MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Aku Gurumu, Bodoh!



Hari ini pagi-pagi sekali Athos hendak pergi ke café bersama Prothos. Sejak menerima karyawan baru, setiap sabtu dan minggu café buka sebelum jam makan siang.


"Hari ini mobil baru akan datang, kau periksa segala kelengkapannya." ujar Athos masih sibuk dengan laptopnya di meja makan.


"Tidak masalah." jawab Prothos yang meminum kopinya. "Melo, Lion akan mengantarmu kursus. Hari ini kau full ditempat kursusmu kan?"


"Nanti akan ada persiapan kompetisi paduan suara jadi seharian aku di tempat kursus. Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam." jawab Melody."


"Lion akan menjemputmu juga." ujar Athos.


"Aku pulang sendiri saja atau paman bisa menjemputku." jawab Melody.


"Kakek tidak boleh di rumah sendirian. Paman menjaga kakek, Melo." jawab Prothos.


Melody menjadi kesal pada kedua kakaknya. Dia merasa tidak ingin diantar jemput oleh Lion. Sebisa mungkin dia ingin mengurangi intensitas kebersamaannya dengan Lion.


"Melon, kau sudah siap?" Tiba-tiba Lion masuk ke dalam dan langsung duduk di hadapan Melody.


Melody melihat kehadiran Lion dengan kesal.


"Ayo kita berangkat sekarang. Nanti siang aku harus pergi bertemu teman dan tidak mau sampai terlambat." ujar Lion. "Kapan Ars pulang? Dia tidak bilang padaku kalau akan pergi."


"Dia bukan pacarmu, untuk apa melapor padamu." jawab Prothos yang duduk disamping Lion.


"Ya, benar juga apa katamu." senyum Lion.


...***...


Lion dan Melody sampai di depan tempat kursus Melody. Tanpa kata Melody turun dan berjalan meninggalkan Lion menuju gedung tempat kursus.


"Arrghh... biasa sekali tidak ada ucapan terimakasih." gumam Lion.


Tiba-tiba Lion melihat seorang pria menghampiri Melody dan berbicara dengan gadis itu.


"Melody, bagaimana kalau pulang nanti kita ke tempat karaoke? Yang lain juga akan ikut. Sebelum kompetisi kita bersenang-senang dulu." ujar Kevin teman kursus Melody.


"Apa aku harus ikut?" tanya Melody.


"Sepertinya begitu, aku akan mengantarmu pulang setelahnya." ucap Kevin meyakinkan Melody.


Tiba-tiba seseorang merangkul Melody dari belakang.


"Aku lupa bilang padamu, nanti aku akan menjemputmu juga." senyum Lion melihat Kevin.


Melody melihat Lion dengan kesal, namun tidak menggubris rangkulan pemuda itu karena gestur seperti itu sudah biasa diantar mereka.


"Aku akan ikut karaoke setelah kursus." ujar Melody.


"Karaoke? Apa aku boleh ikut juga?" tanya Lion pada Kevin dengan tatapan senang. "Tenang saja, aku tidak akan membuat kalian semua canggung." senyum Lion.


"Kurasa tidak masalah." jawab Kevin dengan ragu.


Kehadiran Lion yang langsung merangkul Melody membuat Kevin berpikiran kalau Lion adalah kekasih Melody, ditambah perkataan Melody yang seperti meminta ijin pada Lion, membuatnya semakin yakin.


...***...


Lion berada di lobby sebuah hotel bintang lima, sejak sejam yang lalu dia duduk di sana sambil mendengarkan musik menggunakan headphone-nya dan mengutak-atik handphone miliknya.


Dia melihat akun sosial media milik Kevin dari handphone-nya, untuk mencari tahu tentang teman Melody tersebut.


"Wow, dia boleh juga. Selalu menang dalam kompetisi menyanyi?" senyum Lion saat melihat beberapa foto di akun sosial media milik Kevin.


Tiba-tiba pandangan Lion teralih pada seorang pria paruh baya yang berjalan dari pintu masuk bersama seorang wanita muda, saling bermesraan.


"Akhirnya..." ucap Lion.


Lion menutup akun sosial media Kevin dan membuka kamera belakangnya.


Pasangan itu menuju resepsionis dan tidak lama berjalan sambil bermesraan masuk ke lift.


...***...


Matahari mulai terbenam ketika Prothos masuk ke ruang ganti di café untuk beristirahat. Pengunjung tidak terlalu banyak pada jam tersebut sehingga dia meminta ijin berniat beristirahat karena Kepala sakit sejak sejam yang lalu.


Dia mencoba menutup matanya, namun rasa sakitnya membuatnya tidak bisa terlelap.


"Tidak Selly!! Cari dia segera!! Jangan biarkan bajingan itu merayunya lagi!!" Seru Wisnu berbicara di telepon. "Seharusnya kau menahan Widi agar tidak pergi bersama bajingan seperti Sonny!! KENAPA KAU TIDAK MENAHANNYA?!!" teriak Wisnu di kalimat akhir dan menutup teleponnya.


"Ada apa?" tanya Prothos berjalan mendekati Wisnu yang menyimak perkataan Wisnu mengenai Widia di telepon.


Wisnu tidak menjawab, dia mencoba menghubungi kakaknya namun berkali-kali tidak dijawab. Itu membuat Wisnu menjadi sangat kesal hingga memukul lemari loker dengan sangat keras.


"Aku akan membunuh pria itu kalau merayunya lagi!!" gumam Wisnu sangat kesal.


Prothos mencoba memahami semuanya, sampai pada kesimpulan bahwa mantan kekasih Widia datang dan menemui Widia.


Dengan segera Prothos mengambil kunci mobil Athos di lokernya dan berlari keluar. Wisnu yang melihat Prothos pergi tergesa-gesa membuatnya heran.


Sambil menyetir, Prothos berpikir dia harus kemana untuk menemui gurunya tersebut. Namun hanya ada satu tempat, taman yang waktu itu. Sebelumnya Widia bilang dia suka dengan taman itu sehingga dia sering ke sana.


Prothos langsung menginjak gas dan meluncur menuju taman itu.


Tidak berapa lama Prothos sampai, taman sangat sepi karena hujan gerimis, membuat siapapun akan pergi berteduh. Akan tetapi Prothos keluar mobil dan melihat Widia berdiri bersama seorang pria yang merupakan mantan kekasihnya yang sudah mengkhianati Widia.


Tanpa ragu Prothos menghampiri mereka dan menarik lengan Widia menjauh dari Sonny.


Widia terkejut dan semakin terkejut ketika melihat Prothos yang datang menariknya. Begitupun dengan Sonny karena yang dia tahu, Prothos adalah kekasih baru Widia.


"Aku rasa kau sudah tidak punya urusan dengan Widia!!" tatap Prothos tajam menahan emosinya. "Aku peringatkan kau, jangan mengganggunya lagi!!"


Sonny menatap Prothos sesaat sebelum melangkah pergi.


Prothos memperhatikan kepergian Sonny dengan sangat geram dan emosi yang tertahan. Ditambah kepalanya sedang sakit saat ini.


"Dia memintaku kembali padanya." ucap Widia menitihkan airmata, berdiri di samping Prothos dan Prothos masih memegang lengannya. "Dia dan Kesha sudah berpisah."


Prothos memperhatikan gurunya yang menangis lalu segera menariknya dalam pelukan.


"Aku hampir menerimanya kembali tadi. Aku merasa kalau aku bisa menerimanya lagi, semua akan kembali seperti dulu." ucap Widia di pelukan Prothos.


Mendengar perkataannya, Prothos menatap gurunya lagi.


"Aku ingin kembali seperti dulu lagi bersama dengannya. Sekeras apapun aku berusaha melupakannya semua kenangan indah itu malah semakin menyerangku. Hatiku sangat sakit karena kenangan itu berubah menjadi kenangan buruk. Aku ingin kembali ke masa itu, ke masa indah bersamanya. Aku benar-benar sangat merindukannya di masa itu hingga rasanya begitu menyakitkan dan membuatku sulit bernapas."


Tiba-tiba Prothos mencium bibir Widia. Prothos tidak ingin mendengar perkataan Widia mengenai mantannya tersebut, dan saat ini hatinya juga merasakan sakit ketika mendengar semua perkataan Widia.


Widia menatap Prothos dengan terkejut setelah muridnya itu menciumnya untuk kedua kalinya. Namun dia hanya bisa diam karena rasa terkejut bercampur dengan rasa sedih yang dirasakannya.


"Aku menyukaimu bu guru." tatap Prothos. "Aku mohon, jangan berkata apapun yang membuatku sakit saat mendengarnya."


Prothos dan Widia masuk ke dalam mobil untuk berbicara.


"Aku serius dengan perkataanku." ucap Prothos.


Mereka berdua tidak saling tatap karena rasa canggung menyelimuti mereka berdua saat ini.


"Aku selalu memikirkanmu. Aku tidak mau kau kembali dengan pria itu."


Widia tertawa tidak percaya mendengar ucapan Prothos.


"Jangan bercanda atau menghiburku dengan kata-katamu itu." jawab Widia skeptis.


Prothos menoleh pada Widia, dan Widia juga menoleh pada Prothos.


"Kau benar-benar sudah melewati batas!! Aku membiarkanmu membantuku tapi kau mengerjaiku sejauh ini. Apa ini lucu? Kau memelukku, memojokanku ke tembok, menciumku dan sekarang bilang menyukaiku. Apa itu sebuah lelucon untukmu?" tanya Widia kesal. "Ini sudah melewati batas!! AKU GURUMU, BODOH!!"


Tangan kanan Widia mendarat ke pipi kiri Prothos. Setelah itu Widia turun dari mobil meninggalkan Prothos dalam kesedihan.


...----------------...


WIDIA



Visual Model :


Kim Ji-in