MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Petugas 911



Selama dua hari Melody mengurung diri di kamar setelah kejadian itu. Dia sama sekali tidak makan, minum dan hanya berdiam diri di dalam kamar tanpa seorangpun yang boleh masuk ke dalam kamarnya yang terkunci.


Melody tidak ke sekolah, begitu pula dengan ketiga kakaknya yang khawatir padanya sehingga tidak ada yang mau ke sekolah.


Ayah sudah tidak bisa berbuat apapun untuk membuat Melody keluar dari kamar. Hal yang bisa di lakukan ayah hanya menunggu putrinya tersebut hingga merasa lebih baik dan keluar kamar dengan sendirinya.


"Apa yang harus kita lakukan agar Melo keluar dari kamar? Dia belum makan sejak hari minggu kemarin dan sekarang sudah hari selasa. Nanti dia bisa mati." ujar Aramis saat selesai sarapan. "Ayah, lakukan sesuatu?!"


Aramis berjalan mendekati ayah yang sedang membawa piring kotor ke tempat pencuci piring di mana Athos sedang mencucinya.


"Kenapa tidak berbuat sesuatu?" tatap Aramis heran pada ayahnya.


"Ars, diamlah!" seru paman Ronald di ruang tamu sambil memakai sepatu. "Ayahmu pasti juga sedang bingung, jadi jangan membuatnya semakin bingung!!"


"Tapi Melo bisa mati kalau tidak makan!!" seru Aramis. "Dobrak saja pintunya."


"Kita tunggu saja, Melo tidak mungkin mengunci diri di kamar selamanya!" jawab paman Ronald. "Leo, ayo berangkat!"


"Oto, bawakan makanan pada Melo, dan coba terus agar dia membuka pintunya." ujar ayah pada Prothos yang masih duduk di meja makan. "Jika Melo tidak juga membuka pintu saat aku pulang, terpaksa kita dobrak pintunya."


"Jika tahu seperti ini, seharusnya aku tidak langsung memperbaiki pintunya." ujar Prothos berjalan ke dapur. "Ato, mana makanan untuk Melo?"


...***...


Di dalam kamar Melody hanya duduk terdiam di atas tempat tidur sambil memeluk kedua kakinya. Mimi hanya berbaring di sampingnya mencoba membuat majikannya merasa lebih baik namun hal itu tidak berpengaruh pada Melody.


Butiran air mata menetes membasahi pipinya setiap kali mengingat kejadian kemarin. Melody merasakan ketakutan dan ketakutan itu tidak bisa hilang hingga saat ini. Apa yang hendak di lakukan Felix padanya membuat trauma bagi dirinya. Jika saja Lion tidak datang, dia tidak akan tahu apa yang terjadi padanya.


"Melo, buka pintunya, kau harus makan. Kau pasti lapar kan?" ujar Prothos mengetuk pintu kamar Melody. "Cepat buka pintunya, adikku yang cantik!!"


"Melo, jika tidak makan nanti kau bisa mati!!" seru Aramis.


Athos hanya menunggu di belakang kedua kembarannya yang mencoba membujuk Melody membuka pintu. Dia merasa harus berbuat sesuatu agar Melody mau membuka pintu.


Dengan langkah ringan dia masuk ke dalam kamarnya, duduk di kursi meja belajar dan mengeluarkan handphone-nya.


"Kita dobrak saja pintunya sekarang. Aku khawatir dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk membuka pintu." ucap Aramis cemas.


"Kita tunggu ayah saja." jawab Prothos.


"Aku tidak bisa menunggu ayah pulang, dia baru saja berangkat. Bagaimana kalau Melody sudah mati kelaparan di dalam?"


"Bisa tidak kau diam?!" seru Prothos kesal pada Aramis. "Melo, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?" Prothos kembali mengetuk pintu. "Kalau kau terus mengurung diri, kami semua khawatir. Apa yang membuatmu seperti ini? Semua sudah baik-baik saja. Felix dia sudah kami kirim ke neraka jadi kau tidak perlu khawatir. Keluar dan makan!!" seru Prothos kehilangan kesabaran.


Melody menjatuhkan diri ke tempat tidur. Jaket Lion ada di sampingnya, lalu dia mengambilnya untuk menyelimuti dirinya. Air mata kembali mengalir dan semakin deras hingga membuatnya terisak. Melody menganggap kalau dirinya sudah hancur setelah Felix mencoba melakukan hal buruk terhadapnya kemarin.


...***...


Lion beraksi dengan skateboard di papan peluncur bersama teman-temannya. Sepulang sekolah dia berkumpul di taman dimana dia bersama teman-temannya sering berkumpul dan melakukan semua hobinya.


Lion berdiri di atas papan peluncur hendak beraksi dengan skateboard-nya sekali lagi, tiba-tiba handphone miliknya berbunyi. Sebuah pesan singkat yang berasal dari Aramis, dengan pertimbangan dibenaknya dia membuka pesan tersebut.


Apa yang harus aku lakukan? Melo masih tidak mau membuka pintu. Dia bisa mati kalau tidak makan. Aku harus bagaimana?


Lion memasukan kembali handphone-nya ke saku celana panjang yang dikenakannya. Menatap langit sejenak dan setelah itu mengambil napas panjang lalu meluncur dengan skateboard namun terpeleset dan terjatuh.


"Ada apa Lion? Sepertinya keadaanmu tidak terlalu baik?" tanya Ivan.


Lion bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan papan peluncur.


"Sepertinya aku kurang tidur karena bermain game hingga menjelang pagi." jawab Lion. Dia memasang headphone ke telinganya dan setelah itu berbaring di kursi taman yang terbuat dari tiga batang besi. Melindungi matanya menggunakan lengan kiri karena sinar matahari hari ini begitu terik.


Tiba-tiba sekali lagi handphone miliknya berbunyi. Dia tidak langsung mengambilnya karena berpikir kalau itu adalah pesan dari Aramis lagi.


"Lion, handphone-mu terus berbunyi, kenapa tidak di jawab?" seru Ivan menatap Lion. "Kau bersikap aneh hari ini."


Lion bangkit dari tidur dan melepas headphone dari telinganya.


"Siapa yang kau bilang aneh? Hari ini traktir aku ya! Aku belum dapat kiriman uang. Jangan pura-pura tidak dengar kau!!" senyum Lion menatap temannya yang segera duduk disampingnya setelah dia bangun. "Ivan, kau dengar tidak?!"


"Jangan banyak bicara! Jawab saja teleponmu itu!!" ujar Ivan.


Lion segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone-nya. Dia terkejut karena kali ini Athos meneleponnya. Dia terdiam sesaat karena ragu menjawab telepon dari Athos tersebut. Dengan perlahan Lion menekan tombol jawab namun tidak berkata apapun.


"Lion, aku mohon tolonglah Melo." ucap Athos di ujung telepon.


Lion tidak menjawab apapun dan menutup teleponnya. Dia kembali berpikir di dalam benaknya setelah mendengar permohonan Athos. Sejujurnya dia pun menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Melody. Kalau saja dia tidak menghidupkan musik terlalu keras dia akan mendengar kehadiran Felix dengan mobilnya, sehingga bisa dengan cepat dia menghentikan hal buruk yang menimpa Melody itu.


"Ada apa? Dari siapa?" tanya Ivan dengan tatapan aneh karena Lion melamun setelah menjawab telepon. "Kenapa kau terlihat seperti habis mendengar suara hantu?"


Lion menoleh pada Ivan


"Ivan, traktir aku besok saja, sekarang aku harus pergi!!" Lion bangkit berdiri


"Kau mau kemana? Sekarang masih sore."


"Jangan banyak bicara! Traktir saja aku besok!!" seru Lion setelah itu berlari menuju motornya yang terparkir dan langsung melaju cepat meninggalkan taman itu.


"Hey, kau tidak membawa skateboard-mu?" teriak Ivan. "Dasar aneh!!"


...***...


Lion sampai di depan rumahnya, dia menghentikan motor miliknya sebelum masuk ke dalam halaman rumahnya karena Prothos sudah menunggunya di luar rumah. Prothos bersandar di tiang pembatas rumah mereka, untuk membicarakan sesuatu pada Lion.


"Aku mengerti." ucap Lion di balik helm yang di kenakannya sebelum Prothos mengatakan sesuatu padanya. "Sepertinya aku benar-benar menjadi petugas 911." gumam Lion sambil menjalankan motornya masuk ke dalam pagar rumahnya.


...***...


Melody duduk di atas tempat tidur, melamun sambil bersenandung dengan lirih. Air mata masih saja menetes membuat wajahnya sangat sembab karena menangis sejak hari minggu.


Dia menatap Mimi yang tertidur di sampingnya dengan tatapan satu arah. Dia merasakan sakit perut dan kepala yang pusing karena kelaparan namun Melody sama sekali tidak napsu makan. Tak ada yang ingin dilakukannya dan selamanya ingin mengurung diri. Hatinya merasa kelu setiap kali mengingat apa yang hendak dilakukan Felix padanya.


"Es Melon...!!" seru Lion.


Melody terkejut mendengar suara Lion yang memanggilnya. Jantungnya langsung berdegup kencang karena sejak pemuda itu menolongnya Lion tidak pernah berbicara atau memanggilnya. Bisa dibilang kalau itu juga termasuk alasan yang membuat Melody terus mengurung diri di kamar.


"Kau dengar aku tidak, Melon?" seru Lion lagi.


Melody tetap tidak beranjak dari tempat tidur.


"MELON MELON MELON!" teriak Lion sangat keras. "Jadi sekarang kau mengaku kalah ya?" tanya Lion terus mencoba. "Kalau begitu kau harus mengabulkan permintaanku, bagaimana kalau traktir? Ah, kau saja belum mentraktirku satu kali lagi. Baiklah kalau begitu... bagaimana kalau belikan aku kantong Doraemon?! Ya aku tidak peduli pokoknya kau harus membelikan aku kantong Doraemon agar aku bisa menonton pertandingan El Clasico dengan pintu kemana saja milik Doraemon."


"Itu juga tidak termasuk dalam perjanjian, bodoh! Bahkan aku belum kalah, aku tidak menutup tirai jendelaku." ucap Melody pelan, dia yakin kalau Lion tidak bisa mendengarnya.


"Kau bilang apa?" tanya Lion. "Tirai jendela memang tidak kau tutup, tapi kau menutup jendelanya!" ujar Lion. "Kalau kau tidak membuka jendelamu dalam hitungan ketiga maka aku menganggap kau kalah!"


"Aku tidak peduli." bisik Melody.


"Satu... Dua..." Lion mulai berhitung. "TIGA!!" teriak Lion dengan kesal. "Baik kau kalah! Aku akan meminta kantong Doraemon dan kau harus mengabulkannya!!"


Keadaan kembali sunyi. Tidak terdengar suara Lion lagi.


Pasti dia menyerah. ucap Melody dalam hati.