MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Keakraban



Waktu menunjukan pukul sepuluh malam ketika Aramis kembali ke rumah setelah bermain bersama Lion dan teman-temannya.


Hari ini sampai ujian berakhir, café diliburkan, karena itu sepulang sekolah Aramis pergi bermain walau ayah memintanya untuk belajar.


Aramis membuka pintu kamarnya, dan terkejut ketika melihat perubahan di kamarnya setelah kemarin malam Anna menumpang tidur. Kamar tersebut menjadi bersih dan rapi.


Aramis memasuki kamarnya dan melihat beberapa sketsa gambar yang dibuatnya tertempel di dinding kamar.


"Sudah ku bilang jangan sentuh barang-barangku!!" geram Arami sambil menurunkan sketsa-sketsa tersebut dan menyimpannya.


Dia teringat akan sesuatu yang dia simpan di laci paling bawah. Sesuatu rahasia yang dia sembunyikan dari siapapun, rahasia yang di miliki cowok SMA. Majalah dewasa.


Dia mengambilnya dan membukanya, namun Aramis terbelalak ketika melihat semua gambarnya di bagian dada dan bokong sudah diwarnai dengan spidol hitam.


"Aku lupa mengunci lacinya kemarin. Mati kau, Anna!!" ancam Aramis kesal.


Di kamar Melody, Anna berbaring di tempat tidur adik perempuan Aramis itu. Untuk malam ini Anna menumpang tidur di sana.


Melody sedang belajar di meja belajar sedangkan Anna


berbaring sambil memainkan handphone miliknya. Tiba-tiba Aramis mengirimkan sebuah foto padanya dan berisikan kekesalan pemuda itu pada dirinya.


Foto majalah dewasa yang sudah dicoret-coret oleh Anna, dan sebuah pesan. Mereka berdua pun saling balas pesan singkat.


Apa yang kau lakukan? Sudah ku bilang, jangan sentuh barang-barangku!! - Aramis -


Mereka terlihat kedinginan makanya aku berikan pakaian - Anna -


Aku akan membunuhmu besok!! - Aramis -


Maaf ya, ternyata aku salah... ternyata kau benar-benar normal. Tapi jaman sekarang aku rasa sudah tidak ada yang menyimpan majalah seperti itu selain kau - Anna -


DIAM KAU, CEREWET!! - Aramis -


Anna cekikikan membaca pesan dari Aramis.


"Pasti kak Anna sedang kirim pesan ke pacar kakak ya?" tanya Melody memperhatikan Anna.


"Pacar? Aku tidak punya pacar." jawab Anna meletakkan handphone-nya di kasur.


"Wanita keren seperti kakak kenapa tidak punya pacar?" tanya Melody lagi. "Tadi saat melawan kak Oto kau sangat keren kak."


"Tidak, Melody lebih keren... kau bisa main gitar, aku tidak."


"Kak Anna..." ucap Melody naik tempat tidur. "Kalau kakak menikah dengan salah satu kakakku bagaimana?"


"Pertanyaan macam apa itu?" ujar Anna tersenyum skeptis.


"Siapa yang kakak pilih?"


"Yang pasti aku tidak ingin menikah dengan orang pintar seperti Ato, pasti sangat merepotkan. Sedangkan Oto, kau dengar kan tadi pagi aku bilang apa? Aku tidak suka pria berwajah wanita sepertinya."


"Kalau begitu dengan kak Ars saja?"


"Ars?" Anna memastikan. "Apa kau tahu? Ars sangat suka dengan wanita berdada dan bokong yang besar, itu katanya."


"Tapi apa kau tau?" tanya Melody menatap Anna. "Aku pernah melihat foto yang ada di dompet kak Ars, itu foto kalian berdua sewaktu kecil dulu."


"Benarkah?" tanya Anna memastikan. "Sudahlah, ayo sebaiknya kita tidur." seru Anna beranjak berdiri hendak menutup tirai.


"Tidak kak, jangan ditutup tirainya!!" kata Melody.


"Kenapa?"


"Aku sudah terbiasa dengan tirai yang terbuka." ucap Melody.


"Baiklah." ujar Anna habis itu mematikan lampunya.


...***...


Keesokannya adalah hari sabtu, sekolah libur. Dan hari ini juga adalah hari santai bagi Three Musketeers walaupun ayah menyuruh mereka belajar, namun ayah sedang keluar kota sehingga mereka merasa bebas di hari ini.


"Oto, tolong nanti berikan ini pada Ars." ujar paman Ronald sambil meletakan kartu kredit di meja, di hadapan Prothos yang sedang menyeruput kopinya. "Bilang pada Ars, itu untuk membeli semua yang dibutuhkan Anna."


"Baiklah." jawab Prothos.


"Kalian harus belajar dan jangan ke mana-mana, mengerti?" tanya paman Ronald pada Melody, Athos, dan Prothos yang ada di sana. "Ayah kalian akan pulang nanti malam atau besok pagi, pastikan jangan membuatnya marah!! Oh iya, ingatkan juga kakek untuk minum obat. Biarkan kakek istirahat dulu sekarang, dan bangunkan ketika makan siang."


"Sudah, kau pergi saja, paman!" seru Athos yang sedang menggoreng ikan untuk makan siang.


"Baiklah, sudah jam delapan, aku berangkat ya." pamit paman Ronald.


"Oto, nanti bangunkan kakek saat makan siang dan beri obat untuknya, kau tidak ke mana-mana kan?" tanya Athos masih sibuk di dapur.


"Kau mau ke mana?" tanya Prothos.


"Selamat pagi semua." tiba-tiba Tasya datang sebelum sempat Athos menjawab pertanyaan Prothos. "Halo, Melody." sapa Tasya.


"Kalian akan pergi?" tanya Prothos.


"Kami akan kencan." jawab Tasya. "Sini aku bantu, Ato." Tasya menghampiri Athos.


"Tidak, jangan! Nanti kau terkena minyak." seru Athos. "Kau duduk saja." ujar Athos menuntun Tasya ke kursi di samping Melody. "Kau sudah sarapan?"


"Iya, kak Ato memang sangat rajin." ucap Melody "Dia melakukan semuanya. Kalau kau menikah dengannya pasti sangat beruntung."


"Tidak. Aku yang akan melakukan semua itu bukan kakakmu." bisik Tasya dan tersenyum pada Melody. "Aku akan tinggal di sini bersama kalian setelah kami menikah."


"Benarkah?" tanya Melody senang.


"Astaga, itu masih sangat lama. Jangan membicarakannya dari sekarang!!" gumam Prothos.


"Aku rasa tidak masalah merencanakannya dari sekarang." ujar Tasya.


Di lantai atas Anna keluar dari kamar Melody dan melihat Aramis juga baru keluar dari kamarnya dan berjalan menuju tangga, hendak turun.


Dengan cepat gadis itu melompat ke punggung Aramis dan melingkarkan tangannya pada leher Aramis, serta melingkarkan kakinya ke pinggang pemuda itu.


"Selamat pagi, mata udang." ucap Anna yang hinggap pada Aramis.


Aramis tidak memedulikan gadis tomboy itu yang terus menggelayut di punggungnya dan tetap menuruni tangga.


"Bagaimana kabar pacar-pacarmu? Pasti mereka sudah aman dan tidak masuk angin lagi 'kan?" ejek Anna.


Ketika sampai di bawah, semua mata menatap pada Anna yang nemplok pada Aramis.


"Anna, turun lah!!" seru Prothos.


Anna pun turun dari panggung Aramis, setelah itu Aramis mengambil minuman di kulkas dan mmeminumnya sambil duduk di kursi tengah antara Prothos dan Tasya.


"Aku kira tak ada orang di sini." senyum Anna sambil menggaruk-garuk rambut pendeknya.


"Astaga." ucap Tasya berdiri lalu menghampiri Anna yang masih berdiri. "Aku pikir kau ini pria." ujar Tasya memperhatikan wajah Anna. "Untuk ukuran wanita di negara ini, kau lumayan tinggi."


"Apa kau pacar Ato?" tanya Anna, dan Tasya mengangguk. "Kau cantik sekali, tidak aku kira Ato bisa dapat wanita secantik ini."


"Tapi siapa dia? Dia pacarmu, Ars?" tanya Tasya menoleh pada Aramis yang sedang memakan buah-buahan.


"Aku ini teman lama mereka bertiga, yang tinggal di depan rumah itu." ujar Anna menunjuk ke arah rumahnya. "Aku baru pindah kembali dan menginap di sini karena aku belum punya tempat tidur." lanjut Anna menjelaskan sambil duduk di samping Prothos dan melahap roti.


"Kau tidur dengan Ars?"


Pertanyaan Tasya membuat Anna tersedak dan batuk.


"Kau jangan sembarangan bicara..."


"Kak Anna tidur denganku." jawab Melody memotong kalimat Aramis.


"Ya ampun, aku sempat berpikiran macam-macam." seru Tasya kembali duduk di kursinya. "Kalau benar seperti yang aku bilang, aku sangat iri padamu, aku juga ingin tidur dengan Ato."


Athos menjatuhkan spatula yang dipegangnya setelah mendengar perkataan Tasya.


"Melo, jangan mendengarkan apa katanya!!" ujar Prothos khawatir.


Melody hanya tersenyum.


"Wah, kau sangat terus terang sekali ya." ujar Anna pada Tasya. "Aku suka wanita sepertimu."


"Tunggu!! Aku wanita normal. Aku juga sudah berpacaran dengan Ato."


"Maksudku, ayo kita berteman. Kalau Ato macam-macam padamu bilang padaku, aku akan menghajarnya!! Aku ini sabuk hitam karate."


"Tidak, aku malah suka kalau Ato macam-macam padaku."


Sekali lagi Athos menjatuhkan spatulanya.


"Astaga, wanita-wanita ini sangat aneh." ucap Prothos. "Melo, kau main handphone saja, jangan dengarkan mereka!!"


Melody menuruti, dia langsung membuka handphone miliknya.


"Ars, ini dari paman." kata Prothos menyodorkan kartu kredit pada Aramis.


Athos menjawab telepon dari paman Ronald setelah handphone miliknya berdering.


"Ato, bisa kah kau antar kan dokumen yang ada di kamarku ke rumah sakit sebelum jam makan siang?"


"Baiklah paman." jawab Ato.


Ato mematikan kompor dan berjalan ke meja makan.


"Oto, bisa kah kau antar kan dokumen yang ada di kamar paman ke rumah sakit sebelum jam makan siang?" tanya Athos. "Begitu kata paman."


"Kau tidak perlu berbohong!! Oke, akan aku antar. Kau pergilah berkencan!!" seru Prothos. "Melo, kau bisa kan mengurus kakek?"


"Tenang saja kak, aku bisa." jawab Melo.


Athos berjalan mendekati Prothos dan melingkarkan tangan kanannya ke leher kembarannya tersebut.


"Aku menyayangimu, kembaran ku." bisik Athos setelah itu mengecup Prothos dan langsung lari ke atas.


"Aku bunuh kau ya!!" susul Prothos naik tangga.


"Aaahh... aku iri sekali pada Prothos." ucap Tasya.


Melody diam pura-pura tidak mendengar perkataan Tasya.