MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Ketua Osis Baru



Prothos kembali dari lari paginya. Dia terkejut dan heran karena Athos sudah kembali seperti biasanya. Athos sudah berada di dapur untuk membuat sarapan.


"Minumlah susumu." seru Athos pada Prothos yang berdiri melihatnya aneh.


Prothos tertawa melihat kembarannya, dan segera duduk lalu meminum susu yang diletakkan Athos di meja makan.


"Untunglah kau sudah sadar Ato, aku bosan setiap pagi mendengar ayah marah-marah." ucap Prothos pada Athos yang membawa semangkuk besar makanan untuk sarapan keluarganya. "Kau baik-baik saja kan?"


"Ya, aku rasa begitu." jawab Athos melepas apron dan mencuci tangannya lalu duduk dihadapan Prothos. "Kemarin aku hanya menghukum diriku karena kurang bersungguh-sungguh."


"Pada apa?" tatap Prothos. "Tasya?"


"Semuanya." jawab Athos setelah itu menenggak susu dihadapannya. "Kau tahu kan, sejak aku bersama Tasya semua yang aku lakukan hanya demi dirinya."


Prothos tertawa mendengarnya karena tidak percaya saudara kembarnya yang kaku berbicara seperti itu dengan entengnya.


"Jangan tertawakan aku!! Aku tidak bercanda." seru Athos. "Aku sudah memikirkannya, dan aku rasa aku bisa mengatasinya."


"Ya, aku percaya padamu." ucap Prothos. "Dan katakanlah semuanya sekarang Ato, apa yang sedang kau rencanakan?"


...***...


Hari pemilihan ketua osis tiba. Tak ada pelajaran di hari ini. Semua murid diminta untuk memilih ketua OSIS yang baru. sebelumnya para kandidat yang terdiri dari tiga orang mengutarakan visi dan misinya di aula.


Kandidat tersebut adalah Anna, Felix dan Donny yang semuanya ada di kelas sebelas.


"Aku rasa sudah terlihat siapa pemenangnya." ucap Felix pada kedua kompetitor-nya.


"Sebaiknya kita lihat saja dan jangan banyak bicara." bisik Anna pada Felix.


Semua murid berbaris untuk memilih kandidat yang ada. Setelah pemilihan selesai, Athos memberikan kata sambutannya untuk terakhir kalinya sebagai ketua OSIS, sambil menunggu penghitungan suara.


"Saya rasa cukup sekian, semoga ketua osis selanjutnya bisa menjadi contoh bagi kita semua. Terimakasih." ujar Athos menutup kata sambutannya.


Banyak murid wanita yang tidak rela kalau ketua OSIS mereka harus ganti. Bahkan beberapa ada yang sampai menangis mendengar kata sambutan Athos untuk yang terakhir sebagai ketua OSIS.


Penghitungan suara sudah sampai tahap akhir, dan sudah mendapatkan nama ketua OSIS selanjutnya.


Widia sebagai guru penanggungjawab pemilihan OSIS tahun ini naik ke podium untuk mengumumkan hasil akhirnya.


Dari atas podium dia bisa melihat semua murid. Matanya berhenti pada Prothos yang berdiri di barisan paling belakang. Tanpa diduga olehnya Prothos mengedipkan sebelah matanya pada Widia.


"Astaga, anak itu keterlaluan." gumam Widia menjauhkan microphone-nya.


Prothos yang melihat Widia mengoceh tersenyum puas setelah menggoda gurunya.


"Baiklah, kita sudah punya nama siapa kandidat ketua OSIS selanjutnya." ujar Widia. "Ketua osis angkatan ke 41 adalah Anna Andromeda."


Anna meloncati girang dan meledek Felix dengan senang. Membuat Felix menjadi sangat kesal.


Anna maju ke podium untuk menerima tongkat kepemimpinan sebagai ketua OSIS baru. Athos menyerahkan tongkatnya dan memberi selamat pada Anna.


Anna langsung memeluk Athos tanpa berpikir dan membuat sorakan para wanita yang iri padanya.


"Gadis itu benar-benar tidak tahu situasi." gumam Aramis melihat kelakuan Anna.


Untuk pertama kalinya Anna memberi kata sambutan sebagai ketua OSIS yang baru. Dengan senang dia naik ke podium.


"Aku tidak akan panjang lebar seperti ketua osis sebelumnya. Aku hanya mau bilang, mari kita belajar dan bersenang-senang di sekolah. Tinggalkan suasana sekolah yang kaku dan membosankan yang sudah diciptakan ketua OSIS sebelumnya."


Semua murid pria yang mendengarnya bersorak-sorai mendengar kata sambutan Anna. Sejak kehadirannya, Anna sudah menjadi salah satu idola bagi murid pria dan setengah murid wanita karena sifatnya.


Athos hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar dirinya disindir-sindir.


Felix sangat marah atas kekalahannya.


...***...


Sekolah dipulangkan lebih cepat hari ini. Mereka semua segera pulang ke rumah untuk merayakan kemenangan Anna sebagai ketua OSIS yang baru.


Melody, Lion, Anna dan ketiga Musketeers berkumpul di meja makan seperti biasanya.


"Kalian lihat ekspresi Felix?" tanya Anna yang duduk di antara Melody dan Aramis. "Dia benar-benar marah sampai kepalanya keluar asap. Kalian tahu tidak? Sebelum pemilihan dia sesumbar kalau dia yang akan menang."


"Itu tidak heran." jawab Prothos yang duduk dihadapan Anna, dan sebelah kirinya Lion. "Dia pasti sangat yakin kalau dia akan menang."


"Kita bisa tenang sekarang." ucap Prothos.


"Sepertinya aku telat." ujar Tasya yang datang dengan sekotak pizza. "Ini untuk perayaan kemenangan Anna. Selamat ya Anna."


Anna mengangguk sambil menyuruh Tasya duduk dengan tangannya karena mulutnya sedang di penuhi makanan.


Tasya tersenyum pada Athos dan memegang lengan kekasihnya itu sebelum duduk di kursi kosong di dekat Athos.


"Padahal aku berharap kau membawa donat." gumam Lion melirik Tasya.


"Ini perayaan untukku jadi memang seharusnya pizza, karena ini kesukaanku." jawab Anna pada Lion.


Tasya menggenggam tangan kiri Athos tanpa siapapun melihat. Dia sangat merindukan Athos saat ini. Athos hanya tersenyum pada kekasihnya itu.


...***...


Aramis mengikuti Anna kembali ke rumah Anna. Anna masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Aramis hanya menunggunya di luar kamar.


"Aku akan ikut ayah melihat pameran lukisan temannya." ucap Aramis bersandar di samping pintu kamar Anna. "Aku akan disana sampai hari minggu."


"Kau sudah bilang berkali-kali sejak kemarin padaku." jawab Anna dari dalam kamar.


"Kalau ada apa-apa hubungi aku ya." ujar Aramis.


Anna membuka pintu kamarnya dan keluar, berjalan hendak menuruni tangga, namun menoleh pada Aramis sebelumnya.


"Kau menganggapku anak kecil? Aku sudah terbiasa mandiri selama ini." kata Anna setelah itu kembali melangkah dan menuruni tangga.


Namun tiba-tiba langkahnya goyah dan hampir saja terjatuh sebelum Aramis menggapai tubuhnya dari belakang, dan membalikkan tubuh Anna. Aramis melihat darah keluar dari hidung Anna.


"Aku baik-baik saja." ucap Anna pada Aramis.


Aramis membawa Anna ke kamarnya dan segera mengambil tisu yang berada di meja dengan sangat cemas.


"Aku tahu kau tidak baik-baik saja." kata Aramis sambil menghapus darah yang keluar dari hidung Anna. "Ayo kita ke rumah sakit, kau harus diperiksa."


Anna mengambil tisu dari Aramis dan membersihkannya sendiri.


"Kau harus ikut ayahmu."


"Semakin hari kau semakin terlihat kurus, wajahmu juga pucat."


"Ars, kau harus ikut ayahmu."


"Aku akan bersiap-siap ke rumah sakit." Aramis bangkit berdiri dan berbalik.


"Ikutlah dengan ayahmu."


"AKU AKAN MENEMANIMU!!" teriak Aramis menoleh kesal pada Anna. "Kau harus segera diperiksa."


Anna tersenyum agar Aramis tidak mengkhawatirkan dirinya lagi dan mau pergi bersama ayahnya. Meyakinkan pria itu kalau dia benar baik-baik saja.


"Aku akan berhenti diet, dan makan yang banyak biar ini tidak terjadi lagi." seru Anna menatap Aramis yang hanya menoleh padanya. "Kau bisa pergi. Aku akan menghubungimu kalau ini terjadi lagi."


Aramis berbalik dan menatap Anna dengan kesal.


"Aku akan menghubungimu setiap waktu. Kau harus menjawabnya!!"


Anna mengangguk.


"Saat turun dan naik tangga berpeganganlah!!"


Sekali lagi Anna mengangguk.


"Kau harus makan tepat waktu!!"


Anna mengangguk sekali lagi.


Aramis menatap Anna sesaat untuk memastikan Anna baik-baik saja. Setelah itu keluar kamar meninggalkan Anna yang tersenyum melihat kekhawatiran Aramis pada dirinya.


"AWAS SAJA KALAU TERJADI APA-APA LAGI PADAMU!!" teriak Aramis sambil berjalan keluar rumah Anna.


Anna menjatuhkan dirinya ke tempat tidur dan mengangkat tangan kanannya. Memandang tangannya yang dia coba genggang.