MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Pertandingan Terakhir



Athos terbangun setelah seseorang mengecup bibirnya. Orang tersebut adalah Tasya, kekasihnya.


"Selamat pagi, Ato. Aku merindukanmu..." ucap Tasya tersenyum padanya. "Bangunlah, dan segera mandi. Atau... kau ingin mandi bersamaku?"


Tasya membuka kancing seragam sekolahnya satu persatu.


TETETEEEEETTT TETETEEEEEETTT


Athos membuka matanya setelah alarmnya berbunyi. Dia segera menghentikan musik di handphone-nya tersebut.


"Ternyata hanya mimpi..." ucap Athos bangun dari posisi Tidurnya dan duduk di sisi tempat tidur. "Sepertinya Tasya benar-benar sudah mengambil alih alam bawah sadarku."


Setelah itu Athos beranjak dari tempat tidur karena waktu sudah menunjukan pukul lima pagi. Dengan segera dia berjalan keluar. Di saat bersamaan, Prothos juga keluar dari kamarnya.


"Selamat pagi." ucap Prothos.


"Kau habis mandi?" tanya Athos menutup pintu kamar. "Kau tidak lari pagi?"


"Aku bangun lebih cepat, dan lari pagi lebih awal." jawab Prothos mengikuti kembarannya turun tangga. "Hari ini kejuaraan antar sekolah dimulai, dan timku bertanding untuk pertandingan pembuka."


"Kau ingin sarapan apa?" tanya Athos mencuci tangannya di wastafel dapur.


"Makan roti saja cukup." jawab Prothos sambil duduk di salah satu kursi di meja makan.


Prothos membuka roti tawar yang ada di meja lalu mengolesinya dengan selai, setelah itu memakannya.


"Kapan pemilihan ketua klub basket yang baru?" tanya Athos sambil membuatkan dua gelas susu.


"Habis pertandingan ini aku akan menyerahkan posisi ketua ke anak kelas sebelas."


"Wah wah wah... kalian saudara kembar yang akur." ucap Aramis yang baru saja masuk ke rumah dan langsung duduk di kursi samping Prothos.


"Si bodoh ini sudah bosan hidup sepertinya." ujar Prothos melihat kedatangan kembarannya yang lain. "Dari mana saja kau? Kenapa sampai babak belur seperti itu?"


"Minum susunya." ucap Athos meletakan dua gelas susu ke hadapan para kembarannya. "Ars, habis ini ikutlah denganku ke sekolah. Aku akan meminta guru agar kau ikut ujian susulan."


Athos mengambil keranjang buah yang ada di kulkas lalu meletakannya ke hadapan Aramis, karena dia tahu kembarannya itu sangat suka memakan buah.


Tanpa ucapan terimakasih, Aramis melahap apel dan meminum susunya.


"Apa aku harus ikut ujian susulan?"


"Ya, kalau kau masih ingin hidup." jawab Prothos.


Athos duduk di kursi di hadapan Prothos dengan secangkir kopi dibawanya. Prothos menukar susu miliknya dengan kopi tersebut.


"Kau harus minum susu, dan jangan terlalu banyak minum kopi!!" seru Prothos. "Kau mengeluh sakit perut kan semalam?"


"Ckckckck... kalian benar-benar perhatian satu sama lain." ejek Aramis.


"Diamlah!!" seru Athos sambil memakan roti tanpa selai. "Hari ini akan ada rapat osis untuk membahas pemilihan ketua osis selanjutnya. Felix mencalonkan diri sebagai ketua osis selanjutnya."


"Aku tidak heran." jawab Prothos menyeruput kopinya.


"Yang jadi masalah, aku takut dia mengincar Melo setelah kita lulus. Apa lagi jika dia terpilih jadi ketua osis." kata Athos.


"Tenang saja, masih ada Lion yang akan menjaga Melo." ujar Prothos.


"Si bodoh Lion bisa apa?" tanya Aramis. "Felix juga pasti akan mengincarnya."


"Lion pasti akan menjaga Melo, tapi bukan berarti kalau Felix akan membiarkannya terus. Satu-satunya cara adalah Felix tidak menjadi ketua osis." ucap Athos. "Kira-kira siapa yang bisa mengalahkan Felix? Si brengsek itu sudah menguasi para murid wanita kelas sebelas."


"Siapa lagi yang bisa diandalkan?"


"Itu yang harus kita pikirkan." seru Athos menanggapi perkataan Aramis. "Kalau ada kita harus berkoalisi agar orang itu terpilih menjadi ketua osis selanjutnya."


"Demi keamanan Melo, adik kita yang cantik." tambah Prothos.


...***...


Prothos berganti pakaian seragam tim basket di toilet. Hari ini di sekolahnya akan diadakan pertandingan pembuka kejuaraan antar sekolah. Dan sekitar satu jam lagi, yaitu jam sembilan pertandingannya akan di mulai.


Prothos keluar toilet ketika Widia melintas, namun Widia berjalan cepat untuk menghindar darinya.


"Dia benar-benar menghindariku." gumam Prothos yang melihat Widia pergi.


"Sekolah benar-benar penuh dengan wanita dari sekolah lain." ujar salah satu anggota tim ketika Prothos kembali ke ruang klub setelah ganti seragam. "Setelah kau lulus pasti tidak akan ada lagi pemandangan seperti ini, Oto."


"Ya, mereka kesini bukan ingin menonton pertandingan tapi ingin menonton ketampananku." jawab Prothos. "Aku akan membuat mereka tidak akan melupakan permainanku yang terakhir."


"Apa maksudmu?" tanya anggota lainnya.


"Setelah ini aku tidak akan ikut pertandingan lagi, dan sebaiknya tim ini memilih ketua baru." jawab Prothos.


Semua anggota klub menatapnya dengan serius.


"Ayolah, aku akan lulus dan aku ingin fokus belajar setelah ini. Sudah waktunya juga untuk kelas sepuluh ikut bertanding." senyum Prothos.


...***...


Melody datang bersama dengan Anna untuk menonton pertandingan kakaknya. Sedangkan Lion sudah berada disana lebih dulu bersama teman-temannya, dan Aramis sedang mengikuti ujian susulan. Sedangkan Athos masih mengadakan rapat osis di ruang osis untuk membahas pemilihan ketua osis selanjutnya.


Pertandingan akan segera di mulai, ketika semua pemain berjalan ke tengah lapangan, semua penonton yang kebanyakan adalah wanita berteriak memanggil-manggil Prothos, ada juga yang menyorakan yel yel untuk Prothos.


Prothos tersenyum dan melambaikan tangan, itu membuat suara para wanita semakin kencang berteriak.


"PROTHOS JADILAH PACARKU!!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita, dan disusul suara gaduh wanita-wanita lain yang marah.


Prothos hanya tersenyum sambil pemanasan ringan.


"Astaga Melo, kakakmu benar-benar seorang idola." ucap Anna yang duduk di samping Melody sambil menutup kupingnya.


"Bolehkah aku duduk disini?" tanya Felix yang langsung duduk di samping Melody di kursi kosong.


Melody tidak menjawab dan merasa tidak nyaman dengan kehadiran Felix.


"Mau apa si brengsek itu?!" gumam Lion kesal yang memperhatikan di jarak sepuluh meter dari Melody.


Pertandingan dimulai, sepanjang pertandingan hanya teriakan para wanita terdengar, dan sepanjang pertandingan pula Prothos terus menebar pesonanya dengan selalu tersenyum.


"Anak itu benar-benar menebar pesona." gumam Widia yang menonton dari tempat tersembunyi.


Seketika dia kembali teringat ketika Prothos memeluknya. Tanpa sadar dia memukul-mukul wajahnya untuk melupakannya.


...***...


Melody berjalan ke toilet ketika pertandingan tengah berlangsung. Dia hanya merasa tidak nyaman dengan Felix yang duduk di sampingnya, dan selalu mengajaknya bicara. Untung saja ada Anna yang menanggapinya sesekali.


Tiba-tiba seseorang mendorong Melody hingga gadis itu tersungkur, dan telapak tangannya terluka.


Ternyata Cindy beserta teman-temannya lagi yang mengganggunya.


"Melody kita bertemu lagi." senyum Cindy yang jongkok menatap Melody. "Sudah lama kita tidak mengobrol."


Tiba-tiba Cindy menampar wajah Melody, dengan kesal Melody mendorongnya namun Cindy masih bisa manahannya dan tidak jatuh.


"Kenapa kau menggangguku?" tanya Melody berdiri.


"Coba kau pikir kenapa?"


"Aku tidak ada hubungannya dengan Felix lagi." jawab Melody.


Cindy mendekati Melody lagi dan melayangkan tangannya kembali ke arah Melody, namun seseorang menahannya.


"Felix kan yang menyuruhmu?" tanya Lion yang datang menahan tangan Cindy. "Saat sebelum pertandingan aku melihat kalian berbicara."


Melihat kehadiran Lion, Cindy dan teman-temannya langsung pergi.


"Apa kau terluka?" tanya Lion.


Melody menunjukan kedua telapak tangannya yang berdarah bercampur debu.


Lion membantu Melody mencuci tangannya di wastafel yang ada di depan ruangan kelas.


"Seharusnya kau menolak saat Felix duduk disampingmu!!" seru Lion. "Ayo, sebaiknya kita pulang saja!"