
Lion bersin-bersin parah ketika berada di kelas, tubuhnya juga masih saja menggigil kedinginan, dia hanya menidurkan kepalanya saat bel masuk belum berbunyi sambil meracau pada Melody yang duduk di sampingnya.
"Sepertinya aku memang harus mendengarkanmu, Melon." ucap Lion sekali lagi dia bersin-bersin.
Melody menyodorkan tisu miliknya pada Lion.
"Aku harus mulai berhenti naik motor saat malam apalagi ketika sedang hujan." gumam Lion membersihkan hidungnya dengan tisu pemberian Melody dan menyelipkan satu ke lubang hidungnya. "Aku pasti mati sebentar lagi." lanjut Lion menidurkan kepalanya ke atas meja menatap Melody.
"Pergilah ke UKS, dan ambil masker. Aku tidak ingin kau menulariku." ucap Melody dingin seperti biasanya.
"Nasibku buruk sekali, seharusnya kau mengkhawatirkan aku, tapi kau sama sekali tidak ada rasa simpati sedikitpun." keluh Lion dengan nada merengek minta belas kasihan. "Kalau aku mati tak akan ada lagi yang membantumu."
"Kau tidak akan mati hanya karena flu, dan aku rasa kau tidak pernah membantuku dalam hal apapun." jawab Melody ketus.
"Awas ya kalau minta bantuanku lagi." ucap Lion setelah itu bangkit berdiri.
"Kau mau kemana?"
"Kau menyuruhku ke UKS kan untuk ambil masker agar tidak menularimu?" jawab Lion kesal setelah itu berjalan pergi.
Melody menatap punggung Lion yang berjalan pergi dengan rasa kasihan. Sebenarnya bagaimana pun juga Melody mencemaskan Lion saat ini namun gadis dingin itu tidak bisa mengekspresikan rasa cemasnya pada pemuda itu.
...***...
Lion berjalan ke ruang UKS dan melihat Widia berbicara dengan seorang guru pria paruh baya bernama Surya. Dia memperhatikannya terus karena guru tersebut berbicara dengan sangat dekat dengan Widia di depan ruang guru.
Sesampainya di UKS, Lion mengambil masker dan memakainya, namun tubuhnya benar-benar lemas saat ini. Jadi dia memutuskan untuk berbaring di ranjang UKS sebentar.
Tiba-tiba pintu ruang UKS terbuka, dan masuk guru bernama Surya tadi melihat Lion yang berada disana.
"Pak guru, aku ijin berbaring sebentar karena badanku kurang sehat." ujar Lion dengan memakai masker.
"Ya, tidak apa-apa." jawab pak Surya duduk di kursi yang ada disana. "Kau kelas sepuluh empat kan? Wali kelasmu Widia?"
Lion bangkit duduk dan menatap pak Surya.
"Ya, benar sekali." jawab Lion. "Ada apa memangnya pak? Aisss, jangan-jangan bapak mengincar wali kelasku ya?"
Pak Surya tertawa mendengar ocehan Lion.
"Wali kelasku masih muda dan cantik, tadi aku melihat kalian berdua berbicara sangat dekat. Apa jangan-jangan kalian berdua sudah pacaran?" tanya Lion.
Pak Surya berjalan mendekati Lion.
"Kau tidak akan mengira kalau wali kelasmu tidak sebaik kelihatannya."
"Apa maksudnya pak guru?" tatap Lion.
Pak Surya langsung mengalihkan pandangannya karena berpikir sebaiknya dia tidak bercerita pada siapapun.
"Kau benar, kami berdua dekat." jawab Pak Surya. "Kemungkinan besok malam kami akan... Ahh, tidak-tidak."
"Katakan saja pak! Aku akan merahasiakannya dari siapapun." bisik Lion. "Jujur saja, aku juga menyukai wali kelasku itu."
"Benarkah?"
Lion mengangguk mantap.
Pak Surya memperhatikan Lion sesaat.
"Sepertinya kau anak nakal." ujar Pak Surya. "Dan sepertinya kau juga tampan tapi kau tidak akan bisa mengalahkan si tampan itu..."
"Siapa?" tatap Lion.
"Ah, tidak. Aku hanya melantur." sanggah Pak Surya.
"Lalu maksudmu tadi apa pak? Besok malam kenapa?" tanya Lion penasaran. "Arrghh sepertinya aku harus banyak belajar darimu."
Pak Surya hanya tertawa mendengar ocehan Lion, lalu berjalan keluar ruangan.
Lion kembali berbaring sambil membuang napas. Dia benar-benar lelah saat ini. Bukan hanya tubuhnya saja melainkan pikiran juga.
...***...
Anna menemui David saat jam istirahat sekolah. Dia berniat menanyakan sesuatu pada David mengenai pemilihan wakil sekolah di kompetisi karate nasional. Anna memintanya datang ke ruangan OSIS.
"Pak Surya adalah penanggungjawab klub karate, lalu apa dia juga yang memiliki wewenang dalam pemilihan wakil sekolah tersebut?" tanya Anna.
David tersenyum karena dia tidak mengira Anna akan mengurusi masalah ini juga.
"Maaf ketua OSIS, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku." jawab David santai.
"Kami semua tahu kau adalah ketua klub karate dan prestasimu juga sudah segudang, tapi bukan kau yang dipilih sebagai wakil sekolah di ajang bergengsi tersebut, tapi melihat responmu sepertinya kau pun tidak masalah." tatap Anna yang duduk di meja ketua OSIS.
"Kau tenang saja, aku yang akan mewakili sekolah nanti." ucap David yang berdiri di hadapan Anna.
"Benarkah? Kenapa kau seyakin itu?" tanya Anna menatap David lekat.
David tidak menjawab dan langsung berjalan keluar.
...***...
Prothos berjalan hendak ke gudang saat jam istirahat. Dia melihat Widia baru saja keluar dari sebuah kelas, namun seorang murid wanita menghentikan Widia dan bertanya sesuatu padanya.
Prothos melewati Widia begitu saja, namun siapa sangka kalau murid yang sedang berbicara dengan Widia adalah Wilda. Gadis itu memperhatikan ekspresi Widia beserta Prothos ketika mereka berdua saling papasan dan tidak menegur maupun menoleh sedikitpun.
...***...
Lion membuka matanya dan tersadar kalau dirinya tertidur di UKS hingga jam istirahat. Tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi saat ini. Kepalanya pun menjadi sangat sakit sekarang.
"Kenapa aku harus seperti ini sekarang?" gumam Lion turun dari tempat tidur dan hendak kembali ke kelasnya.
Melody melihat kehadiran Lion dengan masker menutupi bagian wajahnya. Gadis itu memperhatikan kalau Lion benar-benar terlihat tidak sehat.
Lion duduk di kursinya, di samping Melody dengan menidurkan kepalanya lagi ke atas meja.
"Kau baik-baik saja?" tanya Melody khawatir.
"Hhmm."
"Sebaiknya kau pulang dan beristirahat saja hari ini. Aku akan memberitahu guru nanti."
Lion mengangkat kepalanya dan menatap Melody, lalu membuka maskernya untuk menunjukan senyumnya. Namun tiba-tiba dia bersin lagi. Membuat Melody menatapnya sangat kesal.
"Awas saja kalau kau menulariku." gumam Melody.
...***...
Widia sampai di apartemen-nya setelah pulang dari bekerja saat waktu menunjukan jam enam sore. Belum sempat dia duduk tiba-tiba handphone miliknya berdering. Nomer tak dikenal yang menghubunginya. Dengan ragu Widia menjawab.
"Aku akan memberimu semua foto-foto itu dan menyembunyikan hubunganmu dengan muridmu. Datanglah satu jam lagi ke Hotel Kharisma Rose di kamar 305. Sebaiknya kau datang sendiri."
Tanpa Widia jawab, penelepon tersebut menutupnya. Widia bingung harus bagaimana sekarang. Dia tidak bisa menghubungi Prothos karena kekasihnya itu tidak memiliki handphone. Lalu dia mencoba menghubungi Anna namun sayangnya tak dijawab.
"Apa yang harus aku lakukan?"
...***...
Lion terbangun saat mendengar hujan turun. Dia melihat jam dinding di kamarnya menunjukan pukul tujuh kurang lima menit. Sejak kembali dari sekolah dia langsung tidur dan baru terbangun. Akan tetapi kondisi tubuhnya saat ini masih belum merasa baikan.
"Hujannya deras sekali. Untung saja aku sudah di rumah." ujar Lion menatap keluar jendela.
Melody memperhatikannya dari jendela kamarnya, tanpa Lion tahu.
Tiba-tiba handphone Lion bergetar. Dia langsung mengangkatnya.
"Ada apa, Rama?" tanya Lion.
"Pria itu memesan kamar lagi, 305, dan baru saja wanita yang fotonya kau berikan padaku masuk dan naik lift." jawab seseorang di ujung telepon.
"Apa? Terimakasih, aku akan ke sana sekarang." ujar Lion. "Jadi ternyata dugaanku benar. Tapi kenapa hari ini? Bukankah tadi dia bilang besok?" gumam Lion sambil memakai jaketnya.
Lion keluar kamar sambil menghubungi Aramis.
"Ars, dimana Oto?" tanya Lion.
"Dia ada di café. Ada apa?" tanya Aramis.
"Tolong hubungi dia dan suruh dia datang ke hotel Kharisma Rose kamar 305." seru Lion sambil menaiki motornya tanpa memakai jas hujan.
"Kenapa?"
"Katakan saja, Double U (spell Inggris W)."
Lion langsung mematikan teleponnya dan memakai helm. Keluar dari halaman rumahnya tanpa memedulikan hujan yang begitu deras. Dia juga tidak memedulikan kondisi tubuhnya yang sedang lemah dan terus menerjang hujan.
Melody melihatnya dari balik jendela kamar.