
Prothos menghentikan mobilnya setelah Widia menangis sesungukan di dalam mobil, sekembalinya dari pesta pernikahan mantan dan sahabatnya. Prothos hanya diam dan memberikannya tisu tanpa melarangnya menangis seperti sebelumnya.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Widia.
"Menangislah, tapi ingat, berjanjilah pada dirimu sendiri, ini adalah yang terakhir kalinya." jawab Prothos.
"Sejak awal kuliah kami berpacaran, dan aku selalu menceritakan segalanya pada Kesha, aku tidak tahu kalau selama satu tahun terakhir mereka berdua mengkhianatiku. Bahkan ketika Selly dan Rara bercerita tentang perselingkuhan mereka aku tidak percaya, hingga seminggu yang lalu mereka mengaku padaku karena Kesha sudah hamil tiga bulan." cerita Widia sambil sesekali sesungukan.
Prothos merasa kasihan pada gurunya tersebut dan memegang pundak kanannya untuk menenangkannya.
"Aku memang bodoh, seharusnya aku percaya pada Selly dan Rara." lanjut Widia.
"Kau tidak bodoh." ujar Prothos. "Kau hanya buta karena cintamu padanya."
Setelah hampir dua jam berkendara akhirnya Prothos sampai di depan sebuah apartemen tempat Widia tinggal, di kawasan sekolahnya.
Prothos membukakan pintu untuk gurunya tersebut.
"Aku sangat berterimakasih padamu. Sebagai guru, aku merasa malu karena merepotkan muridnya." ucap Widia berdiri di hadapan Prothos.
Prothos menggelengkan kepalanya.
"Bu guru tidak perlu khawatir, aku tulus melakukannya." jawab Prothos. "Aku minta maaf kalau tadi melakukan hal-hal yang tidak nyaman untukmu."
Widia mengingatnya kembali saat wajah Prothos sangat dekat dengan wajahnya ketika berbisik dan saat Prothos mengecup dahinya. Wajahnya tersipu malu kembali.
"Aku sudah melupakannya." ucap Widia berbohong. "Hari senin ujian semester, belajarlah yang giat agar nilaimu bagus. Aku tidak keberatan kalau kau membutuhkan bantuanku untuk belajar." lanjut Widia yang sebenarnya hanya basa-basi.
Prothos hanya tersenyum sambil bergeleng tipis.
"Baiklah, aku masuk. Sekali lagi terimakasih." ucap Widia setelah itu berjalan masuk.
Prothos tersenyum sambil kembali masuk ke dalam mobil.
...***...
Athos terus saja sibuk dengan laptopnya di kamar setelah makan malam. Bukan belajar namun dia menyelidiki sesuatu. Athos mencari tahu tentang keluarga Tasya.
Ternyata ayah Tasya adalah seorang pemilik sekaligus presiden direktur dari perusahaan brand kosmetik lokal yang terkenal, sedangkan keluarga Dion adalah pemilik perusahaan toko kosmetik yang memasarkannya.
Athos membuang napas panjang.
Tiba-tiba Tasya menelepon.
"Apa kau sedang belajar?" tanya Tasya yang berbaring di ranjangnya.
"Tidak." jawab Athos tersenyum. "Aku sedang memikirkanmu."
"Jangan berbohong padaku."
"Aku serius. Aku memikirkanmu."
"Kau memikirkan apa tentangku?" selidik Tasya senang mendengar perkataan kekasihnya. "Jangan bilang kau memikirkan aku yang tidak berpakaian ya?"
"Tidak." jawab Athos singkat. "Aku memikirkan cara agar bisa memilikimu."
Tasya terkejut mendengar perkataan manis Athos. Dia sama sekali tidak mengira kalau kata-kata itu akan keluar dari mulut kekasihnya yang kaku itu. Tanpa sadar air matanya mengalir.
"Ada apa? Kau menangis?"
"Baiklah, aku akan tidur sekarang. Setelah mendengar ucapanmu aku yakin akan bermimpi indah." jawab Tasya menghapus air matanya.
...***...
Hampir pukul sembilan malam Prothos sampai di rumah. Dia membuka pintu dan langsung di hadang ayah yang duduk di sofa.
"Dari mana saja kau?" tanya dingin ayah.
Prothos diam tidak menjawab.
Kedua kembarannya keluar kamar dan berdiri di atas memperhatikannya. Melody di kamarnya tidak berani keluar kamar setiap kali ayahnya marah pada salah satu kakaknya. Sedangkan paman Ronald langsung menghampiri ke ruang tamu.
"Lihat pakaianmu!! Kau sedang syuting film?" tanya ayah lagi skeptis.
Ayah beranjang dari duduknya dan menghampiri Prothos yang mematung.
"Sudah aku bilang, kalian semua harus belajar!!" ujar ayah. "Dari mana kau?"
Prothos hanya diam menatap ayah setiap kali ayah marah padanya, itu kebiasaannya.
"JAWAB AKU!!" teriak ayah, dan tinjunya mendarat di pipi kiri Prothos. "Kau masih tidak mau bilang?"
"Kak, sudahlah. Aku yang akan bicara padanya." ucap paman Ronald. "Oto, naiklah!!"
Prothos berjalan menaiki tangga dan melihat kedua kembarannya mengolok-oloknya, Prothos hanya menanggapinya dengan tatapan kesal.
Di kamar Prothos langsung menuju cermin melihat pipinya yang ditinju ayah. Ada lebam di sisi kiri bibirnya.
"Wajahku yang tampan jadi luka." keluh Prothos.
Prothos mengambil kartu nama yang dia dapatkan tadi siang, dan menaruhnya di tumpukan kartu nama yang ada di meja belajarnya. Ini sudah kesekian kalinya dia mendapatkan tawaran seperti itu.
Setelah mandi Prothos duduk di meja belajarnya, mengambil bukunya dan mencoba belajar.
"Melo, kakak sudah kenyang." jawab Prothos tersenyum. "Tapi baiklah, akan kakak makan."
"Kak Oto, tadi kemana?" tanya Melody duduk di sisi tempat tidur.
"Kakak habis membantu seseorang." jawab Prothos sambil melahap makanannya.
"Siapa? Dan bagaimana kakak membantunya?" tanya Melody. "Ya ampun, bibir kakak luka. Apa ayah memukul kakak lagi?"
"Melo, boleh pinjam handphone-mu?"
Tanpa bertanya Melody mengambil handphone-nya, membuka kuncinya dan memberikannya pada Prothos.
Prothos membuka daftar nomer dan mencari nama Widia, lalu menghapal nomernya.
"Kakak, mau apa?"
"Sudah malam, sebaiknya kau tidur." seru Prothos mengembalikan handphone Melody.
"Baiklah." jawab Melody setelah itu berjalan keluar.
Prothos kembali membuka bukunya, melanjutkan belajarnya. Dia mencoba fokus dan tidak memikirkan kemarahan ayah tadi.
"Oto..." panggil paman Ronald mengetuk pintu.
"Masuk saja!!" Seru Prothos.
Paman Ronald membawa kotak obat masuk ke kamar Prothos.
"Tidak paman, aku tidak perlu diobati." ujar Prothos setelah melihat paman Ronald masuk.
"Oke, kalau begitu." ucap Paman Ronald. "Kau tahu kan kalau ayahmu marah seperti apa?" tatap paman Ronald. "Jangan terlalu dipikirkan, besok juga sudah lupa."
"Paman tidak perlu menghiburku." ujar Prothos. "Oh iya, ini aku kembalikan." Prothos memberikan kartu kredit pada paman Ronald.
"Kau tahu berapa yang kau habiskan?"
"Aku akan menggantinya." jawab Prothos.
"Kau lupa kata-kataku dulu? Jangan menghabiskan uang untuk seorang wanita."
"Tidak, aku ingat. Itu semua aku gunakan untuk membantunya agar dia tidak seperti paman." jawab Prothos.
Paman Ronald mengerti maksud Prothos.
"Baiklah, aku percaya padamu." jawab paman Ronald. "Oh iya, belilah handphone baru." tambah paman Ronald menyodorkan kembali kartu kredit-nya.
"Kalau ingin, aku bisa membelinya tanpa meminta padamu." ucap Prothos kembali ke posisi belajarnya. "Keluarlah, aku ingin fokus belajar."
"Jangan paksakan dirimu, dan istirahatlah karena kau habis menempuh perjalanan jauh." ujar paman Ronald yang mengetahuinya dari kilometer di mobilnya, setelah itu keluar kamar Prothos.
Prothos mengusap-usap wajahnya dengan telapak tangannya seperti kebiasaannya, karena saat ini dia sudah merasa mengantuk dan lelah namun dia masih ingin belajar.
...***...
Melody berdiri di depan jendela kamarnya menatap kamar Lion yang masih tertutup tirainya. Gadis itu masih merasa bersalah pada Lion, dan sikap Lion padanya juga sudah berubah. Tidak seperti dulu lagi.
Namun tiba-tiba Lion membuka tirainya dengan secepatnya Melody mematikan lampu kamarnya dan kembali berbaring ke tempat tidurnya.
Beberapa menit kemudian Melody melongok kembali ke jendela dan Lion sudah menutup kembali tirainya.
"Dasar bodoh!" gumam Melody.
...***...
"Kenapa kalian tidak bilang padaku kalau kalian akan menginap?" tanya Widia setelah mandi.
Tanpa dia duga kedua sahabatnya Selly dan Rara datang ke apartemen-nya untuk menginap. Dan mereka sudah dulu sampai sebelum Widia pulang.
"Pacarmu tampan sekali. Ceritakan pada kami bagaimana kalian berkenalan?" tatap Rara.
Widia yang sibuk membuka laptopnya karena sedang menyiapkan soal ujian.
"Widi, ayo ceritakan dulu!!" pinta Selly menutup laptopnya. "Kami juga melihat dia mengantarmu tadi."
"Dia muridku."
"Apa?" tanya Rara.
"Kau pacaran dengan muridmu?" tanya Selly.
"Dia bukan pacarku, dia hanya membantuku tadi untuk memberi pelajaran pada para pengkhianatan itu." jawab Widia menerangkan. "Sudah, biarkan aku mengerjakan kerjaanku!!"
"Muridmu tampan sekali, pantas saja kau semangat pergi mengajar setiap hari." ucap Rara. "Dekati dia, aku rasa tidak masalah kalau kau berpacaran dengannya."
"Iya, itu benar!! Selain tampan, dia anak yang baik karena mau membantu gurunya yang sedang berduka." tambah Selly.
"Kalian ini bicara apa?" tatap Widia. "Kalian sudah gila ya? Apa kata dunia kalau aku memiliki pacar anak kecil sepertinya?"
"Aku rasa dengan dia membantumu sudah terlihat jelas kalau dia lebih dewasa dari anak seusianya, bahkan dari caranya bersikap dia jauh lebih dewasa darimu." ujar Selly yang bertubuh agak gemuk. "Dekati dia, kami mendukungmu."
"Kalian ini ya..." ucap Widia membuka kembali laptopnya.