
Melody duduk di meja belajar di dalam kamarnya. Dia memikirkan hal yang terjadi tadi antara dirinya dan Niko. Setelah dia melihat tangan kiri Niko, Niko tidak menemuinya lagi dan menyuruh seorang supir mengantar Melody pulang.
Saat ini Niko pasti sangat marah padanya sehingga dia tidak mau menemuinya. Melody menjadi sedikit menyesal karena melakukan semua itu kepadanya. Melody mengerti kalau hal seperti itu pasti tidak ingin dilihat oleh siapapun.
Alasan kenapa gaya berpakaian Niko seperti itu, semua karena keadaan tangannya. Tapi Melody masih penasaran kenapa tangan Niko bisa seperti itu. Apa yang terjadi padanya?
Drrrttt drrrttt
Sebuah pesan masuk. Melody membukanya. Ternyata pesan dari Rinka teman yang duduk di kursi depannya. Dia mengirimkan sebuah gambar yang langsung membuat Melody terkejut.
Foto Prothos bersama Wilda yang berdiri berhadapan di saat Prothos sedang memegang lengan Wilda yang memegang kacamatanya.
Apa kakakmu dan Wilda dekat? Atau mereka sudah berpacaran? Foto ini sudah tersebar di sekolah.
Begitu isi pesan dari Rinka.
Melody tidak membalas dan melihat ke catatan panggilannya. Tadi pagi Prothos memang menelepon Wilda dengan handphone-nya. Melody jadi berpikir kalau kakaknya itu memang mendekati Wilda.
Pandangan Melody teralih ke catatan panggilan di bawah nomer handphone Wilda. Terdapat catatan panggilan tak terjawab di hari kemarin sekitar pukul sepuluh pagi. Walau nomer tersebut tidak tersimpan di handphone-nya namun Melody tahu kalau itu adalah nomer Lion.
Melody mulai mengingat saat Lion masuk ke dalam toko donat, handphone-nya berada di telinganya waktu itu. Apakah saat itu Lion meneleponnya? Tapi waktu itu handphone-nya sedang dipinjam Anna.
"Sudahlah." ucap Melody meletakkan handphone ke atas meja.
Melody melihat ke luar jendela kamarnya ke arah kamar Lion yang masih gelap. Dia teringat sesuatu. Sewaktu sakit Lion mengatakan padanya ketiga calon kakak ipar Melody sudah menjenguknya.
Waktu itu wakil dari kelas mereka yang menjenguk Lion adalah wali kelas bersama Wilda beserta tiga orang lainnya. Apa Lion tahu kalau Prothos berpacaran dengan Wilda? Jadi Wilda adalah pacar Prothos yang disembunyikan kakaknya dari siapapun?
Melody langsung bergegas ke kamar Prothos yang ada di depan kamarnya. Dia membuka kamar Prothos tapi kakaknya itu tidak ada disana. Namun dia melihat sesuatu di atas meja belajar Prothos. Sebuah topi bucket hitam dengan sebuah tulisan.
Melody berjalan mengambil topi tersebut untuk memperhatikannya. Tulisan di topi itu berupa huruf sambung yang tak terbaca namun huruf awalan dan akhir terlihat jelas kalau W dan A.
Dugaannya menjadi semakin yakin kalau Prothos dan Wilda sudah berpacaran agak lama, memecahkan rekor waktu terlama Prothos berpacaran dengan kekasih-kekasih sebelumnya yang tidak lebih dari satu bulan. Melody pernah melihat Prothos memakai topi tersebut sehari setelah hari ulang tahunnya.
Aku rasa semua dugaanku benar.
"Ada apa Melo?" tanya Prothos yang tiba-tiba masuk dan melihat Melody ada di dalam kamarnya.
"Kakak sudah lihat foto ini?" ujar Melody menunjukan foto di handphone-nya. "Tadi pagi kakak juga menelepon Wilda kan?"
Prothos tersenyum menjawabnya.
"Gosip itu benar kak?" tanya Melody lagi. "Jadi kau dan Wilda sudah berpacaran?"
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Topi ini." Melody memperlihatkan topi yang dipegangnya. "Tulisan di topi ini adalah Wilda kan?"
"Tidak, Melo." jawab Prothos sambil mengambil topi tersebut dari tangan adiknya. "Dia bukan pacarku. Bahkan kami baru mengenal."
"Benarkah? Tapi topi itu hadiah ulang tahun darinya kan?" selidik Melody. "Kau menyembunyikan kalau dia pacarmu karena tidak ingin siapapun tahu karena dia teman sekelasku kan?"
"Melo, kalau dia pacarku untuk apa aku menanyakan nomer handphone-nya padamu tadi pagi?" tatap Prothos meyakinkan.
"Lalu katakan kalau bukan dia siapa? Karena semua klu yang aku dapat mengarah padanya."
"Kau ini bukan detektif tidak perlu mencari tahu dengan klu-klu yang ada." seru Prothos mengusap kepala Melody. "Keluarlah, kakak mau tidur."
Melody berjalan keluar segera. Dia memikirkan apa yang dikatakan Prothos benar. Untuk apa dia menanyakan nomer handphone Wilda jika memang Wilda kekasihnya.
...***...
Ketika pak guru pelajaran matematika masuk ke kelas tiba-tiba Niko menyelinap masuk lebih dulu dan langsung berjalan ke tempatnya. Kali ini Niko tidak melihat sama sekali pada Melody sampai dia duduk pun tidak menoleh pada gadis yang menatapnya.
Lion melihat ada keanehan pada diri Niko dan Melody. Begitu pun dengan Melody yang merasa aneh karena biasanya Niko akan melambaikan tangannya ketika muncul di ambang pintu kelas dan tersenyum padanya.
Bel istirahat berbunyi.
"Lionel, datanglah ke ruangan guru, ada yang harus ibu sampaikan." seru Widia setelah itu keluar ruangan kelasnya.
Niko menutup bukunya dengan tangan kirinya yang memakai sarung tangan, tiba-tiba Melody memegang telapak tangannya itu tepat ketika Lion berdiri dan melihat ke arahnya.
Lion melihat sambil berjalan pergi keluar ruangan.
"Niko, maafkan perbuatanku kemarin." ucap Melody pada Niko yang duduk di sampingnya. "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi dan aku rasa itu positif jika kau ingin mendekatiku."
Niko melihat tangannya yang digenggam Melody. Entah kenapa dirinya mendapatkan energi yang sangat besar ketika Melody memegang tangannya. Dia semakin ingin mendekati Melody dan membuatnya menyukai dirinya. Bahkan menjadi miliknya.
"Tapi aku tidak akan memaksamu." ucap Melody melepas pegangan tangannya pada Niko.
"Aku akan mengatakannya padamu saat pulang sekolah."
...***...
Lion berjalan menuju ruangan guru sambil memikirkan keanehan pada diri Niko dan pada Melody yang memegang tangan Niko tadi. Walau dia berusaha untuk tidak memikirkannya dia terus saja merasa terganggu.
"Lion." panggil Widia yang duduk di hadapan Lion.
Lion terkejut karena tanpa sadar dia sudah berada di ruangan guru dan duduk di hadapan Widia, wali kelasnya.
"Kau melamun?" tanya Widia.
Lion hanya tersenyum menanggapinya untuk menutupi rasa malunya karena terkejut saat Widia memanggilnya.
"Guru matematika memintaku bertanya padamu. Nilai test matematikamu kemarin kenapa seperti ini, Lion?" tanya Widia memperlihatkan hasil test Lion yang hanya mendapatkan nilai lima puluh. "Ini tidak seperti biasanya. Dari 30 soal kau hanya menjawab 15. Anehnya ke 15 soal yang kau jawab benar semua, tapi sisa soal dari 16 ke 30 kau tidak menjawabnya."
"Waktunya tidak cukup bu." jawab Lion. "Soal nomer 3 dan 12 sangat sulit, aku menghabiskan waktu untuk menyelesaikan soal itu. Kalau waktunya lebih banyak mungkin aku bisa menjawab semuanya."
"Di setiap ujian kau selalu menyisakan jawaban kosong pada nomer terakhir, tapi semua soal yang kau kerjakan benar." ucap Widia menatap muridnya. "Seharusnya kau melewati soal yang sulit dan kerjakan dulu soal yang kau anggap mudah."
"Maaf Bu, itu bukan gayaku."
"Apa?"
"Aku selalu memastikan semua yang aku kerjakan benar untuk mengerjakan hal yang selanjutnya." jawab Lion dengan entengnya. "Walaupun harus membuang waktuku, aku rasa tidak masalah."
Widia hanya bisa menahan dirinya agar tidak marah pada muridnya itu. Kekasihnya sering bercerita mengenai betapa aneh dan uniknya Lion, tapi kali ini dia merasa apa yang diucapkan Prothos benar.
"Lion, jangan menganggap segala sesuatunya harus dikerjakan dengan cara yang sama. Semua hal bisa dilakukan dengan caranya sendiri. Karena kau tidak akan pernah tahu apa yang kau lakukan itu benar atau tidak sebelum orang lain yang bersangkutan menilainya."
Lion menyerap perkataan gurunya tersebut lalu tersenyum.
"Baiklah bu, aku akan mencoba mengerjakan soal acak di test selanjutnya." jawab Lion bangkit berdiri. "Bu..." tatap Lion memanggil gurunya. "Kau hanya harus percaya padanya."
Widia memikirkan kalimat terakhir Lion sebelum muridnya itu pergi. Apa yang dimaksudnya mengenai gosip yang beredar antara kekasihnya dan muridnya? Tapi saat ini bagi Widia gosip itu bukan hal yang penting karena dia percaya pada Prothos.
Lion yang berjalan keluar dari ruang guru merasa kesal mendengar ucapan Widia.
"Padahal aku sudah bilang kalau aku selalu memastikan semua yang aku kerjakan benar sebelum mengerjakan hal selanjutnya dan selama ini aku tidak pernah salah." gumam Lion.