MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Seekor Harimau Betina



Aramis tertawa melihat Anna yang datang. Gadis itu terlihat sangat kesal pada Aramis. Bagaimana tidak kesal, Aramis membolos hanya demi perkelahian ini.


"Sudah hampir dua puluh menit dan kau tidak bisa mengalahkan mereka? Payah!" ejek Anna.


Ryan dan teman-temannya sempat berhenti saat melihat Anna datang. Mereka melihat gadis yang memakai celana olahraga itu dengan bingung.


"Kau wanita?" tanya Ryan terkejut melihat Anna.


Anna menoleh pada Ryan dan tersenyum. Aramis berjalan mendekati Anna namun tiba-tiba Anna menendang Aramis dengan tendangan memutarnya. Hal itu membuat Ryan menjadi semakin bingung.


"Aiisshh..." ringis Aramis yang hampir jatuh karena tendangan Anna.


"Pergilah!! Aku yang akan menghajarnya untuk kalian." seru Anna.


Ryan tertawa mendengarnya.


"Diamlah!!" seru Ryan. "Jadi sekarang kau berlindung di seorang wanita, Ars?" ejek Ryan menatap Aramis.


Aramis mengangguk dengan senyum.


"Maju saja!!" seru Aramis menantang Ryan.


"Ars!!" protes Anna kesal. Entah apa yang dipikirkan Aramis, dia malah menyuruh Ryan dan teman-temannya menyerang Anna.


Ryan merasa Aramis merendahkannya dengan menyuruhnya berkelahi dengan seorang wanita. Ryan maju hendak menghajar Aramis namun saat dia melewati Anna, Anna menendangnya dengan gerakan yang sama dengan tendangan Anna pada Aramis tadi.


Ryan tersungkur dan membuat Aramis tertawa.


Teman-teman Ryan mencoba menyerang Anna setelahnya namun Anna mampu mengalahkan beberapa dari mereka, dan Aramis membantu Anna melawan sisanya. Aramis hanya melindungi Anna saat seseorang hendak menyerang gadis itu agar Anna tak terluka sedikitpun.


Pada akhirnya Ryan bersama teman-temannya memutuskan menghentikan serangannya dan pergi.


"Aku pasti membunuhmu suatu hari nanti, Ars." ujar Anna dengan terengah-engah karena lelah hingga gadis itu jatuh terduduk.


Aramis yang berbaring di tanah yang jaraknya lumayan jauh dari Anna hanya tertawa mendengarnya. Baginya apa yang terjadi barusan adalah sesuatu yang menyenangkan. Menjerumuskan Anna dalam perkelahiannya bersama musuh-musuhnya, membuatnya sangat puas.


"Kau tau? Setelah ini kau harus berhati-hati, pasti mereka juga akan mengincarmu." ujar Aramis melihat langit yang mulai menampakan matahari.


Anna bangkit berdiri dan duduk di samping Aramis yang berbaring.


"Hanya orang bodoh yang menjerumuskan seorang wanita dalam perkelahiannya." ucap Anna kesal melihat ke arah danau sambil memegang lengan kanannya yang masih terasa nyeri karena baru saja sembuh.


"Kau bukan wanita, kau seekor harimau betina." jawab Aramis melihat pada Anna.


Anna tertawa kecil mendengarnya.


"Bangunlah, kita harus kembali ke sekolah!!" seru Anna berdiri.


Namun Aramis tidak bergeming dan masih berbaring. Anna menoleh pada pemuda itu dan melihat mata Aramis yang menatapnya.


"Ayo kita bolos saja hari ini." ajak Aramis tersenyum walau ada lebam di sisi bibirnya.


"Aaaww..." keluh Anna saat tangan kanannya terasa sakit.


"Ada apa?" tanya Aramis langsung bangkit berdiri. "Tanganmu sakit lagi?" tatap Aramis memegang lengan Anna.


"Memangnya salah siapa?" kesal Anna. "Tanganku baru saja sembuh tapi kau... arrghh!!"


Aramis langsung merangkul pundak Anna.


"Maaf maaf." sesal Aramis. "Aku tidak akan melakukannya lagi."


Anna menginjak Aramis setelah itu berjalan cepat. Aramis meringis kesakitan sambil menyusul Anna.


Mereka berdua berjalan berkeliling kawasan tersebut. Hari ini mereka benar-benar bolos sekolah berdua.


Anna mengikuti permintaan Aramis untuk bolos sekolah hari ini. Mereka berdua masuk ke kawasan dalam danau yang adalah taman terbuka yang di dalamnya banyak spot hiburan. Seperti taman bunga yang tidak terlalu besar, wahana untuk anak-anak bermain dan penyewaan sepeda.


Aramis mengajak Anna menyewa dua sepeda dan menantang Anna balapan. Awalnya Anna berusaha menang dari Aramis namun pada akhirnya mereka hanya menikmati kebersamaan mereka berdua saja. Makan es krim dan membeli jajanan jalanan untuk mengisi perut mereka. Saling mengejek dan tertawa bersama. Bahkan berfoto berdua. Mereka sangat menikmati waktu kebersamaan mereka sekarang ini.


Hingga hari menjelang sore. Mereka memutuskan untuk makan di tempat makan pinggir jalan di daerah taman terbuka tersebut.


Tiba-tiba Aramis merasakan getaran di handphone-nya. Dia mengambil handphone tersebut dari saku celana dan membuka sebuah pesan.


"Ada apa?" tanya Anna sehabis mengembalikan mangkok bakso yang sudah habis mereka makan.


"Ah, tidak." jawab Aramis memasukan kembali handphone-nya ke saku celana. "Kepalaku jadi panas." ujar Aramis sambil mengguyur kepalanya dengan sisa air mineral dingin yang dibelinya.


"Ars, tanganmu memerah sejak tadi, apa tidak sakit?" tanya Anna yang sebenarnya sejak awal melihat kepalan tangan Aramis memerah bahkan terdapat lecet.


Aramis memperhatikan kepalan tangan kirinya.


"Tidak, karena sudah terbiasa jadi aku tidak merasakan apapun." jawab Aramis mengusap kepalan tangan kirinya yang memerah.


"Ars." panggil Anna yang duduk di kanan Aramis.


"Hhmm."


"Aku lebih suka melihatmu melukis dari pada berkelahi." ucap Anna menatap Aramis. "Berhentilah berkelahi, bagi seorang pelukis tangan adalah senjatanya. Aku tidak mau karena sering berkelahi tanganmu cedera."


Aramis meletakan telapak tangan kanannya ke kepala Anna.


"Kau tenang saja, tanganku sangat kuat." senyum Aramis.


"Bukan itu yang ingin ku dengar." ujar Anna dingin. "Baiklah, aku tidak akan berkelahi lagi. Kalimat seperti itu yang seharusnya kau ucapkan."


"Heh, kau menyuruhku tidak berkelahi, tapi kau sendiri ikut berkelahi denganku." ujar Aramis sengaja memulai perdebatan karena Anna sudah bersikap serius. "Kau ini seekor Harimau betina, apa kau lupa?"


Anna menatap Aramis dengan menyipitkan matanya.


"Setelah menyebutku seekor anjing, sekarang kau bilang aku harimau betina?" kesal Anna setelah itu bangkit berdiri. "Kau memang paling menyebalkan, Ars."


Anna langsung berjalan meninggalkan Aramis. Aramis membayar makanan mereka sebelum mengejar gadisnya itu.


"Anna, tunggu aku!!"


Matahari mulai tenggelam ketika Aramis dan Anna berjalan di sekitar danau, hendak meninggalkan tempat itu.


"Jalanmu cepat sekali. Tunggu aku!!" seru Aramis menggapai pundak Anna dan berjalan di sampingnya. "Kau sangat marah hanya karena aku memanggilmu harimau betina? Ayolah, kau jadi seperti wanita lainnya, penuh drama."


Anna menghentikan langkahnya.


"Aku tahu kau sengaja membuatku kesal karena tidak ingin menjawab apa yang aku katakan tadi." ujar Anna.


"Baiklah." jawab Aramis yang berdiri di hadapan Anna. "Sudah aku bilang aku akan menurut jika kau melarangku."


Anna tertegun, namun setelahnya dia bernapas lega.


"Syukurlah."


"Anna." ucap Aramis dengan serius.


Anna menunggu kata-katanya lagi namun Aramis tampak bingung. Dia menggaruk kepalanya sambil berteriak kesal lalu kembali menatap Anna lagi. Anna masih diam menunggu apa yang ingin dikatakan Aramis.


Aramis mengambil handphone-nya, dan membuka sesuatu.


"Ini adalah lukisan dua orang yang bernama Cimon dan Pero." seru Aramis setelah itu menjulurkan handphone-nya ke hadapan Anna agar gadis itu melihat lukisan tersebut. "Percayalah, ini tidak seperti yang kau lihat."


Anna melihat sebuah gambar di handphone Aramis. Sebuah lukisan yang terlihat vulgar setelah dia melihatnya. Bagaimana tidak, dalam lukisan tersebut terdapat seorang pria paruh baya sedang menghisap payudara wanita muda.


Anna menjadi sangat kesal pada Aramis.


"Kau sangat keterlaluan." gumam Anna langsung berjalan meninggalkan Aramis.


Aramis sudah bisa menebak bagaimana reaksi Anna saat melihat lukisan tersebut. Dia hanya berjalan perlahan di belakang gadis itu.


Dia membuka kembali pesan yang didapatkannya tadi. Pesan dari Jessica yang sudah lama tak menghubunginya. Sebuah pesan yang berisikan sebuah foto.


Foto dimana Jessica memotret dirinya saat bersama Aramis yang tertidur di sebelahnya dan Jessica berada di dalam pelukan Aramis. Hanya selimut yang menutupi mereka yang tidak berpakaian apapun.