
Prothos memasuki sebuah coffee shop yang berada di sebuah mall. Dia langsung duduk di hadapan seorang wanita berkacamata yang sudah menunggunya.
Dengan gugup Wilda melihat kedatangan Prothos yang terus menatapnya.
"Maaf ya kalau aku mengganggu hari minggumu dengan meminta bertemu." ucap Prothos.
"Tidak apa-apa." jawab Widia tanpa menatap Prothos.
Prothos diam sesaat untuk memperhatikan Wilda dan mencoba membaca sifat gadis itu. Dia merasa kalau Wilda adalah gadis pendiam yang polos, tidak jauh berbeda dengan adiknya, Melody. Bahkan bisa dibilang sifat gadis yang duduk dihadapannya saat ini lebih baik dari Melody yang dingin dan ketus.
"Maaf, sebenarnya ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Wilda karena Prothos tidak langsung berbicara padanya.
"Sebenarnya aku membaca buku itu. Jurnal pribadimu yang aku kembalikan kemarin." jawab Prothos.
Wilda menatap Prothos seketika karena terkejut mendengar perkataan Prothos.
"Kenapa kau membacanya? Bukankah itu tidak sopan?" tanya Wilda dengan nada bicara yang sopan.
"Waktu itu tujuanmu saat ke café-ku, bisa kau jelaskan?"
"Apa?"
"Di jurnal itu tertulis beberapa hal tentangku. Apa itu bisa jadi rahasia kita saja?" ujar Prothos dengan sangat hati-hati.
"Maaf, apa maksudnya?"
"Mengenai aku dan wali kelasmu."
Wilda baru mengerti maksud Prothos.
Tiba-tiba pandangan Wilda teralih ke arah luar coffee shop. Tanpa memedulikan Prothos, Wilda langsung berjalan meninggalkan Prothos dan keluar dari coffee shop tersebut.
Prothos merasa aneh dan mengikutinya keluar dari sana.
Wilda mengejar sepasang pria dan wanita yang terlihat bergandengan tangan. Wilda langsung mencoba melepaskan tangan mereka dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Apa-apaan kau?" tanya pria tersebut sambil berbalik namun terkejut ketika melihat Wilda. "Kau?"
"Siapa dia, sayang?" tanya gadis yang bergandengan tangan dengan pria itu.
"Karel, sudah aku bilang aku memaafkanmu dan aku minta kau jangan melakukannya lagi." seru Widia menangis. "Tidak masalah kalau kau selingkuh kemarin-kemarin, aku memaafkanmu, jangan melakukannya lagi."
"Apa maksudnya?" tanya gadis itu.
Prothos mengerti dengan apa yang terjadi. Pria itu adalah kekasih Wilda yang selingkuh darinya. Kemarin saat dj gudang sekolah, dia mendengar saat Wilda meneleponnya. Namun Prothos hanya diam saja walau saat ini dia sangat kesal dengan apa yang ada di depan matanya. Dia tidak berniat ikut campur.
Beberapa pasang mata di mall tersebut memperhatikan mereka dan berbisik-bisik.
"Aku pacarnya, dia ini pacarku." jawab Wilda sambil memegang lengan pria itu.
"Lepaskan!!" seru pria itu menarik kasar lengannya namun Wilda memeluk lengan pria itu lagi.
"Kembalilah padaku, Karel." ucap Wilda.
"Aku tidak mengenalmu!! Pergi sana!!" seru pria itu mendorong Wilda hingga gadis itu terjatuh.
Dengan spontan Prothos langsung membantu Wilda berdiri dan berjalan mendekati kekasih Wilda, lalu menarik kerah baju pria itu.
"Hanya pecundang yang menyakiti seorang wanita." ucap Prothos menatap kesal pria tersebut.
Setelah itu melepaskan pria itu dan menarik Wilda pergi dari sana.
"Kenapa kau menarikku?" tanya Wilda menarik lengannya dari Prothos lalu menghapus airmatanya.
"Untuk apa menangisi pria seperti itu?! Dia sudah mengkhianatimu!! Lupakan dia!!" seru Prothos kesal.
"Jangan ikut campur masalahku. Kau tidak tahu apapun." jawab Wilda melepas kacamatanya karena basah terkena airmata. "Aku sangat mencintainya. Aku rasa kau pun tahu kenapa aku tidak bisa membiarkannya meninggalkanku."
Prothos memang tahu alasannya karena dia pun membacanya di jurnal pribadi gadis itu. Gadis itu sudah tidur dengan kekasihnya, hal itu yang membuatnya tidak ingin berpisah walaupun beberapa kali pria itu mengkhianatinya.
"Tidak akan ada pria yang akan menikahiku kalau aku berpisah dengannya." ucap Wilda hendak kembali memakai kacamatanya.
Namun tiba-tiba Prothos menahan tangan Wilda dan menatap wanita itu.
"Kau tidak perlu khawatir, suatu saat pasti kau akan menemukan pria yang tidak mempermasalahkan hal tersebut." ucap Prothos menatap Wilda dekat.
Wilda menarik tangannya dari Prothos dan memakai kacamatanya kembali. Dia tidak percaya dengan perkataan Prothos, dan merasa perkataannya tersebut hanya untuk menghiburnya saja.
Prothos melihat kepergian gadis menyedihkan itu setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Dia berjalan pergi karena tujuannya sudah selesai.
Namun tiba-tiba dia berhenti dan berbalik arah. Lalu segera berlari mengejar Wilda. Dia merasa tidak bisa mengabaikan gadis tersebut. Setidaknya dia harus menemani gadis itu agar tidak melakukan hal-hal buruk.
"Wilda dengar aku!!" seru Prothos menarik Wilda berhenti berjalan. "Apa yang aku ucapkan bukanlah semata-mata untuk menghiburmu. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, jadi pastinya diluar sana juga banyak pria yang tidak mempermasalahkannya dan bisa menerimamu sepenuhnya."
Wilda tertegun mendengar ucapan Prothos. Dia merasa menjadi tidak terlalu sedih lagi karena perkataan itu.
...***...
Melody yang bersama Niko berada di rumah pemuda itu. Mereka berdua makan siang di dalam rumah Niko hanya berdua saja di meja makan yang ukurannya sangat besar dengan dua belas kursi di meja makan tersebut. Anggota keluarga Niko tak ada di rumah dan hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang jumlahnya Melody tidak tahu ada berapa. Yang pasti sangat banyak karena rumah Niko sangat besar.
Rumah bergaya Eropa klasik tersebut sangat besar dan luas. Semua perabotannya terlihat sangat mewah dan mahal. Ini pertama kalinya Melody masuk ke dalam rumah tersebut karena sebelumnya Niko hanya mengajaknya ke kandang peliharaannya dan kolam renang.
Melody memakan makanan asing yang baru pertama kali dimakannya. Dia bisa menebak kalau makanan tersebut adalah makanan Rusia.
"Bagaimana makanannya? Apa cocok di lidahmu?" tanya Niko yang duduk di kursi tunggal sedangkan Melody ada di samping kanannya.
Melody menggeleng ragu membuat Niko tertawa.
"Kau tau, yang aku suka darimu adalah kau selalu berkata jujur walau kadang sangat menyakitkan." ucap Niko tersenyum. "Ini semua makanan khas Rusia. Kholodets, Salted Hering Fish, Okroshka, Shchi, Pirozhki, dan yang ini sebenarnya dari Georgia, Zharkoye." terang Niko sambil menunjukan makanannya.
"Dari semua yang kau ucapkan aku hanya mendengar Salted Hering Fish." ucap Melody.
"Aku akan mengajarimu bahasa Rusia." ujar Niko. "Nanti kalau kita sudah semakin dekat."
Melody menjadi sedikit malu mendengar ucapan Niko.
"Er." panggil seorang wanita yang berjalan menghampiri meja makan.
Melody melihat wanita itu sangat cantik sekali. Kulitnya putih bersih dan tubuhnya tinggi ramping. Wajahnya tidak jauh berbeda dengan Niko, bisa dibilang kalau wanita itu seperti vampir wanita.
Wanita itu langsung memeluk Niko yang masih duduk.
"Kogda vy prishli, Nausha? (kapan kau datang, Nausha?)"
"Tol'ko chto. No ya dolzhen idti snova. (Baru saja. Tapi aku harus pergi lagi)." jawab wanita itu. "Kto eta devushka? (Siapa gadis ini?)."
"Dia Melody." jawab Niko. "Melody, dia ini kakakku Nausha."
Tiba-tiba Nausha memeluk Melody. Melody hanya membalasnya dengan senyum kaku.
Setelah itu Niko dan Nausha berbicara dengan bahasa Rusia. Melody sama sekali tidak mengerti mereka membicarakan apa. Gadis itu hanya terpaku diam saja.
"Melody, hati-hati dengannya, saat haus bisa saja dia menghisap darahmu." ucap Nausha dengan wajah serius.
Setelah itu Nausha pergi meninggalkan Melody bersama Niko lagi.
Niko menatap Melody yang memperhatikan kepergian Nausha. Melody masih merasa kalau wanita yang baru dilihatnya begitu cantik meski dengan wajah yang datar.
"Kau tahu, Nausha sangat menyukai Lion. Dia selalu bilang kalau Lion itu pria yang sangat kharismatik." ujar Niko. "Walau perbedaan usia mereka tujuh tahun tapi ketika lima atau sepuluh tahun lagi dari sekarang perbedaan usia itu bukan apa-apa."
Melody menoleh pada Niko karena terkejut mendengar ucapannya.
...----------------...
PROMO NOVEL LAIN
Vivian Zeta La Nostra, gadis yang terkenal sangat sulit ditakhlukan harus menerima kenyataan untuk menikah dengan musuh bebuyutan sang kakak.
Sang kakak Arthur Dellinger La Nostra melakukan sebuah dosa sepuluh tahun lalu kepada seorang pria bernama Vernon Arkyn Skjoldbjærg, hingga akhirnya pria itu menginginkan Vivian sebagai penebus dosa sang kakak.
Hingga akhirnya Vivian terjebak dalam pernikahan dengan pria yang baru ia temui tersebut. Sedangkan Vivian mencintai pria bernama Alec Gustavson yang ia yakini adalah cinta pertama dan terakhir untuknya.
Apakah akhirnya Vivian membiarkan dirinya mencintai Vernon atau tetap tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada Alec?
Jangan lupa dukungannya ya.
Like, subscribe, komen, vote, rate dan kasih gift ya.
Follow author juga.
IG : Natzsimo