
Niko mengajak Melody ke sebuah tempat di rumahnya. Melody sangat terkejut ketika melihat sebuah kolam renang indoor berada di dalam rumah Niko. Mereka berdua berdiri di pinggir kolam dengan jarak yang jauh dari kolam renang tersebut.
"Ini tempat favoritku." ujar Niko.
Melody menatapnya karena dia merasa sangat aneh dengan ucapan Niko. Dia tidak bisa berenang tapi menjadikan kolam renang ini tempat favoritnya. Hal itu terdengar amat sangat lucu sekarang.
"Pasti kau berpikir aneh kan?" tatap Niko. "Mungkin karena aku sangat ingin bisa berenang makanya aku sering ke tempat ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa berenang."
Melody memperhatikan ekspresi Niko yang terlihat serius mengatakan hal tersebut. Tapi entah kenapa Melody masih tidak yakin dengan ucapannya dan menganggap Niko berbohong.
"Kau tahu ukuran kolam ini panjangnya 50 meter dan lebarnya 25 meter. Kedalamannya 2 meter. Kau harus hati-hati dan jangan sampai tercebur karena aku tidak bisa menolongmu." ucap Niko. "Kau bisa berenang kan?"
Melody menggeleng.
"Ini sangat aneh, ketiga kakakmu bisa melakukan banyak hal. Bahkan Athos sangat mahir berenang, lalu kenapa kau tidak bisa berenang? Mereka tidak mengajarimu?"
"Mereka selalu melakukan semuanya untukku, Jadi banyak hal yang aku tidak bisa." jawab Melody. "Niko, aku haus. Bisakah ambilkan minuman? Aku akan menunggu disini saja."
"Baiklah." jawab Niko. "Tapi jangan dekat-dekat ke kolam ya!!" seru Niko memperingati Melody.
Melody mengangguk.
Niko segera berbalik dan berjalan menuju pintu keluar namun sebelum dia keluar dari ambang pintu, dia mendengar suara sesuatu tercebur. Dengan segera dia menoleh dan melihat Melody berada di dalam kolam renang.
Spontan Niko berlari dan menceburkan dirinya ke kolam tersebut. Namun siapa sangka, dugaan Melody benar, Niko bisa berenang. Pemuda itu menyelamatkan Melody, dan membawanya keluar dari kolam renang dengan sangat cepat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Niko masih panik.
Melody mengangguk.
"Bagaimana kalau kau-"
Perkataan Niko terhenti dan dia sadar kalau Melody sedang mengetesnya. Dia langsung berdiri dengan kesal.
"Bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa berenang?" Niko terlihat sangat emosional.
Dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya karena tidak percaya dengan yang dilakukan Melody untuk membuktikan kalau dia bisa berenang.
"Kalian bertiga memiliki adik yang sama nekatnya." gumam Niko masih kesal.
Niko menatap Melody yang bangkit berdiri dengan pakaian yang basah.
"Aku tidak heran kenapa kau senekat itu." ujar Niko masih sangat kesal.
Melody menahan senyumnya mendengar Niko yang sangat kesal padanya. Gadis itu sangat yakin kalau sebenarnya Niko berbohong saat bilang tidak bisa berenang. Dan usahanya untuk membuktikannya tidak sia-sia.
"Jangan melakukannya lagi, kau mengerti?!" seru Niko dengan tatapan tajam.
Melody mengangguk saja.
"Pakaianku basah, bagaimana sekarang?" tanya Melody.
Niko menyuruh Melody untuk menunggunya di bawah tangga, dan dia naik ke lantai dua, mengambil pakaian milik Nausha untuk dipakai Melody dari kamar kakaknya itu.
"Gantilah pakai ini. Aku rasa ukuran kalian tidak berbeda jauh." Ujar Niko memberikan sesetel pakaian pada Melody. "Disana ada toilet, gantilah disana. Aku juga harus mengganti pakaianku."
Melody mengikuti instruksi Niko. Dia berjalan ke arah toilet yang ditunjuk Niko namun sebelum masuk gadis itu berbalik dan memperhatikan Niko yang berjalan ke lantai dua lalu masuk ke dalam ruangan yang pastinya adalah kamarnya.
Melody menunggu sejenak sambil melihat ke sekitar jika tidak ada asisten rumah tangga yang memperhatikannya. Setelah itu dia berjalan perlahan ke arah ruangan yang adalah kamar Niko.
Gadis itu berdiri di depan pintu kamar Niko, namun dia berhenti sesaat sambil mencoba berhitung dalam hatinya. Dan dengan perkiraan waktu yang dirasanya cukup, Melody membuka pintu kamar Niko yang untungnya tidak di kunci.
Melody melihat sebuah tato yang sangat besar di punggung kekar Niko, tato tersebut sebuah huruf X. Namun yang membuat Melody terkejut ketika dia mengalihkan perhatian ke tangan kiri Niko. Gadis itu sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat Niko yang hendak memakai baju, dan masih bertelanjang dada. Di sekujur tangan kiri Niko terdapat bekas luka bakar yang terlihat sudah sembuh namun mengalami perubahan bentuk di kulitnya. Siapapun tahu kalau itu adalah bekas luka bakar. Luka tersebut dari pundak kiri sampai di punggung telapak tangannya.
Niko melihat kehadiran Melody dengan segera dia memakai kaos lengan panjangnya dan berjalan ke arah Melody yang berada di luar pintu kamarnya.
Pemuda itu menarik Melody masuk dan memojokkannya ke pintu yang sudah ditutupnya. Lalu menatapnya sangat tajam dengan sangat dekat ke gadis itu.
"Ternyata kau memang benar adik mereka." ucap Niko kesal menatap Melody.
Tangan kanan Niko memegang pundak kiri Melody, sedangkan tangan kiri Niko yang belum memakai sarung tangan memegang pintu tepat di samping wajah sebelah kanan Melody.
"Ada apa dengan tanganmu?" tanya Melody masih saja penasaran padahal seharusnya di posisinya saat ini dia merasa takut sekarang.
Niko tertawa dengan sikap berani Melody. Padahal awalnya Melody ketakutan dengannya tapi sekarang gadis itu sama sekali tidak menunjukan rasa takut walau sudah berada di posisi terpojok dan ada di dalam kamarnya.
Niko mencoba mendekati wajahnya ke Melody untuk mencium gadis itu.
"Aku rasa seharusnya kau tidak mencoba melakukannya padaku." ucap Melody menghentikan niat Niko.
Niko kembali menatap gadis itu dengan dingin. Saat ini tatapannya terlihat benar-benar seperti vampir.
"Apa sekarang aku tidak menakutkan buatmu?"
"Kau mendekatiku bukan buat menakutiku 'kan?" ucap Melody tidak kalah dinginnya. "Jawab saja sebenarnya ada apa dengan tanganmu?"
Niko tersenyum namun kembali menatap Melody dingin. Mereka berdua sempat saling menatap dingin untuk beberapa saat.
Melody berpikir kalau saat ini Niko berusaha mencari jawaban yang bukan sebenarnya. Pasti dia tidak akan berkata hal yang sebenarnya.
"Sudah aku bilang kalau aku ini vampir."
"Jangan bercanda!" seru Melody kesal karena tebakannya tepat sekali.
"Ini terjadi karena terbakar matahari yang membuatnya menjadi seperti ini." tatap Niko. "Makanya aku bilang padamu tadi aku tidak suka berkeliaran di luar."
Sejenak Niko terdiam mencari jawaban lainnya ataupun mencari hal lainnya untuk menghindar dari paksaan Melody untuk menjawab pertanyaannya. Dari tatapan gadis itu terlihat desakan agar Niko mengatakan hal yang sebenarnya yang terjadi pada tangan kirinya itu.
"Dengar, saat ini aku jadi haus, kalau begitu aku akan menghisap darahmu."
Dengan segera Niko mendekati wajahnya ke leher Melody namun Melody masih tak gentar dan tak bergeming sedikitpun sehingga pemuda itu berhenti.
Tangan Niko meraih kenop pintu dan segera membuka pintu kamarnya.
"Keluarlah, kau basah kuyup. Nanti kau bisa sakit. Cepat ganti pakaianmu!" ujar Niko mendorong Melody keluar dari kamarnya.
Niko menjadi kesal dengan apa yang terjadi. Dia menendang lemari pakaiannya sangat keras hingga terdengar suara keras. Lalu menggeram kesal dan duduk di sisi tempat tidurnya memegangi kepala yang tertunduk dengan kedua tangannya.
"Gadis itu benar-benar membuatku gila sekarang." gumam Niko.
Niko melihat punggung telapak tangannya yang tidak memakai sarung tangan. Bekas luka bakar di tangan itu terlihat dan itu membuatnya menjadi kesal kembali. Dia kesal dengan kondisi dirinya saat ini. Bahkan dia mulai teringat kembali kejadian itu. Kejadian dua tahun lalu.
Kejadian yang membuat dirinya menjadi cacat.
...----------------...
Niko
Visual Model :
Vernon Seventeen