
Pukul tujuh malam café semakin ramai, dan Melody memulai live music-nya. Semua meja selalu terisi penuh. Ketika ada meja kosong pasti tidak lama kemudian datang pengunjung baru, selalu begitu.
Athos, Sandy dan Anna menangani dapur sedangkan Prothos, Aramis dan Chino melayani pengunjung. Setiap malam minggu café memang selalu ramai.
Prothos membersihkan meja kosong saat pengunjungnya sudah pergi.
"Oto, berikan aku nomer barumu." ucap wanita di sebelah meja yang sedang Prothos bersihkan.
"Maaf ya, aku sudah tidak punya handphone, handphone-ku rusak." jawab Prothos tersenyum sambil mengelap meja.
"Apa perlu aku membelikan handphone baru untukmu?" tanya wanita itu lagi. "Aku dengar kau sudah putus dengan pacarmu, apa kau sudah punya pacar baru?"
"Ya, dia sudah punya pacar baru." jawab Kiara yang tiba-tiba datang bersama tiga orang temannya.
Prothos menoleh pada Kiara, dan tertawa skeptis melihat kehadiran mantan kekasihnya tersebut.
"Aku datang untuk kompensasi yang kau berikan." ucap Kiara langsung duduk di kursi meja yang dibersihkan Prothos.
"Baiklah, silahkan pilih lah menunya dulu." ujar Prothos memberikan buku menu ke hadapan Kiara. "Aku akan kembali, pilihlah yang kau suka, aku akan memberikannya gratis untukmu dan teman-temanmu."
Setelah berkata demikian Prothos meninggalkan meja Kiara.
"Mau apa wanita itu?" gumam Prothos.
"Ada apa, Oto?" tanya Aramis yang melihat kembarannya terlihat kesal. "Jangan-jangan dia mantanmu? Mau aku gantikan?"
"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya." jawab Prothos setelah itu berjalan ke meja Kiara untuk mencatat pesanannya.
"Aku ingin pesan semua menu rekomendasi darimu." ucap Kiara. "Ngomong-ngomong, apa kabar dengan pacar barumu yang kampungan itu?"
"Tunggulah sebentar, pesanannya akan kami siapkan dulu." kata Prothos langsung pergi, tidak memedulikan pertanyaan Kiara.
Sepuluh menit kemudian, Prothos membawa minuman untuk Kiara dan teman-temannya. Meletakan satu per satu di hadapan mereka.
"Kenapa tidak menjawab? Pasti kau juga sudah mencampakannya kan?" tanya Kiara.
Prothos tidak menjawab dan berniat pergi. Tetapi tiba-tiba Kiara menarik Prothos dan memeluknya, semua mata pengunjung melihat padanya, dan musik terhenti karena Melody terkejut dengan yang terjadi.
"Lepaskan aku!!" pinta Prothos. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri."
Prothos mendorong pundak Kiara untuk melepaskan pelukannya. Namun Kiara memegang lengan Prothos.
Semua yang ada di situ menontonnya.
"Aku mohon maafkan aku, kau hanya salah paham. Aku tidak ingin putus darimu." ucap Kiara menatap Prothos. "Aku dan Bara tidak ada hubungan apa-apa, dia memang menyukaiku tapi aku hanya menyukaimu."
Prothos melihat Athos dan Anna keluar dari dapur untuk melihat apa yang terjadi. Athos menatap Prothos dengan penuh kecemasan.
Prothos melepaskan tangan Kiara yang memegang lengannya dan hendak pergi, namun kali ini Kiara menyiram Prothos dengan segelas penuh air berisi jus jeruk miliknya.
"KATAKAN PADAKU, APA SALAHKU?" teriak Kiara mengguncang-guncangkan tubuh Prothos yang mematung. "Kau kan yang selingkuh? Ya, pasti kau selingkuh dariku dengan wanita kampungan itu kan? Pasti itu benar!! Kalau tidak, mana mungkin kau meminta putus dariku. Dasar Playboy!! kau pasti senang kan mempermainkan semua wanita? Playboy sepertimu tidak pantas hidup!! Seharusnya Tuhan tidak memberikan wajah tampan ke manusia rendahan sepertimu!! Tukang selingkuh dan pengkhianat, kau pantas mati dan tidak boleh bahagia..."
PLAAAKKK!!
Tiba-tiba Melody menampar Kiara.
"Apa yang kau lakukan?" geram Kiara pada Melody.
Melody mengambil segelas air dari meja dan menyiram Kiara.
"Jangan mengatakan hal-hal buruk tentang kakakku!! Kau tidak mengenalnya, semua yang kau katakan itu omong kosong!!" tatap Melody dingin. "Pergilah, dan jangan pernah datang lagi ke sini ataupun ke hadapan kakakku!!"
Semua teman Kiara menarik gadis itu untuk keluar meninggalkan tempat itu.
Prothos masuk ke ruang ganti dan duduk termenung di sana. Selama ini ketika dirinya berhubungan dengan seorang wanita, dia selalu mencoba setia dan tidak pernah sekalipun mengkhianati mereka.
Begitu juga saat berhubungan dengan Kiara, walau hanya dua minggu, dia tetap menganggap Kiara adalah seseorang yang pernah ada di dalam hidupnya, karena itu dia tidak ingin menyakiti gadis itu dengan membalas kata-katanya. Namun mendengar ucapan buruk tentangnya dari mulut gadis yang pernah ada di hatinya, membuat Prothos sangat bersedih.
Melody masuk menghampiri Prothos di ruang ganti. Dia bisa melihat kalau kakaknya kini sedang bersedih, walau dia tersenyum saat melihat kehadiran dirinya.
"Jangan pikirkan kata-katanya!! Semua yang dikatakannya itu tidak benar. Aku tahu tentang kak Oto, dan semua yang dikatakannya tadi salah." ucap Melody duduk di kursi menghadap Prothos. "Kakak selalu baik padaku, dan aku yakin kak Oto juga melakukan hal yang sama pada semua gadis itu. Dia saja yang tidak bisa memahami kak Oto."
Prothos memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kak Oto, jangan pikirkan kata-katanya lagi. Aku tahu setiap kali kau memikirkan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kakak akan langsung sakit. Kak Oto, tidak boleh sakit ya?!"
"Kakak menyayangimu, Melo." ucap Prothos mengusap kepala Melody di pelukannya. "Melo, boleh pinjam handphone-mu?"
Tanpa bertanya Melody memberikan handphone miliknya pada Prothos.
...***...
Prothos berganti pakaian setelah itu ijin keluar café dengan alasan ingin mencari angin segar pada Athos. Dia membawa handphone Melody bersamanya.
"Bu guru, kau sedang sibuk?"
Prothos berbicara di telepon, dia menghubungi Widia menggunakan handphone Melody setelah keluar dari café.
"Bukan kah ini nomer Melody?" Widia malah balik bertanya. "Kenapa bertanya begitu?"
"Ada yang ingin aku tanya kan padamu." jawab Prothos. "Tenang saja, ini mengenai sesuatu yang biasanya murid diskusikan dengan guru mereka."
Prothos menemui Widia di taman yang waktu itu. Taman yang sama di saat Prothos melihat Widia menangis.
Widia sudah menunggu di taman tersebut, duduk di kursi yang sama dan motor skuter miliknya terparkir di sampingnya. Pakaian yang dikenakannya seperti biasa, hoodie menutupi kepalanya. Prothos merasa senang ketika melihat gurunya tersebut.
"Bu guru..." panggil Prothos dan langsung berlari lalu duduk disamping Widia. "Kenapa kau ada di taman ini lagi?"
"Aku sering ke sini dan aku suka taman ini." jawab Widia. "Ada apa menemuiku? Kau bilang ada yang ingin kau diskusikan?" tatap Widia.
"Aku bingung jurusan mana yang sebaiknya aku ambil saat lulus nanti." jawab Prothos. "Pamanku memintaku untuk memilih antara Psikologi dan Hukum. Kalau menurutmu apa?"
"Seharusnya kau tanyakan itu pada wali kelasmu, kenapa padaku?" ujar Widia. "Dan lagi kita bisa berdiskusi saat di sekolah."
"Tidak. Aku lebih suka bersama bu guru di luar sekolah." ucap Prothos.
"Hukum saja." jawab Widia mengalihkan pembicaraan setelah mendengar ucapan Prothos. "Kau bisa menjadi seorang pengacara, jaksa ataupun hakim. Dan saat kau menjadi salah satu dari itu, jangan biarkan para pengkhianat hidup di muka bumi ini."
Prothos tertawa mendengarnya.
"Kenapa tertawa?" tanya Widia menoleh pada Prothos yang duduk di kanannya.
"Kau tidak seperti seorang guru saat di luar sekolah." jawab Prothos. "Karena itu aku suka bersamamu saat di luar sekolah." senyum Prothos menatap Widia yang terpesona padanya.
"Sepertinya diskusi sudah berakhir." ujar Widia bangkit berdiri.
Prothos memegang tangan Widia untuk menghentikannya berjalan pergi.
"Aku sedang sedih, apa bisa kau menghiburku?"
Widia menoleh menatap Prothos, dia merasa bingung harus bersikap bagaimana pada muridnya itu.
Widia dapat melihat raut muka bersedih di wajah Prothos. Tanpa dipikir dan secara reflek Widia memeluk muridnya itu yang sedang duduk, sedangkan dia berdiri.