MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Hasil Ujian



Athos duduk di antara kedua kembarannya. Prothos di sebelah kanan dan Aramis di sebelah kiri. Di hadapan mereka juga duduk tiga orang pria untuk di interview.


"Semua tentang perjanjian dan tata tertib ada disini. Kalian bisa membacanya." ucap Athos memberikan beberapa kertas ke masing-masing orang. "Untuk sementara kalian akan disini dulu untuk training, dan sebulan lagi baru akan pindah ke cabang baru. Tapi tidak perlu khawatir, disini sangat fleksibel, jika kalian lebih suka disini maka sewaktu-waktu akan kita rolling dengan yang lainnya."


"Kalian santai saja disini. Jangan anggap kami atasan atau rekan kerja. Anggap saja kami teman kalian." tambah Prothos. "Kapanpun kalian bebas menghubungi kami, bahkan hubungi kami ketika bukan masalah kerjaan tidak masalah."


"Baiklah kalau begitu." jawab salah seorang dari ketiga pria, pria itu duduk di hadapan Aramis yang lebih sibuk dengan handphone-nya. "Karena kita teman, apa aku boleh bertanya?"


"Ya, tanya apa saja. Namamu Wisnu ya?" ujar Prothos.


"Kalian masih sekolah? Apa kalian sekolah di SMA Sansekerta?" tanya salah seorang yang bernama Wisnu.


"Benar, kami sekolah disana." jawab Athos. "Wisnu kau kuliah jurusan Kimia?"


"Ya, saat ini di tingkat dua." ucap Wisnu.


"Sudahlah, ini kaku sekali." seru Aramis yang akhirnya berbicara. "Kalian disini bukan untuk bekerja, tapi untuk isi waktu luang. Jangan terlalu kaku ya. Kau Wisnu, Angga, dan Dimas. Santai saja!!"


"Iya, itu benar. Kalian santai saja." tambah Prothos.


"Baiklah, aku rasa sudah cukup. Besok datanglah kesini jam tiga sore dan mulai training. Atau kalian mau mulai hari ini juga tidak masalah." ucap Athos sambil beranjak dari tempatnya di ikuti Aramis.


Kedua pria yang ikut interview yang bernama Angga dan Dimas juga beranjak pergi namun tidak dengan Wisnu.


"Tunggu dulu, Prothos!!" seru Wisnu ketika Prothos hendak pergi.


"Oto saja jangan Prothos." jawab Prothos berbalik.


"Apa kau tidak ingat aku? Tadi kau melihatku saat di depan apartemen Dandelion." ujar Wisnu.


Prothos mengingat-ingat, namun dia sama sekali tidak ingat, karena pikirannya kacau ketika keluar dari apartemen Widia.


"Ya, pasti tidak ingat." ujar Wisnu. "Kakakku tinggal di apartemen itu, dan dia juga salah satu guru di sekolahmu."


Prothos terkejut mendengar ucapan Wisnu karena ternyata Wisnu adalah adik Widia. Namun Prothos mencoba menahan rasa kagetnya dan memasang wajah biasa.


"Kakakku namanya Widia." ucap Wisnu. "Kalau boleh tahu, kau menemui siapa disana?"


"Teman. Temanku juga tinggal disana." senyum Prothos.


"Benar-benar sebuah kebetulan ya."


"Sangat kebetulan." gumam Prothos.


Prothos masuk ke ruang ganti untuk mengganti seragam café dengan pikiran yang makin kacau setelah tahu Wisnu adalah adik Widia.


"Ini benar-benar gawat." ucap Prothos.


"Apa yang gawat?" tanya Athos yang sudah berganti pakaian bersama Aramis.


"Ah, tidak ada." jawab Prothos.


"Kau tadi menemui pacarmu kan, Oto?" tanya Aramis. "Kenapa sekarang kau menyembunyikannya dari kami? Apa dia wanita yang di mall waktu itu?"


"Urus saja urusanmu!!"


"Kau aneh sekarang." gumam Aramis.


"Aku akan merekrut beberapa orang lagi. Sandy akan mulai berkurang bekerja di café."


"Ada apa?" tanya Prothos.


"Aku dan dia membuat project baru, dan ini masih rahasia." jawab Athos.


"Sudahku bilang jangan rahasiakan apapun padaku." seru Prothos.


"Aku akan bilang kalau kau juga memperkenalkan pacarmu pada kami." senyum Athos setelah itu keluar.


"Aku tidak punya pacar!!" seru Prothos.


"Siapapun tidak akan percaya." ucap Aramis dengan senyum meledek.


...***...


Jam tujuh pagi, Tasya keluar kamarnya setelah berganti pakaian dan berdandan rapi. Dia hendak pergi menemui Athos ke rumahnya.


"Setiap pagi kau selalu pergi, Tasya. Kau mau kemana?" tanya ibunya yang melihat Tasya keluar kamar. "Nanti malam ada makan malam bersama keluarga tunanganmu."


"Mama, sudah aku bilang... aku tidak mau menikah dengan Dion. Aku akan menikah dengan pria yang aku cintai." jawab Tasya menatap ibunya yang heran.


"Suruh saja papa yang menikah dengan Dion!!" seru Tasya setelah itu pergi.


...***...


Hasil ujian sudah keluar kemarin. Dan hari ini adalah hari yang cukup menggembirakan bagi semua orang. Karena semua berjalan dengan baik.


Di ruang TV Aramis, Lion dan Anna sedang berkumpul untuk membahas liburan yang mereka rencanakan.


"Lihat ini uang hasil penjualan tiket kemarin. Ini juga sudah dikurangi dengan biaya sewa semuanya." Seru Anna menunjukan handphone-nya pada Aramis dan Lion yang duduk di karpet bawah sedangkan dia sedang berbaring di sofa panjang sambil mengemut lolipop di mulutnya. "Seharusnya kita merencanakannya jauh-jauh hari, pasti akan lebih banyak yang menonton, dan kita akan untung besar."


"Aku rasa itu sudah cukup." ujar Lion yang sedang bermain video game dengan Aramis. Lion juga sedang mengemut permen lolipop.


"Kalau untuk perjalanan satu hari mungkin cukup, tapi sepertinya akan seru jika menginap, dan lagi besok sudah hari jumat dan senin sudah mulai sekolah lagi." ujar Anna sedikit tidak jelas karena di mulutnya ada permen lolipop. "Villa atau penginapan pasti sudah penuh."


Aramis mengambil permen lolipop dari mulut Anna dan memasukan ke mulutnya. Anna menahan marahnya karena saat ini dia sedang merasa malas meladeni Aramis setelah sahabatnya itu merebut ciuman pertamanya, kemarin.


"Paman..." panggil Aramis pada paman Ronald yang duduk di meja makan sedang sarapan.


"Hhmm..." jawab Paman Ronald sambil mengunyah sarapannya.


"Pinjami kami Villa mu, bagaimana? Villa itu juga sudah lama tidak dikunjungi kan?" ujar Aramis.


"Kalian mau berlibur kesana?" tanya paman Ronald. "Ok, baiklah... aku akan ikut juga."


"Yosh, kita jadi berlibur." seru Lion senang. "Melon, kau ikut kan?" tanya Lion pada Melody yang menuruni tangga.


"Kau harus ikut, Melo. Kita akan berlibur besok." tambah Anna duduk.


"Tidak, aku di rumah saja." jawab Melody duduk di meja makan bersama paman Ronald.


"Kau tidak asyik, Melon." gumam Lion.


...***...


"Ato, kau sudah lihat hasil ujian Anna?" tanya Prothos yang masuk ke kamar Athos.


"Urus saja hasil ujianmu. Bagaimana, apa nilaimu turun?" tanya Athos yang duduk di meja belajar dengan tumpukan kertas.


"Setidaknya aku masih di posisi tiga puluh besar." jawab Prothos. "Peringkat 28."


Athos tertawa mendengarnya.


"Jangan menertawaiku!! Tertawa saja pada si bodoh Ars, dia merasa bangga karena di peringkat 77. Menurutnya angka itu bagus."


"Setidaknya aku naik peringkat." ujar Aramis yang masuk ke kamar Athos juga.


"Hanya naik satu peringkat apa hebatnya? peringkat 77 dari 93 siswa... menggelikan. " ejek Prothos.


"Besok kita berlibur, kalian ikut kan?" tanya Aramis sambil rebahan di tempat tidur Athos dimana Prothos duduk disisinya.


"Aku tidak ikut." jawab Prothos.


"Bagaimana denganmu, Ato?"


"Akan aku pikirkan." ucap Athos menjawab Aramis.


"Ajak Tasya juga kalau kau ikut. Paman Ron bersama kita, kita akan menginap di Villa-nya."


"Oke." jawab Athos.


"Argh, aku kesini mau mengatakan hal yang penting malah disela dengan pembahasan lain." gumam Prothos.


"Kau ingin bicara apa, sayangku?" ujar Aramis memeluk kembarannya itu dari belakang.


"Singkirkan tanganmu, bodoh!!" seru Prothos. "Kalian tahu, Anna peringkat berapa?"


"Siapa yang peduli pada peringkat gadis urakan itu." gumam Aramis.


"Tidak mungkin, bahkan total nilainya hanya terpaut enam angka dari nilaiku." ujar Athos yang melihat ke layar laptopnya.


"Apa maksudnya?" tanya Aramis bangun.


"Dia peringkat pertama di kelas sebelas." jawab Prothos.


"Jangan bercanda!! Benarkah?" tatap Aramis tidak menyangka.