MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Pelukan Persahabatan



Anna bermimpi indah dalam tidurnya. Dia bersama dengan Aramis menaiki sepeda seperti waktu itu. Mereka tertawa dan bahagia bersama. Hingga Anna memasuki lorong cahaya yang memisahkan dirinya dari Aramis.


Anna menarik napasnya dan membuka mata. Dia bersyukur kalau yang dilihatnya barusan hanyalah sebuah mimpi buruk.


"Anna... Anna... kau baik-baik saja?" tanya Paman Ronald memukul perlahan wajah Anna yang tampak terkejut saat membuka matanya.


Anna mulai tersadar. Saat ini dia ada di IGD rumah sakit. Dia melihat ke sekelilingnya dan semuanya ada di sana, menatapnya dengan tatapan khawatir. Anna melihat Aramis berdiri di sampingnya, dan itu membuatnya lega.


Anna tersenyum untuk memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja pada semuanya.


"Aku baik-baik saja." senyum Anna mencoba bangun.


"Istirahatlah dulu!!" seru paman Ronald membantu Anna kembali berbaring dan tidak bangun. "Kalian semua keluarlah dari sini, biarkan dia istirahat dulu." setelah berkata begitu paman Ronald pergi.


"Lion..." panggil Anna sebelum semuanya keluar.


Lion menoleh kembali dan melihat Anna. Yang lain memperhatikannya. Bahkan Aramis tampak bingung kenapa Anna langsung memanggil Lion bukan dirinya.


Lion mendekati Anna, mengambil posisi Aramis yang langsung mundur.


"Ada apa?" tanya Lion memasang wajah bodohnya.


Anna mengangkat tangannya membuat gestur ingin memeluk. Dengan ragu Lion mendekatkan tubuhnya dan langsung disambut pelukan oleh Anna.


Semua yang melihat semakin tidak mengerti dengan yang terjadi. Namun Anna hanya ingin mengucapkan terimakasih pada Lion dengan memeluknya. Kalau tidak karena bantuan Lion, masalah Aramis tidak akan terselesaikan.


"Kenapa kau malah memelukku?" tanya Lion berbisik saat Anna memeluknya. "Sekarang Ars akan membunuhku."


Anna tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil mengusap-usap punggung Lion di pelukannya. Betapa besar rasa terimakasihnya pada sahabat dari pemuda yang dicintainya itu.


Dengan kesal Aramis menarik Lion dan menyingkirkannya dari pelukan Anna.


"Kenapa kau memeluknya?" geram Aramis pada Anna.


Anna hanya diam dan tersenyum.


"Kepalanya pasti terbentur sesuatu makanya dia jadi seperti orang gila begitu." ujar Lion mencari alasan.


"Diam kau!! Kenapa kau mau dipeluknya?" bentak Aramis menatap Lion.


Athos dan Prothos hanya memperhatikan mereka, dan Tasya yang berada disana hanya tertawa melihat kemarahan Aramis. Sedangkan Melody tampak kesal pada Lion.


"Ayo, keluar Lion!!" seru Athos.


"Tinggalkan dua orang bodoh ini!!" tambah Prothos.


Mereka semua langsung keluar meninggalkan Aramis dan Anna berdua.


Anna kembali mengangkat tangannya dan meminta pelukan pada Aramis.


"Cih, aku tidak mau. Kau baru saja memeluk Lion, jejak tubuh bocah itu masih menempel." ujar Aramis.


Anna terus mengangkat tangannya tanpa mendengar ucapan Aramis. Akhirnya Aramis langsung mendekatkan tubuhnya pada Anna yang masih berbaring, dan Anna segera memeluknya erat.


"Kenapa kau memeluknya?" tanya Aramis yang benar-benar cemburu. "Kau berani memeluknya di depanku."


"Bukankah lebih bagus dari pada aku memeluknya tanpa kau tahu?" ucap Anna masih memeluk Aramis. "Kau tenang saja. Aku hanya menganggap Lion adikku sekarang."


Anna melepas pelukannya. Lalu beranjak duduk dan menatap Aramis.


"Jadi awas saja kalau kau macam-macam pada Lion!!" seru Anna menatap tajam Aramis. "Lagi pula apa yang kau katakan? Jangan bersikap seolah-olah kau ini pacarku-."


Tiba-tiba Aramis menyambar bibir Anna dengan menciumnya.


"Kau benar-benar seekor harimau betina milikku." bisik Aramis menatap lekat Anna, dan hendak mencium Anna lagi namun Anna menghentikannya dengan menutup mulut Aramis dengan tangannya.


"Lain kali katakan saja semuanya padaku dengan jelas. Kau tidak perlu menunjukan lukisan seperti kemarin itu. Aku jadi telat mempercayaimu."


Aramis mengambil tangan Anna yang menutupi bibirnya, dan menggenggamnya.


"Aku tidak melakukannya dengan wanita itu. Kau juga percaya kan?" tatap Aramis dengan wajah sangat dekat dengan Anna.


Anna menjadi malu mendengarnya.


"Apa sekarang itu penting?" tanya Anna mengalihkan tatapannya dari Aramis.


"Kau pasti ingin tahu yang sebenarnya." ucap Aramis memegang wajah Anna agar menatapnya lagi. "Aku belum pernah melakukannya dengan siapapun."


"Arrghh, kenapa kau membenturkan kepalamu bodoh?!" ringis Aramis mengusap kepalanya yang sakit.


"Awww, sakit. Kepalaku juga sakit." keluh Anna yang juga kesakitan.


Aramis melihat Anna lagi karena dirinya sangat mencemaskan Anna.


"Kau baik-baik saja?" tatap Aramis saat Anna juga mengeluh kesakitan. "Istirahatlah, kau pasti kurang tidur karena tidak bisa tidur memikirkan aku kan?" ujar Aramis sambil membaringkan Anna.


"Aku selalu tidur nyenyak setiap malam." jawab Anna berbohong.


Aramis tidak menanggapi dan hanya menyelimuti Anna.


"Tetaplah di sini selagi aku tidur. Kau mengerti?"


"Sudah aku bilang, aku akan menuruti semua perkataanmu." jawab Aramis.


Anna tersenyum di balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan Aramis masih berdiri di samping tempat tidur menatap Anna yang tertutup selimut dengan senyum di wajahnya.


...***...


Anna dibolehkan pulang dan tidak menjalani rawat inap di rumah sakit. Itu pun atas permintaan Anna sendiri pada Paman Ronald.


Melody keluar dari mobil setelah sampai bersama yang lainnya. Sesaat dia memperhatikan kakaknya Aramis yang masuk ke rumah Anna mengantar gadis itu. Melody senang melihat mereka berdua bersama lagi.


"Kenapa Melon?" tanya Lion yang datang menghampiri Melody yang berdiri di depan pintu masuk sedangkan kedua kakaknya Athos dan Prothos sudah masuk ke dalam rumah. "Kenapa kau diam saja disini?" Lion baru saja datang setelah menaruh motornya ke rumahnya sendiri.


Melody hanya menatap Lion dengan tatapan kesal setelah itu membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Lion berjalan mengikutinya di belakang.


Melody menjadi kesal pada Lion setelah melihat Lion dipeluk Anna. Padahal sebelumnya Lion bilang kalau dia tidak suka dengan Anna, jadi seharusnya dia menolak saat Anna memeluknya.


Lion tetap berjalan di belakang Melody hingga menaiki tangga. Ketika Melody hendak masuk ke kamarnya Lion pun masih ada di belakangnya. Melody berhenti sebelum membuka pintu kamarnya dan menoleh pada Lion yang tersenyum bodoh.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Melody ketus.


"Aku tidak mengikutimu." jawab Lion bingung. "Ato memintaku ke kamarnya." lanjut Lion sambil menunjuk ke arah pintu kamar kakak Melody.


Melody sedikit malu mendengarnya. Gadis itu langsung membuka pintu dan masuk ke kamarnya tanpa berkata apapun lagi.


Lion hanya tertawa dan segera masuk ke kamar Athos yang sudah menunggunya.


Athos berada di kursi meja belajar menoleh saat Lion membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Ato?" tanya Lion setelah menutup pintu.


"Aku membutuhkan bantuanmu." jawab Athos membalikan kursinya dan duduk menghadap Lion yang berdiri di pintu kamarnya. "Apa kau bisa bermain golf?"


"Golf?" tanya Lion. "Kenapa kau bertanya begitu?"


"Besok ibu Tasya memintaku menemaninya saat bermain golf, dan dia juga mengajak si pecundang itu. Aku sama sekali belum pernah bermain golf, tapi aku tidak ingin si pecundang itu lebih baik dariku di depan ibunya Tasya."


"Aku pernah beberapa kali bermain golf, tapi aku juga tidak terlalu jago." ujar Lion.


"Berhentilah merendahkan dirimu di depanku. Aku tahu, disaat kau bilang tidak terlalu maka sebenarnya kau sangat mahir. Aku tahu kau sangat jago, maka dari itu aku meminta bantuanmu."


Lion tertawa mendengarnya, mencoba bersikap bodoh di depan Athos yang tidak bisa ditipu olehnya.


"Kau tidak akan bisa menguasainya hanya dalam waktu semalam." ujar Lion. "Tapi tenang saja Ato, aku rasa aku bisa membantumu." senyum Lion.


...***...


Aramis masuk ke rumahnya dan melihat Lion turun dari tangga. Dia segera berjalan mendekati Lion, sahabatnya itu.


"Aku pikir kau akan terus-terusan menjaga Anna, Ars." ujar Lion.


Tiba-tiba Aramis memeluk sahabatnya itu.


"Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah!!" seru Lion mendorong Aramis yang memeluknya erat.


Aramis hanya merasa dia harus melakukannya. Dia tahu kalau sahabatnya turut andil dalam mengeluarkannya dari masalah dengan Jessica. Walau tak ada yang mengatakannya dan tak tahu hal apa yang dilakukan Lion, tetapi melihat Anna yang memeluk Lion membuatnya tahu akan hal itu.


"Menyingkir bodoh!!" dorong Lion sekuat tenaga hingga Aramis melepas pelukannya. "Kenapa kau memelukku? Arrgghh, aku jadi merinding."


"Aku hanya mengambil kembali jejak Anna yang memelukmu tadi." jawab Aramis.


Prothos yang berada di atas memperhatikan mereka sambil memikirkan sesuatu mengenai Lion.