
Akhirnya makan malam di mulai. Namun Ronald dan kakek tidak ikut karena Ronald masih bekerja dan kakek sudah istirahat di kamar setelah mengeluh kurang sehat.
Keadaan cukup terkendali, ketiga Musketeers sudah mulai membiasakan dengan perkataan Niko yang terdengar seperti provokasi untuk membuat mereka marah.
"Ini sangat enak sekali, apa benar kau yang memasaknya Ato?" tanya Niko saat menikmati makanannya.
"Ini hanya segelintir makanan yang bisa Ato masak." jawab Tasya tersenyum dari balik Prothos yang duduk di antara dirinya dan Niko.
"Ty ochen' klassnaya, Ato. (kau benar-benar keren, Ato)." ujar Niko tersenyum pada Athos.
"Eto zvuchit kak nasmeshka dlya menya. (Itu terdengar seperti ejekan bagiku)." jawab Athos tersenyum sarkas.
"Da, ty prav (Ya, kau benar)." ucap Niko.
Athos hanya tersenyum untuk meredam emosinya saat ini.
Sedangkan yang lain tak ada yang mengerti apa yang mereka berdua katakan.
"Sebenarnya kalian semua ini ada apa?" tanya Leo yang sejak awal memperhatikan sikap Niko dan ketiga putranya. "Niko, mereka itu kakak Melody, apa kau paham?"
Niko tersenyum menjawab Leo yang duduk di kursi tunggal yang ada di kiri Niko.
"Maafkan aku." jawab Niko pada Leo. "Tidak ada maksud untuk membuat siapapun marah. Aku hanya ingin akrab saja dengan kalian semua."
Ketiga Musketeers bereaksi tidak setuju dengan jawaban Niko dengan gayanya masing-masing. Mereka bertiga tahu benar kalau Niko hanya memprovokasi mereka agar tersulut emosi.
"Ayah, maafkan Niko." ucap Melody membuat ketiga kakaknya menatap padanya dengan tatapan heran.
Niko tersenyum pada Melody setelah itu kepada ketiga Musketeers yang terlihat semakin tidak suka.
"Sudah sudah, lebih baik sekarang kita meniup lilin untuk ayah." seru Tasya dan setelah itu bangkit berdiri mengambil kue ulang tahun yang dibawanya dan meletakkannya di hadapan Leo.
Anna juga bangkit berdiri mengambil korek api dan menghidupkan api ke lilinnya.
"Ayo kita bernyanyi dulu sebelum meniup lilinnya." ujar Anna.
Mereka semua bernyanyi lagu selamat ulang tahun untuk ayah. Lion yang berada di kamarnya sendiri, mendengar nyanyian mereka walau dengan samar-samar.
Dia pun ikut bernyanyi dengan memakai topi ulang tahun dan di hadapannya terdapat kue ulang tahun dengan ukuran kecil yang dibeli untuk dirinya sendiri.
Dia meniup satu lilin yang ada di atas kue ulang tahunnya setelah lagunya habis.
"Selamat ulang tahun diriku." ucap Lion tersenyum lalu melahap habis kue ulang tahunnya sendiri.
...***...
Aramis masuk ke kamar Lion dengan lima kotak donat yang dibawanya. Dia tercengang melihat kamar Lion yang penuh dengan balon dan hiasan dekorasi ulang tahun. Bahkan terdapat tulisan Happy Birthday Lion yang besar di atas tembok tempat tidurnya.
"Kau terlambat, Ars. Pestanya sudah selesai." ujar Lion yang duduk di meja belajarnya. "Bahkan aku sudah menghabiskan kue ulang tahunku."
"Kau benar-benar sudah gila." komen Aramis masuk mendekati Lion yang masih menggunakan topi ulang tahun berbentuk kerucut.
Lion tersenyum lebar mendengar ucapan Aramis.
"Ambillah, Melo membeli banyak sekali donat." ujar Aramis meletakan lima kotak donat ke meja belajar Lion. "Seharusnya kau datang, kau jadi seperti orang gila merayakan ulang tahun sendirian."
"Aku tidak sendirian. Semua temanku sudah pulang."
"Iya iya." jawab Aramis sambil berjalan keluar kembali dari kamar Lion. "SELAMAT ULANG TAHUN, BODOH."
Lion melihat lima kotak donat yang di bawa Aramis dan membukanya. Semua isinya adalah donat dengan lubang di tengahnya, sesuai dengan yang dia suka.
Lion pun tersenyum melihatnya.
"Selamat ulang tahun, saudaraku." seru Niko yang masuk ke dalam kamar Lion.
"Terimakasih sudah mengundang kami." ujar Ivan yang masuk setelah Niko.
Sepuluh orang teman Lion yang lain juga mengikutinya masuk ke kamarnya.
"Kalian semua kenapa kesini?" tanya Lion kesal. "Aku tidak mengadakan pesta ulang tahun untuk kalian. Pulanglah!! Aku juga masih marah dengan kalian semua." tambah Lion pada Ivan dan teman-temannya yang lain.
Mereka semua tidak mendengarkan Lion dan malah memutar conventi ke arahnya hingga kerlap-kerlip kertas dari conventi bertaburan ke Lion.
"Aku pasti akan membunuh kalian satu per satu." seru Lion.
...***...
Melody yang berada di kamarnya melihat ke arah kamar Lion melalui jendela kamarnya. Saat ini di kamar Lion terdengar suara yang sangat ramai karena Lion sedang bersama teman-temannya.
Melody duduk di meja belajarnya hendak membuka handphone-nya namun tiba-tiba ketiga kakaknya membuka pintu kamarnya.
Ketiga Musketeers berdiri menatap Melody di depan pintu. Melody tahu apa yang akan mereka katakan padanya, namun gadis itu terlihat tidak tertarik dengan mengalihkan pandangannya ke arah handphone-nya ketika ketiga kakaknya masuk.
"Melo, sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Prothos.
Melody tidak menggubrisnya.
"Kenapa kau membela Niko? Kau minta maaf untuknya?" tanya Aramis sangat kesal. "Apa yang dilakukan si tengik itu padamu sampai kau terus bersikap baik padanya hanya dalam sekejap?"
Prothos menarik Aramis karena Aramis terlihat sangat kesal pada adiknya saat ini.
"Melo, katakan sesuatu." ucap Prothos.
"Apa kau marah pada kami?" tanya Athos.
Melody akhirnya menoleh pada mereka bertiga dan menatap dengan tajam ketiga kakaknya.
"Aku hanya melakukan apa yang kalian inginkan." jawab Melody. "Kalian setuju kan kalau Niko mendekatiku? Ya, karena itu aku akan membiarkan dia mendekatiku. Aku juga akan membelanya meski kalian tidak suka." jawab Melody dengan dingin.
"MELO!!" teriak Aramis dan Prothos menahannya agar diam.
"Kenapa kak?" tanya Melody menatap tajam Aramis. "Sekarang aku ingin tahu apa maksud perkataan Niko tadi? Kau berhutang apa padanya?"
Melody menatap Aramis sangat dingin dan tajam. Dia sangat ingin tahu hal apa yang mereka bertiga sembunyikan pada dirinya.
"Sudahlah, ayo keluar!" seru Athos langsung keluar dari kamar Melody.
Prothos menarik Aramis agar mengikutinya keluar juga, lalu menutup pintu kamar Melody.
Melody duduk kembali dengan menghela napas untuk membuang rasa kesalnya. Dia melihat kembali handphone-nya dan membuka akun sosial media miliknya.
Dia melihat beberapa jam yang lalu Lion mengunggah sebuah foto balon berwarna putih di akunnya tanpa caption, seperti biasanya. Lalu melihat unggahan Niko, sebuah foto dirinya bersama Lion saat merayakan ulang tahun temannya itu di kamar Lion barusan, dengan caption S dnom rozhdeniya, lev.
Melody mencari artinya, Selamat ulang tahun, Singa.
Gadis itu kembali melihat foto yang diunggah Niko dan menatap Lion yang dirangkul oleh Niko sedangkan teman-temannya berada di sekelilingnya. Mereka ada di atas tempat tidurnya dengan tulisan Happy Birthday, Lion tertempel di tembok belakangnya.
Lion tersenyum lebar di foto tersebut.
"Selamat ulang tahun, Lion." ucap Melody.
...***...
Lion berbaring di tempat tidurnya ketika semua teman-temannya sudah pulang. Dia membuka akun sosial medianya karena banyak sekali notifikasi di akunnya tersebut.
Namun dirinya langsung terfokus pada sebuah unggahan di beranda akunnya. Foto itu baru diunggah lima menit yang lalu.
Sebuah foto dengan gambar donat bertumpuk tiga dengan sebuah caption Selamat ulang tahun ayah dan sebuah sticker berbentuk kepala singa 🦁 ada di atas foto donat tersebut. Melody yang mengunggahnya.
Lion mengerti maksud Melody. Walaupun ayah Melody bernama Leo yang juga berarti singa, namun foto donat tersebut pasti ditujukan untuknya.
Lion tertegun melihatnya namun tiba-tiba handphone-nya jatuh menimpa wajahnya hingga dia meringis kesakitan.
"Aw, sakit sekali." ringis Lion yang langsung duduk sambil mengusap hidungnya yang tertimpa handphone.
Lion langsung menoleh ke arah tirai yang tertutup dengan sebuah senyum yang mengembang. Walau tidak langsung, dia tetap senang menerima ucapan selamat ulang tahun dari Melody.
...----------------...
Lionel Fleecysmith
Visual Model :
V BTS A. K. A Kim Tae-Hyung