MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Beli 2 Gratis 1



Pagi-pagi sekali Athos sudah membuat cake untuk merayakan ulang tahunnya bersama seluruh keluarganya. Kali ini dia membuat cake yang lain dari biasanya. Cake tiga tingkat dengan lapisan yang berbeda setiap tingkatnya.


"Kau butuh bantuan Ato?" tanya ayah yang menuruni tangga.


"Buatkan saja sarapan untuk semuanya." jawab Athos masih sibuk dengan kesibukannya.


"Oto belum kembali dari lari pagi?" tanya Ayah membuka kulkas.


"Mungkin sebentar lagi." ucap Athos. "Buatkan mie goreng dan nasi goreng untuk sarapan nanti. Selesai ini aku akan membuatkan yang lainnya."


"Bagaimana kemarin?"


"Sepertinya kita akan untung besar. Besok aku akan mulai fokus ke dua cabang lainnya." ujar Athos membantu ayahnya mengeluarkan sayuran dari kulkas.


"Jangan terlalu tergesa-gesa. Bahkan kau belum tidur kan semalam?"


Athos hanya tersenyum mengejek ayahnya. Baginya semua itu tidak masalah karena dia akan melakukan apapun untuk tujuannya.


...***...


Sekitar pukul lima tiga puluh Prothos hendak kembali dari lari paginya. Dia melihat Lion baru saja sampai ke rumahnya dan hendak masuk ke dalam.


"Lion." panggil Prothos dan langsung menghampiri Lion yang melihat ke arahnya. "Kau baru pulang?"


"Ya, aku habis dari rumah Ivan." jawab Lion melepas helm-nya dan turun dari motor. "Ada apa? Kalau kau ingin membahas Niko, kau tidak perlu khawatir. Dia sudah pulang ke kotanya."


Prothos menatap Lion dengan seksama.


"Semua itu salah Ars, dia mengajak Melon ke bandara kemarin. Dia selalu melakukan apapun tanpa berpikir." ujar Lion menatap Prothos. "Niko hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tapi kalian tidak perlu memikirkannya lagi."


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Prothos.


"Lakukan apa? Apa maksudmu?" tanya Lion mencoba memahami pertanyaan Prothos. "Aku hanya tidak ingin semuanya kacau, hubunganku dengan kalian dan juga dengan Niko." ujar Lion menaiki motornya lagi.


"Dengan Melo?"


"Selama ini aku hanya menuruti permintaan kalian semua. Dan aku rasa tidak akan ada yang berubah." jawab Lion setelah itu memasukkan motornya ke halaman rumahnya.


...***...


Sejak pukul empat hingga pukul tujuh pagi cake itu akhirnya jadi. Semua berkumpul ketika pukul sembilan pagi untuk merayakan dan meniup lilin ketiga Musketeers.


Musketeers meniup lilin di meja makan dengan yang lainnya berdiri di hadapan mereka. Ayah, paman Ronald, kakek, Melody, Lion, Tasya dan Anna.


"Sejujurnya semalam aku sudah meniup lilin duluan." senyum Prothos mengingat kejadian semalam bersama Widia. Wajahnya terlihat sumringah.


Semua langsung membubarkan diri malas menanggapi Prothos karena alasan mereka tidak jadi meniup lilin semalam adalah karena Prothos yang menghilang.


Mereka semua sedang sarapan di masing-masing tempat. Ayah, paman Ronald dan kakek berada di ruang tamu. Athos, Prothos dan Melody beserta Tasya duduk di meja makan. Sedangkan Aramis, Lion dan Anna berada di ruang TV sedang asyik menonton film kartun di pagi hari.


"Ini hadiah dariku untuk kalian bertiga." ujar Tasya memberikan masing-masing satu sebuah kotak berwarna biru dongker.


Tasya memberikan ke Athos dan Prothos yang duduk di meja makan dan Aramis yang duduk di sofa ruang TV.


"Ini terlalu mewah, Tasya." ujar Prothos saat membuka kotak tersebut dan melihat jam tangan mewah di dalamnya.


Athos menatap Tasya yang berdiri di hadapannya. Dia merasa seharusnya kekasihnya tidak memberikan hadiah semewah itu.


"Apa kau suka?" tanya Tasya.


Prothos menoleh ke Athos yang ada di sampingnya.


"Ini hadiah ulang tahun, selain itu aku tidak akan memberikan hadiah pada kalian di event apapun." jawab Tasya tersenyum.


"Tasya, aku akan menjualnya dan membeli konsol game terbaru. Apa tidak masalah?" seru Aramis yang berbaring di sofa.


"Terserah kau saja. Itu tidak masalah." ucap Tasya.


"Aku tidak akan kalah dari Tasya." seru Lion bangkit berdiri dari duduknya di karpet. "Aku juga punya hadiah mewah untuk kalian."


Lion langsung mengambil tasnya yang berada di meja dekat TV. Dan berjalan mendekati Athos dan Prothos terlebih dahulu dan mengeluarkan dua buah kaos berwarna hijau neon dengan gambar yang sama, dan memberikan pada mereka berdua, lalu setelahnya melempar ke Aramis.


"Mewah apanya? Pasti kau membeli barang promo kan?" seru Aramis yang langsung bangun memperhatikan kaos pemberian Lion yang terlihat sangat mencolok.


"Beli dua gratis satu, dan itu gratisannya." senyum Lion mengejek Aramis sambil menunjuk ke kaos yang di tangan Aramis.


Melody, Tasya dan Anna tertawa mendengarnya. Sedangkan Athos dan Prothos hanya menggelengkan kepalanya.


"Kau tahu kan tabunganku habis karena membeli tiket pesawat itu." ujar Lion kembali duduk di karpet bawah Aramis. "Lagi pula ketika kita memberi dari kekurangan itu lebih berharga 'kan?"


"Kekurangan apanya? Aku tahu seberapa banyak orang tuamu memberimu uang tiap bulan." racau Aramis pada sahabatnya. "Setidaknya pilih warna dan gambar berbeda. Kau kira kami anak kecil yang masih pakai baju kembar walaupun kami bertiga kembar?"


"Namanya juga barang promo, hanya tersisa itu." senyum ledek Lion. "Tapi pasti akan lucu saat kalian memakai pakaian yang sama."


"Itu pasti akal-akalanmu saja kan Lion memberi mereka kaos yang sama?" bisik Anna yang duduk di sofa yang ada di belakang Lion. "Bagus sekali. Aku mendukungmu." rangkul Anna dari belakang Lion.


"Dan dia mendapatkan yang gratisannya." ucap Lion pada Anna yang merangkulnya dari belakang.


"Lepaskan tanganmu!!" seru Aramis memukul tangan Anna yang merangkul Lion. "Kenapa kau selalu merangkul tiap pria?" gumam Aramis. "Aku mendengarnya, kau memberikanku barang gratisan karena ingin mengejekku lagi kalau aku juga adalah gratisan 'kan?"


"Lion selalu mengejek Ars kalau dirinya adalah gratisan dari kami berdua." jawab Prothos pada Tasya. "Seperti kaos ini, beli dua gratis satu."


Semua tertawa mendengarnya.


...***...


Pukul sembilan pagi, hanya ada Melody bersama Aramis, Lion dan Anna di ruang TV. Mereka masih menikmati hari minggu mereka dengan menonton film kartun di televisi.


Prothos sudah pergi dan Athos sedang tidur setelah tidak tidur semalaman. Tasya kembali ke rumahnya sebelum nanti malam Athos menjemputnya untuk makan malam.


Anna bersama Lion berdiri berkaraoke dengan melompat-lompat seperti biasanya. Mereka menyanyikan lagu pembuka dari kartun Shinchan secara bergantian. Aramis dan Melody hanya menonton kegilaan mereka berdua dari sofa.


Seluruh kota


Merupakan tempat bermain yang asyik


Oh senangnya


Aku senang sekali


Kalau begini


Akupun jadi sibuk


Berusaha


Mengejar-ngejar dia


Matahari menyinari


Semua perasaan cinta


Tapi mengapa


Hanya aku yang dimarahi


Di musim panas


Merupakan hari bermain gembira


Sang gajah terkena flu


Pilek tidak henti-hentinya


Sang beruang tidur


Dan tak ada yang berani ganggu dia


Oh sibuknya


Aku sibuk sekali


Melody memperhatikan Lion yang seperti orang gila karena melompat-lompat, nge-dance sambil bernyanyi mengimbangi Anna yang tak mau kalah dari kegilaan Lion.


Aramis berbaring memperhatikan Anna dan sahabatnya yang sefrekuensi dengan sesekali tertawa.


"Kalian berdua seperti anak kembar." seru Aramis pada kedua orang itu yang memiliki kesamaan.


"Ternyata ini melelahkan." ujar Anna berhenti melompat sambil merangkul Lion.


"Singkirkan tanganmu!!" seru Aramis menendang bokong Anna agar tidak merangkul Lion.


"Kau ini!!" gumam Anna melepaskan rangkulannya.


"Hanya seperti ini kau sudah lelah. Ternyata aku lebih unggul darimu, Anna." ucap Lion.


"Aku mau minum dulu-."


Tiba-tiba tubuh Anna goyah ketika berbalik, untung saja Lion secara reflek memeganginya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Lion.


Aramis langsung bangkit berdiri dan memapah Anna duduk di sofa tempatnya berbaring tadi. Wajahnya penuh kekhawatiran pada Anna.


"Sudahku bilang, jangan terlalu lelah!!" seru Aramis. Rasa kesalnya bercampur dengan rasa kekhawatirannya.


Melody melihat rasa khawatir yang terpancar dari kakaknya itu pada Anna. Itu membuatnya senang karena Melody memang sangat ingin jika Aramis berhubungan dengan Anna, bukan Jessica.


"Ada apa?" tanya paman Ronald yang turun dari tangga. "Kau baik-baik saja?" paman Ronald menghampiri Anna dengan cemas.


"Aku baik-baik saja. Hanya tadi terlalu bersemangat." jawab Anna dengan senyum agar semua tidak khawatir.


"Kau sudah minum obat?" tanya paman Ronald.


Anna melirik ke Aramis yang duduk di sebelahnya. Takut jika Aramis menanyakan maksud paman Ronald.


"Aku tidak apa-apa, untuk apa minum obat." jawab Anna menatap paman Ronald agar mengerti.