
Menempuh perjalanan hampir tiga jam akhirnya Athos dan Tasya sampai di depan rumah Tasya tepat pukul sepuluh malam.
"Akhirnya sampai juga." seru Tasya meregangkan tubuhnya. "Setelah memancing selama hampir lima jam kita hanya dapat satu ikan, dan ikannya kau lepaskan lagi. Hah, memancing memang butuh kesabaran."
"Maaf ya, kau pasti sangat lelah dan bosan." ucap Athos.
Tasya menggeleng dan tersenyum.
"Sudah aku bilang, asalkan bersamamu aku akan senang. Kemanapun itu. Tapi jujur saja Ato, saat kau bilang akan berlibur ke laut, aku pikir kita akan berenang di pinggir pantai." ujar Tasya melihat Athos yang menatapnya dengan senang. "Padahal aku sudah membawa bikini seksi. Tapi aku tetap bahagia."
Athos menatap Tasya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Tiba-tiba dia mendekatkan tubuhnya pada Tasya, Tasya langsung menutup matanya karena mengira Athos akan menciumnya. Akan tetapi suara sabuk pengaman yang terbuka membuat dia membuka matanya. Athos hanya melepaskan sabuk pengaman Tasya dan memastikan tidak mengenai leher kekasihnya itu.
Namun, wajah Athos masih tepat di depan mata Tasya, pemuda itu menatap wajah kekasihnya lekat.
"Aku pikir kau akan me..."
Athos langsung mencium Tasya sebelum sempat Tasya melengkapi ucapannya.
"Aku minta maaf karena membuatmu harus menunggu lama." ucap Athos setelah melepas ciumannya, sambil membelai rambut Tasya penuh cinta.
Tasya menangkap perkataan Athos mengenai memancing tadi yang membuat dirinya harus menemani Athos mendapatkan hanya satu ikan.
"Tidak masalah, asal kau ada disisiku selama apapun aku akan senang." jawab Tasya tersenyum lalu menggapai tubuh Athos, memeluknya. "Aku sangat bersyukur memiliki pacar sepertimu, Ato."
"Baiklah, masuklah ke dalam. Ini sudah malam." tatap Athos. "Akan aku bukakan pintu untukmu."
Athos keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil Tasya. Tasya segera turun dan langsung memeluk Athos lagi.
"Ato, aku tahu kau memikirkan banyak hal saat ini. Sebaiknya kau beristirahat dulu dan tenangkan pikiranmu." bisik Tasya di pelukan Athos. "Aku tidak akan mengganggumu selagi kau beristirahat, tapi aku mau yakinkan kau kalau aku sangat percaya padamu."
Athos hanya terdiam di pelukan kekasihnya itu.
Tasya melepas pelukannya dan tersenyum riang pada Athos.
"Baiklah, aku akan masuk sekarang." senyum Tasya setelah itu berbalik dengan airmata yang sudah tak terbendung lagi.
...***...
Athos menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan membuka jendela mobilnya. Dia mencoba menggigit ibu jarinya lagi namun masih ada plester yang menempel.
Dengan kesal dia membuka plesternya dan menggigit ibu jarinya lagi membuat lukanya makin parah.
Selama hampir sejam dia melakukannya dengan pikiran yang dipenuhi oleh perkataan ayah Tasya. Dia benar-benar memikirkannya, dan membuat dirinya menjadi takut jika saja dia harus merelakan Tasya menikah dengan pria berengsek seperti Dion. Karena baginya sekarang Tasya adalah wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.
Setengah jam kemudian Athos menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Dengan langkah gontai, dia masuk ke rumah dimana kedua kembarannya menatapnya di meja makan.
"Ars." ujar Athos melempar kunci mobil dan langsung di tangkap Aramis. "Masukan mobilnya."
Tanpa bicara apapun lagi dengan cepat Athos menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Prothos mengikuti kembarannya itu naik tangga karena tahu Athos tidak baik-baik saja.
Prothos mencoba membuka pintu kamar Athos, namun tidak biasanya dia mengunci pintunya.
"Anak itu sudah pulang?" tanya paman Ronald yang keluar kamar. "Ato, berani sekali kau membawa mobilku tanpa ijin."
"Paman, sudahlah!!" seru Prothos menarik pamannya agar masuk ke kamarnya. "Suasana hatinya sedang tidak bagus, jangan mengganggunya dulu."
Keesokan harinya ketika Prothos selesai lari pagi, dia melihat Athos belum juga bangun, padahal kalau biasanya saat dia pulang, Athos langsung menyuruhnya sarapan dan membuatkan susu untuknya.
Prothos mencoba membuka pintu kamar Athos tetapi masih terkunci. Diapun mengetuk pintu, namun tetap tak ada jawaban dari kembarannya.
Hingga saatnya waktunya berangkat sekolah pun, Athos belum juga keluar dari kamarnya. Padahal semua sudah berada di meja makan untuk sarapan.
"Ayah, sudahlah... jangan seperti seorang wanita, ini masih pagi." ujar Prothos.
"Ayah, mana susuku?" tanya Aramis.
"Diam kau!! Buat susumu sendiri!!" seru ayah kesal. "Sudah sebesar itu kau masih minta dibuatkan susu."
"Berisik sekali." gumam Aramis mengorek telinganya.
"Kakak, nanti kau darah tinggi, pagi-pagi sudah marah-marah." ujar paman Ronald.
...***...
Sudah selama tiga hari Athos mengurung diri di kamar. Dia hanya berbaring di kasurnya dengan mencoba terus tidur. Saat tak ada siapapun dia akan keluar untuk makan karena saat ini dia merasa sedang tidak ingin berbicara atau bertemu dengan siapapun.
Tasya juga tidak menghubunginya, sesuai dengan ucapannya kemarin. Tasya juga mengabaikan telepon dan semua pesan yang di kirimkan Aramis dan Anna padanya. Bahkan dia tidak ingin menemui Prothos yang datang ke rumahnya.
Namun, Melody yang mengkhawatirkan kakaknya itu tidak tega, dan menghubungi Tasya. Sebenarnya Tasya merasa enggan juga menjawab telepon Melody karena tidak tahu harus menjawab apa. Namun dia tetap menerimanya.
"Kak Tasya, apa kau tahu ada apa dengan kak Ato?" tanya Melody. "Sejak kembali dari liburan kalian, dia mengurung diri di kamar dan mengabaikan semua orang. Apa hubungan kalian baik-baik saja?"
"Kau tidak perlu khawatir Melody. Akhir-akhir ini kakakmu memikirkan banyak hal dan melakukannya secara bersamaan, dia terlihat sangat lelah. Jadi aku menyuruhnya untuk istirahat dahulu. Biarkan dia beristirahat, nanti setelah rasa lelahnya hilang pasti dia akan kembali lagi seperti biasanya."
Setelah menerima telepon dari Melody, membuat Tasya menjadi mencemaskan Athos. Walau berusaha untuk tidak menghubunginya, namun rasa cemas dan rindunya pada kekasihnya itu sudah tak terbendung lagi.
Tasya menelepon Athos dengan sebuah ketakutan kalau saja Athos tidak menjawabnya.
Athos yang berbaring di kamarnya dengan kondisi gelap melihat nama Tasya muncul di layar handphone-nya.
Athos tersenyum lega.
"Ato, kau baik-baik saja?" tanya Tasya.
Tak ada jawaban dari Athos walau dia menerima panggilannya, itu membuat Tasya semakin khawatir.
"Aku mohon jawab aku, Ato." ucap Tasya lagi. "Jangan buat aku takut. Kau mendengarku?"
"Ya." akhirnya Athos menjawab dengan suara parau. "Aku selalu mendengarkanmu."
Mendengar jawaban Athos membuatnya lega, tanpa sadar airmatanya mengalir ke luar.
"Kau baik-baik saja? Aku semakin mencemaskanmu setelah Melody menghubungiku."
"Tidak. Aku tidak baik-baik saja." jawab Athos yang masih berbaring dalam gelap. "Hatiku kelu saat kau bilang tidak akan menggangguku dan berbalik pergi."
Tasya mengingat perkataan itu, saat dia memeluk Athos.
"Katamu kau percaya padaku tapi setelah itu kau pergi dan tidak menghubungiku."
Airmata Tasya semakin deras keluar dari matanya saat mendengar perkataan Athos. Ternyata kemarin dia membuat keputusan yang salah.
"Maafkan aku." jawab Tasya.
"Saat kau ada bersamaku aku merasa bisa menghadapi semuanya, jika kau tidak ada aku jadi ragu pada diriku sendiri. Aku tidak akan bisa melewati semuanya kalau kau tidak ada di sisiku. Bagiku dengan melihatmu saja itu sudah istirahat. Kaulah istirahatku, Itu sudah sangat cukup, Tasya."
Kata-kata Athos membuat Tasya mengerti seberapa besar cinta kekasihnya itu pada dirinya. Dia sama sekali tidak mengira kalau Athos lebih membutuhkannya dari pada istirahat seperti yang disarankannya.
Tasya jadi merasa bersalah pada Athos.
"Jangan pernah membuat keputusan tentang kita berdua tanpa melibatkan aku." ucap Athos.