MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Dua Pilihan



Dengan langkah mantap Athos memasuki rumah Tasya, dan langsung disambut oleh asisten ayah Tasya bernama Benny, usianya tidak jauh berbeda dengan ayah Tasya.


Benny mengantar Athos dan Tasya ke ruang kerja dimana Presdir yang adalah ayah Tasya sedang menunggu kehadiran Athos.


"Presdir, mereka sudah tiba." ujar Benny ketika membuka pintu.


"Tasya, masuklah ke kamarmu!!" seru Presdir.


"Aku akan tetap di sini, papa." jawab Tasya.


"Pergilah, aku baik-baik saja." ucap Athos menatap Tasya yang berdiri di sampingnya.


Dengan langkah yang berat Tasya menuruti perkataan Athos, dan segera keluar ruangan itu.


Dengan gerakan tangan Presdir menyuruh Athos duduk di sofa yang menghadap dengannya. Athos segera menuruti.


"Aku pikir setelah pertemuan kemarin kau akan berpikir ulang, dan tidak menemuinya lagi." seru Presdir dengan tawa. "Karena yang sudah-sudah semua pria yang berhubungan dengannya akan segera menghilang setelah bertemu denganku."


"Mohon maaf, mungkin ini terdengar tidak sopan. Aku hanya ingin mengingatkan kembali apa yang aku katakan di pertemuan kemarin. Semua yang aku katakan bukanlah gertakan semata, dan aku sangat serius."


Presdir tertawa mendengarnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Presdir skeptis dari tatapannya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Presdir?" tanya Athos dengan senyum memperlihatkan rasa percaya dirinya.


Presdir memberikan gestur silahkan dengan tangannya.


"Mana yang lebih penting bagimu, perusahaanmu atau putrimu?"


Presdir menoleh pada Benny yang berdiri di samping kirinya dengan sebuah senyuman sarkas.


"Aku rasa kau pun tahu. Tentu saja putriku, karena aku hanya memiliki seorang putri. Itu sebabnya aku ingin yang terbaik untuknya." jawab Presdir. "Orang sepintar kau juga pasti tahu kenapa aku menjodohkannya dengan tunangannya."


"Tapi yang terbaik bukan berarti yang benar." sanggah Athos.


"Apa maksudmu?"


"Dalam masalah ini sebenarnya kau punya dua pilihan." ucap Athos. "Yang pertama, jika nanti putrimu menikah dengan pria yang kau pilih mungkin kau mempertahankan bisnis dan perusahaanmu akan tetapi kau akan kehilangan putrimu selamanya. Karena pastinya Tasya akan membencimu seumur hidupnya."


Presdir tampak memikirkan perkataan Athos.


"Lalu bagaimana dengan pilihan yang kedua?"


"Jika putrimu menikah dengan seseorang yang dicintainya, kau akan memiliki putrimu seumur hidupmu."


Presdir sekali lagi tertawa.


"Lalu apa untungnya bagi bisnisku?" tanya Presdir sinis.


"Aku tidak akan membiarkannya bangkrut." jawab Athos.


Presdir menatap Athos dengan tajam, namun rasa percaya diri yang besar terpancar dari mata pemuda itu.


"Anda akan tahu mana yang lebih penting untuk anda ketika pilihan mana yang akan anda ambil."


Athos beranjak berdiri.


"Terimakasih sudah mengundangku." ucap Athos setelah itu berjalan, namun berhenti ketika hendak membuka pintu dan membalikan badannya lagi. "Ada yang lupa ku katakan. Aku selalu bersungguh-sungguh ketika sudah memutuskan sesuatu. Dan seharusnya pun anda sudah tahu mengenai kredibilitasku."


Setelah itu Athos keluar ruangan.


"Mendengar perkataannya aku lupa kalau dia anak SMA." ucap Presdir pada asistennya. "Apa jaman sekarang semua anak SMA sepertinya?"


"Tidak, hanya dia." jawab Benny. "Bahkan tunangan putri anda yang seorang mahasiswa tidak pernah bicara seperti anak itu."


Presdir tertawa mendengarnya.


"Sepertinya kau sudah memutuskan untuk berpihak padanya, Benny?" ujar Presdir menoleh ke asistennya.


"Jika Presdir mengijinkan." jawab Benny.


Sekali lagi Presdir tertawa.


"Rajawali semakin terbang tinggi ketika angin semakin menerpanya." seru Presdir.


"Lalu apa maksud anda?" tanya Benny.


"Aku tidak akan menjadi angin itu."


...***...


Widia mengerjakan pekerjaannya di meja bulat, dan Prothos sedang beristirahat di tempat tidurnya. Widia memandang Prothos yang bibirnya terdapat luka. Sejak sejam yang lalu Prothos tidak merubah posisinya.


"Sepertinya dia benar-benar terlelap." ucap Widia.


Dengan segera Widia menghentikan pekerjaannya dan mengambil obat untuk mengobati bibir Prothos yang luka.


Dengan duduk di kursi yang di bawanya, Widia menatap wajah muridnya yang terlelap itu.


Dengan wajah setampan itu, hatinya terlalu sensitif. Wanita yang berpacaran dengannya pasti akan terus kerepotan. Batin Widia.


Widia mulai mengolesi bibir Prothos yang terluka dan terlihat robek.


"Pasti ini sakit sekali." ucap Widia.


"Ya, ini sangat sakit." jawab Prothos membuka matanya.


"Kenapa kau pura-pura tidur?" tanya Widia kesal.


"Kau bicara di dekat telingaku, bagaimana aku tidak terbangun, bu guru?" ujar Prothos duduk.


Widia memegang dahi Prothos, namun Prothos bersin.


"Demammu sudah turun tapi kau belum sembuh, dan kau masih flu." kata Widia. "Aku ambilkan jamu pereda flu ya."


Tiba-tiba bel berbunyi.


"Sepertinya makan malam yang aku pesan sampai." ucap Widia sambil berjalan ke pintu.


"Selamat sore, bu guru." sapa Anna tersenyum.


Widia terlihat panik dan mencoba menutupi pandangan Anna yang melihat ke dalam.


"Tenang saja bu guru, aku tidak akan beritahu siapapun." seru Anna. "Oto, pasti ada di dalam kan?"


"Bu guru, pesan apa untuk makan malam?" tanya Prothos.


"Tebakanku tepat sekali." seru Anna yang masuk ke dalam dan melihat Prothos.


"Anna? Kenapa kau disini?" tanya Prothos terkejut.


"Jadi benar wanita yang bersamamu di mall adalah bu guru?" ucap Anna. "Kau tenang saja, aku akan menutup mulutku."


"Ini tidak seperti yang kau pikiran." ucap Widia sedikit takut kalau Anna berpikiran macam-macam. "Dia disini karena aku melihatnya kehujanan, dan dia jatuh sakit."


"Bu guru tidak perlu menjelaskannya." senyum Anna merangkul Widia. "Si bodoh ini yang harus menjelaskannya."


"Baiklah, aku akan menunggu di luar." ujar Widia setelah itu keluar.


"Kenapa kau bisa tahu aku disini?" tanya Prothos kesal karena takut Anna akan membocorkan keberadaannya pada Athos dan Aramis.


"Jelaskan dulu apa hubunganmu dengan bu guru? Kenapa kau ada di apartemennya dan ada di tempat tidurnya?" tanya Anna curiga duduk di kursi yang dekat dengan tempat tidur. "Kalian punya hubungan kan?"


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak." jawab Prothos.


"Hhuft... sepertinya belum." lirik Anna. "Tenang saja, aku tidak akan bilang tentang keberadaanmu ini pada siapapun."


"Pergilah!"


"Kau tega sekali pada kembaranmu ya. Mereka berdua mencarimu ke mana-mana tapi kau malah bermesraan disini dengan bu guru."


"Anna, hentikan ocehanmu." ujar Prothos. "Ato mencariku?"


"Aku rasa dia hampir gila mencarimu." ucap Anna melebihkan. "Oto, ayolah, jangan buat semuanya jadi makin sulit untuk Ato. Kau tidak kasihan padanya?"


"Karena aku kasihan makanya aku ingin mereka berpisah."


"Bukan jawaban seperti itu yang ingin didengar Ato darimu." seru Anna. "Setidaknya cobalah mengerti posisinya saat ini. Dia benar-benar mencintai Tasya, dia tidak ingin kehilangannya, tapi kau yang seharusnya mendukungnya malah memintanya untuk merelakannya. Kau jahat sekali pada Ato." tambah Anna menggelengkan kepala.


"Bagaimana dengan Ars?"


"Si bodoh itu hanya bilang tidak ingin melihat kalian berdua bersedih." jawab Anna. "Oto, bagaimana kalau kau membuatnya lebih mudah?"


"Maksudnya?"


"Seperti mencari jawaban dengan melempar koin."


Prothos tertawa mendengarnya.


"Ini masalah serius bukan sekedar memilih menu makan malam." ucap Prothos.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kau uji kesungguhan Ato?" ujar Anna. "Untuk caranya kau pikirkan sendiri ya."


Prothos tampak berpikir.


"Baiklah, aku pulang ya." ucap Anna beranjak. "Malam ini ayahmu dan yang lainnya tidak pulang, jadi aku rasa kau boleh menginap disini." bisik Anna.


Widia kembali masuk ke dalam setelah Anna pergi.


"Anak itu termasuk dalam golongan wanita keren." gumam Widia yang ada di meja dapur, membuka makanan yang dibawanya.


"Apa maksudmu, bu guru?"


"Aku merasa kau dan kedua kembaranmu ada di dalam diri anak itu." jawab Widia mendekati Prothos membawa makanan.


"Bu guru, bisa diperjelas tidak?"


"Aku dengar Anna menguasi ilmu bela diri dan di hari pertamanya pindah sekolah, dia menantang Aramis, lalu keesokannya menantangmu bermain basket. Dia juga gadis yang cantik, kalau saja dia memanjangkan rambutnya pasti kecantikannya akan lebih terlihat." jelas Widia sambil duduk di kursi dekat Prothos. "Padahal dia pindah sekolah di saat akan ujian, tapi nilainya sempurna. Apa kau tahu? Dia langsung di peringkat pertama kelas sebelas."


"Benarkah, bu guru?" tanya Prothos memastikan.


"Hey, sebaiknya dekati dia!! Dia datang kesini untuk melihatmu pasti dia mengkhawatirkanmu."


Prothos memandang gurunya yang tidak mengerti tentang hubungan mereka.


"Anna milik Ars." jawab Prothos. "Hanya Ars yang bisa mengendalikan gadis sepertinya."


"Jadi begitu. Kalau begitu cepat makan dan setelah itu kau bisa pulang." seru Widia menyodorkan makanan pada Prothos.


Prothos menatap Widia dengan sebuah senyum.


"Bu guru, biarkan aku menginap disini."