
Pukul tiga pagi Prothos berjalan sempoyongan menuju ke suatu tempat. Dia menekan bel tempat itu setelah keluar dari lift. Prothos terlihat sangat kacau, jalannya terhuyung-huyung, pakaiannya berantakan dengan rambut dan wajah yang terlihat kacau, dan bau alkohol tercium dari tubuhnya. Sebelum dia ke tempat dia berada sekarang, Prothos mencari hiburan di klub malam untuk mengobati sakit hatinya yang baru saja diputus secara sepihak oleh Widia. Pemuda yang selalu tampil sempurna itu sekarang terlihat sangat kacau.
Pintu terbuka dan tanpa basa-basi Prothos menyambar tubuh seorang gadis yang membukakan pintu untuknya.
"Aku sangat mencintaimu, Widi." Racau Prothos. "Aku mohon maafkan aku, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku benar-benar sangat mencintaimu." Dekap Prothos memeluk gadis itu.
Gadis itu melepas pelukannya dan menatap Prothos.
"Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Wilda dan langsung menarik tengkuk Prothos untuk mencium pemuda yang sedang sangat mabuk itu.
...***...
Waktu menunjukan pukul lima pagi, saat Athos keluar kamarnya. Dia membuka pintu kamar Prothos dan tidak menemukan kembarannya tersebut. Dua jam yang lalu saat dia terbangun, dia juga memeriksa kamar Prothos yang kosong.
"Kemana dia?" Tanya Athos pada dirinya sendiri sambil menuruni tangga hendak ke dapur.
Aramis membuka pintu dan masuk dari luar rumah tepat ketika Athos menuruni tangga. Aramis baru saja kembali dari rumah Lion setelah bergadang bermain game bersama sahabatnya itu.
"Kau tahu dimana Oto?" Tanya Athos.
"Tidak." Jawab Aramis sambil menuang air dingin ke gelas dan segera meminumnya. "Biasanya jam segini dia lari pagi."
"Dia tidak pulang sejak kemarin sore." Ujar Athos.
"Sudahlah, Ato, kembaranmu itu sudah besar, kenapa kau selalu mencemaskannya?" Seru Aramis langsung berlari menaiki tangga.
Athos masih memikirkan Prothos. Dia sangat paham pada kembarannya yang satu itu, makanya dia menjadi khawatir seperti ini. Keadaan Prothos sejak kemarin saat bertengkar dengan kekasihnya kurang bagus. Kembarannya itu memiliki hati yang sensitif, dia mudah rapuh ketika mengalami sakit di hatinya. Berbeda dengan dirinya dan Aramis yang lebih logis ketika mengalami hal seperti itu.
...***...
Prothos merasa sangat sakit di kepalanya, dia mencoba membuka matanya dengan sangat sulit. Dia mengusap-usap wajahnya terlebih dahulu untuk membantunya lebih mudah membuka mata.
Dengan samar dia melihat seorang wanita berbaring menatapnya. Ketika pandangannya sudah fokus, pemuda itu terhentak saat mengetahui Wilda berbaring di sampingnya dengan mata yang menatapnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Prothos mencoba memikirkan semua yang terjadi padanya. Hingga akhirnya dia sadar kalau saat ini dia berbaring berdua bersama Wilda di tempat tidur apartemen gadis itu tanpa menggunakan pakaian.
"Aku sangat menyukaimu, kak. Setelah melakukannya denganmu aku semakin merasa kau adalah pria sempurna." Ucap Wilda tersenyum malu. "Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan hamil, kau menggunakan pengaman saat melakukannya."
Prothos hanya bisa menyesali dengan apa yang terjadi padanya. Tanpa sadar semalam dia pergi ke apartemen Wilda dan tanpa sadar juga dia melakukan hal terlarang itu dengan Wilda. Sekarang dia benar-benar sudah mengkhianati Widia, kekasihnya.
Prothos segera bergegas memakai pakaiannya dan ingin rasanya dia segera meninggalkan tempat itu secepatnya.
"Ada apa kak? Kenapa kau sudah mau pergi?" Tanya Wilda beranjak duduk.
"Dengarlah, Wilda!" Seru Prothos setelah memakai pakaiannya, dia menoleh pada Wilda yang masih duduk di tempat tidur. "Semua ini adalah kemauanmu, bukan kemauanku. Kau harus mengerti itu!"
"Maafkan aku, kak. Tapi saat kau melakukannya denganku, kau juga merasa sangat menikmatinya. Kau pasti juga menginginkannya 'kan?"
"Aku ingin kau tidak mendekatiku lagi di sekolah atau dimana pun." Lanjut Prothos tanpa memedulikan perkataan Wilda. "Aku tidak peduli dengan segala ancamanmu mulai saat ini."
"Apa segitunya kau sangat mencintai bu guru? Apa kau tidak bisa membuang rasa itu dan menggantinya dengan mencintaiku? Aku rasa aku lebih pantas menerima rasa cinta sebesar itu yang kau berikan kepadanya. Aku akan memberikan segalanya padamu, dan lihat, aku sudah memberikan segalanya itu padamu, kak."
Prothos tidak menghiraukannya, dia mengambil handphone yang diberikan Wilda padanya di saku celana yang baru saja dia pakai dan membantingnya. Setelah itu berjalan pergi meninggalkan Wilda yang menangis.
...***...
Melody keluar kamarnya dan melihat kakaknya Athos sedang berdiri di depan pintu kamar Prothos.
"Ada apa dengan kak Oto, kak?" Tanya Melody.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Athos tersenyum pada Melody.
"Tapi kakak terlihat mengkhawatirkan kak Oto." Ucap Melody. "Kak Oto baik-baik saja kan?"
"Iya dia baik-baik saja." Tatap Athos mencoma terlihat meyakinkan. "Kau mau kemana? Pergi dengan Niko?"
Melody mengangguk.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi kakak, ya?!" Seru Athos. "Dan jangan terlalu dekat-dekat dengannya, jangan biarkan dia menyentuhmu. Kau mengerti?"
Melody segera melengos begitu saja karena merasa malu dengan peringatan yang diberikan kakaknya itu. Dia merasa dia pun tahu itu dan dia juga tidak ingin Niko atau siapapun menyentuhnya.
...***...
Hari ini Niko membawa Melody ke kandang kuda dimana dia menitipkan kudanya. Dia ingin mengajak gadis itu menunggang kuda bersamanya. Setelah ajakannya ditolak kemarin, akhirnya Niko berhasil mengajak Melody dengan perkataannya.
Melody melihat Niko tampak senang ketika mereka berdua berada di mobil dalam perjalanan. Dia setuju dengan rencana hari ini setelah mendengar perkataan Niko. Dia memang ingin agar bisa mulai menyukai Niko bahkan kalau bisa dia ingin mencintainya secepat mungkin, karena sesungguhnya Melody sudah merasa menderita dengan perasaannya terhadap Lion. Dia ingin segera menghilangkan Lion dalam hatinya, walau sepertinya akan sangat sulit.
Setelah menempuh waktu hampir satu jam mereka sampai di sebuah kandang kuda dengan pekarangan area kuda yang sangat luas. Niko berganti pakaian terlebih dahulu sebelum membawa Melody masuk ke area pekarangan yang di batasi pagar.
Mereka berdua berjalan ke tempat itu dimana di dalam area pekarangan terdapat dua orang yang sedang menunggangi kuda mereka masing-masing. Melody terkejut ketika melihat Lion sedang menunggangi kudanya yang kemarin dia bawa ke sekolah, dan yang satunya adalah Nausha, kakak Niko.
"Ternyata mereka juga ada disini." Ucap Niko pada Melody. "Ayo, Melody." Niko menggandeng lengan Melody menuju seekor kuda yang bersama seseorang yang memegangi tali kekangnya.
Niko membantu Melody menaiki kuda miliknya dan setelah itu Niko naik dan duduk di belakang Melody. Gadis itu terlihat tegang karena takut kudanya akan mengamuk. Dia memegang lengan Niko yang memegangi tali kekang di depannya.
"Tidak apa-apa, kau bersama denganku." Ucap Niko yang terdengar seperti bisikan karena saat ini Niko berada di belakangnya, bahkan tangan Niko yang memegang tali kekang membuat Melody bisa merasakan lengan pemuda itu di punggung dan pinggangnya. "Sebaiknya kau juga memegang talinya." Niko langsung memposisikan tangan Melody memegang tali kekang juga.
Lion yang berada di atas kudanya melihat kehadiran Melody yang sebelumnya dia tidak tahu kalau Niko akan mengajaknya ke tempat itu hari ini. Dia terus memperhatikan mereka berdua hingga tak fokus lagi dengan kudanya.
"Ada apa Lion?" Tanya Nausha menatap Lion yang menghentikan pacu kudanya.
"Lihatlah adikmu." Jawab Lion. "Dasar tukang pamer."
"Kau juga ingin naik berdua denganku di kudamu?" Ujar Nausha.
Dengan tatapan malas pada Nausha, Lion langsung memacu kudanya berjalan. Lion keluar dari area pekarangan yang di batasi pagar dan memilih membawa kudanya ke pekarangan luas untuk menghindar dari Niko dan Melody.
Melody memperhatikan Lion yang langsung pergi jauh ketika kuda yang dia naiki bersama Niko masuk ke area pacu.
"Kenapa dia pergi?" Gumam Niko melihat Lion. "Kau tidak mengejarnya?" Tanya Niko pada Nausha.
"Percuma, dia akan kabur terus menerus." Jawab Nausha sambil memacu kudanya ke kandang dan turun.
Lion terus memacu kudanya menjauh dari sana. Dia tidak ingin melihat pasangan itu. Dia merasa hanya ingin sendirian saat ini, entah kenapa moodnya langsung hilang sekarang.
"Padahal aku sudah menemukanmu, Megan, tapi kenapa rasanya sesuatu masih ada yang hilang sekarang?" Keluh Lion sambil memacu kudanya.
...@cacing_al.aska...