MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Jaga Jarak



Lion pergi menemani Melody untuk berbelanja bulanan. Mereka berangkat ke supermarket yang berada di sebuah mall besar dengan mobil ayah Melody. Prothos menumpang sampai ke bengkel untuk mengambil motor Lion yang hendak dipinjamnya.


Untung saja hujan sudah berhenti sejam yang lalu. Saat ini waktu menunjukan pukul dua belas siang.


"Sebelum membawanya tolong pastikan tidak ada lagi rasa sakit di Meganku." seru Lion menghentikan mobil di depan bengkel.


"Tidak perlu khawatir." jawab Prothos yang duduk di samping kursi pengemudi, di samping Lion. "Oke, aku turun ya. Melo, kakak pergi ya." Pamit Prothos setelah itu turun.


"Kau tidak pindah duduk di depan, Melon?" Lion menoleh pada Melody.


Melody malah memalingkan wajahnya dan melihat Prothos yang berjalan masuk ke bengkel.


"Oke, baiklah tuan putri." sindir Lion sambil menginjak gas.


Di perjalanan Melody terus menatap Lion yang menyetir dengan headphone terpasang di telinganya, dan sesekali bernyanyi serta menggerakkan tangannya. Melody hanya menatap pria itu tanpa kata ataupun ejekan seperti biasanya.


"Aku perhatikan kau terus menatapku? Ada apa Melon?"


Melody tersadar setelah melihat spion yang ada di hadapan Lion. Lion bisa melihat ke arahnya dengan spion tersebut. Itu membuat wajah gadis itu sedikit memerah.


Melody kembali memandang keluar jendela.


...***...


Sepeninggalan yang lainnya, Athos sibuk mengganti tirai dengan bantuan Tasya, kekasihnya.


"Sebaiknya kau pulang saja." seru Athos melipat tirai di ruang tamu yang baru saja dia turunkan.


"Aku akan turunkan juga yang sebelah sini." kata Tasya langsung naik ke kursi.


Tanpa diduga kursi plastik yang dinaiki Tasya bergeser, hal itu membuat tubuh Tasya yang ada di atasnya goyah kehilangan keseimbangan.


Secepat kilat Athos yang berdiri di jarak dua meter langsung bergerak dan memegangi tubuh Tasya. Dengan reflek juga Tasya bertopang pada Athos dan melingkarkan kedua tangannya pada kekasihnya.


"Sudahku bilang biar aku yang naik." ujar Athos yang masih ada di rangkulan Tasya yang lebih tinggi darinya karena posisi Tasya ada di atas kursi.


Tanpa di duga Tasya mengecup bibir Athos, kekasihnya.


Athos terbelalak kaget.


Sesaat mereka saling tatap.


Tiba-tiba pintu masuk yang ada di samping mereka terbuka. Secepatnya Athos mundur dan terlepas dari rangkulan Tasya.


"Sedang apa kau di sini?" tanya paman Ronald yang masuk dan melihat Athos berdiri di depan pintu. "Eh, siapa ini?" kali ini Ronald melihat Tasya yang masih berdiri di kursi.


"Selamat siang, paman." senyum Tasya setelah itu turun dari kursi. "Kenalkan aku Tasya, pacar Ato. Kau pasti paman Ronald kan? Baru saja Ato bercerita tentangmu."


Athos hanya menatap gadis yang baru saja mengecupnya dengan heran. Padahal dia hanya menjawab ketika Tasya bertanya siapa saja yang tinggal di rumahnya. Akan tetapi gadis supel itu melebihkan kata-katanya.


"Pacar?" Paman Ronald melotot pada Athos. "Si kutu buku ini punya pacar?"


"Ya. Aku pacar pertama dan terakhir Ato." jawab Tasya mantap.


Athos hanya menggaruk-garuk kepala tanpa bisa protes.


"Percayalah, kau gadis pertama yang bukan keluarga kami yang memasuki rumah ini. Bahkan Prothos yang gonta-ganti pacar pun tidak pernah mengajak pacarnya ke sini."


"Benarkah?" Tasya memastikan. "Aku akan sering datang ke sini kalau begitu."


"Itu bagus. Dan beritahu anak ini juga agar dia sadar betapa sulitnya menghadapi wanita." ejek paman Ronald pada Athos. "Akan jauh lebih sulit dari semua mata pelajaran yang dia kuasai." lanjut paman Ronald menepuk pundak Athos dua kali dan setelahnya berjalan.


"Paman ada-ada saja, jangan bilang karena itu paman belum menikah ya?" sindir Tasya.


"Ya, aku tidak akan pernah menikah." jawab paman Ronald menaiki tangga.


"Ato, kenapa kau diam saja?" Tasya menatap Ato yang mematung. "Aku senang keluargamu menyukaiku semua." Tasya melangkah mendekati Athos.


Dengan reflek Athos menghindar dari Tasya.


"Berhenti!! Jangan mendekat!!" seru Athos mengisyaratkan dengan tangannya. "Kita harus jaga jarak!!"


"Aku mohon, jangan melakukan hal-hal..."


"Hal-hal apa? Kecupan tadi?"


Athos tersipu malu.


"Aku ini pacarmu kan, jadi tidak masalah aku melakukannya. Kalau mau kau juga boleh menciumku."


Athos menelan liurnya dan mengambil napas sebelum mengeluarkan kata-katanya.


"Tasya, sebentar lagi aku akan ujian dan ayah mengancamku tidak akan mengampuniku kalau nilaiku turun karena ini." ujar Athos yang sebenarnya itu hanya alasan yang dibuatnya karena Athos pada dasarnya jarang belajar.


"Tidak. Aku akan mendukungmu, nilaimu malah akan naik nanti."


"Maksudku, kita bisa pelan-pelan saja dan jangan melakukan hal-hal yang jauh, karena itu pasti akan mengganggu konsentrasiku dalam pelajaran." terang Athos. "Kau pun juga harus fokus belajar dulu. Setelah ujian selesai aku akan menghubungimu lagi. Aku mohon." pinta Athos.


Tasya terlihat marah karena tidak percaya dengan ucapan Athos. Gadis itu segera mengambil tasnya dan pergi keluar rumah. Athos mencoba memanggilnya namun dia hanya bisa diam.


Dengan agak menyesal Athos membuang napas. dia membalikan badannya dan melihat ayah serta pamannya yang ada di lantai dua menyaksikan adegan itu.


"Kalian menguping?!" Tanya Athos menjadi kesal. "Sejak kapan kalian di situ?"


"Kau harus menjaga kehormatannya!!" seru ayah memperingati. "Dengan penuh keberanian gadis itu menciummu tapi kau malah melarangnya menemuimu dulu. Tega sekali." lanjut ayah berjalan pergi.


Athos semakin malu karena ternyata ayahnya melihat saat Tasya mengecupnya.


"Rasakan itu Ato!! Wanita itu makhluk rumit yang tidak bisa dihitung dengan rumus apapun!!" ledek paman Ronald.


...***...


Di supermarket, Melody mengambil semua barang yang masuk ke dalam list yang diberikan Athos padanya.


Ketika dia hendak mengambil tisu toilet yang letaknya sangat tinggi, dengan sigap Lion mengambilkannya.


"Sini biar aku lanjutkan saja." Lion mengambil list yang ada pada Melody, setelah meletakan tisu ke troli yang dibawanya.


Lion melanjutkan apa yang dilakukan Melody sebelumnya. Dia mengambil apapun yang ada di dalam list dan mendorong troli. Melody hanya berjalan mengikutinya sambil menatap pria itu dari belakang.


"Habis ini aku ingin makan ramen." seru Lion berjalan sambil mendorong Troli. "Tenang saja, aku yang akan traktir."


Melody tak menjawab pria yang berjalan memunggunginya itu.


Setelah memasukan semua belanjaannya ke dalam mobil, Lion mengajak Melody makan di sebuah restoran ramen favoritnya.


"Udara dingin seperti ini, ramen adalah makanan wajib." ucap Lion setelah itu menyeruput ramennya dengan sumpit. "Bagaimana? Enak 'kan?"


Melody mengangguk tipis.


Handphone Lion yang ada di atas meja di samping mangkoknya bergetar. Melody bisa melihat nama yang muncul di layarnya adalah Sandra.


Lion tidak menjawabnya dan malah mematikan handphone-nya.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Melody penasaran.


"Sama seperti kau jarang menanggapi kata-kataku." jawab santai Lion. "Malas!!"


Melody berpikir mendengar kata-kata Lion barusan. Selama ini jadi Lion menganggap kalau Melody malas berbicara dengannya, namun memang dulu dan terkadang dia memang malas menanggapi kata-kata Lion. Akan tetapi saat ini dia merasa karena bingung harus menanggapinya seperti apa, bukan karena malas.


Melody terus memandang Lion yang menyantap makanannya dengan lahap.


"Ada apa? Kenapa tidak makan?"


"Aku sudah kenyang."


"Baiklah, biar aku habiskan." Lion mengambil mangkok berisi ramen yang sisa setengah dan langsung melahapnya.


Sekali lagi Melody hanya memperhatikan pria yang ada di depannya, tanpa kata.