
Melody berjalan masuk ke kelasnya dan terkejut saat melihat Niko sudah duduk manis di tempatnya. Padahal hari-hari sebelumnya pemuda itu selalu datang di waktu yang sangat mepet dengan bel berbunyi ataupun datang telat. Apalagi sekarang masih kurang dua puluh menit lagi sebelum bel masuk berbunyi.
"Selamat pagi, Melody." Sapa Niko dengan senyum ceria yang hanya diperlihatkannya pada saat menggoda Melody saja.
"Selamat pagi." Jawab Melody dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Akhir minggu ini apa kau punya rencana?" Tanya Niko menatap Melody.
Melody tidak menjawab karena pertanyaan Niko sangat aneh untuknya. Hari ini baru awal minggu dan dia sudah menanyakan rencana di akhir minggu ini.
"Apa kita bisa pergi berlibur?" Tanya Niko lagi. "Kita pergi menginap di mansion keluargaku yang ada di pulau lain. Kau mau?"
Melody menoleh pada Niko karena dia merasa aneh pada perkataan Niko. Pergi berlibur bersamanya? Entah kenapa dia merasa Niko merencanakan sesuatu yang tidak-tidak padanya. Mungkin Niko merasa setelah dirinya setuju untuk menikah dengannya, dia jadi berpikir bisa seenaknya.
"Kenapa tidak menjawab?" Tanya Niko. "Kau sudah kembali ke mode silent rupanya."
Niko membuang napas menyerah dan hanya memicingkan matanya pada Melody yang menatapnya.
"Tapi kau tidak akan menarik kata-katamu kemarin kan? Atau aku akan memangsamu sekarang juga." Ujar Niko kesal.
"Tidak." Jawab Melody singkat sambil menoleh keluar jendela.
Dia melihat Lion baru saja masuk dari pintu gerbang sekolah dengan meluncur dengan skateboard-nya. Melody memperhatikan wajah Lion yang tampak murung, dia terlihat sangat tidak bersemangat. Melody berpikir pasti karena Lion kehilangan motor kesayangannya.
"Lion?" Ucap Niko yang ikutan melihat keluar jendela dan melihat Lion. "Dia masih saja seperti itu, padahal hanya kehilangan motornya saja."
Melody menoleh pada Niko, dia sedikit kesal dengan perkataannya karena bagi Lion motornya adalah segala-galanya, Melody sangat tahu itu.
"Dia menganggap motornya adalah pacarnya, tapi setiap tahun dia mengganti pacarnya itu."
"Apa maksudmu?" Tanya Melody.
"Dia selalu membuat motor barunya terlihat sama dengan motor lamanya. Lion memang orang paling aneh yang aku kenal." Jawab Niko. "Dia selalu memeluk dan menciumi motornya itu, sepertinya dia punya kelainan. Bahkan katanya dia belum pernah mencium seorang gadis. Kalau begitu, kemarin itu adalah ciuman pertamanya."
"Apa maksudmu?" Tanya Melody lagi.
"Aku mencium Lion, dan itu ciuman pertamanya." Jawab Niko sambil terkekeh.
Melody merasa aneh pada Niko. Sebelumnya dia juga pernah mencium kakaknya, Prothos. Melody menatap Niko yang masih tertawa dengan tatapan aneh pada pemuda tersebut.
"Niko, apa sebenarnya yang punya kelainan itu kau?" Tanya Melody curiga.
Niko berhenti tertawa dan melihat Melody yang menatapnya lekat. Dia jadi tahu kalau Melody berpikiran yang tidak-tidak padanya.
"Tidak, di Rusia mencium sesama pria itu biasa. Dan arti ciumannya pun berbeda-beda." Jawab Niko tersenyum. "Aku juga bisa menciummu seperti aku mencium kakakmu dan Lion kalau kau mau. Dan itu bukan ciuman yang sebenarnya."
Melody menarik pandangannya pada Niko karena sedikit merasa malu yang bercampur kesal pada Niko. Dia mengatakan hal itu dengan sangat mudah padanya. Gadis itu merasa malu.
"Lagi pula kita juga akan menikah." Gumam Niko.
Melody tidak menggubrisnya, dia hanya berpikir kalau dirinyapun belum pernah berciuman dengan siapapun. Tapi itu bukan masalah untuknya, dia juga tidak mau melakukannya, dia tak ingin sama sekali melakukan hal yang menurutnya aneh itu.
"Melody, jangan-jangan kau pun juga belum pernah ya?" Ucap Niko mencondongkan badannya dan sangat dekat dengan Melody.
Melody menoleh dan wajah Niko tepat di depan matanya. Lion yang baru masuk kelas melihat pada mereka. Dengan reflek Melody mendorong Niko dengan kesal. Sedangkan Niko malah tertawa pada Melody yang kesal.
"Ternyata tebakanku benar." Ucap Niko. "Ya, selama ini pasti ketiga kakakmu menjagamu dengan sangat baik. Aku beruntung sekali."
"Masih pagi dan mereka sudah bermesraan seperti itu." Gumam Lion menidurkan kepalanya ke atas meja. "Kenapa kau meninggalkan aku, Megan?"
...***...
Prothos berjalan menuju gudang dan membuka pintu ruangan favoritnya itu lalu segera masuk untuk tidur siang. Namun ketika dia hendak menutup pintu, tiba-tiba Wilda datang menahannya dan ikut masuk. Gadis itu menutup pintu dan menguncinya.
Prothos menahan emosinya melihat kehadiran Wilda. Bahkan setelah dia menerobos masuk, wajahnya masih saja terlihat polos dengan menundukan kepala dan gestur tangannya yang terlihat grogi.
"Sekarang apa lagi?" Tanya Prothos. "Kau bilang akan menghentikan semuanya setelah ciuman kemarin."
"Maaf, kak. Aku hanya merasa kalau sebenarnya kau tidak mau kan aku menghentikan semuanya?" Tatap Wilda.
Prothos membuang napas karena kesal. Dia mengeluarkan handphone pemberian Wilda dan menyodorkannya pada Wilda. Pemuda itu ingin mengakhiri semuanya.
"Ambilah, dan keluar!! Kau harus pegang janjimu!! Kalau tidak aku—"
"Aku apa kak?" Tanya Wilda lekat. "Kakak bisa berbuat apa?"
Prothos terdiam mencari jawaban karena sebenarnya posisinya tidak terlalu bagus jika berhadapan dengan gadis itu. Wilda masih bisa mengancamnya dengan membeberkan rahasianya ke pihak sekolah. Prothos tidak mungkin membiarkan itu terjadi.
Wilda maju beberapa langkah mendekat pada Prothos. Prothos tidak bergeming walau sebenarnya dia merasa takut. Tetapi dia harus berusaha agar dirinya terlihat yakin dan tidak takut pada ancaman gadis itu. Sekarang Wilda sudah berdiri sangat dekat dengan Prothos, bahkan Prothos bisa merasakan dada Wilda yang menempel padanya.
"Setelah kejadian semalam, saat aku tidur entah kenapa aku bermimpi kalau sebenarnya kau merasa kecewa saat aku menghentikannya, sehingga di dalam mimpi itu kau datang menemuiku dan kita melanjutkannya lagi. Dan kau merasa sangat senang dengan diriku ini, kak." Ucap Wilda dengan wajah yang sangat dekat dengan Prothos.
Dengan rasa takut akhirnya Prothos mundur untuk menghindari gadis itu. Akan tetapi Wilda kembali maju hingga akhirnya Prothos tidak bisa mundur lagi karena di belakangnya sudah ada meja yang menghentikan langkah mundur pemuda itu.
"Kau kenapa, kak?" Tanya Wilda sambil melepas kacamatanya, wajahnya terlihat merona karena senang.
Wilda masih saja maju hingga Prothos bersandar pada meja, dan tiba-tiba gadis polos itu menarik tengkuk Prothos dan langsung menyambar bibir Prothos. Gadis itu menunjukan kepiawaiannya dalam berciuman dan menggunakan lidahnya sebagai senjatanya.
Lagi-lagi Prothos terlena dengan bisa gadis itu. Prothos membalas ciuman tersebut dan tidak mau kalah dengan Wilda. Mereka beradu lidah dan bertukar saliva satu sama lain. Bahkan Prothos memutar posisinya dengan menaikan Wilda terduduk di atas meja. Pemuda itu sudah tidak mampu berpikir ataupun menahan hawa nafsunya saat ini.
Prothos mencium leher Wilda sambil tangannya membuka seragam sekolah gadis itu, lalu diraihnya salah satu dari gunung kembar milik Wilda.
"Tidak, kak." Ucap Wilda menghentikan tangan Prothos. "Kita ada di sekolah saat ini. Kita tidak bisa melanjutkannya disini."
Prothos berhenti dan menatap Wilda.
"Sudah aku bilang kau Bisa keluar masuk ke tempatku sesukamu." Ucap Wilda tidak berani menatap mata Prothos yang sangat dekat di depannya. Gadis itu masih saja memperlihatkan kepolosannya. "Kita bisa merahasiakan ini dari siapapun termasuk bu guru."
Prothos mundur karena tersadar saat Wilda bilang begitu. Dia teringat kembali pada kekasihnya. Rasa bersalah langsung menyelimuti diri pemuda itu setelah tersadar dari pengaruh gadis yang ada di depannya.
Wilda merapikan pakaiannya dan setelah itu berjalan keluar tanpa mengatakan apapun lagi.
Prothos terdiam karena merasa sudah mengkhianati kekasihnya. Dia sangat terlena dengan mengikuti permainan Wilda saat ini.
Dengan langkah yang berat Prothos berjalan keluar dari gudang hendak ke toilet karena tubuhnya terasa sangat berkeringat hingga rambutnya basah setelah melakukan hal yang tidak dia lakukan bersama Wilda.
Prothos keluar dari gudang dan melihat Wilda masih berjalan tidak jauh dari tempatnya. Ketika dia berbalik, Prothos terhentak karena melihat Widia yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
Widia melihat ekspresi kekasihnya yang sangat terkejut saat melihatnya. Widia juga memperhatikan kalau saat ini Prothos sangat berkeringat setelah keluar dari gudang sebelum beberapa detik Wilda keluar juga dari tempat yang sama dengan kekasihnya keluar sambil merapikan rambut dan memakai kacamatanya.
Widia tahu sesuatu telah terjadi.
...@cacing_al.aska...