
Melody menemui Felix di halaman tempat mereka pertama kali bertemu. Ada sesuatu hal yang hendak dia sampaikan pada Felix saat ini.
"Lihat perbuatan tetanggamu itu! Wajahku sampai mengerikan seperti ini." ujar Felix.
"Aku minta maaf karena perbuatannya, kak." ucap Melody agak membungkukkan tubuh mungilnya.
"Ke, kenapa kau yang minta maaf?" Felix terlihat bingung. "Sudah tidak perlu di pikirkan, kalau membahasnya lagi aku semakin kesal. Sebagai gantinya hari ini Melody harus pergi bersamaku."
"Kak, aku rasa kalau sebaiknya kita tidak pergi bersama lagi."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak akan menemui kakak lagi jadi kak Felix bisa berhenti menghubungiku mulai saat ini." terang Melody menatap Felix yang sedang kebingungan karena ucapannya.
"Kenapa berkata seperti itu? Bukannya Melody menyukai aku?"
"Aku minta maaf kak. Aku akan berhenti menyukai kakak." ucap Melody. "Aku ucapkan terima kasih untuk kebaikan kakak selama ini. Sekarang aku harus segera pulang." lanjut Melody setelah itu berjalan meninggalkan Felix.
"Tunggu dulu Melody!!" panggil Felix.
Melody tidak memedulikannya dan terus berjalan menjauh dari pria itu. Dia sudah memutuskan untuk mendengarkan perkataan ketiga kakaknya.
Walaupun selama ini Felix terus bersikap baik padanya tapi itu saja tidak cukup buat Melody. Felix tidak bersikap baik pada ketiga kakaknya dan Lion, itu sudah cukup membuat Melody sadar kalau dia harus berhenti menyukai pria itu.
...***...
"Sudah selesai?" tanya Prothos yang berdiri di depan pintu klub basket.
Melody mengangguk menjawabnya.
"Oke, kalau begitu ayo kita berangkat, Ato dan Ars sudah menunggu kita." ujar Prothos merangkul Melody dan berjalan. "Ato cerewet sekali terus-terusan menelepon, bahkan Ars terus mengomel karena tidak sabar menunggu kita."
"Kak Oto, terima kasih ya sudah mengijinkan aku bertemu Felix." ucap Melody.
"Tapi itu karena kau sudah berjanji tidak akan menemuinya lagi." jawab Prothos. "Bagaimana perasaanmu? Menyesal?"
"Kakak bicara apa. Aku tidak akan menyesal."
"Itu benar, kau tidak akan menyesal adikku yang cantik dan manis." senyum Prothos.
"Kita akan ke café kan? tanya Melody.
"Ya, sepertinya ayah mengijinkan. Tapi ayah tidak ingin kau lelah karena membantu di café hingga tidak belajar."
"Lalu bagaimana dengan kalian bertiga? Kalian juga masih harus belajar, tapi kenapa hanya aku saja yang di larang membantu di café selama ini?" tanya Melody. "Padahal kak Ars yang nilainya selalu buruk saja di ijinkan membantu di café."
"Kau akan mengerti kalau sudah ada disana."
"Kenapa aku jadi berdebar-debar ya?" ujar Melody. "Apa karena sudah lama aku tidak ke café? Kira-kira berapa lama ya?" Melody berpikir sejenak. "Ya ampun, sudah hampir dua tahun aku tidak kesana. Benar-benar sudah sangat lama sekali."
...***...
Melody turun dari mobil ketika tiba di depan Three Musketeer Café milik keluarganya. Banyak pengunjung yang keluar masuk café tersebut dan sebagian besar pengunjung adalah siswi yang bergerombol ataupun mahasiswi.
Dia berjalan masuk mengikuti ketiga kakaknya dan kembali berdiri di depan pintu memperhatikan keadaan di tempat tersebut. Sekarang dia mengerti kenapa ayah tidak ingin dirinya membantu di café karena sebagian besar pengunjung adalah wanita.
"Kalian sudah datang, cepat aku harus kuliah." seru seorang pria yang merupakan pekerja di café tersebut ketika Athos, Prothos, dan Aramis masuk.
Namanya adalah Sandy, seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu di café tersebut.
"Kak Oto..." panggil salah seorang pengunjung wanita.
Prothos hanya memberikan senyumnya dan melambaikan tangan pada pengunjung tersebut sehingga siswi itu terlihat senang bersama teman-temannya.
"Kenapa pengunjung hanya ramai ketika mereka bertiga datang." gumam pria lainnya.
Dia adalah Chino, salah satu pekerja juga. Chino melihat Melody yang masih berdiri di depan pintu, lalu menghampirinya.
"Pasti kau Melody kan? Ya ampun kau sudah semakin besar. Sudah lama sekali kau tidak datang ke sini." senyum Chino pada Melody.
"Melo..." panggil ayah yang ada di dapur, dia mengintip melalu celah yang biasanya untuk memberikan pesanan sebelum di antar ke pemesan.
Melody tersenyum pada Chino sebelum berjalan masuk ke dapur.
Athos baru saja masuk untuk menggantikan pekerjaan ayah sebagai juru masak.
"Ayah, aku datang." ucap Melody.
"Saat ini sedang ramai, kau boleh membantu tapi jangan memaksakan dirimu." senyum ayah sambil mencuci tangannya. "Ayah harus pergi ke pameran lukisan sekarang. Kau bisa menjaga meja kasir."
Melody berdiri di balik meja kasir, memperhatikan puluhan wanita yang sedang mengobrol santai bersama teman-temannya.
Prothos dan Aramis yang mengantar pesanan wanita-wanita tersebut menyempatkan diri untuk berbicara pada mereka dan hal itu membuat para pengunjung wanita sangat senang sehingga terlihat keakraban di antara mereka semua.
"Wanita-wanita itu sangat senang ketika pesanan mereka di antar karena pada saat itu mereka bisa berbincang-bincang dengan kami." ujar Chino yang baru berganti pakaian.
"Padahal banyak sekali pesanan yang harus di antar, bukankah lebih baik jika kalian tidak berbincang-bincang karena akan memakan waktu?" tanya Melody merasa heran.
"Sepertinya kau belum mengeti ya?" ujar Chino. "Ketika kami berbincang-bincang dengan mereka maka akan terjadi keakraban di antara kami dan pengunjung, dan hal itu yang membuat mereka terus menerus datang kembali. Bahkan mereka tidak protes ketika pesanan mereka di antar terlalu lama."
"Jadi begitu." ucap Melody dalam hati.
"Ato, kenapa pesanku tidak dibalas kemarin?" seorang gadis cantik berbicara pada Athos yang berada di dapur melalui celah pengirim pesanan di belakang meja kasir.
"Tasya, kau tidak boleh mengganggu pekerjaannya!!" seru Chino pada gadis tersebut. "Ato akan keluar setelah tidak ada pesanan lagi."
"Itu berarti aku harus menunggu lama." gumam Tasya berjalan kembali ke kursinya.
"Kau belum pulang Chino? Bukannya pelajaranmu di mulai jam empat?" Aramis berjalan mendekati meja kasir. "Sandy sudah berangkat kuliah kan?"
“Tidak masalah, aku lagi malas." ujar Chino. "Pasti Sandy saat ini sedang ke rumah Desy. Kuliahnya kan di mulai jam lima."
Seorang siswi berjalan ke meja kasir untuk membayar. "Berapa semuanya?"
"Meja nomer enam, total semuanya seratus tiga puluh lima ribu." jawab Melody.
"Sandra, kenapa cepat sekali pergi?" sapa Chino pada wanita itu.
"Aku kesini hanya ingin bertemu Lion, tapi sepertinya dia tidak datang." ujar Sandra sambil memberikan dua lembar uang pada Melody.
"Lion hanya membantu saja kemarin itu, dia tidak bekerja disini." seru Chino.
"Kalau begitu aku tidak akan datang lagi kesini." ujar Sandra lagi.
"Aku akan memberimu nomer handphone Lion, tapi kau harus janji untuk datang ke sini terus. Bagaimana?" tanya Aramis mengeluarkan handphone-nya.
"Benarkah? Baiklah." senyum Sandra.
Aramis memberi Sandra nomer handphone Lion. Dengan raut wajah senang Sandra keluar dari café tersebut. Sedangkan Aramis kembali mengantarkan pesanan.
"Sejak Lion datang membantu kemarin itu, Sandra terus menerus menanyakan anak itu. Sepertinya dia suka pada Lion." kata Chino pada Melody. "Lion itu tetanggamu 'kan? Bilang padanya untuk datang membantu di sini lagi, Melo!!"
Melody hanya diam dan tidak menjawab perkataan Chino.