MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Si Pintar Yang Jenius



Jam kursus Melody berakhir. Gadis itu berjalan bersama Monik temannya di tempat kursus, hendak keluar dari tempat kursus mereka.


"Seharusnya kau juga ikut audisi grup idol itu, Mel. Aku sangat yakin kau akan lulus." Ujar Monik berjalan di samping Melody.


"Aku tidak tertarik dengan grup idol. Itu tidak cocok denganku." Jawab Melody. "Lagi pula jika bergabung dengan grup idol aku jadi terikat kontrak dan tidak bisa menikah setelah lulus."


"Apa maksudmu?" Tanya Monik. "Kau akan menikah setelah lulus? Dengan siapa?"


Melody menoleh ke arah Niko yang sudah menunggunya di luar tempat kursusnya. Niko melambaikan tangan seperti biasa dengan senyum ketika Melody melihatnya. Pemuda itu datang untuk menjemput Melody.


"Dengannya?" Tanya Monik terkejut.


Melody diam saja karena Niko sudah berjalan menghampirinya. Tanpa diminta, Niko langsung mengambil gitar yang dibawa oleh Melody.


"Bagaimana harimu di tempat kursus? Apa menyenangkan?" Tanya Niko.


Melody mengangguk tipis menjawabnya.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Niko.


"Aku pulang dulu ya." Pamit Melody pada Monik yang masih tercengang mendengar perkataannya tadi hingga tidak bisa berkata apapun.


Monik terus memperhatikan bagaimana Niko memperlakukan Melody dengan sangat baik. Bahkan Niko membukakan pintu mobil untuknya dan memakaikan sabuk pengaman pada Melody.


"Dia sangat beruntung sekali, selain punya tiga kakak keren dan sahabat yang sama kerennya, sekarang dia bersama calon suami yang keren juga." Ucap Monik masih memperhatikan mobil yang dinaiki Melody melaju pergi.


"Aku bukan sahabatnya." Ujar Lion yang berada di pojokan sedang berjongkok di tempat gelap yang tak ada lampu. Dia terlihat bersembunyi agar tidak ada yang melihatnya.


Monik terkejut melihat keberadaan Lion disana. Dia menjadi bingung karena Melody sudah pergi dijemput oleh Niko barusan dan kenapa ada Lion disana?


"Melody baru saja pergi bersama pria yang seperti vampir itu. Kenapa kau disini?" Tanya Monik menghampiri Lion.


Lion bangkit berdiri dengan menghela napas panjang.


"Aku sedang mencari keberadaan motorku di daerah sini." Jawab Lion. "Sudah dua hari motorku hilang."


"Benarkah?" Tatap Monik.


"Sudah malam, aku akan pulang saja. Pencarianku berakhir nihil." Seru Lion sambil berjalan pergi menjauh dari Monik yang masih melihatnya dengan tatapan aneh.


Lion berjalan sambil meracau karena motornya masih belum ditemukan hingga saat ini. Dia sangat kesal dan perasaan kehilangannya semakin menjadi.


"Dia memperlakukannya dengan sangat baik." Gumam Lion. "Aku harap itu terjadi padamu, Megan."


Lion menengadah menatap langit malam dengan mata yang memerah dan wajah sayu.


***


Prothos berbaring merasa tak enak badan setelah kembali dari tempat Widia. Tubuhnya lemas dan dia tak napsu makan, hal itu yang membuat tubuhnya menjadi sakit.


Namun sebenarnya pikirannya lah yang membuatnya menjadi sakit. Dia terus memikirkan perkataan Widia tentang hubungan mereka, dan itu membuatnya sangat bersedih saat ini. Selain itu, dirinya juga merasa bersalah pada Widia karena sudah mengkhianatinya dengan berciuman dengan wanita lain, bahkan itu bukan sekedar ciuman biasa dan lebih dari sekali.


Athos masuk ke kamar Prothos membawa makanan untuk kembarannya itu. Sudah jam sembilan malam. Prothos adalah orang yang selalu mengatur jam makannya dengan baik dan tidak pernah melupakannya. Namun ketika ada yang mengganggu pikirannya, apalagi ketika dia merasa sakit hati karena masalah percintaannya, dia akan langsung mogok makan. Hal itu yang membuatnya langsung jatuh sakit.


"Makanlah dulu, dan minum obat ini." Ucap Athos menyodorkan makanannya pada Prothos yang berbaring di tempat tidur.


Prothos tidak menjawab. Dia hanya menatap ke langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


"Jawablah, Ato, syarat utama pria dan wanita menjalin hubungan itu apa?" Tanya Prothos.


"Saling mencintai." Jawab Athos.


"Apa ada syarat lainnya?"


"Aku rasa tidak ada. Saling mencintai adalah syarat satu-satunya pria dan wanita menjalin hubungan. Itu syarat yang mutlak."


"Lalu kenapa dia ragu?" Tanya Prothos. "Dia berbicara seakan-akan menyesal menjalin hubungan denganku selama ini. Itu membuatku marah sekaligus sakit hati."


"Disaat seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, disaat itu keraguan akan muncul pada dirinya sendiri. Apa lagi jika objek yang dibandingkan dengan dirinya tidak sepadan dengannya, dia akan menjadi tidak percaya diri."


"Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun tentangnya, buatku tidak apa-apa kalau dia seperti itu. Asalkan kami saling mencintai dan menerima satu sama lain seharusnya dia tidak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain."


"Tidak semudah itu, Oto. Wanita berbeda dengan kita, mereka selalu bertanya-bertanya pada dirinya sendiri dibanding meyakinkan dirinya seperti yang kebanyakan pria lakukan. Karena itu mereka gampang sekali menjadi ragu." Ujar Athos.


"Kau benar." Jawab Prothos.


"Oto, apa kau masih ingin merahasiakannya padaku?"


Prothos menoleh pada Athos. Dipikirannya bertanya kenapa Athos menanyakan hal itu. Seharusnya siapa kekasihnya bukan lagi menjadi rahasia karena Wilda sudah dikenal luas kalau gadis itu adalah kekasihnya, apalagi kemarin Wilda datang ke rumah mereka.


"Aku tahu gadis berkacamata itu bukan pacarmu yang sebenarnya." Ucap Athos. "Kau masih tidak ingin mengatakannya?"


Prothos kembali menatap langit-langit kamarnya, enggan menjawab yang sebenarnya.


"Kau merahasiakan dari kami semua, kau pernah bilang kalau kau harus lebih hebat darinya, dan gadis berkacamata yang adalah pacar palsumu muncul." Ujar Athos. "Apa kau mau aku menebaknya?"


Prothos sedikit tertawa mendengar kembarannya itu hingga menoleh pada Athos.


"Kau merahasiakan dari kami itu artinya kami mengenalnya atau tahu siapa dia. Kau harus hebat darinya itu berarti wanita itu bukan wanita biasa saja. Dan yang terakhir pacar palsumu, dia tahu siapa pacarmu yang asli dan aku tebak kalau dia mengancammu. Itu terlihat dari ekspresimu kemarin saat gadis itu datang kesini. Dan karena pacar palsumu adalah murid di sekolah kita, itu berarti pacarmu yang asli juga ada di sekolah kita."


Prothos terkejut mendengar rincian dari yang dijabarkan Athos. Semuanya tepat sekali. Dia segera duduk untuk mendengarkan lebih lanjut.


"Inisialnya sama dengan inisial pacar palsumu kan?" Selidik Athos. Setelah itu mengambil topi milik Prothos yang ada di meja. "Ini memang terlihat seperti Wilda, tapi ini sebenarnya adalah Widia, salah satu guru di sekolah." Athos menunjukan tulisan sambung yang ada di topi milik Prothos yang hanya huruf W dan A yang terlihat jelas.


Prothos tertawa mendengar jawaban tepat dari kembarannya tersebut.


"Sepertinya memang benar kalau dia." Ucap Athos.


"Kau benar sekali." Jawab Prothos. "Kau bukan pintar tapi kau jenius, Ato."


"Ya, terakhir kali aku test IQ, IQ ku sudah termasuk dalam kategori jenius." Jawab Athos sombong. "Lalu apa yang terjadi dengan hubungan kalian?"


"Sepertinya dia mulai ragu karena perbedaan usia kami." Jawab Prothos setelah itu mengusap-usap wajahnya. "Dia menganggap menjalin hubungan denganku adalah kesalahan. Itu sangat membuat hatiku hancur."


"Tidak masalah, hatimu hanya hancur bukan lenyap. Kau bisa menyatukan kembali hatimu yang hancur itu dan semua akan kembali seperti semula." Ujar Athos bangkit berdiri. "Ingat pesan ayah, teruslah berusaha lakukan yang terbaik untuk hubungan kalian, agar kau tidak menyesal di kemudian hari. Ayahmu sepertinya tahu kalau ini akan terjadi padamu." Tambah Athos sambil berjalan menuju pintu keluar.


"Dia ayahmu juga, dasar angkuh!!" Seru Prothos menanggapi perkataan Athos yang sudah keluar dari kamarnya.


Prothos memikirkan kembali perkataan ayahnya waktu itu dan dia rasa kalau memang seharusnya dia tidak berhenti begitu saja. Dia ingin berusaha lebih lagi untuk hubungannya bersama kekasihnya, Widia. Dia harus melakukan sesuatu untuk itu karena rasa cintanya sangatlah besar pada kekasihnya tersebut.


...@cacing_al.aska...