
Melody memasuki rumah besar milik Niko dengan seorang asisten rumah tangga mengantarnya ke tempat di mana saat ini Niko berada.
Niko berada di kolam renang indoor tempat favorit-nya. Dia sedang berenang saat ini. Melody memperhatikan Niko yang berenang. Gerakannya sangat cepat bahkan jauh lebih cepat dari kakaknya sendiri, Athos.
Melody terus memperhatikan dan merasa kalau Niko terlihat lebih bahagia saat berada di dalam kolam renang. Dia sangat fokus hingga tidak melihat Melody berdiri di sana.
Akhirnya Niko melihat keberadaan Melody yang sejak sepuluh menit berdiri tidak jauh dari kolam renang. Dia segera keluar dari kolam dan berjalan mendekati Melody.
"Kenapa kau tidak memanggilku?" Tanya Niko sambil berjalan ke arah Melody dan membuka penutup kepala beserta kacamata renangnya.
"Aku tidak ingin mengganggumu." Jawab Melody dengan sedikit tersenyum melihat Niko.
"Kau ingin ku ajarkan berenang? Aku menjamin kau akan langsung bisa." Niko membuka resleting baju renangnya lalu mengusap wajahnya dari air.
Melody menggeleng menjawabnya.
"Aku tidak mau, aku senang tidak bisa berenang." Jawab Melody. "Kau baik-baik saja? Aku pikir kau benar-benar sakit."
"Tidak, aku hanya mencari perhatian darimu." Jawab Niko dengan terang-terangan. "Kau mengkhawatirkan aku kan?"
Melody diam saja tak mau menjawab.
"Baiklah, aku akan ganti pakaian dulu. Kau sudah makan? Habis ini kita makan siang, habis renang aku jadi lapar." Ujar Niko. "Tunggulah di meja makan atau ingin ikut aku ke kamar?"
Melody langsung berjalan tak ingin menanggapi candaan Niko.
Tidak berselang lama Niko datang ke meja makan setelah berganti pakaian. Melody yang sudah duduk di meja makan memperhatikan Niko yang tampak sangat pucat dan membuatnya benar-benar terlihat seperti vampir.
"Wajahmu pucat sekali, kau baik-baik saja?" Tanya Melody pada Niko yang duduk di kursi tunggal di samping kanannya. "Kau sudah minum obat penambah darah?"
"Yang aku butuhkan menghisap darahmu, bukan obat penambah darah." Jawab Niko sambil melirik Melody dengan menggoda. Tangannya mengeluarkan beberapa obat dari saku mantelnya.
"Kau sering begadang kata asisten rumah tanggamu yang mengantarku tadi. Berhentilah bergadang, sebaiknya kau tidur cukup. Karena kau bukan vampir sungguhan yang tidak butuh tidur." Ujar Melody.
Melihat sikap Melody membuat Niko mematung. Melody begitu memperhatikannya dengan kata-katanya. Dia jadi merasa aneh. Niko tahu kalau Melody adalah gadis dingin yang keras kepala tetapi hari ini sikapnya terlihat berbeda. Hal itu mengingatkannya mengenai pertanyaan Tasya tentang kenapa Melody menyetujui untuk menikah dengannya.
"Melody, apa kau masih belum mencintaiku?" Tatap Niko.
"Aku sudah bilang itu akan sangat sulit untukku."
"Kalau begitu aku tidak akan menikahimu."
Melody tertegun mendengar perkataan Niko. Perasaannya bingung mendengarnya. Dia merasakan kelegaan saat mendengarnya namun melihat raut wajah Niko membuatnya tidak tega merasakan kelegaan itu. Niko terlihat sangat menahan emosi sedihnya saat berkata seperti itu, terlihat dari guratan wajahnya yang menegang.
"Aku menyadarinya, ini terasa aneh. Kau setuju menikah denganku padahal kau sama sekali tidak menyukaiku." Ujar Niko tidak menatap Melody dan hanya memandang ke depan agak menunduk.
"Kenapa sekarang hal itu jadi masalah?" Tatap Melody.
"Apa alasannya kau setuju menikah denganku?" Niko menoleh pada Melody dan menatap gadis itu dengan tajam.
Melody berpikir kalau dia tidak mungkin menjawab semua itu karena dirinya sangat mengasihani Niko. Dia juga tidak mungkin bilang jika dia melakukannya untuk membuat ketiga kakaknya merubah sikapnya pada Niko yang malang itu. Dia juga tidak akan bilang jika dirinya mau menikah dengan Niko karena ingin menebus perbuatan Aramis padanya.
"Karena kau tampan dan kaya." Jawab Melody. Dia mengingat perkataan Lion tadi. Jadi Lion sudah mengira kalau Niko akan bertanya akan hal itu pada Melody.
Niko sedikit tertawa mendengarnya. Baginya itu adalah jawaban yang klise, karena dia juga menjawab hal yang sama saat Tasya bertanya padanya.
"Lalu bagaimana dengan impianmu?"
"Aku tidak butuh yang lainnya setelah menikah dengan pria tampan dan kaya." Jawab Melody. Walau berkata seperti itu sebenarnya Melody merasakan kesedihan dalam dirinya. Dia masih ingin menggapai mimpinya, bahkan dia sudah merencanakan untuk mengikuti audisi, tapi sepertinya dia memang harus mengubur mimpinya itu. "Niko, aku akan menikah denganmu."
"Bagaimana dengan Lion?"
Sekali lagi pertanyaan Niko membuat Melody berusaha untuk menahan air matanya. Dia tidak ingin terlihat ragu dengan menunjukan kesedihannya di hadapan Niko.
"Kenapa kau bertanya mengenainya padaku? Bukankah semua ini tidak ada sangkut paut Lion?"
"Apa benar kalian pernah berkencan?" Tatap Niko lekat. "Kau ataupun Lion tidak pernah mengatakannya padaku soal hal itu."
"Karena itu bukan kencan, Niko." Jawab Melody. "Kakakku memberikan tiket itu pada Lion dan memintanya mengajakku ke taman hiburan. Kami tidak berpikir kalau itu kencan."
"Lalu bagaimana perasaanmu padanya? Kau tidak menjawab dengan benar saat terakhir kali aku bertanya tentang hubungan kalian."
"Apakah itu penting sekarang? Aku sudah bilang akan menikah denganmu, kau fokus saja untuk membuatku mencintaimu."
Niko tertawa mendengarnya. Dia merasa sangat aneh dengan jawaban Melody. Semua yang ditanyakannya hampir dijawab sama persis dengan jawaban Lion kemarin. Tapi itu bukan masalah untuknya, tujuannya hanya ingin tahu saja bukan untuk meyakinkan dirinya.
"Ya, aku hanya ingin tahu saja, aku juga tidak ada niat serius untuk tidak jadi menikah denganmu." Jawab Niko dengan senyum dingin pada Melody.
Melody hanya mematung mendengar ucapan Niko.
...***...
Sebelumnya di sekolah, saat bel pulang berbunyi, Lion menemui Melody yang hendak beranjak dari tempat duduknya. Melody merasa aneh karena Lion mendekatinya lagi. Walau tadi saat istirahat dia bilang akan bersikap biasa lagi pada Melody namun bagi gadis itu tidak semudah itu.
"Pergilah ke rumahnya, kau harus menemuinya." Seru Lion. "Saat seorang saudara melakukan kesalahan pada seseorang, maka tugas saudara lainnya yang harus menebusnya."
Melody terkejut, ternyata Lion sudah tahu kalau dia mengetahui perbuatan Aramis pada Niko.
Setelah berkata demikian Lion langsung berjalan pergi meninggalkan Melody yang bingung. Melody berpikir apakah dia harus menemui Niko atau tidak, namun apa yang dikatakan Lion benar. Walau dia merasa sedih saat mendengar perkataan Lion, tapi itupun sudah menjadi keputusannya untuk menebus kesalahan kakaknya.
Di dalam taksi saat menuju rumah Niko, tiba-tiba Melody menerima sebuah pesan berisi rekaman dari Lion. Melody mendengarkan rekaman tersebut dengan earphones. Rekaman saat Niko bertanya pada Lion kemarin.
Melody merasakan sakit di hatinya saat mendengar semua jawaban Lion. Walau semuanya sudah pernah dia dengar, namun semua itu masih menyakitkan untuknya.
Di rekaman tersebut ada yang membuat Melody penasaran. Kalimat yang diucapkan Lion dalam bahasa Rusia. Yang tidak dia mengerti, dan Niko juga menjawabnya dengan bahasa Rusia juga.
...***...
Lion berada di taman bermain trampolin raksasa sedang meloncat-loncat. Lion membuka kembali pesan rekaman yang dikirimkannya pada Melody, sebuah permen lolipop ada di mulutnya.
Dia menyadari kalau rekaman yang dikirimkannya salah, seharusnya dia mengirimkan rekaman yang sudah dipotong beberapa bagian. Namun dia mengirimkan rekaman aslinya.
"Kau bodoh sekali, Lion." Gumam Lion setelah itu membaringkan dirinya di atas trampolin. "Masalah baru akan muncul kalau dia tahu artinya."
Lion merentangkan tangannya di atas trampolin dan membuang napas dengan permen lolipop masih ada di dalam mulutnya.
...@cacing_al.aska...