
Sepulang sekolah, keesokan harinya, Melody bersama dengan Prothos dan Aramis pergi ke café. Athos masih ada keperluan osis sehingga dia tidak bisa pergi ke café bersama mereka.
Melody lebih dulu masuk ke dalam café karena kedua kakaknya masih sibuk mengurusi bahan-bahan makanan yang baru saja mereka beli. Ketika memasuki café, Melody terkejut saat melihat Lion ada di tempat itu. Lion sedang berada di sebuah meja pengunjung, menulis pesanan.
Kenapa dia ada disini? Apa karena ingin bertemu Sandra? Tanya Melody dalam hati.
"Melo, kau datang lagi." seru Chino berjalan mendekati Melody yang langsung menempati meja kasir. "Hari ini pengunjung tidak terlalu ramai." keluh Chino sambil memasukan handphone miliknya ke tas yang di bawanya.
Dia melihat Melody yang tidak menanggapi perkataannya karena terus melihat Lion.
"Lion datang sekitar jam dua belas tadi."
"Kenapa pengunjung hanya sedikit sekali?" tanya Prothos yang baru saja masuk bersama Aramis, masing-masing membawa dua kantong plastik berisi bahan makanan.
Aramis langsung masuk ke dalam dapur penyajian. "Dimana Sandy?"
"Ada apa mencariku?" tiba-tiba Sandy keluar dari ruang ganti.
"Hari ini kau libur 'kan? Ato masih ada urusan osis, bisa kau lembur gantikan dia di dapur?" tanya Prothos.
"Ya, tidak masalah. Aku juga sedang butuh uang." jawab Sandy. "Kalau begitu aku ganti pakaian lagi." setelah itu Sandy masuk kembali ke ruang ganti pakaian.
"Baiklah, aku pulang ya." ujar Chino setelah itu dia pergi keluar café.
"Kalian sudah datang?" Lion memberikan daftar pesanan setelah itu mendekat meja kasir. "Dimana Ato?"
"Masih ada urusan osis." jawab Prothos sambil masuk ke dalam dapur penyajian meninggalkan Melody bersama Lion.
"Besok hari terakhir aku bisa bersantai." tatap Lion berdiri di depan meja kasir pada Melody yang ada di belakang meja kasir di hadapannya. "Seharusnya Ato memberikan sepuluh hari agar aku bisa lebih lama bersantai dan tidak perlu bangun pagi." Lion menidurkan kepalanya ke atas meja kasir. "Apa aku harus membuat keributan agar diskors lagi ya? Mungkin sebaiknya seperti itu..."
Melody tidak berniat menanggapi ucapan Lion. Tiba-tiba pandangannya teralih pada seorang siswi yang baru saja masuk bersama tiga temannya. Dia adalah Sandra.
"Kenapa tidak menanggapi ucapanku, Melon?"
"Lion..." panggil Sandra menghampiri Lion dengan senyum.
Lion mengangkat kepalanya dan membalikkan tubuhnya melihat wanita yang tampak senang dengan keberadaannya.
"Sudah lama sekali tidak bertemu ya? Apa kabarmu?" tanya Sandra sambil merangkul lengan Lion. "Tapi kau jahat sekali, kenapa kau tidak..."
"Sandra, ayo kita bicara di tempat lain." seru Lion setelah itu berjalan keluar café dengan diikuti Sandra.
Melody memperhatikan mereka berdua dengan seksama hingga mereka keluar café.
"Dimana Lion?"
Pertanyaan Prothos membuat Melody terkejut. "Ada apa? Kau melamun ya?" tanya Prothos melihat adiknya yang bersikap aneh.
"Tidak kak." jawab Melody sambil berpura-pura menghitung bon yang ada di hadapannya.
Ya ampun, apa yang aku pikirkan tadi? Ucapnya dalam hati merasa bodoh.
"Dimana Lion? Kenapa aku tidak melihatnya?" Prothos mengulang pertanyaan pertamanya.
"Oto, jangan cari Lion dulu!! Dia sedang ada urusan, biarkan saja dulu." seru Aramis dari meja pengunjung. Baru saja dia mengantarkan pesanan ke meja tersebut.
"Urusan? Urusan apa?" Prothos menatap Melody.
"Tanyakan saja padanya!!" kata Melody sambil melihat Lion yang baru saja masuk kembali bersama Sandra.
Melody melihat ekspresi Sandra yang tampak senang sambil berjalan berkumpul kembali bersama teman-temannya. Sandra semakin tampak senang setelah berbicara dengan Lion, hal itu membuat Melody menjadi ingin tahu apa yang mereka berdua bicarakan.
"Dari mana kau?" tanya Prothos pada Lion yang berjalan mendekati meja kasir.
"Bagaimana? Apa yang kalian bicarakan??" Aramis tampak penasaran setelah berjalan cepat menghampiri mereka.
"Menurutmu?" ujar Lion menyunggingkan bibirnya setelah itu berjalan mengambil pesanan dan mengantarkannya ke pemesan.
"Awas kau ya!!" ancam Aramis kesal.
...***...
Dua jam sudah berlalu. Melody terus menerus memperhatikan Lion yang mondar-mandir mengantar pesanan dan berbincang dengan pengunjung. Dia juga beberapa kali melihat ke arah Sandra yang terus tersenyum pada Lion sambil melambaikan tangannya. Entah kenapa setiap kali dia melihatnya dia merasa kesal pada sikap Sandra.
"Kampungan sekali sikapnya." gumam Melody.
"Siapa yang kampungan?"
Sekali lagi kehadiran Prothos membuat Melody terkejut dan menjadi salah tingkah.
q
"Tidak, aku tidak aneh." ucap Melody tidak mengakui.
"Maaf ya aku baru datang." seru Athos yang baru saja datang. "Sepertinya tidak terlalu banyak pengunjung." Athos memperhatikan sekitar.
"Benar, hari ini sangat sepi dan tidak seramai biasanya." ujar Prothos.
"Mungkin karena minggu depan sudah mulai ujian semester." kata Athos. "Sudah jam tujuh ya..." Athos melihat jam dinding yang tergantung di belakang meja kasir. "Lion!!" panggil Athos.
Lion menoleh dan segera mengakhiri perbincangannya bersama lima orang pengunjung di mejanya lalu berjalan mendekati mereka.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Pulanglah dengan Melo." ujar Athos.
"Baiklah, aku juga sudah lelah." jawab Lion menatap Melody. "Aku ganti pakaian dulu." Setelah itu dia berjalan masuk ke ruang ganti.
"Kau yang menyuruhnya datang kesini?" tanya Prothos pada Athos.
"Nenek Arumi bilang kalau Lion tidak keluar rumah selama tiga hari dan terus berada di kamarnya. Jadi aku meneleponnya tadi malam untuk meminta bantuannya disini tapi aku tidak mengira kalau dia akan benar-benar datang."
Jadi karena kak Ato dia datang kesini, pikir Melody.
"Baiklah karena sudah tidak ada pesanan aku akan belajar sebentar karena besok ada ujian." ujar Prothos setelah itu berjalan masuk ke ruang ganti.
"Kalau begitu aku akan tidur sebentar." ucap Aramis sambil berlalu masuk ke dalam ruang ganti.
"Kerjakan PR-mu!!' seru Athos.
"BERISIK!!" teriak Aramis sebelum menutup pintu.
"Dasar dia itu, berteriak di saat ada pengunjung akan ku beri pelajaran nanti." ujar Athos kesal namun tersenyum pada Melody. Athos membuka pintu dapur, "Sandy istirahatlah sebentar, biar aku yang tangani kalau ada pesanan." ucap Athos pada Sandy.
"Kak Ato apa tidak lelah?" tanya Melody menatap kakak tertuanya dengan heran. "Sekolah, osis, bekerja, belajar, sampai membersihkan rumah juga. Kakak tidak lelah?"
'Apa kakak terlihat lelah?" Athos balik bertanya. "Sebenarnya kakak lelah," jawab Athos. "Tapi ini sudah kewajiban dan tanggung jawab, jadi sebisa mungkin akan kakak jalani." senyum Athos.
"Kakak bukan superman, kalau terlalu lelah kakak bisa sakit."
"Siapa bilang kakak bukan superman? Apa kakak tidak cocok menjadi superman?"
Melody tertawa mendengarnya,
"Tidak!! kak Ato tidak boleh menjadi superman. Kakak pasti akan semakin sibuk kalau menjadi superman karena harus menangkap penjahat. Kakak jadi tidak bisa masak untukku lagi."
Athos tertawa sambil memegang kepala Melody.
"Kakak sudah bilang pada ayah dan ayah sudah menyetujuinya, besok tempat ini akan di renovasi. Kami ingin membuat panggung kecil yang cukup untukmu."
"Ma, maksud kakak? Maksud kak Ato, aku..."
"Kau bisa menghibur pengunjung dengan gitarmu dan tidak perlu menjaga meja kasir lagi." jawab Athos memotong ucapan Melody. "Kau mau kan?" tatapnya.
Melody memeluk Athos dengan perasaan senang,
"Kak Ato yang terbaik." ucapnya.
"Melon, ayo pulang sekarang!!" seru Lion. "Ada apa? Sepertinya kau senang sekali?" tatap Lion pada Melody yang terlihat senang bersama Athos.
"Lion, kau ingin pulang?" tiba-tiba Sandra datang. "Ayo kita pulang bersama!!"
'A... aku..."
"Sandra, kenapa sudah ingin pulang? Aku baru datang. Bagaimana kalau aku traktir minum?" sambar Athos. "Kenapa? Kau tidak mau minum bersamaku?"
"Denganmu? Tentu aku mau." jawab Sandra tersenyum. "Lion, jangan lupa besok ya!" seru Sandra pada Lion.
"Kau ingin minum apa?" tanya Athos sambil berjalan dan duduk di salah satu meja, Sandra mengikutinya.
"Kenapa hanya Sandra saja? Traktir kami juga, Ato!!" seru wanita lainnya.
"Baiklah, karena aku sedang senang akan aku traktir kalian juga." ucap Athos membuat semua pengunjung wanita yang hanya berjumlah sepuluh orang senang.
"Aku kira hanya Oto saja yang bisa melakukan itu." ujar Lion. "Melon ayo jalan sekarang!"
Lion mengambil gitar milik Melody yang di letakan di balik meja kasir dan berjalan menuju pintu keluar.