MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Rencana Masa Depan



Aramis menatap Anna dengan tajam. Dia menarik kerah baju Anna di saat gadis itu sedang berbaring.


Sesaat mereka saling menatap.


Anna tertawa mendengar ucapan Aramis.


"Kau pikir aku seekor anjing?" tanya Anna.


Aramis segera melepaskan Anna yang masih berbaring di atas tempat tidur.


"Jangan membantah aku!!" seru Aramis menahan emosinya. "Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berhubungan lagi dengan David. Jadilah anjing penurut!! Kau mengerti?" lirik Aramis pada Anna yang beranjak duduk.


"Semua tergantung padamu." jawab Anna.


Aramis menoleh dan menatap Anna.


"Keluarlah, aku ingin istirahat!!"


Aramis berjalan keluar kamar Anna, dan berhenti sebelum menutup kamarnya.


"Jangan pernah lupa lagi kunci pintu kamarmu!!" seru Aramis setelah itu menutup pintu.


"DAN BERHENTILAH BERKELAHI, SEKUJUR TUBUHMU SUDAH PENUH LUKA, AKU SAMPAI TIDAK TEGA MENAMBAHNYA!!" teriak Anna tertawa kecil.


"Dasar cerewet!!"


...***...


Ayah menyuruh ketiga putera kembarnya duduk di hadapannya di meja makan. dan Paman Ronald ikut mendampinginya, duduk di samping ayah.


"Ujian semester pertama sudah selesai, tidak sampai enam bulan lagi kalian lulus. Itu pun jika kalian semua lulus." ujar Ayah menatap Aramis, menekankan kepadanya.


Aramis hanya menunduk dan terlihat tegang, berbeda dengan kedua kakak kembarannya yang duduk dengan santai di hadapan ayah dan paman mereka.


"Aku ingin tahu rencana kalian setelah ini." ucap ayah tenang. "Mulai darimu Athos!!"


"Aku berencana melanjutkan kuliah, dan mengambil manajemen bisnis." jawab Athos penuh keyakinan. "Aku akan memilih beasiswa yang ku dapatkan, tapi aku tetap akan kuliah di negara ini."


"Bukannya kau bilang kau ingin mengambil kedokteran, Ato?" tanya paman Ronald.


"Aku berubah pikiran." jawab Athos. "Aku berencana mengelola café dan membuka cabang di beberapa tempat. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa melakukannya sendiri dengan kedua tanganku."


"Kau sangat berambisi sekali." gumam Prothos.


"Bagaimana denganmu, Prothos?"


"Jujur saja ayah, aku akan melanjutkan kuliah dengan mengikuti ujian negara, tapi aku masih belum memikirkan jurusan apa yang akan aku ambil." jawab Prothos. "Aku akan memikirkannya dan mendiskusikan ini dengan guruku."


"Bagaimana menurutmu, Ron?" tanya Ayah pada adiknya tersebut.


"Aku rasa kau bisa memilih di antara jurusan psikologi atau hukum." ucap paman Ronald. "Padahal aku lebih suka kalau kau jadi seorang selebriti."


"Ron!!" seru ayah menghentikan adiknya bicara. "Aku tidak akan melarangmu jika kau mau menjadi seorang selebriti, tapi ingat, kau juga harus kuliah. Utamakan pendidikan."


"Baik ayah, aku sangat mengerti." jawab Prothos. "Sama sekali aku tidak pernah memikirkan untuk menjadi selebriti."


"Baiklah, berdiskusilah dengan gurumu untuk jurusan mana yang sebaiknya kau ambil."


Ayah menggeser tatapannya dari Prothos ke Aramis.


"Aramis, kau selanjutnya... ceritakan rencanamu!!" ujar ayah habis itu membuang napas.


Aramis masih ragu dan bingung untuk memulai kata-katanya.


"Ars?"


"Sebelumnya aku minta maaf, ayah, paman." seru Aramis memotong ucapan paman Ronald. "Aku tidak akan melanjutkan pendidikan ku setelah lulus."


Kedua kembarannya langsung menoleh ke arah Aramis dengan terkejut dan merasa tidak percaya Aramis berani mengatakan seperti itu pada ayah mereka.


Ayah tetap diam, menunggu anaknya itu melanjutkan perkataannya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya paman Ronald.


"Sebenarnya ada hal yang selama ini aku sembunyikan." jawab Aramis. "Setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku ingin mengikuti jejak ayah."


"Apa maksudmu, Ars?" tanya Athos.


"Aku ingin mulai melukis." jawab Aramis mengangkat wajahnya dan menatap ayah.


"Baiklah." jawab ayah.


Perkataan ayah membuat semuanya menatap ayah bingung, termasuk Aramis. Karena reaksi ayah sangat di luar dugaannya.


"Aku akan mulai membimbingmu." jawab ayah. "Tapi aku ingin kau lulus, kau mengerti?"


"Aku akan lulus." ucap Aramis.


"Ini benar-benar aneh. Kenapa reaksimu sesantai itu, kak? Melukis? Si bodoh ini bisa melukis?" tanya paman Ronald. "Kau tidak sedang bercanda kan?"


"Aku tahu kalau selama ini kau mencoret-coret semua bukumu dengan sketsa lukisan." seru ayah menatap Aramis. "Awalnya aku hanya mengira kalau itu hanya hobimu atau caramu mengisi waktu luang hingga Anna menceritakan semuanya padaku."


Dasar gadis cerewet!! batin Aramis.


"Dia bilang sejak kecil kau ingin menjadi seorang pelukis seperti aku, benar atau tidak?" tanya ayah.


"Wanita itu membuatku malu." gumam Aramis menundukkan kepalanya. "Untuk apa dia menceritakan bagian itu pada ayahku?"


Aramis menggerutu tentang Anna karena membuatnya malu dihadapan keluarganya.


...***...


Hari ini café kembali dibuka setelah seminggu tutup karena ujian semester. Pukul lima sore Three Musketeers sudah siap menerima pelanggan.


Café langsung ramai di datangi para pelanggan yang sebagian besar adalah wanita. Namun setelah Melody mengisi live music, pelanggan pria sedikit demi sedikit bertambah. Apa lagi hari ini adalah malam minggu, semua meja sudah hampir terisi penuh.


"Selamat sore semua pengunjung TTM (The Three Musketeers)." sapa Prothos dengan microphone, berdiri di panggung tempat live music Melody.


"Oto, kau keren sekali di pertandingan tadi pagi." seru seorang pelanggan wanita.


"Oto, kau ganti nomer ya? Nomermu tidak aktif saat aku hubungi." tanya wanita yang duduk di kursi lainnya.


Prothos hanya tersenyum menjawab semua perkataan dan pertanyaan dari para penggemarnya yang hadir.


"Hari ini TTM punya personil baru yang akan membantu Ato dan Sandy di dapur. Kenalkan dia adalah Anna." seru Prothos dan Anna langsung berdiri di sampingnya.


Beberapa pengunjung terlihat sangat menyukai Anna walaupun dia seorang wanita. Namun karena seragam yang di pakai Anna sama dengan yang lainnya, dia terlihat benar-benar seperti seorang pria karena rambut pendeknya.


"Halo aku Anna, dibaca dari belakangpun tetap Anna." senyum ceria Anna sambil memberikan bentuk hati dengan jemarinya.


"Kau seorang wanita?"


"Ya, aku wanita dan aku normal." jawab Anna tertawa.


"Kau keren sekali, Anna." ujar salah seorang pengunjung wanita.


"Apa kau sudah punya pacar?" seorang pria bertanya.


"Aku seekor anjing penurut yang setia pada majikannya." jawab Anna mengacungkan jarinya yang berbentuk V.


"Dasar bodoh..." gumam Aramis yang berdiri di samping Melody di meja kasir.


"Apa kami boleh berfoto denganmu?"


"Ayo ayo maju yang ingin berfoto denganku!!" seru Anna.


Dan beberapa wanita dan pria maju untuk berfoto dengan Anna. Mereka sangat senang dengan kepribadian Anna yang ceria dan terlihat keren.


"Kalau kau pria aku ingin berpacaran denganmu." ucap seorang wanita yang berfoto dengan Anna. "Kau terlihat keren sekali, Anna."


"Aku wanita normal." jawab Anna. "Kau pacaran saja dengan si tampan, Oto." lanjut Anna merangkul Oto.


Membuat banyak wanita berteriak histeris melihat adegan itu.


Prothos tersenyum menebar pesonanya.


"Sepertinya dengan adanya Anna, dia membawa warna baru untuk café ini." ujar Athos pada Aramis. Athos baru keluar dari dapur. "Bulan depan aku akan memulai membuat cabang baru, kau dan Oto tolong urus yang di sini ya? Kalau bisa aku akan menambah cabang setiap bulan."


"Apa kau tidak lelah? Sebaiknya kau fokus ke ujian akhir dulu." jawab Aramis.


"Buatku ujian akhir bukan masalah dan masa jabatanku sebagai ketua osis juga akan berakhir. Aku tidak ingin ada waktu luang yang terbuang." jawab Athos. "Menganggur adalah dosa."


"Benar kata Oto, kau terlalu berambisi."


"Aku rasa tidak ada salahnya dengan hal itu."


Aramis hanya menggelengkan kepalanya mendengar kembarannya tersebut.