MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Hadirnya Wanita Lain



Lion menemani Anna berbelanja di supermarket yang terdekat. Karena Aramis malah mengusir Anna tadi, karena itu dia meminta Lion yang menemani.


"DIMANA KAU?" teriak Aramis yang menelepon Anna ketika sudah mengantri di kasir.


"Aku sudah pergi berbelanja dengan Lion." jawab Anna. .


"Sudah aku bilang, aku akan mengantarmu!!" seru Aramis kesal.


Anna tersulut emosi mendengarnya. Aramis berkata begitu padahal tadi dia mengusir dirinya dengan kasar dari kamarnya. Namun Anna menahan amarahnya karena saat ini dia sibuk mengambil belanjaannya dari keranjang dan menaruhnya ke meja kasir.


"Aku akan kesana!! Jangan ke mana-mana!!"


Anna hanya membuang napas sambil menutup teleponnya.


"Ars?" tanya Lion sambil membantu Anna memindahkan belanjaannya ke meja kasir.


"Si bodoh itu membuat aku kesal sekali." gumam Anna.


Selesai berbelanja Anna dan Lion makan siang di restoran pizza, makanan favorit Anna. Gadis itu tidak mendengarkan perkataan Aramis yang menyuruhnya tidak ke mana-mana.


"Padahal aku ingin makan ramen." gumam Lion. "Kau bilang akan mentraktirku kalau mau mengantarmu. Tidak aku sangka kalau kau yang pilih dimana tempatnya." tambah Lion yang duduk menghadap Anna.


"Sudah makan saja kalau tidak mau rugi!!" seru Anna yang duduk menghadap Lion dengan pandangan yang ke tembok. "Lion, bagaimana menurutmu mengenai Olimpiade nanti?"


"Olimpiade?"


"Apa yang akan terjadi nanti?" tanya Anna sambil melahap Pizza. "Aku akan membuat acaranya semeriah mungkin, dan membawa banyak penonton."


"Ini benar-benar akan sulit untuk Ato." jawab Lion. "Aku rasa Oto memilih ketiga cabang pertandingan itu karena salah satu dari ketiganya mereka bertiga masing-masing kuasai."


"Benarkah?"


"Athos sangat jago berenang, dia pasti akan memenangkannya dengan mudah. Tapi untuk lari, jika Ars tidak mengalah... pasti dia akan unggul. Sedangkan lemparan three points, kau juga tahu kan itu sangat mudah untuk Oto bahkan dia bisa melakukannya dengan mata tertutup."


"Wow, jadi ini akan sangat seru sekali." ujar Anna. "Aku tidak sabar besok lusa. Yosh, aku akan mencari dimana sebaiknya mereka bertiga bertanding."


"Sudah aku bilang jangan ke mana-mana!!" seru Aramis yang tiba-tiba datang.


Aramis memegang kepala Anna yang sedang duduk namun Anna memukul tangannya.


"Kenapa kau ke sini, Ars?" tanya Lion.


"Kalian seperti pasangan gay yang sedang makan siang." ucap Aramis duduk di samping Lion langsung menyantap pizza di hadapannya.


Lion tertawa mendengarnya.


"Ars, aku akan membunuhmu kalau kau tidak serius dengan pertandingan itu!!" seru Anna. "Aku ingin lihat seberapa kemampuan Athos ketika dia sangat bersungguh-sungguh."


"Jangan mengaturku, bodoh!!" jawab Aramis. "Kenapa aku harus ikut pertandingan menyebalkan itu?"


"Kalau hanya mereka berdua sepertinya kurang lengkap." ucap Lion.


"Kenapa kau tidak ikut juga?" protes Aramis pada Lion.


"Aku, Anna dan Melon yang akan menjadi jurinya." senyum Lion.


"Kau tenang saja, aku akan menjual tiket untuk menonton pertandingan Olimpiade kalian. Aku rasa kita akan untung besar." ujar Anna. "Hasilnya akan kita gunakan berlibur di akhir pekan nanti."


"Benarkah?" tanya Aramis terlihat senang.


"Wah, kau memang pintar Anna. Aku akan selalu mendukungmu." ujar Lion mengacungkan jempolnya.


"Ternyata benar itu kau, Ars." tiba-tiba seorang wanita datang menyapa Ars.


"Icha?" tanya Aramis.


Anna menoleh pada wanita itu dan memperhatikannya. Wanita itu memiliki tubuh yang sangat bagus. Dada dan bokong yang besar, seperti tipe wanita kesukaan Aramis.


"Sudah hampir tiga tahun kita tidak bertemu." ujar wanita itu. "Aku mengganggu ya?"


"Tidak. Duduklah." jawab Aramis.


Wanita itu duduk di kursi samping Anna di hadapan Aramis.


Anna memperhatikan reaksi Aramis yang sangat senang dengan kehadiran wanita itu. Lion melihat ke arah Anna yang menatap Aramis dengan serius.


"Astaga, wajahmu kenapa cantik sekali." seru wanita itu ketika menoleh. "Aku sangat senang duduk di antara tiga pria tampan."


Aramis tertawa mendengarnya.


"Dia wanita." jawab Aramis. "Ya setidaknya dia lahir sebagai wanita walau tampilannya seperti itu."


"Sayang sekali ya, padahal aku sempat ingin mendekatimu." gumam wanita itu. "Kenalkan aku Jessica."


"Icha, mereka ini sahabatku. Lion dan Anna."


Icha? Bahkan dia memanggilnya dengan panggilan khusus. tawa kesal Anna membatin.


"Aku kira kau masih di luar negeri." kata Aramis. "Kapan kau kembali?"


"Setahun yang lalu aku kembali. Aku ingin menghubungimu tapi nomermu hilang. Ars, boleh minta nomermu?"


Aramis meminta handphone Jessica untuk menyimpan nomernya sendiri di sana.


"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti." senyum Jessica. "Aku pergi dulu ya."


"Arrghh... dia benar-benar berbeda dengan tiga tahun lalu." ucap Aramis setelah Jessica pergi. "Dulu kami duduk bersebelahan di kelas sembilan. Tidak aku sangka perkembangannya benar-benar pesat. Apa mungkin pengaruh lingkungan di luar negeri?"


"Aku tahu arah omonganmu." bisik Lion.


"Sepertinya kau sudah harus melampiaskan hasratmu dengan seorang wanita. Dasar bodoh!" ujar Anna menyembunyikan kekesalannya.


"Sepertinya kau benar." jawab Aramis tersenyum.


"Kenapa kau tidak meminta nomer handphone-nya juga?" tanya Lion pada Aramis.


"Tenang saja, dia akan segera menghubungiku." jawab Aramis.


Benar sekali. Tiba-tiba handphone Aramis berbunyi tanda pesan masuk.


"Lihatlah." senyum Aramis menunjukan isi pesan dari Jessica.


Ars, ini nomerku. Simpan ya.


...***...


Lion membantu Anna mengeluarkan belanjaannya dan memasukannya ke dalam rumah Anna. Sedangkan Aramis memarkirkan mobilnya ke dalam rumahnya.


"Untuk pertama kalinya aku melihat Ars begitu senang dengan kehadiran seorang wanita." ujar Lion menaruh belanjaan Anna di ruang tamu.


"Ya, kau benar." jawab Anna mengambil belanjaannya dan merapikan ke masing-masing tempatnya. "Bahkan dia tak sesenang itu ketika bertemu denganku lagi. Padahal kami sudah sepuluh tahun berpisah."


Lion tertawa mendengarnya.


"Kenapa tertawa?" tatap Anna.


"Entahlah." ucap Lion masih tersenyum. "Lalu apa tidak apa-apa, Anna?" tatap Lion yang jaraknya jauh dari Anna.


"Apanya?" tanya kesal Anna.


"Kalau Ars benar menyukai wanita itu juga? Ya, tampaknya Jessica juga menyukai Ars, karena itu dia meminta nomer Ars dan langsung menghubunginya."


Belum sempat Anna menjawab, Aramis lebih dulu masuk.


"Kalian tidak sedang bergosip 'kan?" seru Aramis yang langsung duduk.


"Baiklah, aku harus pergi."


"Kau mau kemana?" tanya Aramis pada Lion.


"Apa aku anjingmu yang harus melapor padamu?" ucap Lion setelah itu keluar dengan tersenyum mengejek pada Anna dan Aramis.


Anna menatap Aramis saat Lion berkata begitu. Lion tahu tentang hal itu.


"Pasti kau bercerita padanya kan, bodoh?" geram Anna menghampiri Aramis.


"Bercerita apa?" tanya Aramis bingung. "Aku tidak pernah berkata apapun pada Lion." ujar Aramis bangkit berdiri. "Bagiku itu juga hal memalukan untuk apa aku menceritakan padanya."


"Keluarlah!!" seru dingin Anna.


Di luar Lion tersenyum senang setelah menggoda Anna dan Aramis. Bahkan pertengkaran kedua orang itu membuatnya geli.


"Bagaimana aku tidak tahu, si bodoh Ars selalu mengigau mengatakan banyak hal saat tidur." ucap Lion berjalan menuju rumahnya.


"Lion!!" panggil Aramis yang keluar karena Anna mengusirnya.


Lion tidak menoleh dan langsung berlari masuk ke rumahnya untuk menghindari amukan Aramis.


"AWAS KAU YA!!" teriak Aramis.


Lion tertawa puas mendengar ancamannya.