MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Aku Merindukannya



Athos memasuki sebuah restoran yang mewah, dia berjalan masuk ke dalam ketika seseorang melambaikan tangannya padanya.


Ibu Tasya tersenyum pada Athos melihat kehadiran pemuda itu, dan menyuruhnya duduk di hadapannya.


Pramusaji lalu menuangkan segelas anggur untuknya, dengan gerakan tangannya ibu Tasya menyuruh Athos meminumnya, Athos pun menurutinya.


"Bagaimana rasanya?" tanya ibu Tasya.


"Ini sangat enak." jawab Athos dan langsung disambut senyum oleh ibu dari wanita yang dicintainya.


"Ato, dengarkan aku. Sejujurnya aku lebih menyukaimu dari pada pria bodoh itu, namun aku tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah pertunangan itu karena ini semua demi bisnis." ujar Ibu Tasya. "Tasya akan sangat bahagia bila bersamamu, dan aku mau itu terjadi. Namun masalahnya sekitar dua bulan lagi pernikahan mereka sudah ditetapkan. Bahkan sebelum Tasya lulus sekolah dan mengikuti ujian. Dan setelah ujian selesai mereka berdua akan tinggal bersama di luar negeri untuk kuliah. Aku tidak ingin itu semua terjadi."


Athos sangat tenang mendengar semua yang diucapkan ibu Tasya walau sebenarnya dia sangat terkejut dengan kabar itu. Tasya akan menikah sekitar dua bulan lagi, itu membuatnya terus memutar otak mencari jalan agar semua itu tidak terjadi. Itu adalah waktu yang sangat cepat.


"Aku tidak ingin Tasya hidup bersama pria yang selalu menyakitinya. Aku berharap kau melakukan sesuatu untuk menghentikan pernikahan itu." ujar ibu Tasya. "Asalkan kau bisa menghentikan pernikahan itu, aku akan membantumu untuk hal apapun."


Athos berpikir sejenak sebelum mengatakan apa yang dia butuhkan.


"Kalau begitu, berikan aku undangan pernikahannya." ucap Athos.


...***...


Athos berada di mobil setelah bertemu dengan ibu Tasya. Dia menghubungi Tasya untuk sekedar mendengar suara kekasihnya tersebut.


"Ato, kau kemana saja? Aku menunggu teleponmu sejak tadi." ujar Tasya di ujung telepon.


"Maaf, aku baru sempat meneleponmu." jawab Athos.


"Kau tahu, aku tadi baru saja berbelanja. Aku akan mengirimimu foto-foto saat aku mengenakan semua pakaian yang aku beli." ucap Tasya tampak sangat senang.


Athos jadi merasa emosional mendengar perkataan Tasya. Dia tahu kalau Tasya belum mengetahui rencana pernikahannya yang akan diadakan sekitar dua bulan lagi.


"Kirimlah segera, aku tidak sabar melihatnya." jawab Athos menahan rasa sedihnya.


...***...


Melody duduk di meja belajarnya setelah membersihkan dirinya. Niko mengantarnya pulang setelah mengajak Melody ke rumahnya.


Dia mengambil handphone-nya dan membuka akun sosial media miliknya lalu menerima permintaan pertemanan dari Niko. Lalu dia melihat unggahan terbaru Niko yang adalah foto dirinya tadi saat bersama Niko dengan caption moy prekrasnyy. Melody mencari tahu apa artinya, cantikku.


Melody menjadi malu saat mengetahuinya.


Dia kembali melihat beberapa unggahan di akun sosial media Niko. Niko termasuk yang aktif mengunggah, dan beberapa di antaranya adalah foto dirinya sendiri. Melihat beberapa foto Niko, Melody jadi teringat perkataan Niko tadi saat di mobil.


Walaupun dia yakin jawaban Niko itu juga bukan jawaban sebenarnya namun Niko memang terlihat seperti vampir seperti julukannya.


"Kalau begitu apa alasan sebenarnya?" gumam Melody sangat penasaran.


Melody kembali ke beranda akun sosial medianya, dan melihat tiga menit yang lalu Lion mengunggah sebuah foto. Melody memperhatikan dan itu adalah foto tirai putih kamar Lion yang di ambil dari dalam kamarnya.


Melody jadi melihat ke arah jendela. Lampu kamar Lion menyala, padahal beberapa menit yang lalu belum menyala.


"Dia baru saja pulang." ucap Melody sambil melihat unggahan Lion.


Melody jadi membuka akun sosial media Lion. Lion sangat jarang sekali mengunggah apapun. Total unggahannya baru enam foto. Uniknya semua yang diunggah adalah benda-benda berwarna putih. Seperti tirai yang barusan dia unggah, foto sebuah lilin putih yang menyala, kuda putih, segelas susu, awan putih di siang hari, dan dua burung merpati yang sedang berdiri berdampingan. Tak ada satupun foto dirinya.


Sambil membuang napas Melody meletakkan kepalanya ke atas meja belajarnya. Mimi meloncat naik dan tidur di samping kepala Melody dan menatapnya.


"Mimi, aku merindukannya."


...***...


Athos masuk ke dalam rumah setelah melakukan urusannya hari ini. Dua hari ini dia merasa sangat lelah, dia ingin segera tidur karena waktu juga sudah pukul sepuluh malam.


"Ato, bagus kau sudah datang. Duduklah!" seru ayah.


Athos tidak bisa membantah karena hal tersebut sudah sering terjadi. Biasanya ayah dan paman Ronald akan duduk bersebelahan dan dia bersama kedua kembarannya duduk dihadapan mereka untuk membahas semua yang terjadi atau pun yang akan terjadi.


"Aku tidak akan bertanya tentang video yang viral itu. Itu urusan kau, selama kau tidak membicarakannya padaku maka aku anggap itu bukan masalah." ujar ayah pada Athos. "Sebentar lagi kalian ujian akhir, sebelumnya aku sudah bertanya tentang rencana kalian. Aku ingin mengetahui lebih lanjut dan usaha apa saja yang sudah kalian lakukan untuk rencana kalian itu."


"Katakan semuanya dan jangan ada yang disembunyikan. Jika ada kesulitan yang bisa kami bantu, akan kami bantu. Jika tidak ada kesulitan yang kalian katakan tapi rencana kalian itu gagal atau berantakan, kami tidak mentolerir." tambah paman Ronald tegas.


"Kau dulu Ato." ucap ayah.


"Aku sudah menerima beberapa tawaran beasiswa, aku hanya akan memilih salah satunya nanti. Fokusku sekarang adalah memperluas cabang café. Dan aku sedang merencanakan bisnis baru. Aku hanya membutuhkan dana yang lebih banyak dari kalian." jawab Athos dengan sedikit malas karena rasa lelahnya.


"Hari ini café mengalami omzet empat kali lipat karena video itu." ujar Ayah. "Sepertinya tidak masalah kalau kau ingin terus membuka cabang baru. Tapi untuk bisnis baru yang kau bilang, bisa kau bilang itu bisnis apa?"


"Tidak."


"Baiklah, Kalau begitu kita lihat perkembangannya jika kau sudah yakin aku akan memberikan dana yang kau minta." jawab ayah yang tahu kalau Athos belum begitu yakin karena jawabannya. "Oto, bagaimana denganmu?"


"Aku akan ikut ujian terbuka di universitas negeri fakultas hukum. Aku yakin dengan nilaiku, aku akan mendapatkannya. Setelah lulus aku juga berniat ambil S2 di luar negeri."


"Seberapa yakin kau akan di terima?" tanya paman Ronald.


"Aku sudah sering mengikuti ujian percobaan dan nilaiku cukup bagus." jawab Prothos. "Guruku bilang nilaiku juga semakin baik."


"Baiklah, sepertinya aku tidak akan meragukan keyakinanmu." jawab ayah.


Ayah langsung melihat ke Aramis yang terlihat santai.


"Kau sudah mendaftarkan diri ke lomba itu?"


Aramis mengangguk.


"Aku akan menang lagi, kau tenang saja." jawab Aramis. "Aku hanya akan fokus melukis saja setelah lulus dan membuat galeriku sendiri sepertimu."


"Sebaiknya kau kuliah dan ambil jurusan seni melukis, Ars." saran paman Ronald.


Aramis menggeleng.


"Aku punya bakat, aku tidak ingin kuliah." jawab Aramis. "Setahun setelah lulus aku akan menikah."


Semua mata langsung menatap Aramis mendengar kata-katanya.


"Kau juga menikah dengan ibu saat usia 20 tahun kan, ayah? Tahun depan usiaku 19 tahun, aku rasa tidak masalah kalau menikah cepat." ucap Aramis dengan entengnya.


"Dengan siapa kau akan menikah, bodoh?" tanya ayah heran.


"Anna."


Semua tertawa mendengarnya kecuali paman Ronald.


"Kau terlalu bodoh, bodoh!!" seru Athos sambil mendorong kepala Aramis dari belakang.


"Kau pikir Anna mau menikah denganmu?" tatap Prothos yang duduk disamping Aramis sambil geleng-geleng heran.


"Aku akan menunggunya lulus sekolah, lalu kami akan menikah." ucap Aramis dengan polosnya.


"Kau ini sangat bodoh, Ars. Anna itu gadis pintar, tidak mungkin dia mau menikah dengan pria payah sepertimu." ujar ayah tertawa. "Dia pasti lebih memilih hidup sendiri dengan kepintarannya dibanding harus bersamamu."


Aramis hanya bisa kesal mendengar ejekan-ejekan itu padanya.


Paman Ronald hanya diam saja mendengar rencana polos Aramis. Tatapannya memancarkan sebuah kesedihan.