MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Tidak Perlu Khawatir



Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Athos berbelanja di supermarket untuk kebutuhan café. Dua troli sudah terisi penuh, namun dia masih berkeliling untuk menambah belanjaannya lagi.


Banyak hal yang saat ini ada di dalam kepalanya. Dan semua itu bercampur aduk bagaikan sebuah adonan yang semakin lama semakin mengembang.


Athos berdiri sambil menggigit ujung ibu jari tangan kanan, menatap rak tisu seakan memilih tisu mana yang akan dia ambil, tapi kenyataannya hal lain yang ada dibenaknya.


Drrrttt drrttt


Handphone Athos bergetar, Tasya menghubunginya.


"Ato, kau baik-baik saja? Apa yang dikatakan papa padamu? Aku sangat khawatir."


"Kau tidak perlu khawatir."


"Kau selalu bilang padaku untuk tidak khawatir, tapi aku malah semakin mengkhawatirkanmu." ucap Tasya. "Katakan sesuatu agar aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku akan mencoba melakukan apa yang bisa aku lakukan."


"Tasya, saat aku bilang kau tidak perlu khawatir maka kau tidak perlu khawatir." ujar Athos. "Semua baik-baik saja."


Athos mengendarai mobilnya setelah selesai berbelanja. Dia masih memikirkan ayah Tasya yang menemuinya tadi. Sepertinya jalannya tidak semudah yang dia kira.


"Sandy, sepertinya hal yang kemarin malam aku bicarakan padamu, kita lakukan secepatnya." ujar Athos. "Tolong kau rinci semua biayanya, aku akan segera mengirim biaya yang dibutuhkan."


"Kau serius?" tanya Sandy di ujung telepon. "Sebentar lagi kau ujian akhir."


"Sudah lama aku tidak bersungguh-sungguh seperti sekarang ini." jawab Athos. "Aku akan minta Lion untuk membantumu juga."


Setelah menutup teleponnya, Athos kembali menggigit ibu jari kanannya. Ketika berpikir serius dia selalu melakukan hal tersebut.


Tidak berapa lama Athos sampai di café, dia menurunkan semua barang yang dibelinya dan memasukannya ke dalam café lalu membersihkan café, seorang diri. Mulai menyapu, mengelap semua meja dan kursi, dan mengepel lantai.


Dengan kesal Athos menendang ember yang berisi air ketika sedang mengepel.


"Arrrggghhh... dimana kau Oto?" seru Athos kesal.


...***...


Sekitar pukul dua belas malam Aramis bermain video game bersama Lion, di kamar Lion. Lion mendapatkan telepon dari Athos.


"Ya, baiklah Ato. Tidak masalah." ucap Lion setelah itu menutup teleponnya.


"Ato bilang apa?" tanya Aramis yang masih sibuk memainkan video game.


"Ato memang tidak bilang apakah ini rahasia atau tidak, tapi sepertinya aku tidak akan jawab pertanyaanmu." jawab Lion.


"Kau ini ya." ucap Aramis kesal. "Dimana dia? Kenapa jam segini belum pulang?"


"Kau tanya sendiri saja padanya." ujar Lion duduk di tempat tidurnya.


"Mereka berdua keterlaluan. Mereka tidak pulang dan entah kemana. Melo sendirian di rumah."


"Bukannya kau sama saja?" seru Lion kesal. "Sana pulang, aku mau tidur!! Kau lebih parah, malah meninggalkan adikmu seorang diri di rumah hanya untuk main game."


Aramis tak memedulikan perkataan Lion dan masih asyik bermain game.


...***...


Melody terbangun di tengah tidurnya saat mendengar suara sesuatu. Dia melihat waktu menunjukan jam tiga pagi di handphone, lalu turun dari ranjangnya dan melihat ke jendela. Aramis masih berada di kamar Lion dan hanya bermain game sendirian sedangkan Lion sudah tidur.


Melody keluar kamar dan turun tangga lalu melihat Athos sedang menggunakan vacum cleaner membersihkan ruang TV.


"Kak Ato, apa kakak tidak tidur?" tanya Melody di anak tangga.


"Apa kakak membangunkanmu? Maaf ya." ucap Athos tersenyum. "Kembalilah tidur, ini masih terlalu pagi."


Athos mematikan vacum cleaner, lalu berjalan ke dapur.


Melody menghampiri kakaknya tersebut dan memperhatikannya.


"Ada yang ingin kau katakan pada kakak?" tanya Athos menoleh pada Melody yang berdiri di belakangnya. "Duduk saja, kakak buatkan susu hangat."


Melody menuruti dan duduk di meja makan.


"Kak Ato baik-baik saja?" tanya Melody.


"Ya, kakak baik-baik saja." ucap Athos sambil menuangkan air panas ke gelas. "Kakak hanya tidak bisa tidur karena terlalu banyak minum kopi."


Athos meletakan segelas susu ke meja di hadapan Melody.


"Aku sangat menyukai kak Tasya, kak." kata Melody menatap kakaknya yang duduk di hadapannya. "Tapi aku tidak ingin kak Ato bertengkar dengan kak Oto."


Athos tersenyum pada adik perempuannya.


"Minumlah susunya selagi hangat."


Melody menuruti dan meminum susunya hingga habis.


"Kau tidak perlu khawatir, kami sudah tidak bertengkar." senyum Athos. "Kembalilah tidur, kakak masih ingin lanjut membersihkan rumah."


Melody beranjak berdiri.


"Melo, apa sebaiknya selama libur sekolah kau mengikuti khursus?" tanya Athos. "Aku akan bicara pada ayah, kau pikirkan saja khursus apa yang ingin kau ikuti."


...***...


Prothos terbangun ketika Widia membuka pintu dan masuk. Gadis itu baru saja masuk kembali ke ruang apartemen-nya setelah menginap di rumah temannya semalaman.


"Kenapa bu guru tidak kembali semalam?" tanya Prothos masih tertidur di tempat tidur gurunya. "Tega sekali kau meninggalkan orang sakit sendirian."


"Aku menginap di rumah Rara." jawab Widia mengambil sendok dan meletakan makanan yang dia beli di meja dekat Prothos. "Aku akan ke sekolah karena ada rapat. Kau sarapan dan minum obatmu lagi, kalau sudah sembuh kau bisa pulang."


Widia masuk ke kamar mandi.


Prothos melirik jam dinding yang menunjukan pukul tujuh pagi.


Dua jam kemudian, setelah Prothos merasa lebih baik, dia berencana kembali ke rumahnya.


Setelah berganti pakaian Prothos melihat-lihat isi apartemen Widia. Dia melihat laci yang berada di samping tempat tidurnya dan mengambil sebuah buku yang berada paling atas.


Ketika dia membuka salah satu halaman di buku tersebut, terselip sebuah foto. Foto tersebut adalah foto Widia yang bersama dengan mantan kekasih yang telah mengkhianatinya. Foto tersebut diambil ketika mereka berdua wisuda.


"Hah, ternyata bu guru masih belum bisa melupakan pria jahat ini." gumam Prothos menghentakan jarinya ke foto mantan Widia.


Tiba-tiba terdengar suara kunci pintu di buka, buru-buru Prothos meletakan kembali buku tersebut beserta foto tadi ke tempatnya semula.


"Bu guru, kau sudah kembali?"


Prothos terkejut ketika yang muncul bukanlah gurunya, namun salah satu sahabat dari gurunya, Selly.


"Kau? Kenapa kau disini?" tanya Selly terkejut.


Prothos menggigit bibirnya, berpikir sejenak untuk menjawabnya.


"Kau ini muridnya Widia kan?"


"Kau tahu aku muridnya dan bukan kekasihnya?" tanya Prothos heran.


"Widia yang memberitahu." ucap Selly. "Tapi, kenapa kau ada di sini?"


Prothos menceritakan semuanya pada Selly. Mereka duduk berdua di meja bulat.


"Teman bu guru, aku berkata yang sebenarnya ya." ujar Prothos.


"Baiklah aku percaya." jawab Selly. "Tapi ceritamu benar-benar aneh. Tidak masuk akal kalau kau hujan-hujanan dan tanpa sengaja berhenti di depan apartemen ini."


Prothos terdiam mencari jawaban yang tepat, namun sepertinya dia sudah terpojok.


"Baiklah, anggap saja benar semua kebetulan." tatap Selly. "Aku tidak mau kalau kau mempermainkan gurumu!! Ingat, dia sudah menderita ketika salah satu sahabatnya merebut kekasih yang sudah lama berhubungan dengannya. Dan lagi kau tidak perlu datang dengan hanya rasa iba padanya, karena itu akan semakin membuatnya tampak menyedihkan."


"Aku tidak mengerti apa maksudmu."


"Aku iri sekali pada Widia. Murid setampan kau datang di waktu yang tepat." gumam Selly.


"Jangan bicara yang tidak-tidak."


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mendukungmu." ucap Selly sambil menggenggam kedua telapak tangan Prothos. "Kau menyukai gurumu 'kan?" tatap Selly.


Prothos hanya melirik pada Selly saat mendengar ucapannya.