
Prothos bersama Widia berada di restoran cepat saji yang buka 24 jam dan jaraknya tidak jauh dari apartemen Widia. Saat ini waktu baru menunjukan jam enam pagi. Seperti biasa setiap hari minggu pagi selesai berlari pagi Prothos akan langsung menemui Widia.
Namun sejak kejadian kemarin, dengan keras Widia melarang Prothos datang ke kamar apartemen-nya lagi. Sehingga untuk hari ini dan seterusnya mereka akan bertemu di restoran tersebut.
"Bu guru, ayo kita ke apartemen-mu saja." ucap Prothos bersandar malas ke kursinya sambil menatap Widia yang duduk di hadapannya sedang menyeruput minumannya.
"Cepat belajar, besok kau try out. Dengan hasil di try out kali ini kau jadi bisa tahu ke perguruan tinggi mana kau bisa masuk." seru Widia.
"Aku berjanji kali ini aku tidak akan melakukannya lagi. Aku benar-benar berjanji." ujar Prothos memajukan badannya dan menopang wajahnya dengan tangan kanan menatap Widia. "Aku sangat berjanji bu guru."
"Aku tidak percaya janjimu. Bahkan kau masih memanggilku begitu." jawab Widia melirik kesal Prothos.
"Bu guru semakin menggemaskan kalau melihatku seperti itu." kata Prothos setelahnya menggerakan bibirnya seolah-olah mengecup pada Widia. "Ayo ke apartemen-mu."
Widia membuang napas kesal melihat Prothos. Kata-katanya yang berjanji sangat tidak sesuai dengan perilaku yang ditunjukannya beserta tatapannya yang menggoda.
"Cepat belajar atau aku tinggal pulang?!" seru Widia menatap tajam Prothos.
Prothos langsung membenarkan posisi kacamata yang dikenakannya lalu memperhatikan kembali buku-bukunya karena dia tahu Widia tidak main-main dengan ucapannya.
"Semakin menolakku, semakin membuat aku penasaran." gumam Prothos sambil menulis.
"Kau bilang apa?" tanya Widia.
Prothos hanya tersenyum pada Widia tanpa menjawab.
"Ngomong-ngomong besok ada anak murid baru di kelasku. Kau tahu dia anak yang tampan."
"Berani sekali kau bilang pria lain tampan di depanku, bu guru?!" ucap Prothos kesal menatap Widia. "Kau keterlaluan sekali."
"Tenang saja, kau masih jauh lebih tampan darinya." jawab Widia dengan senyum malu.
Dari kejauhan seorang gadis berkacamata memperhatikan mereka dari jendela restoran. Gadis tersebut adalah Wilda, teman sekelas Melody dimana Widia adalah wali kelas mereka.
Wilda menjadi semakin yakin dengan dugaannya. Kalau wali kelasnya berpacaran dengan murid paling populer di sekolah mereka.
...***...
Melody bersama Athos dan Tasya duduk di meja makan saat jam setengah sembilan. Melody duduk sambil mengerjakan tugas sekolahnya setelah semalam tak sempat mengerjakannya.
"Kau sudah benar sehat, Melo?" tanya Athos yang duduk di samping kiri Melody. "Hari ini kau tidak perlu kursus."
"Tidak, aku sudah sehat." jawab Melody masih sibuk menulis.
"Ato, bibirmu masih luka, periksakan saja ke rumah sakit." ujar Tasya menatap kekasihnya yang duduk di hadapannya.
"Ini sudah tidak sakit, Tasya." jawab Athos.
"Kenapa kau bisa sampai luka begitu? Kau tidak cerita saat di telepon padaku."
"Karena ini bukan masalah besar." ucap Athos tersenyum.
"Mana si bodoh itu?" tanya Anna yang tiba-tiba masuk. "Pasti dia belum bangun kan? Ya ampun, sudah aku duga. Padahal dia yang ingin pergi ke pameran itu." oceh Anna sambil menaiki tangga menuju kamar Aramis.
"Mereka berdua masih saja seperti itu." ucap Tasya mengomentari Aramis dan Anna.
"Heh, bodoh! Sudah jam berapa ini?" seru Anna di ambang pintu kamar Aramis yang dibukanya.
"Berisik!!" seru Aramis menutup kepalanya dengan bantal. "Pergi sana!! Tutup pintunya!!" seru Aramis kesal.
"Dengar Ars, dalam hitungan ketiga kalau kau tidak bangun, aku tidak mau menemanimu ke pameran apapun itu lagi!!"
Aramis langsung bangun dan duduk menatap Anna.
"Sepuluh menit lagi aku bangun."
Anna semakin kesal menatap Aramis, namun ketika Anna hendak berteriak Aramis lebih dulu beranjak turun tempat tidur dan berlari keluar menuju kamar mandi menghindari amukan Anna.
"AKU TUNGGU KAU SEPULUH MENIT!! KALAU TIDAK, AKU TIDAK INGIN IKUT KEMANAPUN KAU MENGAJAKKU!!" teriak Anna sambil menuruni tangga.
"CEREWET!! DASAR HARIMAU BETINA!!" balas Aramis yang berada di kamar mandi.
Melody dan Tasya tertawa mendengar pertengkaran sepasang harimau tersebut. Sedangkan Athos hanya menggelengkan kepalanya sambil sibuk mengirim pesan di handphone-nya.
"Astaga, teriakan kalian berdua terdengar sampai luar rumah."" ujar Prothos yang baru kembali ke rumah pada Anna yang baru saja turun.
"Melo, bagaimana kabarmu? Aku dengar semalam kau sakit, sampai-sampai Lion menggendongmu pulang?" tanya Anna duduk di samping Tasya di hadapan Melody.
Melody hanya menahan rasa malunya dan tidak menjawab dengan wajah memerah.
Prothos yang berdiri baru saja mengambil minuman kaleng di kulkas memperhatikan wajah Melody yang memerah sambil menenggak minumannya. Dia tersenyum melihat rasa malu adiknya.
"Anna, nanti antarkan Melo dulu ke tempat kursus ya." ujar Athos setelah itu berjalan ke lantai atas.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka lagi. Muncul sosok yang membuat Melody kembali memerah wajahnya.
Prothos memperhatikan kehadiran Lion membuat Melody salah tingkah. Dia tertawa kecil sembari berjalan ke ruang TV dan menghidupkan TV.
"Dimana Ato?" tanya Lion saat tak melihat Athos di sana. "Berani sekali dia menantangku." gumam Lion berdiri di meja makan.
Dari tempatnya duduk, Melody berada di hadapan Lion yang melihat ke lantai dua. Lion tidak melihatnya karena saat ini dia terlihat kesal.
"Menantangmu?" tanya Anna menoleh. "Menantangmu apa?"
Prothos bangkit berdiri menghampiri Lion.
"Astaga, ini sudah lama sekali kan terakhir kali kalian bertanding?" ucap Prothos tampak senang.
"Ato menantang Lion? Apa tidak terbalik?" tanya Tasya aneh.
Lion menoleh pada Tasya dengan tatapan kesal mendengar perkataannya.
"Satu-satunya permainan yang siapapun tidak pernah bisa mengalahkan bocah ini." ucap Prothos merangkul Lion. "Catur."
"Sudah lama kita tidak bertanding permainan ini." seru Athos yang turun dengan sebuah papan catur di tangannya.
Athos dan Lion duduk berhadapan di meja makan dengan papan catur dengan bidak-bidaknya sudah tersusun rapi di hadapan mereka berdua. Bidak putih adalah Athos dan bidak hitam adalah Lion.
Pertandingan belum di mulai, mereka masih pemanasan sambil menatap papan catur tersebut.
"Ini seriusan? Aku kira kau akan memakai bidak putih, Lion. Kau selalu berpakaian putih terus hingga aku pernah berpikir dan menduga kau tidak pernah ganti baju." ujar Anna yang berdiri di antara mereka.
"Iya, aku pun berpikir begitu." tambah Tasya.
Lion, dan Prothos tertawa mendengarnya.
"Kalian tidak akan heran dengan bocah aneh ini. Dia selalu berpikiran tidak seperti kita." jawab Prothos. "Melo, apa warna kesukaan Lion?"
"Hitam." jawab Melody spontan.
Mendengar jawaban Melody, Anna dan Tasya semakin bingung. Bagaimana tidak selama ini mereka kira Lion yang selalu berpakaian serba putih menyukai warna putih.
"Sepertinya kau salah Melo." ujar Anna.
Lion menggeleng.
"Itu benar. Warna yang paling aku suka adalah hitam." jawab Lion tersenyum. "Anna, aku memang selalu berpakaian serba putih untuk menjawab dugaanmu tadi itu."
"Apa maksudnya?" tanya Anna bingung.
"Putih adalah warna yang tidak bisa ditipu." jawab Prothos yang duduk di samping kiri Lion. "Maksudnya, kalau kau menganggap Lion tidak berganti pakaian itu sudah pasti jelas salah. Karena putih adalah warna yang cepat kotor. Jadi tidak mungkin kalau dia tidak berganti pakaian berhari-hari."
Lion hanya tertawa mendengarnya.
"Lalu kenapa kau pakai warna putih terus?" kali ini Tasya penasaran.
"Aku anak baik." jawab Lion ringan.
Anna mulai mengerti dengan cara berpikir Lion yang super aneh. Dia ingin membuat kesan positif dengan berpakaian serba putih selalu, dan membuat siapapun melihatnya akan tahu itu dirinya.
"Tidak, ini tidak serumit itu. Aku hanya tidak ingin terlalu lama saat memilih pakaian mana yang akan aku kenakan, dan warna putih biasanya lebih murah, makanya aku membelinya." ujar Lion.
"Kau benar-benar bocah aneh." gumam Anna.
Aramis turun ke bawah dan melihat apa yang akan terjadi.
"Ayo berangkat!!" seru Aramis.
"Kita lihat satu pertandingan dulu." jawab Anna.
"Mau sepuluh pertandingan pun hasilnya sudah ke tebak." ujar Aramis. "Jangan buang-buang waktu, si bodoh ini sudah membaca semua gerakan bidaknya bahkan sebelum dimulai."