MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Bukan Ajakan Kencan



Sepulang sekolah Athos harus mampir ke supermarket dahulu untuk berbelanja mingguan seorang diri. Sudah lama dia tidak melakukannya sendirian, namun hari ini Tasya tidak bisa menemaninya karena harus mengikuti sebuah seminar di luar kota hingga dua hari ke depan.


Setelah berkeliling supermarket dan mengisi trolinya hingga penuh, dia segera membayarnya ke kasir. Setelah itu membawa semua barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil miliknya.


Tiba-tiba seseorang menariknya dan langsung melayangkan sebuah tinju ke perutnya. Athos mencoba melawan akan tetapi ternyata orang tersebut tidak sendiri. Mereka berjumlah lima orang dengan berpakaian rapi seperti bodyguard yang terlatih.


Athos benar-benar dihajar habis-habisan tanpa bisa melawan hingga dirinya jatuh terduduk tak berdaya.


"Jauhi Natasya, kau mengerti?" seru seorang dari mereka. Setelah itu mereka semua pergi.


Athos bangkit berdiri dan segera masuk ke dalam mobil dengan kekesalannya. Dia tahu siapa yang menyuruh mereka melakukan hal tersebut padanya. Ibu Dion.


"ARGGHHH!!" geramnya sambil memukul setir mobil.


...***...


Di kamar, Athos mengobati luka-luka di wajahnya dengan sangat kesal. Dia melihat pantulan dirinya di cermin dengan beberapa luka di wajahnya. Bibirnya terdapat luka, dan di sudut kirinya lebam, serta dahi kanannya membiru setelah dihantam ke mobilnya.


Semua rasa sakit itu tak terasa karena rasa kekesalannya lebih besar. Namun rasa tak berdaya yang saat ini dirasakannya lebih membuatnya sangat marah. Dia harus melakukan sesuatu karena baginya harga dirinya adalah hal penting untuknya.


Tiba-tiba paman Ronald membuka pintu kamar Athos dengan kasar. Athos menoleh melihat paman Ronald masuk menghampirinya.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya paman Ronald.


Athos hanya tersenyum tipis menjawabnya.


"Ato, dengarkan aku!! Kemarin kau memakai kartu kredit tambahan dariku dengan jumlah yang besar." ujar paman Ronald. "Aku tahu itu buat apa."


"Ya, kau benar paman. Aku akan menggantinya." jawab Athos.


"Bukan itu masalahnya!!" seru paman Ronald. "Jangan menghabiskan uang untuk seorang wanita!"


"Aku rasa tidak masalah." jawab santai Athos. "Aku tahu semua yang aku lakukan paman. Jangan mengajariku tentang masalah ini."


Paman Ronald hanya bisa menahan emosinya mendengar jawaban Athos yang selalu percaya diri dan terkesan sombong.


"Jika kau melakukannya lagi, aku akan bilang pada ayahmu."


"Lakukan saja seperti yang kau mau, paman." jawab Athos lagi. "Aku sama sekali tidak peduli." tatap Athos dingin.


...***...


Saat jam istirahat, Prothos memanggil Lion ke gudang sekolah untuk menemui dirinya. Dia berniat memberikan sesuatu pada Lion untuk membuat pemuda itu dekat dengan adik kesayangannya, Melody.


"Ada apa? Kenapa kau memanggilku ke ruangan ini? Apa kau ingin memukuliku?" tanya Lion pada Prothos.


Prothos tertawa mendengarnya.


"Waktu itu aku sempat marah padamu saat kau berdiri di dekat Melo. Sebagai ucapan maafku, ambil ini." ujar Prothos Dia memperlihatkan dua lembar tiket.


"Apa?" Lion menatap tiket tersebut tidak mengerti.


"Tadinya aku dan wali kelasmu ingin ke taman hiburan tapi ternyata dia tidak bisa karena ada rapat dadakan besok jadi dari pada aku buang tiket ini mungkin lebih baik untukmu dan Melo." jawab Prothos.


"Apa maksudmu?" tanya Lion yang sejak awal bingung.


"Ajaklah Melo ke taman hiburan!!" seru Prothos masih memegang dua lembar tiket di tangannya. "Besok itu hari sabtu kan? Pergilah besok."


"Kenapa kau tidak membeli tiketnya pada saat di sana saja?" gumam Lion. "Dan kenapa aku harus pergi dengan Melon?"


"Baiklah kalau tidak mau."


"Aku tidak bilang tidak mau!" Secepatnya Lion mengambil dua lembar tiket tersebut dari tangan Prothos. "Ini gratis jadi mana mungkin aku tolak." ujar Lion mengalihkan pandangan dari tatapan Prothos.


"Jangan bilang pada Melo kalau tiket itu dariku!!" seru Prothos menepuk bahu Lion. "Dan nanti jam tujuh malam, tolong jemput Melo di tempat kursusnya."


Ketika berjalan kembali ke kelas, Lion memperhatikan tiket yang diberikan Prothos padanya. Tiket tersebut bisa dipakai hingga satu bulan ke depan.


Lion membuang napasnya karena tahu itu semua hanya alasan Prothos saja agar dirinya pergi ke taman hiburan dengan Melody.


"Ini sangat merepotkan."


...***...


Lion menghentikan motornya di depan rumah Melody ketika mereka berdua sampai. Hari sudah gelap karena waktu sudah menunjukan pukul tujuh tiga puluh malam.


Setelah turun dari motor, Melody berjalan masuk halaman rumah tanpa berkata sepatah katapun pada Lion.


"Tunggu dulu!" seru Lion pada Melody yang hendak berjalan masuk ke dalam rumah.


"Ada apa?" tanya Melody karena Lion tidak langsung bicara.


"Hmm... kemarin temanku... ah tidak, maksudku, kemarin aku ikut undian berhadiah dua tiket ke taman hiburan dan menang." ucap Lion.


"Baguslah, selamat ya."


"Tunggu dulu!!" seru Lion panik ketika Melody hendak meninggalkannya.


"Ada apa lagi? Di luar banyak nyamuk."


"Kau bisa ikut denganku?" Lion segera mengatakan tujuannya.


Melody terkejut mendengar ajakan Lion. Jantungnya saat ini benar-benar berdetak sangat kencang.


"A... apa kau bilang?"


"Tiketnya ada dua, jadi aku pikir aku mengajakmu saja..." ucap Lion menghindari tatapan Melody. "Aku mengajakmu agar kau mentraktirku saat ada disana, kau masih berhutang satu kali traktiran padaku!!"


Lion kembali menatap Melody mencoba terlihat yakin.


"Kau mau tidak? Aku tidak akan memaksa."


"Kapan?"


"Besok. Ingat, ini bukan ajakan kencan!!"


"Jika tidak naik motormu aku akan ikut." ujar Melody.


"Ke...kenapa? Kenapa tidak naik Megan?" tatap Lion.


"Kalau begitu aku tidak ikut." kata Melody ringan.


Lion menatap Melody sesaat seraya berpikir.


"Besok jam sepuluh pagi!! Awas kalau terlambat bangun!! Akan aku tinggal kau!!"


Setelah berkata demikian Lion segera menaiki motornya kembali dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Awas saja kalau kau yang terlambat bangun." ucap Melody pelan.


...***...


Waktu sudah pukul sepuluh malam. Athos, Prothos, dan Aramis duduk di meja makan bersama. Mereka akan saling mengobrol dan meminta pendapat satu dan yang lainnya. Kegiatan itu hampir mereka lakukan beberapa kali dalam seminggu.


"Ngomong-ngomong tadi aku memberikan dua tiket taman hiburan pada Lion, aku menyuruhnya untuk mengajak Melo pergi kesana." ucap Prothos. "Aku harap Lion berani mengajak Melo pergi."


"Ke, kenapa kau ingin mereka berdua pergi? Jangan memberi si bodoh itu dengan gratis!" oceh Aramis.


"Oto, jangan campuri urusan mereka berdua!!" kata Athos.


"Nah, itu benar. Tapi ada apa ini? Kenapa kalian berdua sepertinya tidak masalah kalau si bodoh itu pergi dengan Melo? Melo itu adik kita, kita harus menjaganya dan jangan biarkan siapapun berani menyentuhnya! Tapi kenapa kalian membiarkannya pergi dengan seorang pria?"


"Bodoh!" Athos membuang napas. "Memangnya siapa Lion? Dia lebih banyak bersama-sama dengan Melo dari pada kau selama ini! Kau bilang menjaganya? Apa kau tidak ingat siapa yang menyelamatkan Melo dari tindakan tercela si idiot Felix?! Kau? Aku? Oto?"


Aramis hanya diam saja tak bisa menjawab.


"Bukan kita bertiga, tapi orang yang kau bilang bodoh itu!!"


"Ato, tidak perlu marah begitu!!" ucap Prothos yang duduk di hadapan Athos samping kanan Aramis. "Itu benar Ars, aku tidak masalah."


"Aku tidak akan menyetujuinya!!" ujar Aramis. "Jangan berpikiran kalau aku akan diam saja! Aku tidak setuju!!"


"Kau tidak setuju bukan karena tidak menyukai Lion 'kan? Kau hanya tidak rela kalau sahabatmu merebut Melo darimu!! benar begitu kan?!" ujar Athos dan setelah itu Athos menyeruput kopi. "Tidak usah banyak bicara, aku tahu sifatmu, bodoh!!"


"Ato, kau benar-benar membuatku jengkel!!" seru Aramis menahan emosinya mendengar ucapan Athos. "Kau tahu kan kalau Melo selalu bersikap dingin pada Lion? Melo pasti membencinya."


"Katakan padaku kenapa Melo membenci Lion setelah selama ini mereka sering bersama?!" tatap Prothos.


Aramis diam dan terus berpikir mencari jawaban.


"Melo menyukai Lion." ucap Prothos. "Saat aku tidur menemani Melo, aku mendengar Melo mengakuinya. Dia pikir aku tidak dengar karena sudah terlelap. Dia bilang dia menyukai Lion. Bahkan aku merasa kalau sejak dulu adik kita itu menyukai Lion."


"Kau dengar, Ars? Jadi sekarang apa masalahmu?" tanya Athos pada Aramis.


Aramis hanya bisa menatap kesal pada Athos karena merasa tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menentang Lion bersama Melody.


Sebenarnya apa yang di katakan Athos benar kalau Aramis hanya merasa tidak rela jika Melody adik perempuannya bersama dengan sahabat dekatnya Lion. Dia merasa sangat cemburu dan tidak ingin itu terjadi.