
Melody melangkah masuk ke dalam kelas dan berhenti ketika melihat Lion sudah duduk di kursinya. Lion mengangkat kepala dari atas meja dan melihat Melody yang berdiri di depan pintu. Dengan mencoba bersikap biasa Melody melangkah menuju mejanya.
"Selamat pagi Melon." sapa Lion dengan nada datar karena saat ini dia masih mengantuk.
Melody duduk di kursinya di samping Lion.
"Karena mulai masuk hari ini aku sampai tidak bisa tidur tadi malam. Aku jadi berangkat lebih cepat tapi ternyata aku kepagian, dan sekarang aku merasa mengantuk." ujar Lion merebahkan kepalanya di atas meja menatap Melody. "Lima hari tidak sekolah rasanya kurang."
"Diamlah, jangan bicara padaku!" seru Melody bersikap seperti dirinya yang biasa.
Lion mengangkat kepalanya dan menatap Melody.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Lion tetapi Melody tidak menjawab dan hanya diam menatap ke papan tulis. "Kalau begitu aku akan pindah tempat duduk..." Lion bangkit berdiri.
Dengan cepat Melody memegang lengan Lion sehingga Lion berhenti dan menatap gadis itu dengan bingung.
Melody menoleh padanya, "Jika kau pindah itu berarti kau mengaku kalah? Benar begitu?" tatap Melody.
Lion tertawa skeptis dan kembali duduk.
"Kalah?" ujar Lion. "Baiklah, kau teruslah bersikap dingin dan menyebalkan seperti itu sedangkan aku tidak akan berhenti mengganggumu. Kita akan lihat siapa yang pada akhirnya menyerah dan pindah."
"Aku setuju." jawab Melody dingin.
"Baiklah es melon!! aku akan mengganggumu lebih semangat mulai sekarang!!" seru Lion. "Aku tidak akan kalah dari adik si bodoh Ars! Aku ini adalah Lion (\=Singa), aku akan menghancurkan es melon dan ku makan habis!!" lanjut Lion dengan penuh semangat.
Melody menoleh ke jendela untuk menyembunyikan senyumnya dari Lion.
"Ya ampun, sepertinya aku harus menambah jaketku kalau duduk disebelah es melon, bisa-bisa aku membeku." ujar Lion dengan maksud mengejek Melody.
...***...
Jam istirahat Lion bersama dengan teman-temannya sedang bersantai sambil menikmati waktu istirahat mereka di pinggir lapangan.
Tiba-tiba Felix datang menghampirinya dan mencoba mengganggu Lion.
"Bagaimana liburanmu? Apa menyenangkan?" tanya Felix tersenyum mengejek.
"Sangat menyenangkan sampai rasanya lima hari terlalu singkat." jawab Lion mencoba menahan emosinya, dan masih duduk santai. "Maaf ya, aku ingin menikmati waktu istirahatku dengan santai jadi bisa tidak menyingkir dari pandanganku, kakak kelas?!" ujar Lion menutup matanya.
"Bagaimana kabar Melody? Apa dia baik-baik saja? Ya sepertinya begitu. Ketiga kakaknya pasti akan melindunginya dengan sangat baik kan?"
Lion membuka matanya menatap Felix. Sedangkan kedua teman yang bersama dengannya hanya diam tidak berani ikut campur.
"Aku sangat kesal karena dia menolakku sebelum aku melakukan apapun padanya." ujar Felix. "Ini seperti melihat boneka dalam pembungkus kaca, aku hanya bisa memandangnya dan tanpa bisa memainkannya."
"Apa maksudmu? Jangan main-main!!" Lion bangkit berdiri dan mencengkram kerah kemeja Felix namun kedua temannya menahannya dan Lion pun melepaskan cengkraman dari Felix dengan tatapan kesal.
"Main-main katamu? Heh, itu sudah seperti hobi untukku." ucap Felix semakin membuat Lion kesal. "Sekuat apapun pembungkus kaca itu, tidak masalah buatku, karena tidak ada mainan yang tidak bisa aku mainkan."
Setelah berkata demikian Felix berjalan pergi dengan senyuman sarkastis.
Lion hanya bisa menatap kepergian Felix dengan geram dan kesal.
...***...
Melody yang berada di kelas sedang memetik gitarnya bersama salah satu teman sekelasnya yang minta diajarkan bermain gitar olehnya. Ini pertama kali untuk Melody berbicara dengan teman di kelas selain Lion.
Dengan sedikit malu dia mengajari temannya itu di mejanya. Sedangkan teman sekelas yang bernama Rinka tersebut terlihat sangat senang dan antusias ingin belajar bermain gitar seperti dirinya.
"Setiap kali melihatmu, aku merasa kalau kau wanita yang keren." ujar Rinka. "Karena itu aku pikir, aku juga ingin bisa bermain gitar sepertimu Melody."
"Aku bisa mengajarimu." jawab Melody kaku.
Tiba-tiba terasa sebuah getaran yang berasal dari tas Lion yang tergeletak di atas meja.
Dengan ragu Melody membuka tas Lion dan mengambil handphone yang ada di dalamnya. Dia terkejut melihat nama penelepon yang tertera di layar handphone. Orang yang menelepon adalah Sandra. Melody sempat berpikir apakah akan dia jawab atau tidak namun rasa penasarannya membuat dia ingin menjawab telepon itu.
"Lion, bisa kita bertemu lagi?" tanya Sandra setelah Melody menekan tombol jawab pada handphone. "Aku mohon, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu mengenai penjelasanmu kemarin."
"Maaf, saat ini Lion sedang tidak ada, dia meninggalkan handphone-nya di dalam tas sedangkan dia pergi keluar kelas." ucap Melody.
"Jadi begitu. ujar Sandra. Kenapa kau menjawab teleponnya? Kau siapa?"
"Aku... aku teman sebangku Lion, aku pikir ini adalah telepon yang penting makanya aku menjawabnya." jawab Melody dengan gugup.
"Tidak, ini memang telepon penting." kata Sandra serius. "Kalau begitu bisakah kau memberitahuku dimana kalian bersekolah, ada yang harus aku bicarakan dengan Lion, ini adalah sesuatu yang penting untukku."
"Apa?"
"Aku mohon padamu..."
...***...
Melody tidak bisa berkonsentrasi setelah jam istirahat. Dia tidak tahu apa yang di lakukannya tadi, dia merasa sedikit menyesal menjawab telepon Sandra. Bahkan dia tidak berani bilang pada Lion mengenai telepon tersebut.
Sepuluh menit sebelum pulang sekolah, Melody memandang keluar jendela. Memperhatikan pintu gerbang sekolah yang terlihat jelas dari tempatnya duduk. Dia terkejut ketika melihat seorang wanita yang tidak asing di matanya sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Dia adalah Sandra.
Mau apa dia kesini? Tanyanya dalam hati.
Dia sadar kalau menjawab telepon Lion adalah sebuah kesalahan, tetapi memberitahu dimana dia dan Lion sekolah adalah kesalahan terbesar yang dilakukannya.
Jadi karena itu Sandra memintanya memberitahu dimana sekolah mereka. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Pikir Melody menoleh pada Lion yang memperhatikan guru dengan tatapan mengantuk.
Lion akan bertanya-tanya dari mana Sandra tahu sekolahnya dan jika Sandra menjawab kalau aku yang memberitahunya, ini bisa gawat. Apa yang harus aku lakukan?
Bel pulang berbunyi, kecemasan Melody sampai pada puncaknya.
Sandra masih menunggu di depan gerbang sekolah, sedangkan Lion sudah bersiap-siap pulang.
Melody memegang jaket Lion ketika Lion hendak memasang headphone ke telinganya.
Lion menatap Melody dengan tanda tanya terlihat di wajahnya.
"Maafkan aku," ucap Melody menundukkan kepalanya menghindar dari tatapan Lion. "Saat istirahat handphone-mu bergetar lalu aku menjawabnya dan ternyata itu adalah Sandra. Dia memohon padaku untuk memberitahu dimana kita bersekolah lalu aku memberitahunya. Saat ini Sandra sudah menunggumu di depan gerbang sekolah."
Setelah mendengar perkataan Melody, Lion langsung bergegas keluar kelas.
Melody terdiam sesaat memikirkan kesalahannya namun setelah itu dia langsung berlari menuju gerbang sekolah untuk tahu apa yang terjadi.
...***...
Melody bersembunyi di balik tembok sekolah untuk menguping apa yang di bicarakan antara Lion dan Sandra yang ada di luar sekolah. Mereka berdua tidak bicara hingga keadaan lebih sepi, sampai tidak ada lagi siswa-siswi yang keluar sekolah.
"Sekarang katakan padaku, kenapa menolakku?" tanya Sandra memulai pembicaraan.
"Aku sudah bilang alasannya kemarin kan?" ujar Lion.
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengannya!" seru Sandra. "Apa dia juga sekolah disini? Bawa dia kesini agar aku percaya kau menolakku karena sudah menyukai wanita lain. Aku ingin membandingkan dia dengan diriku."
"Sandra jangan begitu, kau membuatku jadi semakin sulit mengatakannya." ujar Lion dengan bingung. "Aku memang menyukai wanita lain tapi aku tidak bisa memberitahumu karena aku juga tidak tahu bagaimana perasaannya padaku."
"Kalau begitu aku tidak akan berhenti selama kau belum mengatakannya pada wanita itu. Aku akan terus menghubungimu." seru Sandra. "Jadi sebaiknya katakan itu padanya secepatnya. Jika dia menerimamu maka aku akan berhenti mengejarmu tapi jika dia menolak maka aku masih punya kesempatan 'kan?"
"A... apa? Jangan seenaknya seperti itu!!"
"Kalau begitu cepat kenalkan dia padaku! Aku juga akan datang besok ke sini dan seterusnya hingga kau bisa menunjukannya padaku!!" ucap Sandra setelah itu berjalan pergi.
"Tu... tunggu dulu Sandra!!" panggil Lion tetapi dia mengabaikannya. "Gawat!!"