
Niko turun dari motornya dan berjalan dengan tangan kiri yang masih berada di saku mantelnya. Dia melangkah ke arah Melody, tepat ketika Monik menghampiri Melody.
"Mel, siapa dia?" tanya Monik terpesona pada Niko. "Dia seperti seorang vampir."
"Aku kesini untuk menjemputmu." ujar Niko pada Melody. "Lion, sedang sibuk, dia memintaku untuk menjemputmu."
Melody tak menjawab, dia hanya memperhatikan ke arah motor Niko yang terdapat helm Lion yang biasa dipakai oleh Melody. Dirinya jadi mengerti kalau Lion memang meminta Niko untuk menjemputnya.
"Mel, dia siapa? Kenapa Lion memintanya menjemputmu?" bisik Monik.
"Aku Niko, calon pacar Melody." jawab Niko percaya diri dengan senyum menatap Melody.
Monik terkejut mendengar jawaban terus terang Niko yang menyukai Melody.
Melody tidak berekspresi apapun, dia hanya mengambil handphone-nya menghubungi Lion, namun Lion tidak menjawabnya.
Kenapa dia tidak menjawabnya? tanya Melody dalam hati.
"Ayo pulang denganku, Melody." ajak Niko.
Melody menggeleng, namun tiba-tiba Niko menarik tangan Melody mengikutinya ke motor dan memakaikan Melody helm.
"Mau naik sendiri atau perlu aku bantu?" tatap Niko yang sudah di atas motor.
Melody naik ke motor Niko dengan terpaksa, karena sejujurnya Niko membuatnya takut saat ini.
Sebelum Niko menjalankan motornya, dia menarik tangan Melody agar memeluknya untuk berpegangan dengannya. Setiap kali Melody mencoba melepas tangannya, Niko akan langsung menariknya kembali.
Saat dalam perjalanan Melody menangis, selain karena dia merasa takut, dia juga merasa sedih karena Lion membatalkan janjinya tanpa memberitahunya dan bahkan menyuruh orang lain untuk menjemputnya.
...***...
Lion berdiri dengan sebuah pistol ditangannya sedang membidik sasaran atau target yang berada jauh di depan, headphones terpasang di telinganya. Di hadapannya terdapat meja dengan beberapa pistol dan peluru yang berserakan dan handphone miliknya yang sedang memunculkan nama Es Melon, yang meneleponnya.
Lion melihatnya namun dia mengabaikannya dan terus menembaki targetnya tanpa memedulikan panggilan dari Melody. Dia terus mencoba fokus pada latihan menembaknya. Ini pertama kalinya dia mengabaikan panggilan telepon gadis itu.
Namun ketika panggilan berakhir, Lion melempar pistolnya ke meja dan mengambil handphone-nya lalu berjalan melewati teman-temannya termasuk Ivan yang sedang menembak di sampingnya.
"Ayo kita tanding ulang, kemarin tanganku pegal makanya kalah dari orang payah sepertimu." ucap Lion melewati Ivan dengan kedua tangan berada di saku celananya.
"Billiard?" tanya Ivan menoleh sambil melepas headphone-nya.
Lion tidak menjawab dan sudah berjalan keluar dengan beberapa teman yang mengikutinya di belakang.
...***...
Niko menghentikan motornya di sebuah restoran steak, lalu menarik Melody mengikutinya masuk ke dalam. Bahkan Niko mendudukan Melody di kursi karena Melody hanya diam saja.
"Kau ingin pesan apa, Melody?" tanya Niko.
Melody hanya menundukkan kepalanya tidak menjawab.
"Samakan saja." ujar Niko pada pramusaji.
Melody mengambil handphone-nya untuk menghubungi kakak-kakaknya agar salah satu dari mereka dapat menjemputnya. Namun Niko yang tahu, langsung merampas handphone Melody dan meletakan di atas meja dekat dengan dirinya
Melody menjadi semakin takut.
Niko memperhatikan Melody yang menundukan kepalanya.
"Kau menangis?" tanya Niko menatap Melody. "Kenapa?"
Melody tak menjawab dan masih menundukan kepalanya. Kejadian Felix yang menyerangnya membuat Melody trauma, dia takut Niko akan berbuat hal yang sama padanya juga. Apalagi dia juga musuh dari ketiga kakaknya.
"Kau takut denganku?"
Melody mengangguk sedikit.
"Maafkan aku ya, kalau aku membuatmu takut." jawab Niko. "Kita makan malam dulu setelah itu aku antar kau pulang."
Tidak berapa lama steak yang mereka pesan dihidangkan di meja. Melody masih menundukan kepala tidak berani menatap Niko.
Perbuatan Felix padanya sudah membuat perubahan pada diri Melody ketika berhadapan dengan pria asing. Dia menjadi sangat takut dan merasa terintimidasi. Di tambah sikap Niko yang memaksanya terus tanpa peduli dengan ketakutan gadis itu, membuat Melody semakin tidak bisa berbuat apapun selain menundukan kepala dengan menahan air matanya agar tidak menangis saat ini.
Melody tetap tidak merubah posisinya.
Niko segera mengambil garpu di piring Melody dan menusuk potongan daging, lalu menyodorkannya pada Melody.
"Mau makan sendiri atau aku suapi?"
Melody mengangkat kepalanya dan menatap Niko dengan mata yang sudah memerah karena rasa takutnya.
"Benar kata Lion, kau memang gadis yang merepotkan." ujar Niko meletakan garpu yang di pegangnya. "Baiklah, aku antar kau pulang."
...***...
Sesampainya di depan rumah, Melody langsung berlari turun dan bergegas masuk. Tanpa disadari olehnya Niko pun mengikutinya masuk dengan berjalan di belakang Melody.
Ketiga kakaknya bersama Anna sedang berada di meja makan, langsung beranjak berdiri melihat kedatangan Melody yang langsung naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya. Mereka tampak terkejut ketika Niko muncul di belakang Melody.
Ketiga Musketeers langsung maju ke arah Niko. Sedangkan Niko yang berdiri di dalam pintu masuk tersenyum pada mereka.
"Tidak perlu berterimakasih karena aku mengantar adik kalian." ucap Niko.
Aramis berjalan mendekati Niko, hendak menyerangnya namun kehadiran paman Ronald menghentikan langkahnya.
"Ada apa ini?" tanya paman Ronald turun dari tangga. "Siapa dia?"
Niko memberikan salam hormat pada paman Ronald dengan kedua jarinya yang digerakan ke keningnya, setelah itu berjalan mundur keluar dan pergi.
"Kenapa dia bersama Melo?" tanya Prothos heran. "Dimana Lion?"
Athos langsung menghubungi Lion, namun tidak dijawab. Akan tetapi Lion mengiriminya pesan tentang keberadaannya. Athos menunjukannya pada Prothos.
"Akan aku hajar anak itu karena membiarkan Melo bersama si tengik itu!!" geram Aramis langsung berjalan keluar diikuti kedua kembarannya.
"Apa yang terjadi?" tanya paman Ronald pada Anna yang masih berdiri di dekat meja makan. "Kemana mereka semua pergi?"
"Sepertinya mencari Lion." jawab Anna bangkit berdiri dan berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamar Melody.
Anna sejenak menatap Melody yang berbaring telungkup dengan wajah yang di sisi satunya sehingga dia tidak bisa melihat ekspresi Melody. Namun Anna mendengar suara isakan gadis yang sedang menangis itu.
"Apa yang terjadi Melo?" tanya Anna duduk mendekati Melody dan memegang punggungnya. "Kau baik-baik saja?"
Melody menghapus air matanya dan segera duduk. Gadis itu menahan tangisnya untuk mengatakan sesuatu.
"Kak, dimana Lion?" tanya Melody menatap Anna.
"Kakak-kakakmu sedang mencarinya." jawab Anna. "Apa Niko melakukan sesuatu?"
Melody terdiam dan menundukan kepalanya. Bahkan mendengar namanya saat ini membuat dirinya gemetar.
"Setelah kejadian waktu itu, aku merasa takut. Aku jadi takut kalau dia akan melakukan hal yang sama padaku seperti yang dilakukan Felix." jawab Melody. "Kenapa Lion menyuruhnya menjemputku dan bukan dia?"
Anna memeluk Melody dan mengusap punggungnya. Anna mengerti kalau saat ini Melody sedang ketakutan karena mengalami trauma setelah kejadian Felix waktu itu.
"Kau tenang saja. Mereka akan menyeret Lion padamu karena tidak menjemputmu."
...***...
Lion berada kembali di tempat Billiard yang sama dengan yang kemarin. Dia sedang bertanding kembali dengan Ivan setelah akhirnya Lion kalah kemarin.
"Apa tanganmu masih pegal? Kau jadi makin payah, Lion." ujar Ivan tertawa melihat Lion gagal memasukan bola.
Lion membuang napas dengan kesal, dan menatap Ivan. Namun pikirannya saat ini memikirkan hal lainnya.
"Sepertinya aku akan dihajar habis-habisan malam ini."
"Siapa yang berani menghajarmu, bodoh?" seru Ivan tertawa menanggapi candaan temannya.
Pandangan Lion langsung menuju pintu yang dibuka kasar. Semua teman-teman Lion yang jumlahnya hampir dua puluh orang yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arah pintu masuk. Mereka semua terkejut melihat kehadiran The Three Musketeers di ruangan tersebut.
Hampir semua dari mereka adalah musuh Aramis kecuali Ivan dan beberapa orang saja. Jadi ketika melihat kehadiran Aramis bersama kedua saudara kembarnya membuat mereka semua terkejut dan merasa terancam.
Ketiga Musketeers menatap Lion dengan tatapan kemarahan mereka.