MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Gadis Ceroboh



Waktu menunjukan pukul dua siang ketika Prothos mengantar Jessica pulang sekembalinya dari liburan mereka.


"Berhenti di sini saja." ujar Jessica pada Prothos yang menyetir.


Prothos melihat ke sekitar dan tempat dia menghentikan mobil masih di daerah ruko-ruko dan bukan perumahan.


"Aku ingin mampir membeli sesuatu dulu." jawab Jessica yang melihat Prothos berwajah penuh tanya. "Terimakasih Oto. Aku sangat senang liburan bersama kalian semua."


Prothos hanya tersenyum, dibuat-buat.


Jessica keluar dari mobil. Namun Prothos tiba-tiba menurunkan kaca jendela di pintu Jessica turun sebelum wanita itu pergi.


"Jessica..." panggil Prothos.


"Ada apa?" tanya Jessica menunduk melihat Prothos di dalam mobil.


Prothos keluar dari mobil dan berjalan mendekati Jessica yang melihatnya dengan senyuman.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu." ucap Prothos. "Apa boleh?"


Jessica mengangguk dengan senyum.


"Saat di SMP dulu, apa kau pernah memintaku untuk menjadi pacarmu? Kau Jessica itu kan?" tanya Prothos.


Jessica agak terkejut mendengar pertanyaan Prothos.


"Ya, kau benar. Jadi kau sudah ingat ya?" ujar Jessica tersenyum.


"Lalu, apa tujuanmu sekarang dengan mendekati Ars?" tanya Prothos lagi.


"Aku rasa kau pun tahu kan. Aku menyukai Ars, aku ingin dia jadi pacarku." jawab Jessica "Apa ada masalah? Apa itu tidak boleh?"


Prothos tidak langsung menjawab dan memperhatikan mimik wajah Jessica saat berbicara begitu.


"Ya, aku rasa tidak masalah." senyum Prothos. "Baiklah, aku pergi."


Jessica hanya melambaikan tangannya dengan sebuah senyuman ketika Prothos kembali ke dalam mobil.


...***...


Malam tiba ketika Tasya berada di kamarnya sedang membaca surat-surat milik Athos yang diberikan para wanita untuknya.


"Hah, mereka semua ini sangat membosankan, pria sekaku Ato tidak akan tergoda." gumam Tasya.


Tasya kembali teringat kejadian semalam saat berada di dalam lemari bersama Athos. Tasya yakin sekali kalau Athos mulai kehilangan kendalinya saat itu, kalau saja Melody tidak berteriak dan menyadarkannya.


"Sepertinya aku juga keterlaluan." ucap Tasya menghela napas.


Tasya mengambil handphone dan mengetik pesan.


Ato, maafkan aku. Seharusnya aku tidak menggodamu separah itu saat di dalam lemari. Aku tidak akan mengulanginya lagi.


Tidak sampai semenit, handphone Tasya berbunyi. Masuk sebuah pesan baru. Dengan cepat Tasya membuka pesan itu.


Sepertinya kak Tasya salah kirim. Ini Melody bukan kak Ato.


Tasya terkejut ketika membaca pesan tersebut. Pesan yang ingin dikirimkannya untuk Athos malah dia kirim ke Melody.


Di kamarnya, Melody tertawa membaca pesan salah kirim Tasya.


Tasya langsung menelepon Athos untuk memberitahunya, karena Tasya takut Athos akan marah.


"Apa?" tanya Athos yang duduk di kursi meja belajarnya.


"Maafkan aku." jawab Tasya. "Aku benar-benar tidak sengaja Ato."


Athos menahan emosinya pada kekasihnya itu dan membuang napas.


"Baiklah. Aku tidak marah." ucap Athos.


"Kak Ato..." panggil Melody membuka pintu kamar Athos.


Athos langsung mematikan teleponnya dan menoleh pada Melody, sebelumnya dia membenarkan ekspresi wajahnya dulu agar tidak terlihat malu pada adiknya itu.


"Ada apa Melo?" tanya Athos.


"Lemari, ah bukan... maksudku aku ingin susu hangat." ujar Melody menggoda kakaknya.


Dan Athos tahu itu, tetapi dia berusaha biasa saja.


"Sepuluh menit lagi akan kakak buatkan." jawab Athos tersenyum palsu.


"Tasya benar-benar gadis ceroboh." gumam Athos menarik rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya karena citra nya sebagai kakak yang baik mulai luntur di mata Melody.


...***...


Anna berbaring di kamarnya ketika paman Ronald memeriksanya. Aramis dengan setia menjaganya sejak mereka pulang dari rumah sakit.


"Paman, akhir-akhir ini aku juga sering sakit kepala dan sering mengantuk." ucap Anna melihat paman Ronald yang mengutak-atik infusan.


"Kemungkinan kau lelah dan kurang tidur. Kurangi aktifitasmu dan beristirahat lah." jawab paman Ronald. "Aku sudah berbicara pada wali kelasmu, besok kau harus istirahat sampai sembuh total."


"Hhmm..." jawab Anna.


"Ars, pulang lah, besok kau sekolah. Aku akan menjaga Anna." seru paman Ronald.


"Aku yang akan menjaganya paman. Kau baru pulang dari rumah sakit setelah menjemput kami, pasti kau lelah 'kan?" ucap Aramis yang berdiri di samping pintu kamar.


"Baiklah. Jika terjadi sesuatu kau tahu harus apa kan?"


"Tenang saja. Aku bisa diandalkan." senyum Aramis.


Paman Ronald meninggalkan Anna bersama Aramis, dan pulang ke rumah.


"Kau pasti juga lelah setelah menyetir jauh dan dari tadi kau belum istirahat." ucap Anna menatap Aramis.


"Hanya seperti itu tidak akan membuat tubuhku yang kuat ini lelah." jawab Aramis.


Anna tertawa skeptis mendengarnya.


"Kau jangan macam-macam ya saat aku lemah begini!!" seru Anna tegas.


Aramis berjalan mendekati tempat tidur dan duduk disisinya.


"Memangnya apa yang akan aku lakukan padamu?" tanya Aramis Menepuk-nepuk kepala Anna yang berbaring, seperti perlakuan majikan pada anjingnya.


"Kau ini!!" geram Anna menatap Aramis kesal.


"Cepatlah sembuh, beberapa hari ini aku lihat kau kurang semangat dalam membuatku kesal."


Anna menatap Aramis dengan tatapan ingin tahu.


"Apa kau sudah menghubungi Jessica?" tanya Anna.


"Apa? Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang dia?"


"Setelah pergi membawaku ke rumah sakit dan sampai sekarang, apa kau sudah menghubunginya? Dia pasti menunggu kabar darimu." ucap Anna memperjelas pertanyaannya. "Jangan-jangan belum 'kan?"


"Sudah. Aku sudah menghubunginya." jawab Aramis berbohong. "Tidurlah!! Aku akan tidur di luar. Kalau ada apa-apa kau bisa berteriak memanggilku."


"Saat kau tidur, bahkan gunung meletus tidak akan terdengar." gumam Anna.


"Kalau begitu aku tidak akan tidur, aku akan di sini sampai kau bangun." ujar Aramis. "Jadi tidurlah."


Anna tertegun mendengar perkataan Aramis. Akan tetapi dia langsung membalikan tubuhnya untuk tidur dan menyelimuti seluruh badannya hingga tertutup.


Tiba-tiba handphone Aramis berbunyi. Dia segera keluar kamar untuk menjawab telepon dari Lion, yang menghubunginya.


"Kau dimana? Cepat, pertandingan El Clasico segera dimulai!! Aku yakin kali ini Real Madrid akan memenangkan pertandingannya." ujar Lion.


"Aku sedang sibuk. Aku tidak akan menonton pertandingan yang jelas-jelas hasil akhirnya sudah ke tebak. Barcelona yang akan menang." jawab Aramis.


"Jadi kau tidak menonton?"


"Ya. Dan jangan ganggu aku, bodoh!!" seru Aramis menutup teleponnya. "Real Madrid tidak akan menang dari Barcelona!!"


Dia berniat menghubungi Jessica, namun setelah membuka nama Jessica di handphone, dia kembali menutup handphone-nya dan masuk ke kamar kembali.


...***...


Tasya keluar kamar mandi memakai masker wajah dan hendak berbaring, namun tidak sengaja dia menyenggol kotak surat-surat milik Athos yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Semua surat yang belum terbaca terjatuh ke lantai.


"Astaga, kenapa aku selalu ceroboh seperti ini sih?" keluh Tasya sambil memungut surat-surat tersebut.


Tiba-tiba matanya tertuju ke salah satu surat yang masih tersegel dan di atas surat tersebut bertuliskan nama si pengirim.


"Jessica?" tanya Tasya dan segera membuka surat tersebut.


Di dalamnya bertuliskan pernyataan cinta Jessica untuk Athos. Tasya melihat-lihat lagi surat lainnya, dan masih ada beberapa surat dari Jessica untuk Athos.


"Jadi wanita itu dulu juga mengejar-ngejar pacarku? Hah, pantas saja." gumam Tasya. "Apa sebaiknya aku beritahu Oto ya? Haaahh, si bodoh itu kenapa tidak punya handphone sih? Aku jadi susah menghubunginya."