Aramis menahannya dan memeganginya. Lalu mendorong Anna ke tempat tidur. Dengan segera Aramis menutup pintu kamar dan dia duduk bersandar di depannya.
"Kau keterlaluan, Ars." ucap Anna duduk di sisi tempat tidur menatap sahabatnya itu.
David berkali-kali mengklakson dan berkali-kali pula memencet bel. Namun sia-sia, tak ada jawaban.
"Maumu apa sih, Ars?" tanya Anna.
"Aku tidak ingin kau pergi dengannya, juga dengan pria lain manapun." ucap Aramis.
"Kau benar-benar menganggap aku anjingmu 'hah?
Aramis diam menatap Anna yang kesal.
"Ini benar-benar tidak adil, Ars!!" seru Anna kesal. "Kau tidak ingin aku pergi dengan pria lain? Lucu sekali kau ini."
Tiba-tiba handphone Anna yang berada di meja belajar dekat pintu bergetar. Aramis mengambilnya segera dan David yang menelepon.
"Setidaknya biarkan aku bilang padanya kalau aku tidak bisa ikut dengannya." ucap Anna.
Aramis memikirkannya sejenak dan langsung mendekati Anna, memberikan handphone-nya.
"Maaf David, sepertinya aku tidak bisa menemanimu ke pesta itu." ucap Anna dan langsung meletakkan handphone-nya saat David mematikan telepon setelah terdiam dan tidak menjawab.
Anna menengadah menatap Aramis yang berdiri tepat di hadapannya.
"Kau puas sekarang?"
Aramis masih bungkam. Dia duduk di bawah tempat tidur di samping Anna yang duduk di sisi tempat tidur. Aramis memunggungi Anna.
"Maafkan aku." ucap Aramis. "Aku memang egois, tapi aku tidak rela membiarkan pria lain bersamamu."
"Kau sangat tidak adil, bodoh!! Kau melarangku tapi kau sendiri bersenang-senang dengan wanita lain." ujar Anna mulai mengeluarkan air mata karena mengingat yang terjadi di villa antara Aramis dan Jessica. "Kenapa kau tidak membiarkan aku bersenang-senang dengan pria lain juga?"
"Itu tidak akan terjadi lagi." ucap Aramis menoleh. "Kalau kau melarangku, aku akan menurut mulai sekarang."
"Dasar bodoh!!" seru Anna semakin menangis.
Aramis berbalik dan memeluk Anna.
"Aku sangat membencimu, bodoh. Aku sangat membencimu!!" ujar Anna memukul-mukul Aramis yang memeluknya.
Lion duduk santai di beranda rumahnya dengan kacamata hitam, menyaksikan Aramis yang masuk ke rumah Anna, David datang tapi Aramis dan Anna tidak keluar dari rumah itu, hingga akhirnya David pergi dengan wajah kecewa.
"Sepertinya akan semakin menarik." senyum Lion.