
Ketiga Musketeers mengobrol di meja makan membahas masalah yang terjadi pada adik mereka. Mereka tidak bisa berbuat apapun saat ini.
"Ato, pikiran sesuatu, aku tidak rela membiarkan Niko mendekati Melo." tatap Aramis dengan tatapan tajam ke Athos yang duduk di hadapannya.
"Kita tidak bisa menarik kata-kata kita saat ini. Jika tahu akan begini aku tidak akan menantangnya waktu itu." ucap Prothos yang duduk di kursi sebelah kanan Athos.
"Sepertinya kita tidak bisa melakukan apapun lagi." jawab Athos.
"Kenapa kau menyerah begitu?!" Dengan kesal Aramis menarik kerah baju Athos karena kesal dengan jawabannya.
"Tenanglah Ars, sebenarnya ini juga tidak terlalu buruk." ujar Prothos.
"Apa maksudmu ini tidak terlalu buruk? Ini masalah terburuk yang aku hadapi selama aku hidup!!" seru Aramis melepaskan cengkramannya dari Athos.
"Kecilkan suaramu, bodoh!!" tatap kesal Athos.
"Seperti kata Lion, biar Melody sendiri yang memutuskan." ucap Prothos. "Tugas kita memastikan Niko tidak macam-macam pada Melo. Aku yakin, Lion pasti juga sudah memperingatkannya tentang hal itu."
"Si bodoh itu bisa apa? Kalau dia sudah memperingatkannya tidak mungkin Melo sampai ketakutan seperti sekarang setelah bertemu Niko." pekik Aramis sangat kesal.
...***...
Lion memasuki sebuah taman yang berada di dalam rumah yang ukurannya sangat besar ketika lewat jam satu malam. Dia mendekati seseorang yang sedang berdiri di hadapan sebuah kandang besar yang di dalamnya terdapat salah satu binatang buas, seekor macan kumbang berwarna hitam.
Orang itu berpakaian serba hitam panjang dengan tangan kiri yang memakai sarung tangan kulit yang juga berwarna hitam. Dia sedang memasukan daging besar ke kandang hewan tersebut dengan santainya.
"Dia akan gemuk kalau kau memberinya makan tengah malam." seru Lion yang berjalan mendekati orang tersebut. "Siapapun akan mengira kau memang seorang vampir saat melihatmu malam-malam begini."
"Sudah jam segini kau masih keluyuran, Lion." ujar Niko yang menoleh pada kehadiran Lion. "Apa hidupmu sesantai itu sampai-sampai tidak ingin terbuang untuk sekedar tidur?"
Niko memakaikan rantai dan mengeluarkan macan kumbang tersebut dari kandang setelah memakan habis makanannya. Hewan itu mengaum pada Lion.
"Ya ampun, kau membuatku takut." seru Lion pada macan kumbang walau sedikitpun dia tidak bergeming dari tempatnya.
"Pokhozhe, ty yemu ne nravish'sya (Sepertinya dia tidak suka denganmu)." ucap Niko. "Dia terganggu dengan kehadiranmu yang datang ke kandangnya." lanjut Niko menarik hewan peliharaannya yang mendekati Lion.
"Sadit'sya!! (Duduk!!)." seru Lion berjongkok dan macan kumbang tersebut menuruti. "Eto mozhet byt' tvoya kletka, no eto moi dzhungli. Ty ponimayesh'? (Ini mungkin kandangmu, tapi itu rimbaku. Kau mengerti?)" Lion berbicara pada peliharaan Niko.
Niko tertawa mendengarnya karena dia tahu maksud dari kata-kata Lion adalah peringatan untuknya.
"Kau melatihnya dengan bahasa Rusia, kau kira aku tidak tahu." senyum Lion menatap Niko.
"Ada apa denganmu? Mereka benar-benar menghajarmu rupanya." tatap Niko dengan tawa. "Semua orang membicarakan kau yang dihajar habis-habisan oleh mereka."
"Memangnya karena siapa aku sampai begini?" gumam Lion sambil bangkit berdiri.
Niko memasukan kembali peliharaannya ke kandang.
"Kau datang kesini bukan karena ingin menarik ucapanmu kan?" tanya Niko setelah itu membalikan tubuhnya menghadap Lion kembali. "Sepertinya kau pun tidak bisa membuat mereka mendengarkan kata-katamu."
"Kau tahu, Niko? Aku tidak pernah menjilat ludahku sendiri." jawab Lion menatap Niko serius. "Aku hanya ingin mengingatkanmu mengenai hal yang sudah aku beritahu padamu."
"Ah, masalah itu?" tatap Niko menganggukkan kepalanya. "Ya aku tidak lupa. Hanya saja aku punya cara sendiri untuk mendekatinya. Aku rasa sekali-sekali aku tidak mengikuti saranmu tidak masalah."
Lion menatap Niko tajam, dia berpikir sejenak dalam benaknya. Tiba-tiba Niko tertawa melihat Lion yang memasang tampang serius menatapnya.
Lion berbalik hendak pergi karena enggan menanggapi tawa Niko. Setelah mendengar ucapan Niko, Lion terpancing emosi walau dia berusaha menahan kepalanya agar tetap dingin namun tawa Niko semakin memanasinya. Karena itu dia lebih memilih pergi.
Namun tiba-tiba Niko mengejarnya dan menarik pundak Lion. Lion yang berbalik langsung melayangkan pukulannya pada Niko.
Niko mengusap bibirnya yang berdarah setelah menerima pukulan keras Lion.
"Baiklah, sudah lama kita tidak melakukannya." seru Niko maju dan memukul Lion.
"Dengarkan!" tatap Lion pada Niko yang berada di tanah. "Yang aku ucapkan bukanlah saran, tapi perintah!!"
Sekali lagi Lion memukul wajah Niko hingga keluar darah dari hidungnya. Setelah itu dia bangkit berdiri.
Niko tertawa keras sambil bangkit berdiri dengan susah payah.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat tatapanmu itu Lion." ucap Niko setelah itu meringis kesakitan sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya. "Baiklah, tampaknya kau benar-benar serius mengatakannya."
Niko masih sibuk membersihkan darah yang ada di hidungnya sambil sesekali meringis karena sakitnya.
"Ini sangat menyebalkan, bahkan kau tidak memakai tangan kirimu saat menyerangku." gumam Niko melirik Lion.
Lion tersenyum mendengarnya.
"Kau tahu kan, aku suka permainan yang adil." jawab Lion.
Lion berjalan mendekati keran air, lalu menghidupkannya untuk mengguyur wajahnya yang juga sudah penuh luka karena amukan Aramis dan ditambah hasil perkelahian oleh Niko barusan.
"Aku janji tidak akan memaksanya untuk apapun lagi." seru Niko.
"Masalah ketiga kakaknya kau tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan mengganggumu mendekatinya." tatap Lion dengan wajah dan kepala yang basah.
"Benarkah?" tanya Niko takjub. "Kau benar-benar keren Lion, bahkan kau bisa membuat mereka mengikuti kemauanmu."
Lion mengambil handphone-nya di saku celana dan mengirimkan sesuatu pada Niko.
"Itu nomer handphone-nya. Mulai sekarang aku pastikan dia akan menghubungimu."
"Apa kau yakin?" ujar Niko. "Bahkan dia sama sekali tidak pernah menghubungiku padahal waktu itu aku sudah memberikan nomerku padanya."
"Besok pagi, ya, besok pagi pastikan nomermu aktif. Aku menjamin dia akan meneleponmu."
"Kau serius?"
"Baiklah, aku masih punya hal yang ingin aku lakukan. Ini benar-benar jadi malam yang panjang untukku." ucap Lion sambil berjalan pergi. "Spokoynoy nochi (selamat malam)."
"YA tebya lyublyu (Aku mencintaimu)." seru Niko dengan tawa senang.
...***...
Anna yang tertidur di meja belajar di kamar Melody terbangun ketika handphone-nya bergetar. Dia melihat jam, dan sekarang baru jam tiga pagi. Lalu dia mengambil handphone-nya karena Lion meneleponnya.
"Anna, aku ada di depan, bisa kau membantuku? Tolong bukakan pintunya. Ada yang harus aku lakukan. Kau tenang saja, aku tidak akan macam-macam pada Melon." ucap Lion.
Lion berjalan masuk ke kamar Melody setelah Anna membukakan pintu rumah.
"Cepatlah, aku percaya kau tidak akan macam-macam." ucap Anna setelah itu menutup pintu kamar Melody.
Lion yang berada di dalam kamar Melody tidak melihat pada Melody yang sedang terlelap. Lampu kamarnya menyala padahal biasanya Melody selalu tertidur dengan lampu yang mati, itu bukti kalau gadis itu sedang benar-benar ketakutan.
Dia langsung mengambil handphone milik Melody yang berada di samping tempat tidur dekat Melody berbaring. Tak perlu lama dia membuka kuncinya karena sidik jarinya sudah terdaftar di handphone itu. Sewaktu menghapus video saat teman-temannya menyerang Musketeers dia mendaftarkan jarinya tanpa sepengetahuan Melody.
Dia membuka daftar buku telepon di handphone Melody, dan nomer handphone-nya berada di urutan paling atas dengan nama 911. Melody menandainya dengan favorit dan hanya satu-satunya yang menjadi favorit, maka dari itu nomer handphone-nya berada di urutan teratas.
Setelah melakukan tujuannya di daftar buku telepon, Lion membuka aplikasi maps. Lalu setelah selesai dengan semuanya, dia meletakannya kembali ke meja tadi, dan berjalan, namun dia berhenti di depan jendela kamar Melody.
Lion menatap keluar jendela dimana kamarnya berada. Tirai kamarnya terbuka jadi dari tempatnya berdiri dia bisa melihat ke dalam kamarnya di seberang. Dia sempat terdiam sesaat lalu menoleh pada Melody yang terlelap. Dia tidak berekspresi ataupun berkata apapun, setelah itu berjalan ke pintu dan membukanya.
Melody membuka matanya, lampu yang menyala membuat matanya silau namun dia merasa seperti melihat Lion berjalan keluar dari kamarnya. Akan tetapi pengaruh obat tidur yang diminumnya membuatnya menutup mata kembali.