MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Berjanjilah Padaku



Di sekolah ketika istirahat Prothos hendak menuju tempat tidur siangnya yang baru, yakni gudang sekolah. Dia masuk ke dalam ruangan yang sudah menjadi bersih karena dibersihkan sendiri olehnya. Dia duduk di kursi yang berada di sana dan kakinya di naikan ke meja, serta sudah menghidupkan musik klasik kesukaannya dengan pemutar musik, siap untuk tidur.


Namun tidak di sangka, tiba-tiba seseorang mencoba membuka pintu gudang yang dikunci dari dalam oleh Prothos. Dia berusaha tidak memedulikan dan mencoba tidur, namun orang itu terus-terusan mengutak-atik gagang pintu. Dengan kesal Prothos bangun dan membuka pintu dengan wajah mengantuk.


Wajah mengantuknya hilang ketika ternyata Widia yang mencoba menbuka pintu tersebut. Saat ini Widia membawa dus besar yang menutupi pandangannya. Namun dia masih bisa melihat Prothos yang membuka pintu. Dia jadi merasa canggung.


Dengan cepat Prothos mengambil dus itu, dan menutup pintunya kembali serta menguncinya lagi, lalu meletakkan dus nya di tumpukan dus lainnya.


"Aargghh melihatnya membuat aku jadi tidak mengantuk." gumam Prothos.


Di luar, Widia yang terkejut langsung pergi setelah Prothos menutup pintunya.


"Kenapa kami jadi sering bertemu?" keluh Widia.


...***...


Saat di café, Aramis memikirkan Anna yang hari ini sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Aramis duduk di ruang ganti sendirian hingga Prothos masuk menghampirinya.


Prothos tahu kalau Aramis sedang mengkhawatirkan Anna saat ini. Berbeda dengan Athos, Aramis hampir tidak pernah bercerita apapun dengannya atau dengan siapapun. Selama ini Aramis selalu memendam semuanya sendiri.


"Astaga, ini pertama kalinya kau seperti ini, Ars." ucap Prothos berdiri menatap kembarannya. "Aku rasa Anna benar-benar sudah membuatmu gila."


Aramis tidak menghiraukan ejekan Prothos.


"Lihatlah tampangmu saat ini!! Kau benar-benar kacau." lanjut Prothos tertawa mencoba menghibur kembarannya.


Prothos menarik kursi ke hadapan Aramis, dan menatapnya.


"Kau dan Anna sudah sejauh apa? Kalian sudah pacaran kan?"


Aramis menatap Prothos tajam dan kesal. Lalu bangkit berdiri menjauh dari Prothos.


"Kau tidak perlu khawatir, Anna baik-baik saja. Dia wanita super yang kita kenal." ujar Prothos menoleh pada Aramis.


Aramis mendengar perkataan Prothos, namun tak mau menanggapi ucapannya itu.


"Apa itu pacaran? Merepotkan saja!!" seru Aramis keluar ruangan.


...***...


Anna masuk ke ruangan paman Ronald setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan. Tangan kanannya pun yang retak sudah dibuka gips-nya, dan sekarang hanya dibalut deker sedangkan dahinya yang robek masih dibalut perban.


Anna hanya berdiri di hadapan paman Ronald dan tidak ingin duduk. Dia sudah memikirkan akan sesuatu dan dia akan menyampaikannya pada paman Ronald.


"Paman, berjanjilah padaku. Apapun hasilnya nanti, aku tidak ingin tahu dan sembunyikanlah dariku. Aku akan tetap mengikuti apapun yang paman bilang. Aku akan minum obat tepat waktu atau pun melakukan hal-hal medis lainnya, tetapi aku tidak ingin tahu hasilnya." ujar Anna.


Paman Ronald hanya diam menyimak dari kursinya.


"Siapapun juga tidak boleh tahu, terutama Ars. Jangan katakan apapun padanya, jika memang aku harus menerima pengobatan, itu juga harus dirahasiakan darinya. Katakan saja kalau aku baik-baik saja padanya. Aku tidak ingin dia selalu mengkhawatirkan aku."


"Baiklah." jawab paman Ronald singkat.


"Dan satu lagi." ucap Anna sebelumnya menelan liurnya. "Kau juga tidak boleh memperlihatkan wajah sedihmu padaku."


...***...


Anna berjalan keluar dari ruangan paman Ronald. Dia meminta ijin agar pulang sendirian. Dia menyusuri berkeliling rumah sakit untuk memperbaiki suasana hatinya terlebih dahulu sebelum akan pulang.


Dia sudah berniat tidak akan memikirkan tentang hasil pemeriksaannya saat ini. Dia akan tetap ceria seperti Anna biasanya.


Anna keluar dari lift ke lantai tiga. Tiba-tiba pandangannya terfokus pada seorang wanita bersama seorang pria memasuki ruangan yang tidak jauh dari lift.


"Jessica?" tanya Anna yang melihat Jessica yang masuk ke ruangan tersebut.


Anna berjalan agak mendekat untuk melihat papan yang tertulis di pintu ruangan tersebut.


...***...


Anna menemui Lion setelah meneleponnya saat keluar dari rumah sakit. Mereka duduk di sebuah coffee shop.


"Maaf ya tiba-tiba aku memintamu bertemu. Habis aku sedang tidak ada kerjaan, dan yang aku tahu kau juga salah satu manusia kurang kerjaan di dunia ini." ujar Anna yang mengangkat kakinya ke kursi dan tidak memedulikan pandangan orang.


Lion tertawa mendengar perkataan Anna.


"Aku juga sedang tidak ingin bertemu Ars." ujar Anna. "Aku muak melihatnya bersamaku terus beberapa hari ini."


"Kau dari rumah sakit?" tanya Lion, permen lolipop dimulutnya.


Anna mengangguk.


"Lion, apa kau tahu tentang Jessica?" tatap Anna pada Lion yang menyeruput es kopinya.


"Kopi ini tidak enak." gumam Lion setelah meminum kopi yang dipesannya. "Siapa tadi kau bilang? Jessica?" tanya Lion memastikan.


"Apa kau tahu apapun tentangnya?"


"Si seksi itu. Arrgghh... aku tidak mau tahu tentangnya." jawab Lion. "Kau tahu? Bahkan dia mencoba merayuku juga. Oto juga sama, wanita itu merayunya juga."


"Benarkah? Tasya bilang padaku, dia juga merayu Ato." ucap Anna tidak percaya.


"Memangnya ada apa?" tanya Lion. "Apa si bodoh itu masih menemuinya?"


"Aku rasa tidak." jawab Anna setelah itu meminum kopi hangatnya.


"Lalu ada apa kau bertanya tentangnya?"


"Tadi... Ah, sudahlah, bukan hal penting." senyum Anna.


...***...


Selly sahabat Widia menginap di apartemen Widia. Widia mencurahkan hatinya kepada sahabatnya itu mengenai Prothos yang bilang tidak akan muncul lagi dihadapannya.


"Lalu siapa wanita cantik itu?" tanya Selly yang duduk di kursi samping tempat tidur dimana Widia sedang duduk disana. "Kau tidak membiarkan dia menjelaskannya?"


"Kau tahu sendiri, aku hanya ingin anak itu tidak menggangguku makanya aku tidak mau mendengar apapun." jawab Widia. "Tapi rasanya perkataanku padanya waktu itu sangat berlebihan. Sekarang dia benar-benar melihatku seperti aku ini musuhnya."


"Sebenarnya apa sih masalahmu, Widi?" tanya Selly kesal. "Sudah aku bilang kalau dia menyukaimu seharusnya kau menerimanya saja. Aku sudah bilang kalau aku mendukungmu 'kan?"


"Heh!! Kau bicara apa? Dia jauh lebih muda dariku, dia juga muridku. Kau bilang apa masalahku? Itu masalahnya, itu masalah yang besar Selly!!"


"Jadi sebenarnya kau pun menyukainya juga?" tatap Selly. "Kalau saja dia tidak lebih muda dan bukan muridmu, kau akan menerimanya?"


Widia berbaring di kasurnya sambil menghela napas.


"Entahlah, aku hanya merasa setelah berkata hal buruk padanya aku jadi menyesal. Dan saat melihatnya seperti menganggapku musuh, itu membuatku sangat sedih." jawab Widia menatap langit-langit kamarnya.


"Usia itu sebatas angka, Widi. Yang paling penting adalah ketika satu sama lain saling menerima dan mencintai." seru Selly. "Pikirkan baik-baik dan minta maaflah padanya. Kalau kau juga menyukainya bilang saja yang sebenarnya."


Selly naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Widia.


"Aku sangat iri padamu. Andai saja ada orang setampan anak itu mengejar-ngejarku juga, tanpa pikir panjang aku akan menerimanya." ucap Selly. "Hah, boro-boro yang tampan, yang kaya kardus bekas saja tidak ada yang melirikku."


"Ah, kau jangan bilang begitu." seru Widia memeluk Selly, menghiburnya. "Nanti seseorang pasti akan tahu kebaikan hatimu, Selly."


"Rara, sebentar lagi akan menikah, kalau kau menikah juga nanti aku kesepian." gumam Selly.


"Tidak, aku tidak akan menikah sebelum kau punya pacar." jawab Widia.