
Anna kembali ke meja belajarnya dan menghidupkan laptopnya, lalu mencolokan flashdisk yang diberikan Lion padanya.
Dia membuka satu-satunya folder di flashdisk tersebut. Folder dengan judul 'Si bodoh Ars'.
Anna terkejut dengan isi folder tersebut. Foto-foto ketika Jessica menjebak Aramis dengan memberinya obat tidur. Bahkan ada rekaman CCTV hotel tempat dimana Aramis dijebak.
"Ini pria itu." gumam Anna saat melihat rekaman CCTV saat Aramis dipapah masuk ke kamar hotel oleh Jessica dan seorang pria yang bersama dengannya. "Ternyata itu jam tangan pria ini."
Anna mencocokkan jam tangan yang dipakai pria yang membantu Jessica dengan jam tangan yang terlihat di salah satu foto di dalam kamar hotel. Ada juga foto setengah badan dari pria yang membantu Jessica. Dia memakai seragam salah satu karyawan hotel dengan name tag bertuliskan Rico. Di tangan kirinya memakai jam tangan tersebut.
Dan masih banyak lagi bukti-bukti lainnya yang ada di dalam flashdisk yang diberikan Lion padanya.
Drrrttt drrrttt
Handphone Anna bergetar, sebuah pesan dari Lion.
Jangan beritahu siapapun kalau kau mendapatkannya dariku. Jika mereka tahu, aku tidak akan bisa bersenang-senang lagi.
Tiba-tiba handphone-nya bergetar kembali. Muncul nama Aramis di layar handphone miliknya. Dengan ragu Anna menerima panggilannya.
"Anna, kau dengar aku?" tanya Aramis. "Besok Jessica akan datang ke sekolah. Sebaiknya kau lebih dulu beritahu apa yang terjadi pada semua guru dan kepala sekolah dan segera keluarkan aku dari sekolah. Jika Jessica membawa nama sekolah untuk kasus ini, nama sekolah akan tercoreng."
Anna tidak menjawab. Dia merasa perkataan Aramis sangat bodoh. Seharusnya dia melakukan sesuatu pada wanita itu dan tidak hanya diam saja, apalagi menyerah begitu saja.
"Kau dengar aku tidak?" tanya Aramis lagi. "Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Semuanya terasa berat bagiku saat ini, bahkan kau yang diam seperti ini membuatku tidak tahu harus berbuat apa."
Aramis terdiam, begitu juga dengan Anna yang sejak awal tidak mengatakan apapun.
"Baiklah, aku minta maaf. Jika kau memang tidak mau percaya padaku, setidaknya maafkan aku agar aku tidak merasa bersalah padamu. Aku serahkan semuanya padamu, Anna."
Setelah itu Aramis menutup teleponnya.
"Bodoh." ucap Anna. "Kenapa dia sangat bodoh?" kesal Anna menghapus air mata di pipinya.
Anna membuka kembali akun sosial media miliknya. Setiap malam dia selalu melakukan hal yang sama, mengunggah foto Aramis yang sama dengan malam-malam lalu dan dengan caption yang sama pula. Sudah lebih dari tiga puluh foto yang sama yang dia unggah di akun nya tersebut. Foto Aramis dengan wajah yang penuh coretan saat dia tertidur. Foto favorit Anna.
Semalaman Anna tidak bisa tidur. Walau kepalanya terus menerus sakit namun rasanya keinginannya untuk melewati malam ini tanpa tidur mampu melawan rasa mengantuknya.
Dia hanya duduk di atas tempat tidurnya dan melihat-lihat video dan foto-fotonya saat bersama Aramis kemarin. Ah, rasanya gadis itu sangat ingin kembali di saat-saat itu. Tertawa dan bahagia bersama pemuda yang dicintainya.
Sekitar pukul delapan pagi, Anna sudah bergegas ke luar membawa sebuah amplop cokelat yang dibawanya masuk ke rumah Musketeers.
Semalaman dia menunggu hari ini tiba. Dia akan melakukan sesuatu agar dia bisa kembali tertawa bersama orang bodoh yang paling dicintainya, Aramis.
Semua mata menatap kehadiran Anna. Athos dan Prothos yang berada di meja makan melihat pada Anna yang hanya berdiri di hadapan Ayah dan paman Ronald yang duduk di ruang tamu. Melody yang baru saja menaiki tangga berhenti di lantai dua melihat kehadiran Anna.
"Hari ini Jessica akan memberikan kabar tersebut ke sekolah. Aku sebagai ketua OSIS memiliki dua opsi untuk kasus ini." ucap Anna pada ayah dan paman Ronald. "Opsi pertama membiarkan Jessica memberitahu pihak sekolah dan membuat nama sekolah tercoreng karena ulah Ars atau opsi kedua, aku akan mengeluarkan Ars sebelum Jessica datang ke sekolah."
"Lalu apa kau akan mengambil opsi kedua?" tanya Athos berjalan mendekati Anna. "Opsi itu lebih baik ketimbang harus mencoreng nama sekolah dan Ars tetap dikeluarkan."
Anna tersenyum dan menggeleng mendengar perkataan Athos.
"Sayangnya aku kesini bukan sebagai ketua OSIS sekolah." jawab Anna. "Paman Leo, aku percaya pada Ars, dia tidak melakukan apapun pada Jessica."
Prothos tersenyum mendengar ucapan Anna.
"Anna, ini bukan masalahmu, kau tidak perlu ikut campur." ucap paman Ronald.
Anna hanya menggeleng tidak setuju pada paman Ronald.
"Lalu bagaimana caranya kau membuktikannya?" tanya ayah.
Anna mengambil sebuah foto yang sudah dia cetak, foto pria bernama Rico yang membantu Jessica. Lalu dia memberikannya pada Athos.
"Tolong cari orang itu dan bawa dia segera. Untuk lokasinya nanti akan aku kirimkan pada kalian setelah ini." ujar Anna. "Pria itu bekerja di hotel dimana Jessica menjebak Ars."
"Oke." jawab Prothos tersenyum.
"Aku akan mengurusnya, paman. Kau tidak perlu khawatir. Percayakan masalah Ars padaku." seru Anna.
"Baiklah." jawab ayah mengangguk kecil.
Anna langsung keluar rumah. Di depan rumah, Lion sudah berdiri bersandar di tiang teras. Motornya ada di depan rumah.
"Kau tahu dimana dia berada sekarang?" tanya Lion menoleh pada Anna.
"Aku rasa, aku tahu."
"Ambilah." ujar Lion menyodorkan kunci motornya.
Anna menerimanya.
...***...
Anna menghentikan laju motor yang dibawanya dan berhenti di pinggir jalan. Anna membuka nomer telepon Jessica dan menghubunginya.
"Jessica, ini Anna." ucap Anna. "Dengarkan aku, aku ingin menemuimu segera. Aku tahu hari ini kau akan ke sekolah kami untuk membeberkan masalah ini ke pihak sekolah."
"Apa Ars yang menyuruhmu meneleponku?" tanya Jessica ketus. "Maaf saja Anna, kau tidak bisa berbuat apapun sekarang. Aku sudah hamil anak Ars."
"Tapi kau tidak akan mendapatkan apapun kalau Ars tidak ingin bertanggungjawab." ujar Anna. "Aku akan mengirim lokasinya padamu. Datanglah ke sana dari pada harus membeberkan masalah ini ke sekolah kami dan kau tidak mendapatkan apapun. Aku akan membawa Ars padamu. Jika kau benar hamil anaknya, maka aku sendiri yang akan memintanya untuk bertanggungjawab padamu, walau harus mematahkan kedua kakinya."
...***...
Anna menghentikan motornya saat berada di depan rumah seseorang. David yang baru saja membuka pagar rumahnya hendak keluar dengan mobilnya melihat kehadiran Anna.
David tersenyum tidak percaya melihat kehadiran Anna yang tampak keren tersebut.
Anna membuka helmnya.
"Tolong panggilkan si bodoh itu!!" seru Anna.
David langsung masuk ke dalam kamarnya dimana Aramis masih berbaring santai tanpa memikirkan masalahnya.
"Heh, bodoh!! Keluarlah!!"
"Ada apa?" tanya Aramis dengan mulut penuh dengan makanan.
"Wonder women menunggumu di luar." jawab David.
Aramis masih tidak menangkap maksud perkataan David barusan. Namun dia menuruti begitu saja dan berjalan keluar.
Anna yang memakai helm langsung melempar helm pada Aramis yang masih tampak bingung. Aramis menangkapnya.
"Cepat naik!!" seru Anna membuka kaca helmnya.
Aramis tersenyum tidak percaya melihat Anna di atas motor.
"Kali ini pun aku akan melindungimu." ujar Anna menutup kembali helmnya.
Aramis langsung naik ke atas motor, di belakang Anna. Dia memeluk pinggang kecil gadis itu dengan perasaan kelegaan.