
Prothos menghentikan mobilnya di parkiran mall. Dia memperhatikan mobil ayah yang digunakan Aramis terparkir di sana, dan Athos juga bilang tadi, kalau dia dan Tasya akan ke mall ini saat berkencan.
"Kau bilang kita akan ke pernikahan itu?" tanya Widia bingung. "Lalu kenapa kita disini?"
"Apa kau lupa? Pernikahannya mulai jam empat sore." jawab Prothos. "Kita juga tidak bisa ke sana dengan pakaian seperti ini."
"Untuk apa memikirkan pakaian? Bukannya kita akan datang kesana untuk mengacaukan pernikahannya?"
Prothos tertawa geli mendengarnya.
"Turun saja, bu guru!!" seru Prothos. "Dan ikuti aku."
Setelah itu Prothos turun dan Widia mengikutinya dari belakang.
Prothos membawa Widia memasuki mall, dengan pandangan yang mengamati sekitar. Prothos waspada karena takut kedua kembarannya akan memergokinya bersama Widia, guru di sekolah mereka.
Benar saja, ketika hendak menaiki lift, Prothos melihat Athos bersama dengan Tasya sedang menunggu lift. Dengan cepat Prothos mundur sambil menarik Widia yang tidak mengerti.
Prothos menaiki eskalator bersama Widia, ketika hendak sampai ke lantai atas, melintaslah Aramis yang di rangkul Anna. Prothos langsung berbalik badan saat sampai di atas dan menarik Widia lagi bersembunyi di salah satu toko.
"Ada apa?" tanya Widia.
"Jangan bicara dulu!!" ujar Prothos menutup mulut Widia dari belakang.
Aramis dan Anna tidak menyadari keberadaan mereka karena Aramis sibuk dengan handphone-nya, sedangkan Anna melihat beberapa orang melihat ke arahnya saat melintas.
"Kenapa mereka melihat kita?" tanya Anna polos.
"Lepaskan tanganmu!!" seru Aramis. "Dengan tampilanmu ini, mereka mengira kita pasangan gay."
"Benarkah?" tanya Anna. "Hai, aku wanita ya bukan pria." ujar Anna pada pasangan yang melintas menatap mereka. "Aku wanita, aku wanita.... " Anna terus mengulanginya.
Apa yang dilakukan Anna membuat beberapa orang tertawa dan ada juga menatapnya aneh.
"Turunkan saja tanganmu!!" seru Aramis menurunkan tangan Anna yang merangkulnya. "Tidak ada wanita yang merangkul pria sepertimu." lanjut Aramis kesal.
Anna memperhatikan beberapa wanita yang merangkul lengan pria yang di samping nya, bukan merangkul pundaknya seperti yang dia lakukan ke Aramis.
"Baiklah." nyengir Anna sambil menggaruk kepalanya.
Mereka berdua kembali berjalan lagi.
"Untung saja pasangan bodoh itu tidak melihat kita." ucap Prothos setelah memperhatikan Aramis dan Anna menjauh.
"Bukannya dia salah satu kembaranmu, Aramis dan anak baru itu kan?" ujar Widia yang berdiri di depan Prothos membelakanginya. "Anak baru itu benar-benar seperti pria."
"Ayo, ikut aku!!" seru Prothos membalikkan badannya.
Langkahnya terhenti ketika melihat sepasang wanita dan pria yang cukup dikenalnya, berdiri di hadapannya sekarang.
"Tidak aku sangka ternyata sekarang kau memacari gadis kampung ini ya?" ujar wanita itu.
Dia adalah Kiara, mantan Prothos. Di sampingnya adalah pria yang berboncengan dengan Kiara yang ada di foto yang dilihat Prothos.
"Lihat penampilanmu, Oto, demi menyamainya kau juga terlihat kampungan sekarang. Kau hanya memakai sendal jepit?" komentar Kiara ketus. "Heh, kau dengar wanita jelek!! Dia ini playboy sejati, dia akan meninggalkan wanita sejelek kau dalam waktu tidak lebih dari seminggu!!"
"Jadi ini orangnya? Mantanmu itu, Kiara?" tanya pria yang bersama Kiara. "Astaga, wajahmu seperti wanita!!" seru pria itu memegang wajah Prothos dengan kasar. "Kenapa wanita menyukai wajah seperti ini?"
Widia menepis tangan pria itu.
"Tidak sopan memegang wajah orang lain!!" seru Widia maju ke depan Prothos untuk melindungi anak muridnya dari rundungan.
Prothos terkejut dengan sikap Widia tersebut, namun hanya diam saja.
"Dan untukmu, kau pantas dicampakkan karena gadis bermulut jahat sepertimu tidak cocok untuk pria baik-baik."
Setelah berkata demikian, Widia menarik tangan Prothos mengikutinya pergi.
"Terimakasih, bu guru." senyum Prothos yang berjalan di belakang Widia dengan tangan yang masih digandeng oleh gurunya tersebut.
"Ingat, kau jangan memacari gadis bermulut jahat sepertinya lagi ya!!" seru Widia masih menarik Prothos.
"Baik." jawab Prothos. "Aku akan memacari bu guru mulai sekarang."
Perkataan Prothos membuat Widia berhenti dan melepas tangan Prothos.
"Kita mau ke mana?" tanya Widia mengalihkan topik.
Prothos membawa Widia ke sebuah salon langganannya di mall tersebut.
"Oto, sudah lama kau tidak ke sini." ujar manager di tempat itu.
"Aku sibuk sekali akhir-akhir ini." jawab Prothos. "Oh iya Ricky, di mana, Diego? Dia tidak datang?"
"Sekarang dia jarang datang. Owner lebih baik seperti itu." jawab Ricky. "Kau ingin potong rambut? Arrgghh... kau semakin tampan, aku rasa tidak usah memotong rambutmu sekarang. Datanglah satu bulan lagi."
"Tidak, aku ingin kau mendandaninya." ucap Prothos menepuk pundak Widia yang berdiri di sampingnya.
"Pacar barumu?"
"Aku ini gurunya!!" jawab Widia. "Loh, bukannya itu kau?" tanya Widia saat melihat beberapa poster di dalam salon tersebut adalah Prothos, modelnya.
"Buat dia berbeda dan lebih terlihat modis." bisik Prothos pada Ricky.
"Apa perlu memotong pendek rambutnya?"
"Kau tahu kan, aku tidak suka wanita berambut pendek." jawab Prothos.
"Kau jadi model di salon ini ya?" tanya Widia yang ada di jarak sepuluh meter sibuk memperhatikan beberapa poster bergambar Prothos.
Prothos hanya tersenyum.
"Dia tidak seperti seorang guru." kata Ricky.
"Dia pacarku." senyum Prothos.
Prothos meninggalkan Widia di salon tersebut untuk membeli pakaian yang cocok digunakan ke pesta pernikahan. Selain membelikan gaun pesta untuk Widia, dia juga membeli satu stel kemeja dan sepatu untuk dirinya sendiri beserta tas tangan untuk Widia.
Prothos memakai kemeja berwarna merah muda dan celana berwarna putih. Dia mencoba satu set pakaian tersebut di ruang ganti.
"Wajah dan tubuh ini begitu sempurna, apa-apaan orang tadi?" gerutu Prothos melihat dirinya di pantulan cermin. "Wajahnya seperti landak kehujanan mengatai wajah tampan ini... ckckckck... apa dia tidak pernah bercermin?" Prothos makin kesal saat mengingat perkataan pria yang bersama Kiara tadi.
Prothos keluar dari ruang ganti dan dirinya menjadi pusat perhatian para wanita dan pegawai yang ada di toko tersebut. Dengan penuh percaya diri Prothos berjalan ke kasir dan membayar pakaian yang digunakannya beserta pakaian yang dia pilihkan untuk Widia.
"Bolehlah aku minta nomer handphone-mu?" tanya wanita yang melayani Prothos saat membayar di meja kasir. Dua orang temannya ada di belakangnya juga penasaran pada Prothos.
"Maaf, aku tidak punya handphone." senyum Prothos setelah itu berjalan pergi.
Sepanjang jalan menuju salon, Prothos menjadi pusat perhatian dan sepanjang jalan pula dia tersenyum kepada hampir semua wanita yang melihatnya, menebar pesonanya.
"Aku pasti akan buat pelajaran pada si landak sialan itu!!" gumam Prothos masih kesal mengingat kejadian tadi.
Prothos memasuki salon setelah dua jam pergi meninggalkan Widia di sana. Semua pekerja di salon tersebut tertegun dengan kehadiran Prothos yang terlihat makin tampan dengan setelan yang baru dia beli, begitu juga dengan Widia yang sudah selesai di make over.
"Kau sangat menyilaukan, Oto." seru Ricky melihat Prothos. "Mataku sampai sakit melihatmu."
Prothos hanya tersenyum.
"Sudah selesai?" tanya Prothos melihat ke Widia yang duduk di kursi yang ada di hadapan Ricky. "Ya, aku rasa ini sudah bagus." ujar Prothos mengambil posisi Ricky, berdiri di belakang Widia yang duduk di depannya dan melihatnya dari pantulan cermin. "Kau sudah siap bu guru?" bisik Prothos agak membungkuk ke telinga Widia.
Widia hanya menatap anak muridnya yang tampan itu dari cermin.
Tiba-tiba Prothos memutar kursi Widia. Menatap Widia dengan seksama. Gadis yang ada di depannya sekarang sudah berubah dan tidak seperti gurunya di sekolah atau pun gadis yang menangis di restoran cepat saji tadi.
"Kau cantik juga, bu guru." bisik Prothos, wajahnya tepat di depan wajah Widia.
Widia tersipu malu.
"Ganti pakaianmu sekarang!!" seru Prothos memberikan tas yang di bawanya.
Widia segera mengikuti instruksi dari Prothos dan berganti pakaiannya.
"Sempurna." senyum Prothos melihat Widia yang sudah berganti pakaian.
Widia mengenakan gaun merah muda di atas lutut dengan outerwear berwarna putih berbentuk blazer, serta sepatu dengan heels sepuluh sentimeter. Serasi dengan pakaian Prothos.
"Kau cantik sekali." senyum Prothos.
Widia tersipu malu lagi mendengar pujian dari anak muridnya tersebut.