MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Aku Ingin Menyukaimu



Kabar mengenai Prothos dan Wilda berpacaran semakin memanas hari ini, karena kemarin Wilda dengan lantang mengatakan pada Melody kalau dirinya sudah resmi berpacaran dengan Prothos. Hal itu didengar murid-murid lainnya yang langsung menyebarkan kabar tersebut ke penjuru sekolah.


Ketika jam istirahat, Wilda menghadang langkah Prothos yang hendak masuk ke dalam gudang. Semua pasang mata yang ada di sekitar mereka menatapnya penasaran.


"Kak, ini aku kembalikan pakaian olahragamu." Ucap Wilda memberikan pakaian olahraga yang berada di dalam totebag. "Terimakasih, ya."


"Tidak masalah." Jawab Prothos menerimanya setelah itu hendak berjalan kembali.


Namun tiba-tiba Wilda memegang lengan Prothos. Prothos melihat lengannya yang dipegang dan menatap Wilda. Di kejauhan Widia memperhatikan mereka.


"Besok sabtu aku akan datang ke rumahmu." Ucap Wilda dengan senyum setelah itu pergi.


Prothos melihat ke sekitar dan banyak orang melihat padanya. Dia jadi mengerti kenapa Wilda melakukan itu, pasti dia ingin agar semua orang yang melihatnya tahu kalau dirinya dan Prothos memang dekat.


***


Jam pelajaran usai, itu berarti sekolah sudah berakhir di minggu ini, karena besok sudah hari sabtu. Banyak dari murid-murid bersorak senang sambil berhamburan keluar kelas.


"Niko, habis ini kau ada acara?" Tanya Melody menatap Niko.


"Ada kalau kau mengajakku pergi bersamamu." Senyum Niko.


Melody mengajak Niko berjalan-jalan ke mall. Mereka bermain di tempat permainan. Entah apa yang dipikirkan Melody saat mengajak jalan Niko. Padahal semalam gadis itu baru saja menangis karena merindukan Lion, tapi hari ini dia mengajak Niko bersamanya.


"Kau lihat ya, aku tidak akan membiarkan satu pun lemparanku meleset." Ucap Niko ketika akan memainkan melempar bola basket ke keranjang.


Niko membuktikannya dan satu pun tidak ada bola yang meleset. Melody bertepuk tangan untuknya.


Lalu mereka mencari permainan lainnya. Niko penasaran dengan permainan capit boneka. Sudah lebih dari sepuluh kali dia tidak berhasil mencapit boneka keluar dari sana.


"Sekali lagi ya." pinta Niko hendak mencobanya lagi.


Namun tiba-tiba Melody menarik tangan kirinya yang memakai sarung tangan agar mengikutinya dan tidak lagi mencoba permainan itu.


"Padahal kali ini aku yakin bisa mendapatkannya." Gumam Niko sambil melihat tangan Melody yang menggandengnya.


"Kau mau makan es krim?" Tanya Melody menoleh pada Niko dan melihat Niko tersenyum dengan tatapan mengarah ke tangan mereka yang bergandengan.


"Tentu aku mau." Jawab Niko.


Melody tetap menggandeng tangan Niko hingga sampai ke tempat penjual es krim dan memesan dia es krim.


"Kau sangat terlihat seperti vampir. Apa jangan-jangan kau memang vampir?" Tanya seorang wanita muda penjual es krim.


Melody menoleh pada Niko dan melihat ke sekeliling, dia baru sadar kalau Niko menjadi pusat perhatian beberapa wanita yang menatapnya. Wajah pucat Niko memang menarik perhatian siapapun yang melihatnya, selain itu cara berpakaian Niko juga mendukungnya terlihat seperti vampir.


"Ya, dia vampir." Jawab Melody sambil mengambil dua es krim yang diberikan oleh penjualnya lalu berjalan pergi. "Ini ambil." Seru Melody menyodorkan satu es krim pada Niko ke dekat wajahnya.


Ketika Niko hendak mengambilnya, Melody malah menyodorkannya mengenai hidung Niko. Niko menatap Melody seperti kesal, namun Melody tersenyum padanya, membuatnya tidak jadi kesal.


Tiba-tiba Niko melahap es krim milik Melody yang sudah dia makan. Melody terkejut melihatnya hingga mendelik pada Niko.


"Es krimku sudah kotor karena kena hidungku." Seru Niko masih dengan hidung yang terdapat es krim.


Melody langsung berjalan meninggalkan Niko, malas menanggapinya.


Setelah selesai bermain-main, Melody dan Niko hendak pulang. Hari ini Niko merasa senang tetapi dia merasa Melody sedikit berbeda dari biasanya. Dia menjadi sedikit takut kalau saja Melody berpikir untuk memintanya untuk menjauh setelah ini, karena biasanya seseorang selalu memberikan kebahagiaan dulu sebelum akhirnya mengambilnya kembali dalam sekejap. Itu yang dipikirkan Niko.


"Kapan terakhir kali kau pergi ke mall dan melakukan semua tadi?" Tanya Melody menoleh pada Niko yang menyetir.


"Aku lupa." Jawab Niko. "Sebenarnya ada apa? Entah kenapa rasanya kau berbeda." Ujar Niko sesekali menoleh pada Melody.


"Kau bilang, kau akan membuatku menyukaimu 'kan? Kalau begitu kau bisa melakukannya. Aku mau kau membuatku menyukaimu."


Niko menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan menoleh menatap Melody. Dia tidak percaya dengan perkataan Melody yang baru saja didengarnya. Itu sesuatu yang mustahil yang dia kira akan keluar dari mulut gadis itu.


"Benarkah? Kenapa tiba-tiba kau mengatakannya sejelas itu padaku?"


Niko tersenyum mendengarnya.


"Jujur saja Niko, sangat sulit membuatku menyukai seseorang. Bahkan hanya sekedar menjadi seorang temanpun sangat sulit. Aku ingin kau membuatku mencintaimu."


***


Ketiga Musketeers dan ayah mereka berada di rumah. Leo sedang bersiap-siap dengan koper besar berdiri di dekat pintu masuk. Dia duduk di ruang tamu karena hendak akan pergi. Athos juga duduk di salah satu sofa di ruang tamu bersamanya, sedangkan Prothos dan Aramis berada di meja makan yang dari ruang tamu terlihat.


"Kalian semua jaga rumah dengan benar. Jangan repotkan paman kalian, akhir-akhir ini dia tidak pernah libur. Sesekali telepon dan kunjungi kakek di rumah nenek kecil."


"Kami sudah mengerti, ayah." Jawab Athos. "Kira-kira berapa lama kau di Italia?" Tanya Athos.


"Paling cepat dua minggu dan paling lama dua bulan." Jawab ayah sambil memakai sepatu.


"Bahasa Inggrismu tidak bagus apa kau bisa tinggal lama disana? Apa kau butuh penterjemah?" Tanya Athos.


"Aku tidak butuh bahasa Inggris saat di Italia. Tiga tahun aku sekolah di sana dan kakek buyutku juga orang Italia, aku tidak butuh bahasa Inggris." Seru ayah kesal. "Kalian harus belajar karena sebentar lagi ujian kelulusan dan jaga adik kalian."


"Saat pulang belikan kami oleh-oleh." Ujar Aramis.


"Kau ini, ayahmu belum berangkat sudah memikirkan pulang nanti." Gumam ayah.


"Pastikan semuanya jangan ada yang tertinggal." Seru Athos pada ayahnya. "Hubungi aku kalau kau butuh uang."


"Astaga, ayahnya itu aku atau kau? Kenapa aku harus meminta uang padamu?"


"Ayah, carilah wanita cantik di sana dan bawa saat pulang nanti, aku titip buat paman juga." Ucap Prothos.


Leo hanya tertawa mendengar perkataan Prothos.


Tiba-tiba Melody masuk bersama Niko.


"Untung saja ayah belum berangkat." Kata Melody langsung memeluk ayahnya. "Ayah harus selalu menghubungiku ya."


"Pasti, sayang." Jawab Leo.


"Kau mau kemana, ayah?" Tanya Niko yang berdiri di depan pintu masuk. "Padahal ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Bicarakan apa? Apa penting?" Tanya Leo menatap Niko.


"Sangat penting. Aku berencana menikahi Melody." Jawab Niko.


Semua yang mendengar sangat terkejut termasuk Melody sendiri. Leo menatap Niko dengan wajah terkejut namun dia masih ingin mendengar penjelasan pemuda itu, apa maksud dari kata-katanya.


"Jangan bercanda kau, Niko!!" Seru Athos kesal.


"Apa maksudmu dengan menikah?" Tanya Prothos berjalan menghampiri Niko.


Aramis hanya duduk di tempatnya menahan emosinya mendengar perkataan Niko. Matanya sangat tajam mengarah pada musuh bebuyutannya itu.


"Aku serius." Jawab Niko menatap Leo. "Aku akan bilang pada orang tuaku dan kami berdua bisa bertunangan dulu. Setelah lulus kami akan langsung menikah."


"Melo, apa kau tahu masalah ini?" Tatap Leo sambil bangkit berdiri.


Melody menggeleng. Dia sama sekali tidak tahu tentang apa yang dikatakan Niko barusan. Dirinya sama terkejutnya seperti yang lain.


"Aku tidak memberitahunya. Aku ingin bilang dulu padamu dan memintanya setelah kau tahu." Ujar Niko.


"Niko, kita bicarakan ini saat aku pulang." Ucap Leo. "Sebaiknya kau tanyakan pada Melo terlebih dahulu. Aku tidak pernah melarang anak-anakku dengan keputusannya sendiri. Kau mengerti?"


Niko menatap Melody yang terkejut dengan perkataannya.


Melody tidak mengira kalau Niko mempunyai rencana sebesar itu setelah dia mengatakannya untuk membuat dirinya mencintai Niko.


...@cacing_al.aska...