MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Pernyataan Tanpa Kata



Waktu menunjukan pukul empat sore. Kereta belum dipenuhi penumpang sehingga Melody dan Lion dapat duduk dengan nyaman di bangku kereta. Mereka tidak perlu berdesakan dan saling dorong seperti ketika mereka berangkat tadi.


Di tambah kondisi Melody yang tidak cukup baik sehingga tidak mungkin jika harus mengalaminya lagi.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lion pada Melody yang duduk di sebelahnya.


Melody hanya mengangguk kecil karena tidak punya tenaga lagi.


"Sebaiknya kau tidur. Lion memakaikan earphones miliknya ke telinga Melody.


Melody terkejut dan mengangkat kepala menatap Lion.


"Disini sangat berisik." jawab Lion.


Tanpa ragu Melody menyandarkan kepalanya ke pundak Lion. Dalam hati Melody merasa senang dengan sikap Lion hari ini. Sepertinya semua yang di harapkannya berjalan dengan lancar. Melody mulai menutup matanya sambil mendengarkan musik klasik dari earphones milik Lion.


Turun dari kereta, mereka masih melanjutkan perjalanan pulang menggunakan bus hingga sampai di depan komplek perumahan mereka. Dari depan komplek ke rumah mereka masih ada sekitar satu kilometer jarak yang harus di tempuh.


"Kita tunggu taksi saja." ujar Lion.


"Aku sudah tidak apa-apa, ayo kita jalan kaki saja." jawab Melody. "Taksi jarang ada disini, hari juga sudah mulai gelap. Aku ingin cepat sampai rumah."


Lion memperhatikan keadaan Melody dengan seksama.


"Aku tidak mau tahu kalau kau tidak kuat berjalan kaki." ujar Lion setelah itu segera berjalan.


Melody juga langsung berjalan mengikuti Lion dari belakang. Namun tiba-tiba Lion berhenti.


"Jalanlah di depan!!" seru Lion.


Lion memperhatikan Melody dari belakang, sebenarnya dia masih merasa khawatir pada gadis itu, walaupun Melody berkata kalau sudah tidak apa-apa tapi dia tahu kalau Melody masih seperti sebelumnya. Hal itu menjadi pertanyaan Lion.


Dia tidak mengerti kenapa Melody tidak ingin naik motor dan lebih ingin naik kereta dan sekarang dia juga ingin berjalan kaki padahal keadaannya tidak sedang dalam kondisi yang bagus. Hal itu membuatnya terus bertanya-tanya dan penasaran.


Tiba-tiba tubuh Melody goyah, Lion dengan sigap langsung menopang tubuhnya.


"Seharusnya tadi kita tunggu taksi saja." keluh Lion kesal. "Kau tidak kuat jalan sekarang, merepotkan!" ucap Lion. "Sebaiknya aku telepon Ato untuk menjemput kita."


"Tidak! Jangan!!" seru Melody dengan cepat.


Lion menatap meminta alasannya.


"Kak Ato ataupun yang lainnya pasti masih di café, dan di rumah hanya ada kakek."


Lion menyerah.


Tiba-tiba dia berjongkok memunggungi Melody.


"Cepat naik, atau aku tinggal!!" seru Lion.


Melody langsung naik ke punggung Lion, melingkarkan tangannya ke leher pemuda itu, dan Lion menggendongnya.


"Kalau kau meninggalkan aku, ketiga kakakku pasti membunuhmu!!" ucap Melody tersenyum di balik punggung Lion.


"Kau masih menyebalkan dalam kondisi seperti ini." gumam Lion.


"Lion..." panggil Melody.


"Hhmm."


"Aku tidak bilang pada kakak-kakakku tentang hari ini..."


"Aku mengerti. Aku akan merahasiakannya." sambar Lion, padahal dia tahu kalau ketiga kakaknya sudah mengetahui kencan mereka tersebut. "Aku tidak akan bilang karena kita tidak sedang kencan."


"Siapa bilang ini kencan?!" balas Melody tidak mau kalah.


"Padahal kau pasti menganggap ini kencan kan?!" seru Lion. "Lihat pakaianmu, aku tidak pernah lihat kau memakainya. Panjangnya terlalu pendek karena itu kau jadi sakit. Pasti itu pakaianmu saat kecil dulu kan?!"


"Turunkan aku!!" seru Melody kesal.


"Baik akan aku turunkan tapi jangan menyalahkan aku kalau kau jatuh." ujar Lion. "Jadi turun atau tidak?!"


Melody semakin erat melingkarkan tangannya ke leher Lion.


"Jika tidak ingin turun kau tidak perlu mencekik leherku!!" ucap Lion tersenyum tanpa di ketahui Melody. "Melon..."


"Ada apa?" tanya Melody.


"Kenapa tidak ingin naik motor dan memilih naik kereta lalu ingin jalan kaki sekarang? Kenapa?" tanya Lion mengungkapkan hal yang di tanyakan dalam pikirannya.


Melody tidak menjawab, dia hanya menyandarkan kepalanya ke pundak Lion.


...***...


"Kenapa belum pulang?" tanya Prothos cemas sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Apa dia baik-baik saja?"


"Oto, apa sebaiknya kita telepon saja?" Athos mengikuti Prothos masuk.


"Mereka sudah datang!!" seru Aramis langsung masuk ke dalam rumah agar Melody tidak tahu kalau dia sedang menunggu ke datangannya.


"Mau turun sekarang?" tanya Lion. Sebenarnya dia melihat saat Aramis berada di depan rumah dan berlari masuk.


Melody tetap tidak melepaskan tangannya, yang berarti dia tidak ingin.


"Baiklah." jawab Lion terus berjalan hingga depan rumah Melody.


"Kau sudah pulang Melo?" ujar Athos yang membuka pintu rumah seolah-olah tidak tahu dengan kehadiran mereka berdua. "Apa yang terjadi?" tanyanya cemas melihat Melody ada di gendongan Lion.


"Melo, cepat turun biar aku saja yang menggendongmu!!" seru Aramis.


Prothos menarik Aramis agar menjauh.


"Lion, bawa Melo ke kamarnya saja!!" ujar Prothos pada Lion.


Prothos melihat senyum Melody di balik punggung Lion. Dengan cepat Lion segera berjalan masuk dan mengarungi tangga, Athos mengikutinya.


"Kenapa kau menyuruhnya menggendong Melo terus?!" geram Aramis.


...***...


Sesampainya di kamar, Lion menurunkan Melody ke tempat tidur.


"Aku lelah sekali, badanku akan remuk sebentar lagi." keluh Lion sambil berbaring di sisi tempat tidur setelah menurunkan Melody. "Pantas saja Megan mengeluh, kau memang kecil tapi sangat berat, Melon!!" tatap Lion pada Melody yang berbaring di sebelahnya.


"Menyingkir dari sana, bodoh!!" Aramis menarik Lion bangun.


"Aku baru saja menggendong adikmu yang berat itu sejauh satu kilometer, seharusnya kau berterima kasih padaku!!" ucap Lion menatap Aramis malas.


"Melo, apa yang terjadi? Kau pucat sekali. Kau baik-baik saja kan?" tanya Athos khawatir sambil mengukur suhu tubuh Melody dengan tangan yang di letakan ke kening Melody. "Ars, telepon paman agar pulang cepat!! Ternyata kau memang belum sehat setelah mengurung diri kemarin."


"Saat di toko buku entah karena apa tiba-tiba aku merasa tidak enak badan, aku jadi menelepon Lion untuk menjemputku." ujar Melody yang tidak pintar mencari alasan.


"Kenapa kau menelepon Lion dan bukannya kami?" tanya Prothos.


"Itu... itu karena... aku berpikir kalau kalian semua sibuk di café." jawab Melody. "Tapi kenapa kalian ada di sini? Kenapa sudah pulang?"


"Kakak buatkan susu dulu." Athos beranjak keluar, menghindari pertanyaan Melody.


Melody melihat Lion yang sedang menatapnya, dan mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat. Ada yang ingin mereka sampaikan antara satu dan yang lain namun mereka berdua tidak berkata apapun dan hanya saling menatap.


Prothos memperhatikan mereka berdua yang saling tatap, sedangkan Aramis masih sibuk menelepon paman Ronald.


"Lion, bisa kau ikut aku?" ujar Prothos.


"Baiklah, aku juga akan segera pulang." jawab Lion pada Prothos. "Jangan lupa kembalikan jaketku secepat mungkin!!" seru Lion pada Melody.


Lion segera keluar kamar mengikuti Prothos.


Tiba-tiba Prothos meninju wajah Lion setelah Lion menutup pintu kamar.


"Ke, kenapa kau memukulku?" tanya Lion bingung sambil memegang pipi kirinya yang nyeri dan memerah setelah menerima tinjuan keras Prothos.


"Maaf, tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku ingin memukulmu." jawab Prothos dengan ringan.


Setelah itu berjalan meninggalkan Lion, pergi menuju tangga.


"Masih bertanya kenapa aku memukulmu, dasar bodoh!!" gumam Prothos dengan suara yang pelan hingga Lion tidak bisa dengar.


"Kenapa orang di rumah ini sangat aneh semua?!" gumam Lion. "Aw, sakit sekali." ringisnya saat menekan tulang pipinya.


Lion menatap pintu kamar Melody selama lima detik.


Tidak perlu berterima kasih, aku sudah bilang kan kalau aku adalah panggilan daruratmu, aku adalah petugas 911 untukmu. ucap Lion dalam hati sambil berjalan pergi.


Melody yang berbaring di kamar, menutupi wajahnya dengan selimut sambil mengingat hari ini. Semua benar-benar seperti yang di harapkannya.


Tidak perlu khawatir, berkatmu, aku pasti akan sembuh dengan cepat. ujar Melody dalam hati.


Mereka berdua menjawab pertanyaan yang mereka ajukan dalam pikiran saat saling tatap tadi. Entah bagaimana caranya mereka dapat membaca pikiran masing-masing tadi.