MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Kesalahan Fatal



Bola yang memantul di papan ring menandakan kemenangan untuk Athos. Banyak yang bersorak senang. Begitu juga dengan Aramis yang langsung merangkul Athos di pinggir lapangan.


"Sudahku duga dia pasti akan mendukungmu." bisik Aramis pada Athos.


Dari kejauhan Tasya tersenyum pada Athos.


Dengan kesal Prothos masuk ke ruangan, dan Athos menyusulnya.


Athos menatap kembarannya dengan senyum walau Prothos memasang tampang kesal.


"Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau tidak bisa membuktikan siapa dirimu pada keluarga Tasya!!" seru Prothos dengan kesal sambil mondar-mandir. "Ingat ya, aku tadi tidak mengalah padamu!! Tiba-tiba ada serangga yang menggigit tanganku makanya aku kesal dan melempar bolanya dengan kuat."


Athos hanya tertawa kecil mendengar ocehan Prothos.


Prothos diam dan menatap Athos.


"Kalau ada apa-apa bilang padaku, aku akan membantumu dengan sekuat tenaga. Kalau kau sudah tidak kuat, datanglah padaku, aku akan membiarkanmu menangis." ucap Prothos menatap Athos dengan kasih sayang. "Tapi kau tidak boleh menyerah!! Karena aku mendukungmu sekarang maka kau harus lebih bersungguh-sungguh lagi. Kau mengerti?!"


Athos berjalan mendekati kembarannya tersebut dengan sebuah senyum lalu memeluk Prothos.


"Terimakasih, Oto." ucap Athos.


"Baiklah, saatnya merayakannya." seru Aramis masuk ruangan yang disusul lainnya


Aramis dan Lion masuk ke ruangan dengan sebuah botol soda yang dikocok, lalu membukanya sehingga isinya menyemprot keluar.


Anna dan Melody hanya tertawa melihatnya.


Tasya berjalan mendekati Prothos, dan tersenyum.


"Cih, kau menggertakku dengan kata-kata palsu." gumam Prothos pada Tasya.


"Karena aku tidak ingin berpisah dari Ato." ucap Tasya merangkul lengan Athos.


Athos menjadi malu.


...***...


Widia di atas tempat tidurnya saat menonton video pertandingan terakhir Three Musketeers. Banyak sekali video mengenai Olimpiade tersebut yang di unggah di grup chat sekolah.


Dia menonton video saat Prothos melempar dilemparan terakhir. Siapapun tahu kalau Prothos sengaja melemparnya dengan kuat dan mengalah.


"Anak itu sudah mengambil keputusan yang benar." ucap Widia tersenyum setelah itu mematikan handphone-nya. "Ahh, aku mengantuk lagi. Sebaiknya aku tidur, mumpung sedang libur dan kerjaanku sudah selesai."


...***...


Mereka merayakannya dengan penuh kemeriahan bersama-sama. Namun, tidak berapa lama Prothos berjalan keluar ruangan.


"Kau mau kemana?" tanya Athos.


"Menemui seseorang." jawab Prothos.


"Nanti akan ada interview dengan karyawan baru café, datanglah ke café sebelum jam empat."


"Kau tidak perlu khawatir." jawab Prothos setelah itu keluar ruangan.


Di luar, Jessica yang melihat Prothos keluar ruangan dan berjalan pergi langsung masuk ke ruangan tersebut. Semua mata langsung menuju padanya.


"Maaf ya, aku mengganggu." ucap Jessica. "Apa aku boleh bergabung?"


"Icha, tentu saja." seru Aramis menghampirinya. "Ini teman SMP ku."


"Yakin hanya berteman?" tatap Tasya menghampiri Jessica dan melihat ke Aramis serta Anna. "Kenalkan, aku Tasya dan aku pacar Ato."


"Pacar Ato?" tanya Jessica melihat Athos yang hanya duduk di kursi pojokan. "Ah, kau cantik sekali. Ato sangat beruntung punya pacar secantikmu." senyum Jessica pada Tasya.


...***...


Widia merubah posisi tidur, semula menghadap tembok menjadi ke arah sebaliknya. Tiba-tiba dia melihat seseorang menatapnya dan awalnya dia hanya mengira kalau dia sedang bermimpi.


"Wajah malaikat memang sangat tampan." gumam Widia yang masih tertidur.


"Aku memang seperti malaikat, sangat tampan." ucap Prothos tertawa kecil mendengar Widia mengigau.


Widia langsung terbelalak dan bangun dari tidurnya. Melihat Prothos duduk di kursi di samping tempat tidur.


"Aku kira kau akan datang mendukungku, bu guru. Kau malah enak-enakan tidur." ujar Prothos.


"Kenapa kau disini? Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Widia masih terheran-heran dengan keberadaan Prothos dan masih mencoba mengumpulkan kesadarannya.


"Aku sudah memencet bel tapi kau tidak membuka pintunya."


"Tapi kenapa kau bisa masuk?"


"Aku memasukan enam angka terakhir nomermu, dan ternyata dugaanku benar kalau itu kata kuncinya." jawab Prothos. "Aku sudah duduk sepuluh menit yang lalu tapi kau tidak bangun juga. Aku ingin membangunkanmu tapi sepertinya kau lelah sekali."


Sebelum Widia sempat menanggapi perkataan Prothos, tiba-tiba bel berbunyi.


"Itu adikku." ucap Widia bingung beranjak turun tempat tidur. "Cepat sembunyi!! Dia akan membunuhmu kalau tahu ada pria di kamarku." tambah Widia kebingungan mencari tempat persembunyian untuk Prothos.


"Bilang saja kalau aku sedang less Private denganmu." ucap Prothos bangkit berdiri.


Widia menatap Prothos.


"Jawaban bodoh!! Mana ada less private di kamar seorang guru dan jaman sekarang apa masih ada hal begitu?" ujar Widia. "Ayo cepat kau sembunyi di lemari ini saja!!"


Widia menarik Prothos mendekati lemari yang ukurannya kurang dari setengah tinggi badannya. Dan mendorong Prothos masuk ke lemari itu.


"Buka pintunya, Widi."


"Ingat, kau jangan bersuara!!" seru Widia.


Prothos hanya tersenyum menjawabnya.


Widia segera menutup pintu lemari dan membuka pintu.


"Kenapa lama sekali kau buka pintu?" tanya adik Widia. "Sepertinya aku mendengar suara seorang pria tadi."


"Aku sedang di kamar mandi tadi. Mungkin yang kau dengar suara TV, tadi aku menghidupkan TV makanya tidak dengar kau memencet bel." jawab Widia.


"Ini aku bawakan makanan untukmu. Kau belum makan kan?" tanya adiknya sambil meletakannya di meja dapur.


"Kenapa kau tidak memberitahu dulu sebelum kesini? Bagaimana kalau aku tidak ada?" ucap Widia sambil duduk di kursi meja bulat dan matanya melirik ke lemari tempat Prothos bersembunyi. "Lain kali beri kabar aku dulu."


"Aku sudah mengirim pesan padamu. Sepertinya kau tidak membacanya." jawab Adik Widia masuk ke kamar mandi. "Aneh sekali, kenapa sekarang kau menyuruhku mengirim pesan sebelum kesini? Biasanya juga aku langsung datang tidak masalah. Ada yang kau sembunyi kan? Apa kau takut aku memergokimu dengan seorang pria disini?"


"Apa yang kau katakan? Selly dan Rara sering menginap, jadi aku takut mereka canggung kalau kau tiba-tiba datang."


Adik Widia keluar kamar mandi dan menatap kakaknya.


"Sejak kapan mereka canggung padaku?" tanyanya. "Baiklah sepertinya kau sudah tidak sesedih kemarin-kemarin. Aku hanya mampir, karena sejam lagi aku ada interview part time."


"Sudah aku bilang kau fokus kuliah saja!! Aku yang akan menanggung biayanya." ucap Widia menatap adiknya.


"Menabunglah untuk menikah. Ya, mungkin saja setelah ini akan ada pria datang melamarmu." ujar adik Widia. "Aku pergi ya. Jangan lupa makan makanan yang sudah aku bawa."


Setelah itu adik Widia keluar.


Widia segera bergegas membuka pintu lemari dimana Prothos berada.


"Bu guru, kakiku kesemutan." ucap Prothos ketika Widia membuka pintu. "Kau tega sekali menyuruhku sembunyi di tempat sekecil ini. Kenapa lemarimu kecil sekali?"


"Keluarlah."


"Sudahku bilang kakiku kesemutan dan tidak bisa digerakan."


Widia mengulurkan tangannya, dan disambut Prothos dengan sebuah senyuman. Widia menarik Prothos agar keluar lemari. Namun, karena kaki Prothos kesemutan ketika berdiri, dia tidak bisa menjaga keseimbangannya sehingga dia jatuh menimpa Widia.


Wajah mereka bertemu dan mereka saling tatap. Tanpa sepatah kata Prothos langsung mencium bibir gurunya tersebut.


Prothos tersadar kalau yang dilakukannya adalah salah, dia langsung bangkit berdiri, menjauh dari Widia.


Widia juga bangkit berdiri.


"Maafkan aku, bu guru." ucap Prothos.


"Kau melewati batasmu!!" seru Widia dingin tidak menatap Prothos. "Jangan merasa kalau kau bisa seenaknya setelah semua hal yang terjadi antara aku dan kau!!"


Prothos diam saja karena dia tahu apapun yang akan dikatakannya adalah kesalahan.


"Pergilah!! Jangan datang kesini ataupun menemuiku!! Aku akan menganggap tidak ada apapun diantaramu dan aku!! Aku hanya menganggapmu sebagai seorang murid. Kau mengerti?"


Prothos menatap Widia sesaat, lalu berjalan pergi dan keluar. Ketika di lift dia berteriak pada dirinya sendiri karena kelakuan bodohnya.


"KAU BODOH SEKALI!! KENAPA KAU MELAKUKANNYA??"


Prothos meninju dinding lift hingga lift bergetar.


Ketika keluar apartemen, Prothos menunggu taksi yang melintas, dia menoleh ke kiri dan melihat seorang pria sedang berdiri dengan sebatang rokok ditangannya.


Taksi datang, dan Prothos segera naik.


...----------------...


PROTHOS



Visual Model :


Cha Eun-woo