MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Harta yang Paling Berharga



BRAAKK!!


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang sangat keras, membuat Felix berhenti dan melihat ke arah pintu. Lalu sekali lagi pintu ditendang hingga terbuka dan terlihat Lion berdiri menatap Felix dan Melody yang ada di cengkraman Felix.


Tanpa basa-basi Lion langsung menarik Felix dan meninju wajahnya hingga Felix terjatuh di lantai.


Lion menatap Melody yang langsung terduduk dengan tangisan di atas tempat tidur, pakaian Melody sobek setelah Felix membuka paksa. Lion langsung melepas jaketnya dan menutupi tubuh Melody tanpa kata. Setelah itu kembali menoleh pada Felix dan tanpa ragu lagi menarik pria itu dan meninjunya berkali-kali hingga darah keluar dari hidung dan bibirnya.


"Ma, maafkan aku... aku tidak sungguh-sungguh tadi, aku hanya main-main!!" ucap Felix memohon ampun pada Lion yang terus memukulinya berkali-kali.


"Main-main? Apa kau tahu arti main-main?!" geram Lion sangat marah sambil meninju perut Felix sangat keras. "Aku tidak akan mengampunimu!!" Lion memukul wajah Felix hingga Felix tersungkur tak berdaya.


Di atas tempat tidur, Melody hanya menangis tanpa henti.


Ketiga Musketeers yang baru sampai di depan rumah langsung berlari ketika melihat mobil Felix berada di depan rumah mereka.


"Ada apa ini?" tanya Athos datang bersama Prothos dan Aramis. "Melo, apa yang terjadi?" tatap Athos pada adiknya.


"Lion, ada apa?" tanya Aramis.


Lion tidak menjawab, dia menarik Felix dan sekali lagi memukulnya.


Aramis dan Prothos menarik Lion agar berhenti memukuli Felix yang sudah tidak berdaya.


"Minggir kalian! Akan aku habisi manusia sialan ini!!" seru Lion namun Aramis menahannya.


"Kau bisa membunuhnya kalau memukulinya terus." ucap Prothos.


"Itu yang aku mau." jawab Lion dingin.


"Bawa mereka berdua keluar!!" ujar Athos.


Setelah itu Aramis dan Prothos menarik Lion dan Felix keluar dari kamar.


"Melo, kau baik-baik saja kan?" tanya Athos menatap adik perempuannya yang hanya diam dengan pandangan kosong dan air mata yang terus mengalir.


Lion terus memukuli Felix walau berkali-kali Aramis dan Prothos menahannya. Tatapan Lion penuh dengan amarah pada Felix.


"Hentikan Lion!! AKU BILANG HENTIKAN!!" teriak Aramis pada Lion.


Lion berhenti dengan tatapan tidak teralih dari Felix yang sudah berbaring tak berdaya di lantai. Dalam benaknya hanya ada keinginan untuk terus memukuli pria itu. Kemarahannya sudah sampai puncaknya.


"Dia pasti mati kalau kau memukulnya terus." ujar Prothos melihat Felix yang sudah tak berdaya.


.


"Manusia biadab sepertinya memang pantas mati! Aku tidak peduli walau aku ditangkap karena membunuhnya." ucap Lion dingin.


"Diam!" kata Aramis menatap Lion.


Lion tidak memedulikan apa yang dikatakan Aramis, dia kembali menarik Felix dan memukulnya, membuat Felix semakin tidak sanggup bergerak.


"Hentikan!!" seru Aramis menahan Lion yang masih mencoba menghampiri Felix. "BAGAIMANA DENGAN MELO KALAU KAU DI TANGKAP KARENA MEMBUNUHNYA?!!" teriak Aramis sangat kesal.


Lion berhenti, dia terdiam mendengar ucapan Aramis. Lion menahan kepalan tangannya agar tidak melampiaskan amarahnya pada Felix lagi.


Dengan menahan amarahnya Lion membuka pintu kamar Melody dan melihat Melody masih menangis walau Athos terus berusaha menghentikan ketakutannya. Dia kembali menutup pintu dan melihat Felix sesaat setelah itu berjalan menuruni tangga dan keluar dari rumah itu pergi ke suatu tempat.


Athos keluar dari kamar dan melihat Felix yang berusaha bangun dengan susah payah karena sekujur tubuhnya sudah dipenuhi luka setelah menerima lampiasan amarah Lion atas perbuatannya pada Melody.


"Aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum!" ucap Felix. "Aku akan memenjarakan anak itu karena melakukan penganiayaan padaku."


"Jangan bertindak bodoh!" ujar Prothos. "Jika kau berani maka kami juga akan menuntutmu atas percobaan pemerkosaan. Kami mempunyai rekaman CCTV." lanjut Prothos dengan tenang.


"Sebaiknya tidak usah macam-macam dan pergi, tinggalkan negara ini secepat mungkin sebelum aku yang membunuhmu!" ucap Athos.


"CEPAT PERGI SEBELUM KESABARANKU HABIS!!" teriak Aramis yang sebenarnya sejak awal menahan amarahnya pada Felix.


...***...


Ketiga Musketeers dan Anna duduk di meja makan membahas masalah yang terjadi. Mereka merasa khawatir jika Lion akan terkena masalah karena perbuatannya yang menghajar habis-habisan Felix.


"Dua tulang rusuk Felix patah, tapi tidak ada cedera serius lainnya." ujar Anna. "Sepertinya Felix tidak akan berbuat apapun."


"Apa kau yakin?" tanya Athos.


"Ya, dia berencana keluar negeri nanti malam. Sepertinya dia lebih takut pada kemarahan kalian jika masih berada disini." Jawab Anna.


"Berarti Lion tidak akan dalam masalah?" tanya Aramis memastikan lagi.


Anna mengangguk mantap.


"Si berengsek itu, sialan sekali. Arrgghh... aku ingin membunuhnya." ujar Prothos menahan emosinya dengan mengusap wajahnya.


"Kalau saja Lion tidak semarah itu pasti aku sendiri yang menghabisi si berengsek itu." gumam Aramis. "Kalau bertemu dengannya lagi pasti aku tak akan mengampuninya."


"Kalian berdua sudahlah!" seru Athos. "Ini juga kesalahan kita karena tidak lebih cepat pulang saat ayah menelepon." lanjut Athos dengan nada penuh penyesalan.


"Untung saja ada Lion." sambung Prothos.


Melody masih saja menangis di atas tempat tidurnya. Dia tidak memedulikan semua perkataan Tasya yang mencoba menghiburnya dan menenangkannya.


"Melody, semua sudah baik-baik saja. Kau baik-baik saja sekarang. Tidak usah menangis lagi." ucap Tasya mengelus rambut Melody dan memegang tangannya. "Lion sudah menyelamatkanmu, dan tidak terjadi apa-apa padamu."


Melody semakin menangis mendengar Tasya menyebut nama Lion. Melody merasa sangat hancur atas perbuatan Felix. Setiap kali mengingatnya dia menjadi semakin ketakutan dan bersedih. Rasanya dia sudah kehilangan segalanya.


"Sebaiknya kau tidur saja ya, Melody. Pasti saat ini kau sangat lelah." ujar Tasya membantu Melody berbaring. "Kau tidak perlu memikirkannya lagi. Kau sudah aman, ketiga kakakmu juga sudah ada. Kau tidur dulu ya."


"Kak, bilang pada kakakku untuk memperbaiki pintu kamarku, aku takut kalau pintunya tidak bisa di kunci dia akan datang lagi." ucap Melody menatap Tasya.


"Tentu. Kau tidur dulu saja." jawab Tasya.


Tasya menuju ke tempat yang lainnya berada, di meja makan untuk menyampaikan pesan Melody.


"Bagaimana Melo?" tanya Athos.


"Dia sedang tidur sekarang." jawab Tasya. "Dia minta padaku untuk memberitahu kalian agar memperbaiki pintu kamarnya, dia merasa tidak aman dan takut pria jahat itu datang lagi."


"Baiklah, akan aku perbaiki." sahut Prothos.


Tiba-tiba ayah, paman dan kakek datang setelah diberi kabar mengenai apa yang terjadi pada Melody.


"Bagaimana, Melo?" tanya kakek khawatir.


"Dia sedang tidur, kek." jawab Tasya. "Dia sudah lebih baik."


"Untung saja Lion datang tepat waktu." ujar Athos.


Ayah duduk di sofa ruang tamu dengan memegangi kepalanya, merasa putus asa.


"Seharusnya aku tidak meninggalkannya." gumam ayah menyesal.


"Kemana saja kalian? Kenapa kalian tidak cepat-cepat pulang saat tahu Melo di rumah sendiri?" tanya paman Ronald marah.


"Tasya, ayo ke rumahku dulu." ajak Anna langsung merangkul Tasya agar mengikutinya keluar. Anna tahu apa yang akan terjadi setelah itu.


"Anak yang melakukan itu pada Melo adalah musuh kalian 'kan? Astaga, kalian bertiga memang tidak berguna, percuma kalian bertiga seperti sekarang ini. Sudah sering aku mengatakannya kalau adik kalian adalah harta yang paling berharga yang harus kalian jaga!!"


Tanpa pikir panjang lagi paman Ronald mendaratkan tinjunya pada ketiga kembar Musketeers.


Ketiga Musketeers hanya diam saja tak berani menjawab ataupun melawan kemarahan paman mereka. Mereka bertiga juga merasa menyesal saat ini.