MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Mendaki Gunung



Lion membuka lemari pakaiannya masih hanya dengan menggunakan handuk putih yang menutupi bagian bawahnya setelah mandi. Dia memperhatikan semua lipatan pakaian yang ada di lemarinya yang semuanya berwarna putih. Namun ada satu pasang pakaian yang berwarna hitam, warna favoritnya.


Dia pun mengambil sepasang pakaian berwarna hitam tersebut yang belum pernah sama sekali dipakainya.


"Mendaki gunung lebih baik pakai warna ini." ucap Lion sambil menatap pakaian tersebut. "Ini hadiah dari Melon setahun yang lalu."


Lion langsung menatap ke arah tirai kamarnya. Dia berpikir di hari ulang tahunnya sekarang ini setidaknya dia memakai warna favoritnya, apalagi pakaian tersebut adalah hadiah ulang tahun dari Melody setahun yang lalu, dan merupakan hadiah terakhir darinya.


"Ulang tahunku kali ini aku akan mendaki gunung. Ini sesuatu yang bagus." ujar Lion menyemangati dirinya sendiri.


Lion memakai kaos berlengan panjang dan celana panjang denim yang semuanya berwarna hitam, lalu memakai jaket kulit yang juga berwarna hitam. Semuanya adalah hadiah ulang tahun dari Melody tahun lalu.


Setelah berpakaian serba hitam Lion keluar kamarnya untuk sarapan bersama neneknya yang sudah menunggunya. Handphone-nya berdering, dia pun mengangkatnya sembari berjalan.


"Yes, madam." jawab Lion.


"Selamat ulang tahun El, kami minta maaf karena tahun ini tidak bisa merayakannya bersamamu lagi." ujar seorang wanita di ujung telepon yang merupakan ibu Lion.


"Take it easy, Mrs. No problem." ucap Lion dengan bergurau sambil duduk di meja makan. "I'm fine. It's doesn't matter. I'm okay, no hard feelings. Thank you."


Ibu Lion tertawa mendengar ocehan anaknya yang bergurau.


"Kami sudah kirim ke rekeningmu untuk hadiah. Bersenang-senang lah dengan teman-temanmu ya."


"Tidak perlu nyonya, kemarin kau juga sudah mengirimiku. Celengan ayamku sampai meronta-ronta kesesakan. Aku akan mengirimnya kembali." ujar Lion sambil melahap roti bakar sarapannya.


"Kami akan menyeretmu kesini kalau kau kirim kembali!" seru ibu Lion. "Belilah semua yang kau mau, kami akan memberikannya lagi kalau kau butuh lebih banyak. Baiklah El sayang, kami disini mencintaimu."


Lion meletakan handphone-nya dengan kasar di atas meja. Dia merasa kesal saat ini. Tapi langsung tersenyum ketika melihat neneknya menatapnya.


"Nenek hari ini aku akan mendaki gunung bersama teman-temanku. Di hari ulang tahunku ini aku akan berada di puncak tertinggi." oceh Lion.


"Ada apa dengan pakaianmu?" tanya nenek heran melihat cucunya mengganti gaya berpakaiannya. "Kau tinggal memakai penutup wajah dan pergi ke bank. Mereka akan langsung menangkapmu."


"Sepertinya aku harus mencobanya, nek." jawab Lion tertawa.


"Nanti malam berarti kau tidak ikut makan malam bersama keluarga pak Leo? Baru saja nenek diberitahu agar nanti malam datang ke tempat mereka."


"Aku kan sudah bilang, hari ini aku akan berada di tempat yang tinggi. Aku akan pulang besok." jawab Lion.


"Melo akan mencarimu nanti."


Lion terdiam mendengar ucapan neneknya.


"Tidak, dia tidak akan mencariku." ucap Lion tersenyum. "Aku berangkat ya nek."


"Lion, selamat ulang tahun ya." ujar nenek Lion berjalan dan memeluk cucunya tersebut. "Kau jarang di rumah, tapi nenek percaya kau anak baik."


"Aku memang anak baik nek." senyum Lion. "Aku pergi ya."


Lion tersenyum dan melambai pada neneknya, lalu mengambil tas besar yang sudah dipersiapkannya.


Ketika Lion keluar rumah hendak menaiki motornya, Anna melihatnya saat dia keluar dari rumah hendak ke rumah Melody. Anna segera menghampiri Lion.


"Astaga, ada apa denganmu? Ini pertama kalinya kau mengganti pakaianmu." ujar Anna melihat Lion yang sudah menaiki motornya. "Kau mau kemana? Tasmu besar sekali."


"Aku akan menuju puncak tertinggi hari ini. Aku akan mendaki gunung. Kalau pakai pakaian putih berapa banyak pakaian yang harus aku bawa?" ucap Lion.


"Kau tidak sedang menghindar kan?"


"Apa yang kau katakan? Menghindar dari apa?"


"Kau tahu? Hari ini Melo memintaku mengajarinya menyetir. Dia bilang, dia ingin bisa menyetir."


"Untuk apa dia bisa menyetir? Dia punya tiga kakak yang tidak akan membiarkannya menyetir sendiri." seru Lion heran. "Sudahlah, aku nanti telat."


Lion langsung melajukan motornya, meninggalkan Anna.


...***...


Lion sampai di tempat berkumpul yang sudah disepakati oleh Kevin dan teman-temannya yang lain. Dia duduk di restoran cepat saji, tampaknya dia orang pertama yang datang ke tempat itu. Lion memang datang lebih pagi dari waktu yang mereka sepakati.


"Aku pesan es krim dengan corn satu." ucap Lion saat mengantri di kasir. "Apa ada promo untuk yang berulang tahun? Hari ini aku ulang tahun."


"Maaf tidak ada promo ulang tahun." jawab kasir tersebut.


Lion memasang wajah kecewa mendengarnya.


Tidak berapa lama pesanannya jadi dan dia langsung melahapnya. Dia tidak peduli jika waktu masih terlalu pagi untuk makan es krim. Saat ini waktu menunjukan jam setengah sembilan pagi.


Saat duduk di kursi handphone-nya berdering, Anna menghubunginya.


"Ada apa?" tanya Lion dengan corn es krim ada dimulutnya sehingga omongannya tidak jelas.


"Ini gawat Lion." jawab Anna.


"Apa yang gawat?" tanya Lion lagi sambil mengunyah habis corn es krimnya.


"Melo. Lion, barusan kami berada di pom bensin karena aku mau ke toilet tapi ketika aku kembali Melo sudah tidak ada. Melo membawa mobil sendirian sedangkan dia belum bisa dengan benar membawanya. Ketiga kakaknya juga sedang mencarinya. Handphone-nya tidak menjawab saat di telepon."


Lion terkejut mendengarnya, namun dia menahan rasa khawatirnya dan berusaha tenang.


"Mereka akan menemukannya, dia juga tidak akan pergi jauh." ucap Lion setelah itu menutup teleponnya.


"Lion, kau sudah datang?" sapa Kevin datang bersama yang lainnya. "Aku pikir kau belum datang tapi aku lihat motormu di luar."


"Bagaimana? Kita jalan sekarang?" tanya Lion bangkit berdiri.


"Ya, sebaiknya berangkat lebih pagi maka akan lebih cepat sampai." jawab Kevin. "Ayo kita berangkat. Kita akan ke stasiun kereta dulu naik taksi. Motormu bagaimana?"


"Aku meminta temanku untuk mengambilnya nanti." jawab Lion sambil berjalan ke luar bersama Kevin dan yang lainnya.


Mereka menunggu taksi yang di pesan, dan tidak berapa lama taksi tersebut datang. Semua teman-teman Lion sudah masuk ke dalam taksi, Kevin menoleh ke Lion yang berada di belakangnya. Terlihat dari wajahnya, Lion tampak memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Lion?" tanya Kevin.


Lion menatap Kevin setelah berpikir sesaat. Dia tidak bisa mengabaikan apa yang membuatnya khawatir saat ini.


"Sebenarnya aku begadang semalaman dan sekarang rasa ngantukku tiba-tiba menyerang." jawab Lion datar.


"Apa-apaan kau ini?"


"Ajak aku lagi lain kali ya." ujar Lion berjalan berbalik menuju motornya yang terparkir.


Kevin hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil masuk ke dalam taksi.


Lion mengeluarkan handphone-nya dan membuka aplikasi maps untuk mencari keberadaan Melody. Saat masuk ke kamar Melody dia juga memasang menu sharing lokasi pada handphone Melody agar setiap waktu dirinya bisa memantau keberadaan gadis itu. Hal itu juga yang membuat Prothos dan Aramis tidak jadi melakukan hal yang sama karena mereka melihat Lion sudah melakukannya terlebih dulu pada adik mereka.


Setiap waktu Lion selalu membuka aplikasi tersebut dan mencari tahu posisi Melody tanpa gadis itu ketahui. Semua itu dilakukannya untuk membuat dirinya sendiri merasa tenang dan tidak mengkhawatirkan gadis itu.


Lion melihat kalau saat ini Melody masih bergerak dan posisinya tidak terlalu jauh dari tempatnya. Pemuda itu langsung menaiki motornya dan meletakan handphone-nya ke holder yang berada di stang motor. Lalu melaju sangat cepat.


...----------------...


Lion




Visual Model :


V (BTS)