
Seluruh anggota keluarga sudah duduk di meja makan untuk makan malam hanya Athos yang belum ada disana. Sehabis membuat makan malam Athos langsung naik ke atas dan masuk ke kamarnya.
"Kemana Ato? Kenapa dia lama sekali?" tanya ayah masih sibuk membawa perlengkapan makan ke meja makan.
"Melo, berikan handphone-mu!!" seru Prothos yang duduk di meja makan samping kanan Aramis yang saling berhadapan dengan Melody.
"Untuk apa?" tanya Melody.
"Berikan saja!! Jangan banyak tanya!!" seru Aramis.
Melody memberikan handphone-nya pada Prothos, lalu Prothos dan Aramis yang duduk bersampingan membuka aplikasi maps di handphone Melody. Mereka hendak membuat handphone Melody agar membagikan lokasi dimana dia berada dengan handphone Aramis.
Namun ketika mereka berdua membuka aplikasinya, mereka berdua saling tatap. Lalu Prothos mengembalikan handphone-nya pada Melody, tidak jadi melakukannya karena suatu hal.
"Ada apa?" tanya Melody heran melihat kedua kakaknya saling tatap. "Kalian berdua melakukan apa di handphone-ku?"
"Tidak jadi." kata Prothos tersenyum.
"Lion, dimana kau? Ikutlah makan malam bersama kami." ujar Ayah yang berdiri dengan handphone di telinganya.
Melody menoleh pada ayahnya karena saat ini ayahnya itu mengajak Lion makan malam bersama di rumahnya dengan meneleponnya langsung.
"Hah, dia sedang tidak di rumahnya ternyata." gumam Ayah mematikan teleponnya setelah Lion menolak ajakannya karena sedang tak ada di rumah.
Prothos dan Aramis menatap Melody yang memperhatikan ayahnya.
"Ars, panggil Anna, kita akan mulai makan malam." seru ayah dan langsung Aramis membuka handphone-nya. "Ato, cepat turun!!"
Tidak berapa lama Ato menuruni tangga, dia berpakaian rapi hendak keluar rumah.
"Kau mau kemana?" tanya ayah. "Kau tidak ikut makan?"
"Kalian makan saja, aku ada acara." jawab Athos sambil memasang jam tangan di lengannya.
"Kau mau kemana lagi? Video itu sudah tersebar dan kau masih mau keluyuran?" ujar ayah agak keras. "Jangan berbuat hal yang macam-macam lagi!! Tersisa tiga bulan lagi sebelum kau lulus. Jangan sampai kau dikeluarkan dari sekolah karena video itu!!"
Athos berdiri menatap ayahnya dengan tatapan kesal.
"Kau bisa mencoret namaku di kartu keluarga kalau aku sampai dikeluarkan dari sekolah, ayah." tantang Athos.
"Ya ampun, kau menantangku sekarang?" tanya ayah terpancing emosi.
"Sudahlah, kak. Biarkan dia melakukan segalanya yang dia suka." ujar paman Ronald yang duduk di samping Melody dan di hadapan Prothos. "Kalau dia dikeluarkan dari sekolah, kita lakukan seperti perkataannya, mencoretnya dari kartu keluarga!!"
Athos hanya tersenyum angkuh pada pamannya, setelah itu berjalan keluar.
"Dia semakin sombong dan tidak menghargaiku. Apa semua anak SMA sepertinya?" gumam ayah kesal melihat Athos. "Kalian berdua, kemana kembaran kalian itu pergi?"
"Kami tidak mau ikut campur urusannya, kami mau lulus sekolah dengan damai." jawab Prothos tersenyum pada ayahnya namun membuat ayahnya semakin kesal.
"Ayo cepat kita mulai saja makannya, Anna tidak ikut, dia masih sibuk dengan tugas sekolahnya." ujar Aramis. "Ayah, sendokan nasinya untukku!!"
Perkataan Aramis membuat ayahnya geram. Dia merasa sangat kewalahan menghadapi ketiga anak laki-lakinya yang sangat merepotkan.
Di luar, Athos yang membuka pintu di kagetkan dengan kehadiran Niko di rumahnya.
"Kuda ty idesh' kak Ato? (kau mau kemana, kak Ato?)." Niko berdiri tepat di pintu masuk ketika Athos membukanya. "Sepertinya video itu membuat kau sibuk. Tebe nuzhna moya pomoshch'? (Apa kau membutuhkan bantuanku?)"
"Prosto zaymis' svoim delom! (Urus saja urusanmu sendiri!)." seru Athos langsung berjalan ke garasi rumah.
Niko langsung masuk ke dalam rumah, semua yang ada di dalam rumah menatap kehadirannya yang langsung terlihat dari meja makan. Prothos dan Aramis menoleh melihat kedatangannya.
"Maaf aku sedikit terlambat, Melody." ucap Niko tersenyum sambil melambai pada Melody.
Aramis langsung bangkit berdiri dan keluar dari meja makan, merasa tak senang dengan kehadiran Niko.
"Siapa dia?" tanya ayah bingung.
"Tempo hari kau juga datang. Kau yang membuat Melody ketakutan itu 'kan?" tatap paman dari tempatnya.
"Apa-apaan ini Melo?" tanya kesal Aramis pada adiknya. "Aku tidak akan sudi makan bersamanya!" seru Aramis berjalan keluar rumahnya.
"Duduklah, Niko." ujar Melody tanpa memedulikan tatapan keluarganya.
Niko segera duduk di tempat Aramis sebelumnya. Dia duduk di hadapan Melody.
"Perkenalkan namaku Niko, aku ke sini karena Melody yang memintanya." ucap Niko. "Ah iya, biar lebih jelasnya, aku berniat mendekati Melody. Apa kalian tidak keberatan?"
Kakek yang duduk di kursi dekat Niko dan Melody tertawa.
"Kau terlihat sangat kuat, kami tidak keberatan." jawab kakek diiringi tawa. "Aku suka sifat terus terangmu." kakek menepuk pundak Niko.
Niko hanya tersenyum menjawabnya.
"Astaga, ini sangat menyebalkan." gumam Prothos sambil menggeser duduknya ke sebelah kanan di kursi kosong.
"Siapa namamu tadi?" tanya ayah ketus.
"Niko, paman. Sepertinya aku harus memanggilmu ayah." ucap Niko tersenyum pada Melody. "Bukan begitu, Melody?"
Paman Ronald tertawa mendengarnya, dia tidak percaya dengan sikap Niko yang menurutnya tidak jauh berbeda dengan ketiga kemenakan laki-lakinya.
"Melo, kau serius membiarkan anak ini mendekatimu?" tanya paman Ronald menoleh pada Melody. "Dia memang tampan tapi sepertinya itu saja tidak cukup."
"Tenang saja paman, keluargaku juga sangat kaya." sambar Niko percaya diri. "Aku rasa tak ada lagi masalahnya."
"Berapa usiamu?" tanya ayah.
"18 tahun." jawab Niko.
"Kau teman sekelas Melo kan?" kali ini paman Ronald menginterogasi. "Jangan bilang kau tidak naik kelas?"
"Karena satu dan lain hal." jawab Niko mengedipkan mata dengan percaya diri.
"Melo, kau serius?" tatap ayahnya terlihat tidak senang. "Padahal ayah pikir kalau kau lebih baik bersa-"
"Ayah, kita mulai saja makannya." sambar Melody karena dia dapat menebak apa yang mau dikatakan ayahnya.
"Iya benar, ayo kita makan!!" seru kakek.
...***...
Aramis yang kesal masuk ke rumah Anna. Anna yang berada di kamar langsung keluar melihat Aramis yang terlihat sangat kesal.
"Ada apa?" tanya Anna sambil berjalan turun tangga. "Bukannya kau sedang makan malam?"
"Bagaimana aku bisa makan disaat ada si tengik itu disana?" Aramis terlihat sangat emosional. "Entah bagaimana dia mempengaruhi Melo sampai-sampai Melo mengundangnya makan malam bersama kami."
"Maksudmu Niko?"
"Bahkan Melo tidak bersikap seperti itu pada Lion." ujar Aramis kesal. "Kami pikir dia akan menolaknya habis-habisan tapi ternyata Melo malah bersikap manis padanya."
"Sudahlah, biarkan Melo melakukan semua yang ingin dia lakukan." ujar Anna.
"Kau bilang apa? Ini masalah serius, aku tidak suka dengan si tengik Niko, apa kau tidak mengerti? Aku tidak percaya padanya!! Dia pasti akan berbuat yang macam-macam pada adikku!! Memikirkannya saja membuatku sangat ingin membunuhnya!!"
"Kau sudah melakukan apa yang aku bilang?" tanya Anna.
Aramis mulai mereda, dia menoleh pada Anna.
"Aku dan Oto ingin melakukan seperti yang kau bilang, tapi saat melihat sesuatu di aplikasi itu, kami rasa kami tidak perlu melakukannya."
Anna tertawa karena sudah bisa menebak maksud Aramis.
"Kau tenang saja, Melo akan aman. Dia akan menjaganya."