MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Kau Bisa Memangsaku



Melody keluar dari mobil ketika memasuki halaman rumah Niko yang sangat luas. Dia segera masuk saat seorang asisten rumah tangga menyambutnya setelah dia keluar dari mobil dan membukakan pintu masuk untuknya.


"Melody, kau kesini?" Ujar Nausha yang berada di meja makan melihat kehadiran Melody. "Niko ada di kamarnya, ke sana saja."


Melody langsung menaiki tangga untuk menuju kamar Niko.


Ketika sampai di depan kamar Niko, tanpa mengetuk pintu Melody membuka pintu kamarnya. Melody melihat bagaimana kamar Niko begitu gelap karena jendela kamarnya tertutup tirai hitam. Ukuran kamar Niko sangat besar, dua kali lipat dari ukuran kamar Lion yang menurutnya sudah besar untuk ditiduri seorang diri.


Bedanya jika kamar Lion dipenuhi segala macam barang-barang dan bukan hanya tempat tidur dan lemari pakaian saja, namun di sana juga terdapat semua hal yang disukainya, seperti TV ukuran besar untuknya bermain game, meja belajar beserta PC yang ukurannya juga besar untuknya bermain game juga, rak buku, dan lemari untuk menyimpan action figure beserta semua hal yang Lion suka.


Tidak dengan kamar Niko. Walau Melody sudah pernah masuk ke kamar ini tapi baru saat ini dia menyadari kalau kamar besar itu terlihat sangat kosong, hanya ada satu lemari pakaian dan tempat tidur dengan ukuran besar, serta satu lemari dimana banyak piala terpajang di dalamnya. Melody yakin kalau piala-piala tersebut yang di dapat Niko sebelum ulah kakaknya yang membakar tangan Niko.


Melody melihat Niko masih tertidur di ranjangnya. Dia berjalan mendekati tempat tidur dan berdiri di sebelah kiri tempat tidur memperhatikan Niko yang masih terlelap. Walau Niko memakai kaos berlengan panjang tapi dia tidak memakai sarung tangan di tangan kirinya saat ini. Melody bisa melihat dengan jelas luka bakar di punggung tangannya itu. Bahkan saat ini wajahnya terdapat lebam dan sisi bibir kanannya sobek karena pukulan kakaknya semalam.


Gadis itu berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya saat ini, karena dia tidak mau Niko tahu kalau dirinya sudah mengetahui siapa yang membuat penderitaan di dalam hidupnya.


Melody duduk di sisi tempat tidur Niko dan hendak membangunkan Niko, karena dia ingin mengatakan kalau dia setuju untuk rencana Niko kemarin.


Melody memegang tangan kiri Niko dengan tangan kirinya juga. Tangan Niko berada tidak jauh dari wajah Niko. Saat Melody meletakkan tangannya, Niko menggenggam tangan gadis itu dan membuka matanya.


"Apa kau datang untuk memberikan darahmu?" Ucap Niko menatap Melody.


Melody terkejut karena Niko terbangun. Gadis itu mengangguk merespon ucapan Niko.


"Kau bisa memangsaku." Jawab Melody.


Niko tertawa mendengarnya. Jawaban Melody sangat tidak disangka olehnya, dia pikir kalau Melody akan menatapnya dingin seperti tempo hari saat gadis itu juga ada di kamarnya.


"Kenapa kau selalu mengubah karaktermu?" Gumam Niko masih tersenyum melihat Melody. "Aku tidak pernah bisa menebak jawabanmu."


"Niko, aku punya sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Ucap Melody serius.


Niko yang masih berbaring berhenti tertawa dan mulai serius melihat Melody.


"Aku sudah memutuskannya, aku akan mengikuti semua keinginanmu." Ujar Melody kembali memegang tangan kiri Niko. "Setelah kita lulus sekolah, kita bisa segera menikah."


Niko sangat terkejut mendengar ucapan Melody. Saat ini rasanya dirinya sangat ingin berteriak karena sangat senang mendengarnya. Dia sangat tidak mengira jika Melody menemuinya untuk mengatakan kabar baik itu.


"Kau serius?"


"Aku sangat serius. Aku akan mengikuti semua kata-katamu, bahkan jika kau mau kita bisa menikah hari ini juga." Tatap Melody penuh keyakinan.


"Kau tahu, karena merasa senang sepertinya aku ingin menangis." Ucap Niko menutup wajahnya dengan lengan tangan kanannya. "Ini sangat memalukan."


Melody menurunkan lengan Niko yang menutupi wajah Niko. Dia bisa melihat pelupuk mata Niko yang dibasahi air mata. Melody semakin yakin kalau keputusannya itu sangat tepat.


"Kau tidak perlu malu jika ingin menangis karena kebahagiaan." Ucap Melody tersenyum.


"Aku akan menunggu ayahmu pulang, setelah itu kita akan bertunangan dulu seperti kataku kemarin. Setelah lulus sekolah baru kita akan menikah. Selama itu aku akan berusaha membuatmu menyukaiku, ah tidak, maksudku mencintaiku." Ujar Niko menatap Melody.


Melody mengangguk menjawabnya, tanda gadis itu menyetujui perkataan Niko.


Niko memperhatikan pergelangan tangan Melody yang memerah karena genggaman Aramis yang keras tadi. Niko memegangnya dan menatap Melody dengan tatapan bertanya.


"Tidak apa-apa, ini tidak sakit." Ucap Melody menarik lengannya dari Niko. "Aku akan pulang sekarang."


"Aku akan mengantarmu pulang." Seru Niko hendak bangun.


"Wajahmu sangat pucat, kau istirahat saja." Jawab Melody.


"Aku akan menyuruh seseorang mengantarmu pulang." Ujar Niko.


Melody menggeleng.


"Aku menyetir sendiri ke sini, aku akan pulang sendiri." Jawab Melody. "Kau istirahat saja yang cukup."


"Melody, kau sudah akan pulang?" Tanya Nausha. "Ikutlah makan siang dulu bersama kami."


"Aku akan makan di rumah." Jawab Melody berhenti sejenak.


"Lion, habiskan dulu makananmu baru menemui Niko!!" Seru Nausha pada seseorang yang sebelumnya bersama dengannya di meja makan.


Orang itu adalah Lion. Dia langsung naik ke lantai atas masuk ke kamar Niko untuk menemui temannya itu.


"Kalian bertetangga ya rupanya?" Ujar Nausha. "Saat kau datang, tidak berapa lama Lion muncul, aku kira kalian kesini bersama."


"Aku akan pulang sekarang."


Namun siapa sangka, ternyata Lion mengikuti Melody saat melihat Melody keluar dengan menyetir mobil sendiri. Lion yang mencemaskan gadis itu menyetir sendirian mengikutinya tanpa Melody tahu.


***


"Niko, besok aku menantangmu berkuda!!" Seru Lion tanpa basa-basi saat masuk ke kamar Niko.


Lion langsung naik ke tempat tidur Niko dimana Niko masih berbaring.


"Sudah lama aku tidak mengunjungi Toni, ayo temani aku bermain besok." Tambah Lion. "Kamarmu gelap sekali di sini juga tidak ada kursi atau sofa. Kamarmu terlalu kosong untuk anak muda seperti kita."


"Melody setuju menikah denganku."


"Apa?" Tanya Lion terkejut.


"Baru saja dia bilang untuk setuju menikah denganku." Ucap Niko setelah itu tertawa lega. "Aku sangat lega sekarang. Habis ini kami akan bertunangan dan setelah lulus kami akan menikah."


Lion terdiam mendengar perkataan Niko. Dia tidak menyangka kalau Melody akan menyetujuinya dan bahkan dalam waktu yang sangat cepat. Pemuda itu berpikir kalau Melody pasti sudah mengetahui semuanya makanya gadis itu setuju menikah dengan Niko.


"Kenapa kau diam saja?" Tanya Niko masih berbaring.


"Aku memikirkan hadiah apa yang harus aku berikan nanti. Aku harus banyak menabung sekarang, pasti kau akan minta hadiah yang mahal padaku." Jawab Lion setelah itu tersenyum pada Niko.


"Tidak perlu, kau tidak perlu memberiku apapun Lion, kau sudah aku anggap saudaraku dari dulu. Ini semua juga berkat dirimu."


Tiba-tiba Niko bangun dan memeluk Lion hingga mereka berdua terjatuh ke tempat tidur, lalu tanpa diduga Lion, Niko mengecup bibirnya. Lion langsung mendorong Niko dengan kesal dan keluar dari tempat tidur.


"Kenapa kau suka sekali memeluk dan mencium seorang pria?" Tanya Lion kesal. "Kau tahu, bahkan aku belum pernah mencium seorang gadis!! Arrrggghhh, sialan kau!!"


"Untuk menunjukan rasa sayangku padamu." Ucap Niko tersenyum. "Ya tebya obozhayu."


***


Melody menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu dia mengambil handphone dan menghubungi ayahnya. Kesedihannya begitu terasa saat ini. Dirinya yang mengambil keputusan dengan sangat cepat, dan melihat Lion berada di rumah Niko membuat dirinya menjadi semakin bersedih.


"Ayah sudah sampai?" Tanya Melody. "Kapan ayah pulang?"


"Ya, ayah sudah sampai. Sepertinya sebulan ayah disini tapi bisa juga lebih dari itu. Ada apa sayang?" Tanya Leo pada putrinya. "Apa ada hal buruk?"


"Aku sangat merindukanmu." Ucap Melody diiringi sebuah tangisan yang keras.


"Ayah baru pergi sehari, kau sudah merindukan ayah?" tanya heran ayahnya. "Jangan menangis sayang,"


"Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Sampai-sampai rasanya aku tidak bisa menahan untuk tidak menangis." Ucap Melody dengan terisak. "Apa kau tidak merindukan aku?"


"Ayah juga sangat merindukanmu, sayang. Kau jangan menangis. Kau ada dimana sekarang? Dimana kakak-kakakmu?"


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu."


...@cacing_al.aska...